DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 123. DA3A


__ADS_3

Biii...


Aiswa membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangan ketika melihat Amir mengenakan jam tangan miliknya yang sejak kemarin dia cari, berderet di pergelangan tangan pria itu.


"Aiswa, pergilah ... aku akan mencarimu, jangan sedih lagi, berjuanglah disana sampai aku menjemputmu, yaa, Rohi!"


Amir melambaikan tangannya masih dengan senyum yang tercetak jelas di wajah menandakan dia bahagia.


Biii...


"Nona sudah waktunya, ayo, dia sudah melihatmu...." Joanna menarik paksa lengan Aiswa.


Iris mata yang memakai kontak lens warna hazel itu tak lepas menatap pria yang masih tegak berdiri disana hingga dirinya menghilang di balik lorong.


Satu lagi, paling krusial ... setelah mendapat izinnya, aku akan mencarimu.


Amir menghela nafas, sedari sesak akibat berlari kesana sini. Namun sepertinya urusan dirinya belum selesai. Dua orang petugas keamanan Bandara menghampiri.


"Excuse me, Sir... can you come with us for a moment, please?" (permisi tuan, dapatkah anda ikut kami sebentar?)


"I'm sorry, that was a mistake." (Maaf, memang salahku.)


Amir menepi mengikuti mereka hingga ke ruangan kecil tidak jauh dari lokasinya berdiri tadi.


"Any activity that does or has the potential to disturb public order, we have to take decisive action." (setiap kegiatan yang mengganggu ketertiban umum maka kami akan menindak tegas)


"I was in pursuit of a passenger to board a flight to London, I'm sorry, Sir ... so pardon my manners, i hope you will understand it." (Aku sedang mengejar seorang penumpang yang akan terbang ke London, maafkan sikapku, semoga Anda mengerti hal ini.)


"Next time, dont do this again, ok?"


"I'm going to remember that still, Sir," ujar Amir setelah percakapan panjang dirinya saat meminta maaf. (Aku akan mengingat hal itu, Tuan.)


Petugas Bandara menyilakannya pergi meninggalkan ruangan. Amir melihat pergelangan tangan kirinya, lalu melanjutkan perjalanan kembali menuju lokasi event. Hari kedua bagi Queeny mempromosikan produk andalan yang diusung kali ini.


Pria itu tak menduga bahwa semua aktivitas yang dia lakukan tak luput oleh sepasang mata cantik yang memperhatikannya dari kejauhan.


Serli melihat ketika dirinya meneriakkan sebuah nama yang baginya telah mati.


"Jangan sampai Mas Hasbi tahu, bisa gawat urusannya."


"Sayang, kenapa diem berdiri disini sih, kamu ga boleh cape dan Bunda sebentar lagi landing, kita tunggu di lounge saja ya," ajak Hasbi pada Serli saat menunggu kedatangan ibu mertuanya.


Sementara di gate keberangkatan lainnya.


"Aiswa? siapa dia? ... yang Amir panggil itu kan Aeyza, calon istriku yang menolak ku nikahi," gumam Rayyan saat telah duduk di kursinya.


"Aku mendengar nama itu beberapa kali disebut, ada hubungan apakah dia dengan Aeyza ku?"

__ADS_1


Pagi itu, Aiswa memang bertemu Rayyan di Bandara, mereka berpisah disana karena Rayyan harus kembali bertugas di rumah sakit Singapura, tempatnya mengabdi.


Sebisa mungkin Aiswa menghindari pria itu namun tetap saja dia bagai ulat pohon jeruk yang berkepala besar, menempel sangat lekat.


"Amir, Aeyza ... siapa kamu sebenarnya, apakah kalian mempunyai cerita masa lalu?" batinnya menjerit meminta dirinya mencari tahu lebih lanjut namun apa daya, handphonenya telah silent dan harus bersabar hingga dua jam kemudian.


***


Ketika Mahendra membuka mata, hari sudah menjelang siang. Tak dia jumpai sosok kalem nan bersahaja itu didalam kamar yang dia tumpangi sejak semalam.


Masih dalam rasa kantuk yang masih menguasainya, dering ponselnya berbunyi. Susah payah dirinya meraih benda pipih yang jauh dari jangkauan hingga ketika tangannya berhasil meraih dan menggeser tombol hijau keatas layar, suara yang dia rindukan memenuhi gendang telinganya.


