DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 28. MEMBUKA HATI


__ADS_3

Meski matanya sangat mengantuk, ia paksakan menunggu balasan pesan dari Amir. Sayangnya yang ditunggu malah sudah lelap mengarungi alam mimpi tanpa memedulikan bahwa seorang gadis tengah berharap padanya.


" Ka, kamu jahat. " Isaknya setelah hampir menjelang subuh ia tak tidur.


Dirinya lalu mengambil wudhu untuk bersiap sholat fajar, mencoba mencari jawaban setelah lebih dari satu pekan lamanya dia tak melihat Amir, muncul perasaan aneh yang entah darimana datangnya.


Sejak bertemu Aiswa, memang Alma tak suka dengan gadis itu. Gadis yang pernah dia pergoki mendapatkan tatapan memuja yang tak pernah Amir bagi untuknya.


" Ilyas, aku melihatmu dalam dirinya. Apakah kau telah mengizinkanku? " Akhirnya tangis Almahyra membuka paginya yang sendu.


*


Ditempat lain.


Amir terjaga saat alarm ponselnya menyala bertepatan dengan notif peringatan batre low.


Masih merasakan kantuk yang teramat sangat karena jam istirahat yang kacau beberapa pekan ini, jemarinya mulai menggeser slide layar benda pipih itu, pelan.


" Lho, semalam aku ga balas pesan Alma yaa? " Lamat-lamat matanya membaca tulisan terakhir disana.


" Sedang dilakukan, maksudnya apa sih? otakku mendadak bodoh, mandi dulu lah sembari cari ilham. " Gumamnya seraya menguap perlahan turun dari ranjang menuju hammam, setelah memastikan ponselnya teraliri daya.


Adzan subuh terdengar nyatanya tak membuat Amir lekas bergegas dari sana. Jujur ia akui, tubuhnya sangat letih. Semalam dia telah berniat shaum sunnah dan akan tetap berada di dalam kamarnya.


" Ternyata aku butuh recovery hati dan fisik. Healing umroh mungkin tepat saat ini " Pikirnya.


Tok. Tok. Jelang sarapan.


" Mir, kamu shaum? " Suara Qonita.


" Iya Mba, aku mau muroja'ah lalu tidur yaa. Sore nanti baru keluar. " Sahutnya dari dalam kamar tanpa membuka pintu.


" Abah dzuhur tiba lho, Mba bangunkan yaa? "


" Fadhol Mba, ketok aja tapi semoga aku sudah bangun. " Dua jam lamanya ia berusaha menenangkan diri dengan mendekat kembali padaNya hingga ia terlelap dengan mushaf yang menutup wajah tampannya. Sementara ponsel yang ia abaikan tergeletak di atas meja telah dipenuhi banyak pesan masuk dari seseorang.


Menjelang Dzuhur, Abyan bersiap menjemput Abahnya di Stasiun. Amir tak akan menyangka bahwa Abahnya ini baru saja pulang menghadiri acara walimatul ursy anak dari sahabat karibnya, Kyai Maksum alias abuya Hasbi sebelum ke Solo menjenguk leluhurnya.


Iya, Hasbi telah melangsungkan akad nikah dengan putri Kyai Hariri salim sebelum Amir terbang pulang ke Semarang pagi itu.


Rasanya sang ayah perlu untuk sejenak memeluk anak kebanggaannya itu, menemani melewati ini semua meski ia yakin Amir mampu. Semenjak kepergian istrinya, Abah berusaha menjadi ayah yang lembut bagi ketiga anaknya yang tumbuh dengan keteguhan hati, disiplin dan santun.

__ADS_1


Satu jam kemudian Abahnya telah tiba di Al Multazam. Abuya Qonita yang mengetahui besannya akan berkunjung, merasa sangat bahagia hingga tanpa sadar menahan Abah di kediamannya hingga Ba'da Ashar.


" Mba, katanya Abah kesini? ga jadi? " Tanya Amir pada Qonita yang sedang duduk di ruang keluarga saat ia akan pamit pergi.


" Masih di Buya. Kamu mau kemana? kita juga mau pergi ini. "


" Udah izin sama ka Abyan mau ke rumah Gamal, diundang sama Mama nya sekalian makan malam di sana. "


" Jangan kemalaman pulangnya ya Mir, nanti aku bilang ke Abah agar tetap di Buya dahulu sementara kita pergi. " Sambung Qonita sambil menyerahkan dua kunci mobil agar Amir memilih.


