DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 125. DA3A


__ADS_3

Amir masih berkutat dengan kegiatannya. Wajah tampan nan kalem milik pria itu yang biasa dia tampakkan kini tengah diliputi keseriusan mendalam.


Jemarinya lincah menyimpan bahkan membagi tautan ke handphonenya dari laman yang dia temukan.


Setidaknya ada enam kampus ternama dikota itu yang mempunyai program studi design sebagai jurusan favorit untuk murid didiknya.


Wajah tenang itu kali ini semakin terlihat serius karena sedang membuat rute perjalanan yang mengharuskan dirinya memanfaatkan waktu sebaik mungkin mengingat cuaca disana mulai memasuki musim dingin.


"Di cuaca yang tak menguntungkan bila terlalu lama diluar pasti akan menghambat misi ... Aku harus lekas, maksimal empat jam diluar ruangan karena badai salju bisa kapan saja muncul." ujarnya menghitung akumulasi waktu saat tiba disana hingga memulai penelusuran.


"Aiswa, tunggu yaa ... aku akan memastikan semua apakah kita dapat kembali bersama ... Qiyya, maafkan aku sayang, melupakanmu begitu cepat." Gumamnya merasa sedikit bersalah.


Dalam jeda penelusuran karena terbersit sedikit penyesalan dihati terhadap kenangan bersama dengan Aruni. Dia dikejutkan oleh Alex yang menegurnya perihal stand.


"Den mas, ini dibereskan saja mulai sekarang yaa karena Chandi sedang rekap laporan ke bendahara event untuk pembayaran atas omset Quenny."


"Iya Bang, boleh dah biar agak leluasa waktu kita nanti saat briefing farewell ba'da maghrib."


"Baik Den Mas," jawab Alex sembari beranjak membereskan manequin terlebih dahulu.


"Oh iya Bang, setelah briefing aku langsung pulang ya ambil penerbangan malam jadi pagi sudah sampai di Jakarta ... aku juga akan stay di sana dulu jadi sepertinya Bang Alex kembali sendirian."


"Iya ga apa, memang rumahku disana kan? Apalagi kalau ada Abah, jadi punya teman begadang," imbuhnya dengan wajah sumringah.


Wajar Alex bahagia sebab keluarga Kusuma sangat memperlakukan mereka yang bekerja dengan penuh kehangatan serta kebersamaan. Bagai memiliki keluarga kedua baginya.


Amir bersyukur meski keluarganya tidak punya kerabat dekat dikota itu namun semua tetangga bahkan karyawan yang bekerja pada Abah ataupun dirinya semua amanah. Berkah rezeki dari allah.


Selama beberapa hari di Jakarta nanti, dia akan mengunjungi sekolah miliknya di daerah Bekasi yang dititipkan pengelolaannya pada salah satu orang kepercayaan Abah juga. Sudah satu tahun ia tak menginjakkan kaki disana sejak pernikahannya dengan Aruni.


Sebelum ke tazkiya, aku akan mampir ke Arza dulu meninjau apa yang sudah aku bangun dan rintis sejak tiga tahun lalu hasil tabungan ku selama bekerja dengan Abah.


Selama ini melihatnya berkembang hanya berdasarkan laporan saja tanpa menyelami lebih dalam, semoga semua baik agar aku punya modal saat memintamu nanti, ya Rohi.


Aku enggan menyebutkan bahwa diriku memiliki asset keluarga Kusuma, aku hanya ingin istriku tercukupi atas jerih payah ku sendiri.


Queeny, Qiyyam dan Arza, semoga kamu bisa menerima segala keterbatasan saat hidup denganku ya Rohi.


Ba'da maghrib.

__ADS_1


Akhirnya rangkaian event selama tiga hari berakhir sudah.


Payment juga telah selesai diserahkan ke para partisipan. Panitia mengucapkan banyak terimakasih atas segala partisipasi para tenant yang tergabung dalam misi kali ini.


Tak lupa memberikan penghargaan pada Meela.Co atas feedback positif para peserta sharing perihal materi yang dibawakan oleh Amir karena mereka diberikan waktu dua hari disertai bimbingan langsung dari pemateri untuk praktek menerapkan tips yang diberikan saat sesi sharing dua hari lalu.


Sedangkan Queeny berhasil meraih pendapatan terbesar kedua setelah Cloth and Flora, brand pakaian muslim lokal ternama negara itu.


Berkah bagi usaha kedua putra keturunan kusuma meski baru berusia kurang dari dua tahun.


"Terimakasih banyak atas apresiasi sambutan hangat terhadap Queeny di negara ini, semoga apa yang kami hadirkan dapat memberi warna berbeda serta tetap mengedepankan kenyamanan dalam berbusana syar'i," pungkasnya menutup rangkaian acara event akbar Malaysia Expo tahun ini.


