
Iringan calon mempelai pria menaiki tangga depan satu persatu. Berhenti sejenak saat Rosalie menyerahkan selendang dari untaian bunga jasmine pada Abah untuk di sampirkan ke bahu kiri Amir. Setelah itu, iringan pun mulai memasuki ruang voye yang terhubung tanpa sekat ke ruang tamu dan akan digunakan untuk akad nikah.
Keluarga Hermana, mengundang wakil Dubes Indonesia yang merupakan karibnya. Serta mengundang pemuka agama dari Islamic centre, yang dekat dengan kediamannya.
Rosalie takjub dengan keluarga Amir. Semuanya berwajah berseri alami baik pria maupun wanita, juga tak kalah santun dengan Amir. Terlebih Naya, yang dia ketahui saat mencium tangannya kala mereka hendak bersalaman.
"Naya Nyonya, Adik Kak Amir ... ini suami dan putriku ... dan ini Kakak sulung, istri, anaknya ... Yang genit ini, Gamal dan Alma, sepupu kami ... juga, ga kalah cantik, Umma ibu kandung Aiswa serta Mama Anggi mertua Kak Amir saat menikahi Mba Aruni," jelasnya panjang lebar sebelum mereka berpisah tempat karena ruangan untuk wanita terpisah di dalam.
"Mama, Naya ... Mama saja ya," belainya pada wajah ayu, persis Amir dalam versi wanita.
Mereka kemudian duduk sesuai tempat yang sudah diatur oleh Rosalie. Dirinya bersisian dengan Umma dan Anggita, ketiganya saling menautkan dan menggenggam erat jemari.
"Dia menantu kebanggaan kita semuanya," ujar Umma yang diangguki Anggita dan Rosalie.
Dewiq memilih menemani Aiswa dikamar. Sejak tadi, gadis itu hanya diam menunduk menghadap jendela kamar, sesekali terdengar isakan halus. Tak ada sepatah kata keluar dari bibir keduanya, Dewiq sibuk dengan pikirannya perihal Hasbi yang mulai memasukkan gugatan. Ia geram, tapi ditahan karena hari ini adalah saat sakral untuk adik angkatnya.
Sementara Aiswa menetralisir gelisah seraya tak henti mengucapkan istighfar serta syukur dalam hati, betapa ia bahagia.
Diruang tamu.
Petugas untuk pencatatan dan penerbitan bukti numpang menikah di negara ini tengah memeriksa dokumen, tanda tangan para saksi kedua mempelai, karena surat ini akan dibawa oleh Amir untuk mendaftarkan ke catatan sipil di Indonesia. Setelah terkonfirmasi lengkap, acara dilanjutkan kembali.
Khutbah nikah disampaikan oleh wakil Kedubes serta doa khutbatul hajah (doa sebelum akad) di pimpin oleh Abyan. Kemudian pemuka agama disana mempersilakan Yai Hariri salim, wali langsung Aiswa yang akan menikahkan mereka. Beliau menjabat tangan Amir untuk memulai proses ijab kabul.
"Siap Mir?"
"Nggih, insya Allah," Amir menarik nafas panjang, meredam dadanya yang bergemuruh.
"Bismillahirrahmanirrahim...." lirih keduanya saat kedua jemari saling bertaut.
"Ya Amirzain Zaidi bin Ahmad Zaid sanusi, Uzawwijuka ‘ala Ma Amara Allahu bihi min Imsakun bi Ma’rufin aw Tasrihun bi Ihsan.”
"Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka Aiswa Fajri bintu Hariri salim bil mahri alfu yuru, haalan."
(seribu euro sekitar 16 juta)
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, haalan."
Lolos sudah beban beberapa menit yang lalu setelah para saksi menyatakan ijab kabul yang Amir ucapkan sah.
Abah menepuk bahu anaknya pelan, sambil menengadahkan tangan saat imam Islamic centre melafalkan doa setelah akad.
__ADS_1
Allahumma inni as aluka khoyrohaa wa khoyro maa jabaltahaa alaih. Wa a'udzubika min syarri haa wa min syarri maa jabaltahaa alaih.
"Temui Aiswa dikamar Nak, naik saja keatas, pintu kamarnya warna lilac," ucap Hermana Arya pada Amir, sesaat setelah doa.
"Berikan maharnya dan pakaikan ini padanya," sambung Abah menyerahkan kotak mahar serta gelang berlian.
Amir lalu bangkit mengikuti perintah keduanya masuk kedalam.
"Ditemani Naya saja ya, kami nunggu dibawah," ujar Rosalie memandang Amir yang kini telah berdiri didepannya dengan sorot mata berkaca-kaca.
Naya menitipkan Maira pada Qonita yang duduk disebelahnya lalu bangkit menemani sang kakak menaiki belasan anak tangga menuju kamar Aiswa.
Tok. Tok.
