DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 103. DA3A


__ADS_3

Tiga bulan berlalu sangat cepat.


Kiranya Aruni puas berkeliling dari satu kota ke kota lain, dari negara satu ke negara lain demi memenuhi keinginannya.


Baru dua bulan mereka kembali mengurus Quenny didalam butiknya sejak kepergian ke Malaysia beberapa bulan kebelakang.


Jangan tanyakan bagaimana tingkat kesabaran Amir menghadapi segala tingkah istrinya kala itu. Sifat manja dadakan yang datang persis tahu bulat, membuat sikap Aruni melebihi bayi berumur tiga tahun. Segala keinginannya wajib Amir kabulkan.


"Maira, Aku pengen cium Maira," gumamnya sangat lirih saat dia teringat keponakannya.


Amir sudah curiga ketika Aruni meminta izin untuk menggunakan ponselnya.


"Halo Naya, Mas Panji ada?"


"Sayang...! Qiyya," Amir gusar, apalagi kali ini yang akan diperbuat, pikirnya.


"Mas Panji, Aku mau Maira," sorot matanya memohon dan sangat berharap.


"Aku mohon, Aku mau cium Humaira, Mairaku baby gemoy," isaknya. Jurus andalan saat ini, selain puppy eyes tentunya.


"Aku mau Maira, please," ulangnya lagi.


"Mas, acuhkan saja ... biarkan Qiyya kali ini." Amir mengambil paksa ponselnya dari genggaman tangan Aruni yang tengah dia tempelkan pada cuping telinga.


"Kak, Naya juga sama ... dari tiga hari lalu ribut minta pulang, seharian ini ngambek terus. Maira ga boleh aku gendong jika sore nanti dia tak diizinkan pulang ... aku akan mengantarnya sore ini Kak."


Degh. Kemarin Abah juga mengatakan hal yang sama.


"Mir, sabar sabar sabar ... jika pagi hingga sore dia ceria, malam beda lagi kan? turuti saja." Pesannya kala itu.


Jika malam menjelang, Aruni gelisah, rasa panas menjalari tubuhnya terutama bagian sekitar perut. Sama sekali tidak dapat menelan makanan bahkan terkadang makanan yang dikunyahnya siang tadi, kembali dimuntahkan habis.


Dokter Amelia mengatakan myom yang telah diangkat sewaktu operasi Naufal kini kembali tumbuh dan bercokol di rahimnya, merubah bentuk menjadi Fibrosarkoma. Saat Aruni terpaksa di opname akibat menstruasi yang tak kunjung usai.


Rasa panas yang menjalar adalah salah satu efeknya. Bahkan menstruasi yang dialami Aruni lebih mirip sebuah pendarahan, tak heran bila dua bulan terakhir istrinya itu kerap melakukan transfusi darah karena Hb yang menurun drastis.


"Sayang, dzuhur dulu gih. Jangan lupa niat wudhunya berbeda, kamu sudah masuk masa istihadhah ... bergegas sholat saat sedang suci. " Imbuhnya mengingatkan, berusaha mengalihkan perhatian Aruni agar berhenti menangis.


"Eh iya, Aku belum sholat." Jurus pamungkas, Aruni bangkit meninggalkan meja kerjanya menuju bathroom dilantai dasar butik miliknya itu.


Keesokan Pagi.


Saat jelang sarapan, lamat terdengar suara bayi dari luar. Sejak sore hari, Aruni sudah masuk kekamar dan tertidur pulas malam itu hingga ketika Naya datang hampir tengah malam, dia tak mendengarnya.


"Mas, Naufal nangis?" tanyanya ragu masih dalam posisi berbaring dan wajah yang mengantuk.

__ADS_1


"Maira sayang, dia kesini semalam saat kamu telah tidur pulas ... lebih baik hari ini? masih haid ga?" kecup Amir di dahinya.


"Dari isya, subuh udah engga Mas,"


"Ditunggu dulu sampai dzuhur kalau gitu. Semoga sudah selesai." Jemarinya membelai wajah sang istri, mengaitkan anak rambut yang menutupi wajah berlesung pipi.


"Ok, aku ke Maira dulu ya." Gerakannya gesit beringsut ke tepi ranjang.


"Pelan-pelan Qiyya, Maira ga akan kemana-mana, dia nginep disini satu bulan ko, sampai Mas Panji pulang dari tugas nan--."


"Mairaaaaaaa," serunya turun dari ranjang sangat bersemangat hingga mengindahkan penjelasan Amir.


Aruni langsung menuju kamar Naya disebelahnya, mengetuk pintunya pelan hingga pemilik bayi cantik menggemaskan itu muncul dari balik pintu.


