
Amir menuliskan sesuatu pada secarik kertas yang baru saja dia minta dari koordinator lapangan event, dirinya juga berpesan agar sang designer membalasnya dengan tulisan tangan sepertinya
"Tolong sampaikan untuk beliau, tak perlu menyebutkan siapa aku, boleh kan?" pinta Amir saat menyerahkan kertas itu pada panitia.
"Boleh Mas," ujarnya sembari menerima pesan dari tangan Amir.
Di depan sana Aiswa masih menjelaskan gaun rancangan series keduanya. Kali ini dia menggunakan warna biru. Lantunan musik sendu yang menyertainya menambah kesan syahdu seiring suara lembut dari bibirnya.
"Biru melambangkan kepercayaan dan kesetiaan, relaksasi bagi jiwa. Biru memberi kedamaian dan membuat kamu merasa percaya diri. Deep of the blue sea, like a women, semakin kamu menyelami dalamnya laut akan kamu temukan keindahan serta kedamaian darinya... layaknya wanita, semakin kamu mengenalnya, menemukan hal unik yang hanya ada pada dirinya maka semakin kamu jatuh cinta pada kedalaman rasa."
"I'm smitten by you, under your spell...." pungkasnya. Disambut tepuk tangan hadirin. (Ku cinta padamu dalam pengaruh mantra, karena pikiran hanya penuh tentangnya)
Setelah Aiswa selesai, acara dijeda kembali dengan perfomance para pendukung acara lainnya.
Amir kesulitan mencari Aiswa dalam keramaian standing party yang mulai digelar. Dentuman musik beat semakin menambah riuh suasana dalam ballroom saat jeda.
Dia berusaha terus mencari dan menanyakan pada panitia namun mereka mengatakan bahwa team designer yang ia maksud sedang briefing.
"Mas, yang dari LN sudah selesai atau belum ya? boleh aku menemui salah satunya? ada sesuatu yang harus aku pastikan."
"Mereka briefing Mas, tunggu managernya saja karena biasanya bule inginnya serba perfect ... mereka juga akan perform sekali lagi," tunjuknya pada lampu yang menyala ON diatas pintu ruangan yang tertutup.
"Tunggu dimana ya?"
"Di luar saja Mas, ini harusnya Mas Amir ga bisa masuk sini... hanya saja karena partisipan jadi sementara aku bolehkan, silakan Mas di pintu keluar staff." Koorlap menyilakan Amir kembali.
Hampir satu jam Amir menunggunya disana sesuai arahan panitia. Hingga acara usai tak ia temui satupun para designer yang tadi perform. Saat koordinator lapangan melintas, Amir menahan langkahnya.
"Mas, ko lama ya? sampai selesai belum keluar?"
"Loh, Mas Amir nungguin mereka keluar? ga lewat jalur sini Mas, vvip lewat utara, langsung ke parking area," jawabnya merasa salah persepsi.
"Katanya tadi disini, aku nunggu managernya ga ada juga," kesalnya.
"Maaf Mas, jadi mau ketemu siapa?"
"Little A, ada?"
"Baru aja balik kayaknya, susulin ke parking area utara Mas, semoga belum pergi tadi masih wawancara ku lihat."
Amir bergegas menuju kesana sesuai arahan koordinator lapangan. Harapannya mendadak sirna kembali mendapati halaman itu telah kosong. Hanya beberapa pewarta berita saja yang masih hadir disana.
Dia menyandarkan punggungnya ke salah satu sisi tembok, memejamkan mata seraya mengatur deru nafas yang memburu seiring laju detak jantung yang meninggi.
Ponselnya bergetar dengan nada dering khas untuk panggilan adiknya, Naya.
"Kak, dimana? jika masih di dekat stand Queeny, boleh minta tolong ga?"
__ADS_1
"Apa Nduk?"
"Aku lupa, tadi pagi Mega diminta mengantarkan dua buah hijab atas pesanan Danesh ke Hotel Santun, satu blok dari venue kamar 200 lantai dua ... Mega baru sampai malah ini."
"Ok, sudah di packing kan? aku tinggal antar saja," tukasnya.
"Iya sudah, ada di bawah meja nota yaa, goodie bag ungu," imbuhnya lagi.
