DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 45. MENGENAL SESEPUH


__ADS_3

Setelah dua kunjungan hari ini, hati Gamal dibuat gundah. Pasalnya nasib jawaban atas lamaran awal darinya untuk Almahyra masih menggantung.


" Batre habis nih, adem, " Amir nyeletuk sembari memejamkan mata, menyandarkan kepalanya pada bahu kiri sang Ayah.


" Gegana gue ... gelisah galau merana, " cebiknya setengah kesal.


" Alay ... Almahyra itu ga punya pilihan selain Lu, Mal. Yai Rois sudah memperhitungkan segalanya. " Amir tersenyum simpul.


" Kesannya kayak gue barang reject, ck ga punya pilihan. " Smirk menyebalkan Gamal muncul.


" Baguslah ... kalau dia ada pilihan lain, Lu rempong lagi Mal karena ada saingan. "


" Ck, mana ada yang mau bersaing menghadap malaikat izroil, " sungutnya kesal.


Hahahaha. Amir dan Alex justru tertawa atas jawaban konyol Gamal.


" Puas Lu. " kesalnya melempar Amir dengan topinya.


Plakk. Abah menepuk kening Amir.


" Aww, sakit Bah. " Amir mengusap pelan dahinya, urung membalas Gamal.


" Kamu nyender gini dikira Abah ga pegel apa Mir, mana ribut melulu ini berdua. Abah ngantuk, diem atau Abah nikahin kamu juga sekalian Mir. "


Pfftt. Gamal dan Alex menahan tawa.


Seketika Amir terdiam, menutup mata dan memeluk lengan sang ayah, mengabaikan kedua pria didepannya yang mulai mendendangkan lagu milik salah satu artis dangdut.


Tak berapa lama, situasi didalam mobil mulai sunyi. Gamal rupanya lelah mengoceh sedari tadi namun tak ada lawan karena Alex hanya menanggapi dengan deheman, anggukan atau sekedar iya. Garing dan boring, pikirnya.


Satu jam kemudian, Honda Brio merah itu telah berada dihalaman megah kediaman Gamal.


" Besok jam delapan pagi, kita ke Solo Mal, " ujar Abah saat Gamal hendak keluar dari mobil.


" Ok Bah ... bawa apa ya buat sesepuh, " tanyanya.


" Bawa kesopanan, kesantunan dan pake pakaian yang betul, jangan celana robek macam itu. Sesepuh orang kolot, kuno ga nrimo gaya begituan. " Abah menunjuk celana jeans belel dengan banyak sayatan yang dikenakan Gamal.


" Ck, mahal ini Bah, Lea ori pula. "


" Tetep ae celana suwek, sing nganggo rodo anget, pas. " Amir dan Alex tertawa. (tetap saja celana sobek, yang memakainya pun agak tak waras, cocok)

__ADS_1


" Eh, mulut nyamber aja. " Tangannya berusaha menggapai Amir yang masih tertawa untuk memukulnya namun tak sampai.


" Ketularan Lu, " balasnya disela tawa.


" Stop, Gamal sana masuk! ... astaghfirullah Amir, abah kayak punya dua anak PAUD. " Tatap Abah tegas pada keduanya.


Masih cekikikan puas melihat Amir ditegur tegas oleh Abah, Gamal membuka pintu mobil dan melambaikan tangan saat Brio merah itu kembali melaju meninggalkan pelatarannya.


Saat membuka pintu rumah, dirinya dikejutkan oleh sang Mama yang tengah duduk di ruang tamu, menunggunya.


" Ma, ko disini. Masuk yuk kita ngobrol didalam, tapi aku mau mandi dulu. " Raih tangan Mama, salim serta mencium keningnya.


" Gih sana mandi Mal, nanti Mama mau bicara ya. "


" Bicara sekarang aja deh ... tadi aku kerumah orangtua Almahyra Ma, ibunya memakai kursi roda, ayahnya stroke dan sulit untuk berbicara. "


" Iya, kasihan. Kamu yang sayang sama mereka nanti ya meski mereka berlaku buruk tapi itu di masa lalu ... Jaga diri baik-baik Gamaliel Arbi, anakku sayang. " Mama memandang lekat wajah tampan dihadapannya.


" Mama ... aku ga akan ninggalin Mama ko. " Gamal menghambur ke pangkuan Mamanya.


Mama membelai rambut anaknya penuh sayang, menunduk menciumi pipinya selayaknya anak balita kala ingin dimanja. Mama hanya merasa takut, momen ini akan hilang setelah Gamal menikah nanti. Terlebih dia telah mengetahui masa lalu mereka yang tidak terhubung ikatan darah.


