DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 112. DA3A


__ADS_3

Singapura.


Aiswa tergesa masuk ke kamar Mama saat beliau akan minum obat, tanpa dikomando gadis itu naik ke ranjang Mama lalu memeluknya dan menangis.


"Aey, kenapa? bukannya tadi ingin salad ke kantin? ... Jo?" Papa terheran dengan perubahan sikap anak angkatnya. Tangannya masih memegang botol obat untuk istrinya.


"Itu Tuan, hmm tadi bertemu ... Amir."


"Hah, yang benar? dimana? rumah sakit ini?" tanya papa lagi.


"Iya, Raden Arya Tumenggung Danarhadi dirawat intensif sejak kemarin dan kebetulan dokternya pun sama, Dokter Rayyan," imbuh Joanna.


Papa melihat intens manik mata istrinya, berharap sang istri paham akan maksudnya.


"Pa." Mama menggelengkan kepalanya, paham maksud suaminya jika dia ingin memindahkan dirinya kerumah sakit lain.


"Aey, nanti malam terbang kan? lanjutkan mimpi dulu yaa jika memang takdir mau dikata apa pasti akan sampai juga," Mama ingin Aiswa tidak menyesal dikemudian hari.


"Tapi Ma, ga aman buat anakku." Papa nampak kurang setuju, bisa saja mereka bertemu kembali. Belum saatnya, karena Papa telah memegang janji pada seseorang untuk membantu Aiswa menggapai keinginannya.


"Pa, jangan sakiti Aeyza ku ... biarkan dia dulu, Aeyza ku bukan Aey yang dulu." Mama semakin mengetatkan pelukannya.


"Papa paham ... Aey masih ingin melanjutkan mimpi atau berhenti sampai disini sayang? Papa dan semuanya akan dukung keputusan kamu ko."


Mama mengusap kepala anaknya lembut penuh sayang. Tahu betul bahwa hatinya masih belum berpaling pada sosok lelaki pujaan, cinta pertamanya.


"Aku cuma rindu, rindu padanya ... rasanya sakit Ma, Pa," Aiswa terisak.


"Ya ampun, anak mama, iya sayang boleh nangis ko ... nangis dulu biar puas," Mama tetap memeluknya erat meski tangan kirinya terasa sedikit nyeri sebab telah dipasang infus.


Tok. Tok.


"Selamat Pagi, apa kabar hari ini Nyonya Rosalie?" Rayyan masuk ke ruangan itu, ditemani seorang suster disampingnya.


"Pagi Dokter, kapan terapinya dimulai? Aku tak sabar ingin segera jalan-jalan dengan putriku lagi," seloroh Mama.


"Satu jam dari sekarang ... Nona Aeyza kenapa? Ko ikut naik ke ranjang Mama? Sakit juga?" tanyanya heran, padahal sikapnya tadi sangat dingin.


"Dia memang lengket dengan Mamanya, Dokter ... senewennya kumat," Papa menggoda Aiswa.


"Apa tadi ada yang sakit saat terjatuh?"


"Jatuh dimana Dok? ... Jo?" Papa melihat tajam ke arah Joanna.


"Tuan itu ... sudah saya sampaikan perihal tadi," Joanna hanya bisa memberi kode.


"Ya ampun, mana yang sakit Aey?" Papa ikutan cemas, anak itu juga sama belum pulih benar.


Aiswa menggelengkan kepalanya, masih terdengar isakan dari gadis itu meski dia membenamkan wajahnya pada bahu sang bunda.

__ADS_1


Rayyan yang melihat wanita yang dia sukai begitu di lindungi oleh kedua orang tuanya, merasa tersentuh.


Mungkin watak dia yang keras kepala dan sedikit judes karena anak emas ayah ibunya.


Kenapa Aey? rasanya jika hanya jatuh seperti itu tak akan membuatmu seperti ini ... apa yang membuatmu menangis pilu? kesedihan seperti apa yang kamu alami?


Dokter Rayyan memeriksa Mama, memastikan kondisinya stabil meski Aiswa masih dalam dekapan beliau.


"Nona, nanti air matanya habis loh ... masa mau diganti pake air galon kan berat bawanya." Godanya sambil memeriksa laju cairan infus agar satu jam kedepan sudah sedikit berkurang dan obat yang dia suntikkan telah bereaksi.


"Aeyza kalau nangis lama, ga ada yang bisa redam ... jadi biarkan dia begini, akan tertidur setelah lelah dan saat bangun nanti biasanya dia akan cerita." Mama rupanya mengenali kebiasaan Aiswa sedikit demi sedikit.


"Semoga lekas ngantuk jika begitu, jika butuh kawan curhat, aku siap 24/7," kekehnya diikuti papa.


"Drive thru donk ... bisa aja nih modusnya, inget istri dirumah Dok," gantian Papa yang menggoda.