" Kata ka Abyan, pake Brio aja. "


" Ckck, kakakmu itu ... yakin Mir pake Brio? Mba pinjamkan punya Buya sebentar. " Qonita cemas berniat bangkit.


" Ga usah Mba, aku bisa ko, in sya Allah. "


" Perlahan pasti bisa. Aamiin. Fighting!! " Senyumnya memberi semangat untuk sang adik ipar seraya tangannya mengepal diangkat ke udara.


Amir mengambil kuncinya lalu menuju garasi samping, ia menghela nafas panjang sebelum membuka pintu kemudi.


Sesaat ia termenung namun segera ia tepis dan mulai melajukan Brio merah itu meninggalkan komplek Al Multazam menuju kediaman Gamaliel, sahabat kecilnya.


Setengah jam kemudian, setelah mengucapkan salam di fasad depan rumah Joglo dengan dinding dominasi kayu jati.


" Kamu ganteng banget sih. " Usapan lembut Mama Gamal di wajah Amir.


" Afwan Ma, aku.... " Amir rikuh, menurunkan pelan tangan sang Mama dari wajahnya dan mengambil satu langkah mundur. Jujur, seketika terlintas bayangan tante-tante genit penggoda jomblo tampan dikepalanya.


Astaghfirullah.


" Maaaa! jangan begitu sudah aku bilang. Dia itu Amir teman SD ku dulu ... masuk, Mir. " Seret lengan Amir agar langsung masuk ke kamar Gamal.


Sudah setengah jam keduanya berbincang dan tertawa lepas.


" Kemarin padahal penerbangan kita beda 15 menit, aku melihatmu masuk gate berbeda. " Sambung Gamal.


" Ngapain di Jakarta? "


" Hadirin undangan nikah teman saat kuliah di Singapura dulu. Dia cerdas, dosen muda di Tazkiya. Kamu udah lulus kayaknya saat dia masuk yaa.... "


Degh.

__ADS_1


" Mungkin iya. " Senyumnya kembali getir.


Aiswa, selamat sayang, barokallahulakuma....


" Besok temani aku ketemu sama gadis itu di Cafe dekat kampus Unisa yaa. Aku dapat fotonya sih meski tampak samping, nih menurut kamu gimana? "


Saat Gamal menyodorkan handphonenya, sang Mama membuka pintu kamar mereka yang sontak membuat Amir terkejut hingga reflek menggeser duduknya di belakang Gamal.


Hingga akhirnya foto wanita itu ... terabaikan oleh Amir.


" Bentar lagi maghrib, Amir puasa kan? buka di sini kan? yuk siap-siap ikut aku. " Ajaknya hendak meraih tangan Amir namun ditepis Gamal.


" Makan di kamar aja Ma... " Jawab Gamal.


" Ko dikamar, Mama kan pengen ngobrol sama dia. Udah punya calon belum? nanti Mama bantu carikan ... ya kan ganteng. "


" Ma, apaan sih genit banget. Amir temen aku bukan Baba muda. Pergi ga, atau aku bakal larang Mama keluar rumah seterusnya nih. " Sungut Gamal kesal.


" Ckck, serah kamu. " Banting pintu kamar Gamal.


" Mir, maaf. Mamaku agak gitu sejak Baba meninggal. Semua laki-laki yang datang kesini, dianggap Baba waktu masih muda. kayaknya kamu juga tuh termasuk, padahal Mama masih iddah. Itulah sebabnya, Mama meminta aku segera menikah agar istriku nantinya bisa mencegah jika 'trauma' nya muncul tiba-tiba dan di luar kontrol seperti tadi. "


" Ya ampun, kaget aku. Sabar yaa semua pasti ada solusinya. " Amir hanya mengusap dada pelan.


" Eh iya, foto gadis itu. Mana ponselnya? "


Karena terkejut saat Mama Gamal membuka pintu kamar tadi, Amir tak sengaja menjatuhkan ponsel Gamal ke bawah ranjang.


" Dapat nih, coba kamu lihat, temani aku besok ya. " pintanya lagi.


Drrrttt. Pet.


" Lah, mati Mal. " Tawanya merasa lega, tak melihat lagi foto wanita yang bukan mahramnya.


.


.


..._____________________________...


..." Being deeply loved by someone gives you strength, while loving someone deeply gives you courage."...

__ADS_1


...Dicintai secara mendalam oleh seseorang memberimu kekuatan, sementara mencintai seseorang secara mendalam memberimu keberanian....


__ADS_2