
Sampai saat berakhirnya pertemuan rahasia antara ibu dan anak, Aiswa tak kuasa menahan segala kesedihannya. Hijabnya basah terkena lelehan lava air mata yang tak dapat dia hentikan lajunya.
Keduanya enggan meninggalkan salah satunya. Umma masih tetap terpaku di tempatnya meski Ahmad berkali mengajaknya pulang. Ada yang aneh dalam benak Umma, jika tidak dihalangi oleh waiter, sudah sejak tadi Umma membuka ruangan itu. Ruang dimana putri bungsu yang telah dinyatakan meninggal sesungguhnya masih sehat afiat tengah menatap lekat padanya.
"Aey, kita pulang." Dewiq mencoba bersabar padahal sudah tiga puluh menit waktu berlalu sejak Umma meninggalkan resto itu.
"Kak, sakit yaa,"
"Aku tahu, life must go on Aey kamu memilih ini sudah paham akan resiko dikemudian hari bukan?" dia mengingatkan seraya tangannya menepuk lengan Aiswa, menyeka bulir bening yang masih sesekali menetes dari pabriknya.
"Aku kuat aku bisa, kita pulang Kak," Aiswa mencoba bangkit, meninggalkan kursi yang selama hampir dua jam itu menemaninya, menjadi saksi bahwa dia masih sangat merindukan sang bunda kandung.
Satu jam perjalanan yang mereka tempuh nyatanya tak membuat Aiswa kembali membuka suara.
Dewiq mengerti, pergulatan batin pasti tengah mendera bathin gadis ayu disampingnya. Keputusan ini mungkin ringan meluncur dari bibir tipisnya namun berbeda dengan hati yang terkadang goyah akibat luapan emosi.
Sesampainya di mansion, Aiswa langsung pamit menuju kamarnya. Suasana malam hari yang sunyi menambah lengang tanpa kehadiran gadis itu yang mulai akrab mengisi semua sudut ruang dalam kediaman mewah Hermana.
Tok. Tok.
"Aey, boleh aku masuk?"
Tidak ada sahutan, hanya samar terdengar langkah kaki menuju pintu.
"Masuk Kak, aku lagi siapin bawaan meski tak banyak."
"Ini semua dokumen keperluan kamu Aey, kunci asrama, loker dan uang saku cash dari Papa." Serahnya pada Aiswa yang duduk di tepi ranjang king size miliknya.
"Syukron Kak." Pandangnya pada paspor dan visa atas nama Aeyza.
"Tidurlah, besok kita flight pagi."
Dewiq mengelus kepala Aiswa yang tertutup hijab pendek berwarna lilac. Sungguh kontras dengan pemilik kulit putih itu. Cantik, kagumnya.
Keesokan pagi.
Setelah sarapan, keduanya mulai bersiap meninggalkan mansion. Semua perlengkapannya telah Joanna tata didalam mobil.
Aiswa memeluk ibu angkatnya sayang, ada rasa tak tega meninggalkannya seorang diri disana karena Papa akan jarang pulang ke mansion, sebab mereka bukan pasangan suami istri lagi.
Mama melepas kepergian anak angkat yang mulai menempel padanya dengan berat hati, tak ada yang bisa menahan laju waktu ini kapan akan tiba, semua sudah Tuhan gariskan.
__ADS_1
"Aey, ayo." Ajak Dewiq menarik pelan jemarinya.
Aiswa melihat sekeliling dalam jangkauan penglihatannya. Rumah mewah bergaya American classic dibeberapa view sangat kentara dengan cat warna putih serta perabotan yang mempercantik ruangan sesuai tema, dan modern minimalis sisanya, termasuk kamarnya yang beberapa waktu ini menjadi tempat nyaman baginya.
Terimakasih rumah kedua ku, aku pergi merajut mimpiku. Semoga kelak ketika aku kembali menjejakkan kaki disini, aku telah membawa identitas ku yang sesungguhnya. I wish.
Mobil range rover berwarna hitam itu meluncur meninggalkan mansion ditepian Jakarta menuju Bandara.
Joanna menurunkan koper kedua majikannya saat telah tiba di gate keberangkatan internasional, tiga puluh menit setelah perjalanan yang baru saja mereka tempuh.
Sementara Dewiq menggandeng tangan Aiswa menuju lajur check-in untuk mendapatkan boarding pass. Mereka berdua lalu diarahkan untuk melanjutkan ke lajur VIP.