"Ya-hh ... yaya-hh," suara menggemaskan.


"Maira? Maira sudah bisa bilang Ayah?" Mahen membola, rasa tak percaya bayi lucunya yang kini berusia hampir tujuh bulan dapat mengucapkan kata yang dia nantikan.


"Sayang, maaf yaa semalam aku ga denger Abang telpon atau ketok pintu...."


"Honey, Maira sudah bisa bicara? ... aku tahu kamu lelah, makanya aku bilang, satu lagi baby sitternya biar kamu punya waktu istirahat sayang," imbuhnya.


"Aku ga mau Maira dipegang oleh baby sitter, dia putriku ... Maira belum bisa ngomong ko, dia memang sedang merekam banyak kosakata dan mulai melatih pelafalannya, beberapa hari ini memang suka sebut kata kayak tadi itu ... mamam, mama, dada tapi terkadang kurang jelas, ya sesuai perkembangannya."


"Tapi aku bahagia ... kalian dimana? sudah ke lokasi event? badanku lelah, aku masih dikamar Kak Amir."


"Kita kesitu ya, aku sudah pesankan salad buat Abang ... di stand ada Mega, Bang Alex serta Kak Amir," sambungnya lagi.


"Kesini sayang, aku kangen kalian."


Tok. Tok.


"Bos, laporan dari anak-anak tentang lawyer Hermana."


"Masuk Rey."


"Kaki Anda sakit? aku panggilkan dokter ya Bos, " Rey melihat Mahen tak mengenakan maki sintesis, jika sudah demikian artinya kaki kiri itu sedang tidak baik saja dan butuh perawatan.


"Ga usah, nanti ada Naya kemari, hanya butuh sentuhan tangan dia sepertinya ... biasanya dia yang kompres dan siapkan semua, lah ini hampir dua pekan tidak ada yang memperhatikan betul kondisi kakiku."


"Ck, syndrome."


"Bagaimana laporannya?"


Tok. Tok.


"Masuk sayang," seru Mahen dari posisinya yang kembali berbaring.


"Honey ... loh, Bang Rey disini? kirain kerja."

__ADS_1


"Bos, lanjut atau gimana?"


"Lanjut saja ... Maira, sini ikut Ayah," bayi kecil mengulurkan tangan menyambut dekapan dari Ayahnya yang dia rindukan.


"Mau ngomongin apa? aku ganggu ga?" tanya Naya saat menyerahkan Maira dan dia duduk didekat kaki suaminya.


"Stay sayang, dengerin aja."


"Astaghfirullah, ini kenapa memar?... Rey!! suamiku kamu paksa kerja rodi?" sengitnya menatap Rey saat mengetahui kaki Mahen nampak kebiruan.


"Mampus gue ... bukan aku Nona, kondisi disana memang terjal, aku juga mendapat memar yang sama banyaknya ... Bos, jelaskan donk."


Mahen menarik pergelangan tangan Naya, hingga jatuh berbaring di pelukannya.


C-up.


"Gapapa sayang, tolong obati yaa...." tatapnya gemas ingin melu-mat bi-bir kenyal yang dia rindukan.


"Eheemmm, lawyer Hermana...."


"Lanjutkan saja, aku sedang melepas rindu dengan anak istriku," tuturnya tak peduli pada kehadiran Rey disana.


Nasib gue jomblo.


"Baiklah, sabar dengan pasangan bar-bar ... seperti dugaan Anda, dia mengetahui bahkan menyetujui proses peralihan perwaliannya."


"Hah, apa! ... perwalian siapa ke siapa?"


"Dari ... ke Her-mana Ar-ya, siapa lagi Bos ... ck nanti lagi lah, Anda teruskan saja ... aku permisi." Rey menjeda ucapannya, bangkit dari sofa lalu meninggalkan ruangan itu.


"Rey, balik sini!"


"Ogah, Anda sedang konslet Bos ... after lunch kita bicara lagi."


Brak. Rey membanting pintu kamar.


"Aku ganggu ya?" lirih membelai wajah suaminya.


"Engga ... aku kangen kamu, sangat Naya."


"Tapi sepertinya tadi itu penting ... aku obati kaki Abang dulu."


"Thanks sayang, aku kini ketergantungan padamu," ia melepas istrinya pergi menyiapkan segala hal untuk mengobati kakinya yang terasa sakit.


Berarti benar, legal...


.

__ADS_1


.


...___________________________...


__ADS_2