
Hermana Arya tergesa menjenguk Rayyan di IGD, ia mendapat kabar darinya langsung ketika baru saja terjadi kecelakaan. Saat itu ia berada di kamar perawatan keluarganya.
Rencana Rosalie akan di cek kondisi oleh Rayyan hari ini agaknya batal mengingat kondisi beliau yang belum dapat dipastikan kesehatannya.
"Dokter Rayyan dimana?" tanya Hermana.
"Bilik tiga sebelah kanan, Dokter," ujar suster jaga.
Sang pemilik rumah sakit pun menyusuri beberapa tirai. Ketika hendak masuk, langkahnya tertahan akibat melihat Dwiana yang tengah tertidur menyandarkan kepala di sisi ranjang dengan tangan kanan Rayyan di atasnya.
"So sweet," gumam Hermana.
Usil, pria paruh baya itu menangkap moment manis mereka dengan kamera ponsel sambil tersenyum.
"Suster, titip ya. Kabari jika beliau sudah sadar karena Dokter Rayyan adalah dokter pribadi istriku saat di Singapura lalu," ungkap Hermana.
"Baik, Dokter," balas suster dan dokter jaga di sana.
Hingga maghrib menjelang, Dwiana bangun dari tidurnya yang tak ia sengaja. Lelah karena di perjalanan ditambah latihan fisik lalu di hadiahi kejutan sport jantung hingga ia berakhir di sini membuat fisiknya meminta di istirahatkan.
Wajah manis saat baru bangun tidur, Rayyan tangkap sekilas sebelum gadis itu melihatnya.
"Udah maghrib ya, aku gak bawa mukena. Dokter? udah sadar belum? aku mau ke Mama Rosalie dulu y, sholat. Sekalian nanti beli makan, di sini baru dapat pure buah dan susu aja," ucap Dwiana melihat snack diatas meja dengan obat pereda sakit dan suplemen.
Tak ada respon, membuat Dwiana khawatir meninggalkannya. Dia meraih ponsel dalam saku celana, menekan nomor Aiswa.
Tuut. Tuut.
"Aish, kamu dimana?" tanya Dwi.
"Di rumah, tapi Qolbi baru aja pergi ke sana, kenapa Dwi?" jawab Aiswa.
"Hmm, gak jadi deh. Kamu gak ikut?"
"Aku menghindari mood jelek, kasihan Qolbi ngadepin aku. Dia super duper sabar, dan aku gak tega ... di rumah dulu akhirnya sekarang," sambung Aiswa lagi.
"Bumil bumil, merepotkan...."
"Kamu juga nanti gitu kalau ada Rayyan Junior di perut super rata yang kau banggakan itu weeehhh. Gak sabar rasanya melihat seorang Dwiana hamil, entah harus berapa kali nanti Dokter Rayyan menjebol benteng Takeshi," kekeh Aiswa.
"Gue sumpahin anak Lo kek gue nanti Aish," kesal Dwi.
"Kalau pinternya, kuatnya, teguhnya, cantiknya, kaya nya, yang nular ya gak apa. Asal jangan mulut pedes aja tuh nempel," Aiswa tertawa.
"Sepaket loh Bu, meski mulut kamu itu lebih pedes dari aku," giliran Dwiana terkekeh.
"Sana Maghrib dulu, bentar lagi habis waktunya loh Dwi. Besok aku kesana deh ya, semoga mood ku baik ... bye sayangku, kabari selalu ya Dwi," tutup Aiswa mengakhiri panggilan.
__ADS_1
"All by my self, Aish...." Dwiana memasukkan ponselnya lalu menyibak tirai menuju meja suster. (selalu sendirian)
Akhirnya setelah berjuang meruntuhkan gengsi dan malu, Dwi berhasil meminjam mukena suster tanpa menuju kamar Mama Rosalie di atas.
Ia pun melakukan sholat maghrib di sisi ranjang Rayyan setelah meminta OB mengepel ulang agar ia yakin bahwa tempat yang akan digunakan untuk sholat, telah suci.
Rayyan membuka mata, melihat betapa banyak yang Dwiana sembunyikan darinya. Satu cerita penting tentang Derens mungkin berpengaruh pada gadis itu hingga membuatnya kian tertutup, kini ia ketahui.
"Dwi," lirih Rayyan memanggil saat gadis itu hanya diam setelah menengadahkan tangan untuk berdoa.
"Eh, udah bangun? sorry ngelamun ... mau sholat? aku panggil suster ya," tanyanya beruntun.
"Kamu, cantik banget ya kalau begitu," lirihnya.
Dwiana tak menanggapi ocehan Rayyan. Ia melanjutkan melipat semua peralatan ibadahnya lalu keluar dari bilik menuju meja suster. Mengembalikan mukena serta minta bantuan agar Rayyan dapat berwudhu dan sholat.