Masih tidak ada percakapan yang terjadi diantara keduanya. Hingga Dewiq memberanikan diri menanyakan apakah Siswa baik saja.
"Aey, kamu pertama kali naik pesawat?"
"Iya kak, aku diam karena takut."
"Ya ampun, aku kira kamu masih berat ninggalin Jakarta."
"Ya itu juga sih, tapi lebih ke takut." Senyumnya terbit.
"Hmm, bismillah."
Tak lama, panggilan announcement petugas Bandara bergema lewat pengeras suara. Ketiga gadis itu melangkahkan kaki mengikuti petunjuk arah gate keberangkatan.
Setelah menemukan seat mereka, Aiswa duduk dengan gelisah, meski Dewiq menggenggam jemarinya yang sudah panas dingin sejak tadi.
"Aey, baca doa."
"Hmm, sudah daritadi dan masih Kak."
"Rileks," ujarnya lagi menepuk genggam'an jemari mereka yang terpaut.
Bismillah, selamat tinggal Jakarta, aku pergi meraih mimpiku. Do'akan aku bisa beradaptasi disana dan kembali ke tanah air dengan pribadi yang jauh lebih kuat serta membawa mimpi yang telah berkibar.
*
Enam belas jam berlalu tanpa Aiswa sadari. Kini mereka telah menjejakkan kaki di London.
London, mimpi apa aku sejauh ini pergi mengunjungi negara Queen Elizabeth, pemilik istana Buckingham.
__ADS_1
"Aey, dingin. Pakai ini." Dewiq menyodorkan jaket serta sarung tangan untuk menghalau rasa dingin yang mulai menusuk tulang.
"Nona, hampir tengah malam disini ... suhu udara akan semakin rendah, sebaiknya kita bergegas menuju hotel transit sementara karena mulai diberlakukan jam malam bagi siswa baru," ujar Ulfa yang menjemput mereka.
Rombongan gadis dari Jakarta yang penampilannya telah sedikit kusut akibat perjalanan panjang yang melelahkan akhirnya meninggalkan London Heathrow Airports menuju Hotel untuk transit mengistirahatkan badan yang telah letih.
"Aey, pusing?"
Jetlag yang Aiswa rasakan rupanya sangat mengganggu gadis itu hingga tidurnya gelisah.
Dewiq perlahan mendekati ranjangnya, mengoleskan obat gosok pada telapak kaki, punggung serta tengkuk adiknya itu.
"Nona, biar aku," sahut Joanna yang melihat Nona mudanya sangat peduli
"Aku saja, dia hanya menurut padaku untuk masalah ini ... lihat, matanya terpejam tapi badannya tidak mau diam, mungkin perutnya mual Jo, tolong pesankan teh hangat baginya ... lalu buat agar dia meminumnya segera, badanku juga sakit semua." Keluh Dewiq setelah selesai mengoleskan obat gosok di semua titik yang bisa merelaksasi tubuh.
" Baik ... silakan anda istirahat Nona." Joanna menekan satu tombol diline telepon dalam kamar mereka kemudian tersambung dengan layanan kamar.
*
New day, awal masuk kuliah.
Dewiq memilih universitas yang menaungi jebolan designer kelas dunia Alexander McQueen serta Stella McCartney untuk Aiswa mengenyam pendidikan tentang Fashion, jewellery serta marketing nya. Central Saint Martin, akan menjadi saksi Aiswa memulai debut.
"Kampusmu sangat terkenal Aey, belajarlah dengan baik nanti disini yaa, aku akan sesering mungkin mengunjungimu," senyumnya penuh arti.
"Aku gemeteran Kak...."
"Semangat berjuang sayang, aku tunggu kabar baik dari adik manisku." Ujarnya melepas kepergian sang adik angkat. Memeluk erat didepan gerbang hitam universitas nan megah.
"Bye Kak, do'akan aku banyak kawan disini yaa," Lambai tangan Aiswa saat akan menuju kantor direktorat untuk mengkonfirmasi kehadirannya sebagai siswa baru di Universitas.
Huft, come on Aiswa, kamu bisa. Taklukkan segala tantangan...
Qolbi, do'akan aku ya... eh, maaf ya Allah, maafkan aku masih saja latah menyebutnya...
.
.
..._____________________________...
__ADS_1