Masa tua Mama dibayangi oleh kesendirian dan kesepian karena satu-satunya orang yang ia jadikan sandaran hidup sejak belia justru meninggalkannya lebih dulu, menyisakan kisah yang belum terungkap.


" Janji ya Mal, bawa Mama kemana pun Gamal pergi. " Sebulir bening luruh membasahi pipi mulus wanita itu.


Gamaliel hanya menganggukkan kepala dalam pangkuan, merasa haru serta sangat beruntung meski tidak mengenal ibu kandungnya ia berkelimpahan kasih sayang dari Mama.


Mama mendekapnya erat, menghidu wangi anak semata wayang yang ia jaga dengan segenap jiwa raga meski tak lahir dari rahimnya.


***


Setelah Abah berpamitan pada besannya, Abyan mengantar rombongan menuju stasiun. Tak lupa menjemput Gamaliel di kediamannya sesuai kesepakatan jelang senja kemarin.


" Ka, syukron. Maaf bila selama aku di sini banyak melakukan kesalahan serta merepotkan. " Amir izin pamit.


" Semoga lekas ketemu jodoh, biar ga ngerepotin lagi. "


" Ck, gitu amat ... kagak ada basinya, " cibirnya atas sindiran sang kakak sembari berlalu menaiki gerbong yang telah siap.


" Ka, Abah ke uyut dulu. Jaga baik-baik keluargamu, jaga pandangan karena Qonita bilang kamu ingin menikah lagi. "

__ADS_1


" Innalillahi, aku ga ada niat Bah, ini waktu bercanda dengan Yai Jazuli kemarin itu kan? "


" Selesaikan dengan tenang Ka ... pamit ya, assalamu'alaikum. " Abah memeluk anak sulungnya lalu naik ke gerbong eksekutif menyusul mereka.


Waktu tempuh selama empat jam mereka habiskan dengan mendengarkan musik di earphone masing-masing kecuali Abah dan Amir yang memilih tidur.


Gamal duduk bersebelahan dengan Alex, sementara Amir dengan sang Ayah. Setelah kejadian kemarin, rasanya Abah malu melihat tingkah kedua anak lelaki itu bila bertemu.


*


Stasiun Solo.


Kusno mendapat perintah dari sang Tumenggung untuk menjemput cucu dan cicitnya di stasiun. Sudah tiga puluh menit dirinya menunggu di peron. Hingga kereta itu langsir perlahan masuk stasiun, dia masih setia berdiri disana.


" Den Mas, ada bagasi? " tanya Kusno saat rombongan majikannya menghampiri.


" Koper aja Pak, biar mereka bawa sendiri ... Nak Alex hanya bawa ransel, " jawab Abah sambil terus berjalan menuju pintu keluar.


" Monggo Den Mas, " Kusno membuka pintu tengah untuk rombongan majikannya. Tak lama, Rangers rover evoque hitam itu meluncur perlahan meninggalkan lokasi menuju Joglo Ageng, kediaman Raden Arya Tumenggung Danarhadi.


Gamal takjub saat gerbang megah nan besar didepannya dibuka oleh pria tegap berseragam serba hitam lengkap dengan atribut keamanan pada sabuk yang melingkari pinggangnya.


Terpampang dihadapannya halaman luas nan rapi tertata, bangunan khas Jawa didominasi kayu jati teguh menjulang di dalam sana. Suara kicau burung murai makin menambah asri suasana.


" Monggo langsung ke ruang makan saja, barang-barangnya nanti di rapikan ke kamar masing-masing oleh Mban ... ada Den Roro Aruni di sini, tinggal di paviliun belakang, biasanya bergabung saat makan siang, " terang Kusno menjelaskan singkat situasi di Joglo Ageng seraya memasuki ruangan.


" Mir, cewek ... vitamin A tuh. " Senggol Gamal pada lengan Amir.


" Astaghfirullah. " Amir sontak menutup mata saat melihat sosok gadis cantik dengan hot pant berjalan dari halaman belakang menuju ruang makan.


" Bah, aku nanti saja makannya. " Amir melengos pergi mengikuti Mban masuk ke kamarnya. Abah yang peka, hanya mengelus dada lalu berbalik arah melangkah ke ruang baca dimana kakeknya berada.


" Ya ampun, ada cewek cakep ditinggalin ... padahal booster ya Bang, " kelakar Gamal yang ditanggapi senyuman tipis oleh Alex.


Berbeda sekali dengan keluarga Abah, wajar sih, cicit dapat nemu kan. Batin Alex.


.


.


...___________________________...

__ADS_1


__ADS_2