Dwiana menunggu di luar bilik hingga Rayyan selesai. Bukannya melanjutkan berbaring, ia malah meminta infus di lepas lalu memohon agar Dwiana mengantarnya pulang.
"What, dokter. Gak begini," sahut Dwi khawatir.
"Mama sedang ke sini, malam nyampe Dwi. Aku hanya butuh istirahat saja. Jikalau ada gejala aneh ... aku akan menelponmu agar mengantarku ke rumah sakit, Ok?"
"Hmm, Ok."
"Good Girl, antar aku pulang ya. Please," mohonnya lagi.
Dwiana nyerah, ia meminta suster pria memapah Rayyan menuju mobilnya. Setelah semua obat dan pembayaran tindakan bagi Rayyan telah di bayar, ia pun menyusul mereka.
GoldenEye Residence.
What, rumahnya di sini? kawasan ekspatriat?
"Amber A32, kita telah tiba. Dokter, ada satpam kan?"
Hening. Tak ada sahutan dari pria di sisi kirinya.
Dwiana turun, menekan bel rumah type minimalis dengan fasad depan yang sangat Asri.
"Ya?" suara seorang pria.
"Pak, ini rumah Dokter Rayyan kan?"
"Betul Non, ada perlu? Pak Dokter belum balik tapi."
"Kalau itu sih mobil ayahnya dulu," terang penjaga saat Dwi melihat sebuah mobil mewah di garasi yang terbuka.
"Oh, itu Dokter Rayyan ada di mobilku. Sore tadi ada insiden. Jadi aku antar ke sini sesuai permintaan beliau. Bapak bisa bantu mapah gak ke dalam? aku gak kuat," kilah Dwiana, agar penjaga bersedia.
__ADS_1
"Ya Allah, kenapa beliau Non ... sini biar kami bantu...." penjaga memanggil seseorang.
Dwiana membuka pintu sebelah kiri, kemudian Rayyan dibantu bangun oleh kedua penjaga rumahnya.
"Tolong Non, buka pintu dan naik ke lantai dua ... pintu kanan dari tangga, kamar Den Rayyan," ujar penjaga paruh baya pada Dwi.
Beberapa menit selanjutnya.
Tugasnya selesai sudah, Dwiana pamit setelah menjelaskan semuanya pada kedua orang penjaga di kediaman Rayyan.
...*...
Mobil BMW sport merah itu pun ia pacu kembali, kali ini menuju pantai. Dwi memberhentikan sejenak perjalanannya di parkiran masjid pinggir jalan untuk sholat isya, sebelum masuk kawasan Marina Beach Bay.
Parking lot dermaga sisi utara.
Mobilnya perlahan di sejajarkan dengan kendaraan yang lebih dulu berbaris rapi di sana.
Dwi turun perlahan, menghirup udara khas pantai yang lembab karena pasir basah terhantam ombak laut ke tepian.
Kaki jenjang itu berjalan tanpa alas kaki menuruni puluhan anak tangga hingga mencapai dasar. Menaikkan hoodie menutup kepala. Jemari lentiknya merogoh saku celana kala ia telah sampai dan duduk di pasir hitam yang menghampar bagai tikar.
Dia meraih sebungkus ro-kok dari dashboardnya, saat hendak turun tadi. Mengambil satu batang, lalu jempolnya menekan pema-ntik untuk membakar lin-tingan tem-bakau itu.
Gak sabar rasanya melihat seorang Dwiana hamil.....
Degh.
Jarinya tertahan, menggantung di udara saat kepulan asap dan abu mulai intens mengepul.
"Aiswa ... selalu, kamu yang menahanku setiap kali aku akan berbuat mak-siat kembali ... ibu pecan-du, apakah bisa hamil dengan sehat Aish?"
Kamu juga nanti gitu kalau ada Rayyan Junior di perut super rata yang kau banggakan itu.
"Apakah hamil itu sangat membuat wanita bahagia, Aiswa?"
Dwiana melempar puntung ro-kok yang hendak ia hisap hingga menyentuh bibir pantai.
"Aku beribadah padamu ya Tuhan, tapi aku masih saja rapuh. Apakah semua orang yang mendekatiku, Engkau yang mengirimkannya? untuk menjagaku?"
"Apakah aku hamba-Mu yang kurang bersyukur? dan nikmat di dunia ini, keluargaku, sebagai ujian atasku? ... aku hanya ingin berubah, aku lelah ... apakah jika nanti membuka hatiku, Engkau tak akan meninggalkanku?"
Lolos, bulir bening membasahi pipi tirus nan mulus.
.
.
__ADS_1
..._________________________...
...Huft, berat... ampe ngobrol ke psi... untuk cara release Dwi... ...