"Mba, bisa tolong gendong ga? rewel daritadi mungkin ga Nyaman karena Aku belum mandi. Ayahnya masih tidur karena semalam Abang yang bawa mobil sendiri soalnya."


"Sini sini, sama Uwa yaa sayang gemoyku." Mengambil bayi mungil nan montok dari gendongan Naya.


"Lah, dia langsung diem...." Naya terheran.


"Halo anak cantik, ikut Uwa main yuk dikamar ... kamu sana mandi Naya, Maira sama aku dulu nanti kalau dia nangis minta asi baru Aku balikin lagi," ujarnya sambil lalu.


Aruni membuka pintu kamarnya perlahan, nampak suaminya tengah melakukan sholat duha di sisi ranjang mereka.


"Abang Naufal bisa jadi temen Maira main kalau ada," imbuhnya sembari meletakkan Maira diatas tempat tidur.


"Engga ko Mas, aku ga sedih kan udah ikhlas sama adek."


"Naya lagi apa?"


"Mau mandi, Mas Panji masih tidur, kecapean dan sekarang cuma Abah dan Mama yang sarapan disana."


"Aku ambil sarapan kesini ya, kamu belum makan."


*


Keseharian Aruni semenjak Maira berada didekatnya seakan menjadi sebuah obat dari segala apa yang dia rasa. Tidurnya akan pulas bila Maira ada didekatnya, begitupun bayi kecil itu justru lebih nyaman tidur dengan Aruni disisinya.


Hingga suatu pagi.


Ba'da subuh, wajah Aruni nampak sangat bersinar setelah menyelesaikan murajaah bersama suaminya.


Maira yang pagi itu tak terdengar tangisnya pun membuat suasana pagi di kediaman Abah lengang.


Wanita dengan lesung pipi itu sejak semalam sangat manja, tak ingin satu detik pun Amir meninggalkannya. Hingga waktu duha, dirinya masih enggan melepas mukena, justru meminta Amir membacakan kembali Ar-Rahman. Kali ini harus sangat pelan, pintanya sembari merebahkan badannya dalam pelukan Amir.

__ADS_1


"Mas, Aku capek tapi hari ini rasanya badanku enteng banget, semalam aku ketemu Naufal, dia makin mirip kamu, kangen adek dan aku kini punya kesempatan menciuminya lagi."


Degh.


"Ayok, lanjutkan bacanya...." lirihnya dengan senyum mengembang, menatap, membelai wajah tampan suaminya.


Amir takjub pada tatapan teduh Qiyya pagi ini, memperhatikan helaan nafas istrinya dalam pelukan hingga jelang ayat terakhir selesai dibacakan, sangat jelas terlihat dan terasa ditubuhnya, jiwa itu melayang halus meninggalkan raga seraya kelopak mata indah yang menutup perlahan.


Apakah telah tiba waktumu kembali, sayang....


"Qiyya, Qiy-ya...." suaranya menahan isak. Ia memberanikan diri meletakkan jari di bawah hidung mancung istrinya, juga memastikan denyut nadi di pergelangan tangannya.


"Allah...." tangisnya lirih.


Abah yang melintas didepan kamar mendengar lirih isakan putranya pun mencoba mengetuk pintu pelan namun tak ada sahutan.


"Mir? Abah izin buka pintu yaa."


Cklak.


"Mir?" pemandangan pilu menyergap netra tua miliknya. Nampak putranya memeluk tubuh Aruni yang lunglai diatas ranjang.


"Qiyya Bah, membawa hadiah pernikahanku untuknya."


"Abah izin pegang Runi ya Mas," izin Abah mendekat dengan suara parau. Jemari keriput itu kembali memeriksa nadi menantunya.


Nihil.


"Runi?" Mama curiga akan pintu kamar yang terbuka. Seketika Mama menangis, mengabaikan kehadiran besan yang kemudian keluar dari sana.


"Mas, Runi?"


Tidak ada sahutan dari Amir, pria itu hanya mendekap erat tubuh istrinya seakan tak mengizinkan orang lain menyentuhnya.


Hingga tiga puluh menit kemudian saat dokter Laura datang atas permintaan Mahen untuk memeriksa pun, Amir tak bergeming.


"Kak," Naya menepuk bahu kakaknya pelan.


"Qiyya cantik banget pagi ini, juga sangat wangi sejak semalam, dia melayaniku dengan baik disisa waktunya ... Nduk, Qiyya sedang tidur bukan?" Amir mulai bersuara, serak, lirih dan terbata.


"Nyonya Aruni Fauqiyya, meninggal dunia pada hari Jum'at 3 September pukul 08.00 WIB."


Maira yang sedang digendong oleh Mahen diluar kamar, menangis melengking tiba-tiba seakan tahu, wanita tawakal itu telah berpulang.


.

__ADS_1


.


...______________________________...


__ADS_2