"Assalamu'alaikum," ucap Naya pelan.
"Wa'alaikumussaalam," jawab suara dari dalam. Dewiq memutar handle pintu perlahan, membukanya sedikit saat Naya terlihat dari balik pintu.
"Aku Naya adik Ka Amir, beliau ingin menemui istrinya," ujar Naya ramah sambil tersenyum dan menyenggol lengan kakaknya yang terlihat gugup.
"Silakan...." jawabnya membuka pintu dan menyingkir dari sana, bergabung dengan Naya bersisian.
"Diam Nduk, rese amat, sana gih ... ganggu aja, nanti kita turun bentar lagi," balas Amir tersipu.
"Jangan anu ya Kak, sabar ... jangan sampai aku balik lagi nih gedorin pintu, karena kelamaan turun," tawanya di iringi Dewiq.
"Ish, sana gih...." usirnya pada Naya adiknya yang jahil.
Dewiq menarik Naya menjauh dari sana, keduanya turun bergabung dengan para tamu dilantai dasar.
Setelah kepergian Naya dan Dewiq, Amir perlahan masuk kedalam kamar dan menutup pintunya pelan. Menghampiri Aiswa yang berdiri menatap jendela dengan tirai yang melambai tertiup angin malam kota London.
"Sayang...." panggilnya lembut.
Aiswa menoleh, membalikkan badan dan langsung menghambur dalam pelukan Amir. Tubuh tegap itu memeluk istrinya erat, menciumi pucuk kepalanya seraya melantunkan doa kebaikan baginya.
"Alhamdulillah ... kini kamu sah menjadi milikku," bisiknya lembut di telinga Aiswa, menempelkan wajahnya pada bahu sang istri.
"Bii," balasnya lirih terbata karena isakan dalam pelukan Amir.
"Seperti sepasang sepatu, berdua namun tetap satu. Karena satu saja tidak akan berguna ... saling teguh menjaga satu sama lain untuk selalu dekat dengan Allah ... semoga kelak kita bersama-sama masuk ke surgaNya, ingatkan jika aku salah ya sayang ... Aiswa Fajri," usapnya pelan pada kepala Aiswa.
__ADS_1
"Laa uriedu siwa an akuuna syaian jamielan fii hayatika yarsumu a’laa syafataika al ibtisamah kullamaa khotortu alaa baalika."
(Aku tidak ingin apapun kecuali menjadi sesuatu yang indah dalam hidupmu yang dapat melukiskan senyum di atas kedua bibirmu tatkala engkau mengingatku.)
"Uhibbuki fii kulli lahdzotin tamuuru fii hayati ... ya habibie qolbie, adkuruka aynamaa nazart anta haiiaatii." (Aku mencintaimu sepanjang waktu dalam hidupku ... dimana pun aku memandang, aku teringat akan cintamu.)
Amir tersenyum bahagia, memejamkan matanya sejenak dan makin mengeratkan pelukan mereka.
Beberapa saat dalam hening, pria yang baru melepas masa dudanya itu lalu mengurai pelukan mereka. Ia mengajaknya duduk di sisi ranjang.
"Dipake, jangan di lepas ya ... dan ini hakmu, gunakan sesuai yang kamu inginkan...." Ia menyerahkan mahar serta memakaikan gelang pada tangan kiri Aiswa.
"Cantik Bii," ujarnya melihat untaian berlian berkilau.
"Kayak yang make, cantik banget sih...." Amir membelai wajah Aiswa, menghapus jejak bulir bening disana.
Yang ditatap malah menundukkan wajah karena malu, pipinya bersemu merona membuat Amir gemas sendiri saat jemarinya mengangkat wajah Aiswa.
"Bismillah, c-up," perlahan menempelkan bibirnya ke milik Aiswa, mencecapinya perlahan dan lembut.
"Love you sayang ya Eini Rohi Habibati," ucapnya setelah melepas pagu-tan mereka.
"Love you too ya Albi Habibi Qolbi," Aiswa sejenak menatap wajah tampan suaminya lalu mencium tangan Amir sebagai tanda penghormatan baginya.
"Turun yuk, kita belum sungkeman," ajak Amir pada Aiswa, menautkan kembali jemari, menariknya pelan keluar kamar.
"Alhamdullilah turun juga, tadinya mau aku susulin lagi," ucap Naya saat melihat keduanya turun.
Aiswa hanya tersenyum menanggapi celotehan Naya. Dan ia tertegun, kala memandang sosok yang dirindukan dengan tatapan sendu.
"Umma," lirihnya.
"Pergilah peluk Umma sayang," Amir melepaskan tautan jemari mereka, merangkul pinggang gadis itu dan mendorong pelan menuju Umma yang juga telah berdiri membuka lengannya untuk menyambut Aiswa.
"Sini sayang, Umma kangen Aish," ucap Umma terbata menahan tangis.
.
.
...______________________...
__ADS_1