"Aku antar Nduk, kamu istirahat, sudah jam sebelas malam ... Maira rewel?"
"Iya ini udah tidur, kebangun karena kelupaan tadi pas Mega masuk kamar ... hati-hati kak."
Amir menghela nafas, melihat jam di pergelangan tangannya. Jika bukan Naya yang meminta mungkin dia akan menyewa jasa kurir untuk mengantarkan paket milik customer Queeny.
Dengan tubuh setengah lelah, dia kembali ke dalam. Saat akan berbelok ke stand, langkahnya dicegat oleh panitia event yang memberinya sebuah amplop.
"Mas, ini tadi jawaban atas pertanyaan saat pagelaran ... Mas Amir mau kemana?"
"Oh iya thanks," sahutnya menerima benda yang disodorkan padanya, ketika berniat membuka, panitia event menegurnya kembali.
"Mas, maaf mau tutup ... Mas Amir mau kemana?" tanyanya sekali lagi.
"Oh Ok ... aku ingin ke stand mengambil sesuatu milik customer yang tertinggal, masih bisa kan?"
"Boleh, mari saya temani sekalian sweeping terakhir, silakan Mas...." ujarnya sembari meminta Amir melanjutkan langkah.
Amir membawa goodie bag ungu ditangannya menjauh dari lokasi, kebetulan didepannya telah berderet taksi konvensional.
"Pak cik, bisa tolong antar ke Santun Hotel?" ujarnya mengetuk pintu kaca mobil.
Driver menganggukkan kepala dari dalam mobil seraya membuka kunci kursi penumpang bagian belakang. Tak lama kendaraan dengan warna khas biru itu melaju sesuai tujuan Amir.
Lima belas menit berselang.
Setelah mengkonfirmasi ke receptionist, Amir menuju lift yang akan membawanya ke lantai dua hotel dengan nuansa klasik khas ornamen jaman kolonial Inggris.
"Pilihan hotel yang cantik," lirihnya pelan.
Netra lelahnya menyusuri lorong dengan nomor kamar yang dicarinya.
"Nah ini dia," imbuhnya seraya membuka pesan yang dikirimkan oleh Naya tentang keberadaan sang customer.
Tok. Tok.
Sunyi.
Sunyi.
__ADS_1
Sementara dari dalam kamar, Aiswa yang baru saja tiba merasa enggan membuka pintu. Saat ketukan terdengar beberapa kali. Namun Joanna sedang tak bersamanya.
Tubuh lemahnya dia paksakan bangun, dengan langkah gontai, ia menuju wastafel hendak mencuci muka berharap wajahnya lebih segar hingga memancing energinya agar kembali lebih cepat.
Tok. Tok.
"Sebentar," ujarnya menanggapi sang pembuat suara di daun pintu kamarnya.
Tok. Tok.
Hening.
Kaki Amir yang sudah sangat pegal terasa jauh lebih lelah berkali lipat saat menunggu sang penghuni kamar tak jua muncul.
"Iya sebentar, aku sedang cuci muka dulu," seru Aiswa dari dalam toilet kamarnya.
Tok. Tok.
"Ya ampun, lama sekali ... ga tahu apa kalau berdiri disini lima menit bagaikan lima minggu?" Amir menggelengkan kepalanya.
Tak tahan lagi, dia menepi menyenderkan tubuhnya ke dinding sebelah pintu.
Cklak.
Aiswa membuka pintu, namun tak dia jumpai siapapun disana. Hatinya kesal, pintu pun dia tutup kembali.
Brakk.
"Ya ampun, galak amat, kan aku disini masa ga lihat sih." Amir menggerutu mulai terpancing emosi.
Tok. Tok.
Aiswa menahan geram, tangannya mengepal di samping badan meremas bagian sisi gamisnya.
Dengan langkah menghentak dan tarikan tangan kasar pada handle, dia membuka pintu kamar hotel dengan tenaga yang masih tersisa.
"Siapa sih, usil bang--," Aiswa tertegun saat melihat seseorang di hadapannya.
Amir terkejut pintu yang tertutup itu dibuka kasar, diam mematung setelah kepalanya menengadah melihat wajah yang sangat dia rindukan.
"Ais-wa, rohi?"
.
.
...______________________...
__ADS_1