Setelah memberikan kabar pada Naya bahwa malam ini dia akan langsung boarding dan meminta izin tinggal di apartement mereka, Amir menuju bandara seorang diri.


Dalam pekatnya malam dari dalam bilik pesawat yang membawanya membelah angkasa, dia merenungkan segala kemungkinan yang akan muncul.


Ya Allah, hanya kepadamu aku berserah diri, Engkau yang Maha Mengetahui segala sesuatu.


Keesokan pagi.


Amir terbangun tepat adzan subuh yang terdengar lewat pengeras suara yang dinyalakan di setiap lantai Orchid Tower.


"Den Mas, kata Non Naya nginep disini lama ya? mau dimasakin apa sama Bibi? jangan menolak, nanti Bibi kena tegur Den Mahen," ujarnya sopan sembari menunduk, sadar bahwa kakak kandung majikannya yang satu ini tidak suka memandang terlalu lama pada yang bukan mahramnya.


"Ga lama Bi, mungkin dua hari ... aku pulang malam hari ini, ga usah masak karena mau ke Tazkiya lalu ke Bekasi jika sempat ... Naya balik ke Bogor langsung ... Bibi masak seperti biasa aja ya," Amir berkata pelan sambil lalu menuju ruang makan.


Beberapa menit selanjutnya, duda tampan ini telah rapi mengenakan kemeja hitam pendek bermotif serat bambu dengan trouser warna khaki mencari keberadaan Bibi untuk meminjam kunci mobil.


Dia mencari wanita paruh baya itu hingga ke balkon belakang namun nihil. Ketika dia kbali masuk, rupanya Bibi baru saja kembali dari luar unitnya.


"Den, maaf nyariin ya?... ini kuncinya, mau yang mana? BMW atau Vios?" tangan kanannya menyerahkan kotak kunci mobil juragannya pada Amir.


"Vios saja, aku pergi ya Bi, assalamu'alaikum."


Bibi menatap kepergian sang duda perlente dengan tatapan kagum.


"Masih muda, ganteng, sholeh ... andai Bibi juga masih muda ya Den," kekehnya kembali membereskan rumah.


Amir menuju basement, menekan tombol kunci alarm hingga mobil hitam itu berbunyi. Ia melajukannya perlahan keluar dari Orchid menuju Tazkiya. "Bismillah...."

__ADS_1


Jarak tempuh selama 30 menit telah habis dilalui, kini dirinya memasuki kawasan pondok pesantren almamaternya.


Saat mobilnya telah terparkir rapi didepan halaman Aula Putra, dia dihampiri seorang Santri.


"Kang, afwan mau bertemu Yai? sudah janji?"


"Belum, tapi ana boleh minta tolong sampaikan dahulu jika Yai ada ... Amirzain ingin sowan."


"Nggih, silakan tunggu di ruang tamu dulu," tunjuk nya pada bangunan megah disisi Aula.


Amir melangkahkan kakinya kesana, duduk tenang disalah satu kursi hingga sebuah suara yang dia kagumi memutus lamunan yang baru saja melintas.


"Assalamu'alaikum, Amir putraku ... sendiri Nak?"


"Wa'alaikumussalam, Nggih Yai, sendirian ... afwan jika tidak santun datang langsung tanpa berkabar lebih dahulu ... apa kabar Yai?" Amir bangkit, membungkukkan badan seraya tangannya terulur meraih jemari Yai untuk diciumnya.


"Buya Mir," balasnya seraya membawanya dalam pelukan. Erat dan lama seakan dia merindukan sosok putranya.


"Duduk Nak, temani Buya sarapan ya didalam ... Umma sudah pergi kajian pagi di pondok putri ... sambil ngobrol, yuk," tariknya pada tangan Amir yang masih berdiam diri.


Keduanya beralih masuk ke dalam rumah, ia merasa tak enak dengan tatapan santri yang berada di sekitar lingkungan kediaman Yainya.


"Makan Nak, jangan sungkan ... Buya kesepian, Umma sibuk sendiri, Ahmad jarang pulang," ujarnya sendu saat keduanya telah berada di meja makan. Amir melayani sang Yai dengan perasaan yang entah tak dapat dilukiskan, hampa, merasakan bahwa beliau ternyata sama kehilangan sepertinya.


"Ada yang ingin aku sampaikan setelah ini Yai," Amir memberanikan diri memulai percakapan.


"Buya Mir, Buya, aku ini Abahmu juga ... tentang apa Nak?" pintanya dengan wajah mengharap.


"Aiswa Buya, afwan...."


Degh.


Aiswa, putriku...


.


.


...______________________...

__ADS_1


__ADS_2