"Kosong Tuan ... kunci rumah aku sepertinya di pegang oleh Nona Aeyza," balasnya tak kalah modus.


"Eaaaaa...." sambung Papa diikuti gelak tawa kedua pria di ruangan itu atas obrolan ringan mereka untuk menggoda Aiswa.


"Baiklah, sampai jumpa satu jam mendatang, kebetulan hari ini aku overtime jadi bisa mendampingi Anda ... aku permisi Tuan, Nyonya Hermana ... Nona," ujarnya menatap Aiswa sekilas.


Hmm, jadi begitu kebiasaan kamu Aey? Ok, pantang menyerah Rayyan, maju terus.


Ruangan Danarhadi.


Dokter Rayyan memeriksa sang Tumenggung saat Amir sedang muroja'ah disampingnya. Tak menghiraukan sang Dokter yang sedang melakukan tugasnya.


"Oh Ok," Amir hanya menjawab singkat.


Ya Allah, hatiku gelisah, ada apa?


"Den Mas, kenapa?" Kusno memang peka, karena tak biasanya Ndoronya seperti ini.


"Entah, hatiku rasa ga genah, Pak."


"Monggo dilanjut jika begitu, biasanya Den Mas akan lebih tenang setelahnya."


Maghrib menjelang.


Amir memilih mencari Mushola di rumah sakit itu agar lebih leluasa menunaikan kewajibannya. Sebab dikamar ada Pak Kusno yang setia menemani sang buyut.


Setelah menemukan Mushola yang terletak dilantai dua, dia pun melaksanakan sholat maghrib disana.


Beberapa menit kemudian.


Aiswa sholat maghrib dikamar rawat Mama lalu berpamitan karena akan menuju Bandara. Dirinya singgah di taman yang tak jauh dari Mushola, dekat pintu keluar sembari menunggu Joanna mengambil mobil di basement.


Dia memandang pekatnya jumantara yang hanya dihiasi beberapa bintang diatas sana. Gumpalan awan nampak masih berarak menutupi sang dewi malam, sinarnya kali ini tak begitu kuat menerangi membuat Aiswa merasa bahwa mungkin bulan pun tengah meredup seperti hatinya.

__ADS_1


Gadis itu lagi, sedang apa dia.


Amir yang melewati taman, entah kenapa tertarik saat melihat si gadis bergamis marun tua, mengingatkannya pada sosok Aiswa saat perjumpaan pertama mereka di Semarang.


Aiswa menengadahkan kepalanya ke atas, merentangkan kedua tangannya lalu memeluk tubuhnya erat. Seakan dia tengah berterimakasih pada semesta.


Amir tersenyum melihat gadis itu dari kejauhan, hatinya menghangat seketika meski dia hanya mengamati dari belakang tubuhnya.


"Butterfly hugs ... ketransfer nih energi kamu, damai banget," lirihnya sembari menutup mata, ikut menarik nafas panjang seperti yang dia lakukan.


Ya Allah, mudahkanlah segala urusanku.


"Nona, mari pergi."


Aiswa masih menikmati apa yang tengah dia lakukan, tanpa sadar, jam tangannya terekspos jelas saat melakukan Butterfly hugs.


Setelah aksi memejamkan mata mengikuti gadis dihadapannya, Amir membuka matanya perlahan.


Jam? itu bukannya, seperti milikku dan Aiswa.


Joanna menyadari ada seseorang memperhatikan mereka, ia menarik paksa tangan Aiswa mencari tempat persembunyian.


Aiswa yang tak sadar apa yang tengah terjadi hanya bisa mengikuti kemana Joanna akan membawanya.


"Nona, ganti baju, lekas."


Amir kehilangan jejak, dia kehabisan waktu karena harus memutar taman untuk dapat mengejar kemana arah mereka pergi. Dia hanya ingin memastikan sesuatu.


Dan Aiswa baru sadar, saat dirinya keluar dari toilet seorang diri dengan tampilan sangat berbeda.


Gamis teracotta berbintik dipadu sneaker putih serta pashmina menjuntai dibagian belakang, ditambah topi casual menutupi kepalanya. Tak lupa kacamata coklat telah bertengger di hidung mancungnya.


Wajah ayu seorang Aiswa tertutup oleh masker berwarna senada, melintas bersisian dengan Amir yang masih mencari keberadaannya.


Qolbi. Aku pergi dulu.


Degh. Seakan waktu ikut berhenti.


Aiswa? Rohi? Kenapa terasa sangat dekat?


Perasaan mereka ternyata masih saling terpaut.


Joanna membawa koper Aiswa melalui sisi jalan satunya. Dia sekilas pandang melihat sang Nona diseberang sana sanggup melewati Amir dengan natural.


"Sorry Miss ... i feel like i know you just don't remember from where." (kurasa aku mengenalmu namun entah dimana)


.


.

__ADS_1


...___________________________...


__ADS_2