
" A-ru-ni? " ucapnya terbata.
" Aksan Khalil Zayan, kapan sampai? " tangannya secara naluriah menarik jemari Amir agar mengikutinya.
" Qiyya, " bisiknya terkejut akan tindakan gadis itu, ingin melepaskan tautan jemarinya namun Aruni menggenggam terlalu erat.
Tangannya dingin.
" Ko ga bilang ikut sama Abi, " ujarnya basa basi.
" Kamu memblokir kontak ku, gimana mau ngabarin ... kamu tinggal disini? " tanyanya ragu melihat Amir yang masih diam.
" Iya, uyut Danarhadi memintaku menemaninya sebelum ka Amir datang ... duduklah, aku ke dalam dulu yaa. "
" Hmm, kapan kamu kembali? " cegah Aksan sebelum Aruni menjauh.
" Tidak akan kembali sepertinya. Aku menemukan bahagiaku di sini, maaf Aksan. "
" Karena dia? " melirik dengan ekor matanya ke arah Amir.
" Aku rasa kalian harus menyelesaikan ini, aku permisi ... Qiyya, boleh? " izinnya sambil mengacungkan tautan mereka.
" Kak, aku dan dia ga punya urusan yang belum selesai ... kita sahabat, ya kan Aksan, " Aruni takut Amir salah paham hingga meminta dukungan Aksan.
" Menurutmu begitu, tidak untukku. "
" Come on Aksan, kau tahu tak dapat melawan keinginan Bundamu bukan? jangan naif. "
" Dek, lepas ini dulu lalu duduk, bicarakan dengan baik ... kau ingin aku menemanimu? " tanya Amir khawatir.
" Sure Kak ... innalillahi, ma-af ka, maaf. " Keduanya duduk. Aruni menjelaskan sekali lagi bahwa dia tidak merasa punya hubungan apapun dengan pria itu.
" So sorry Aksan, aku ga mau masa depan kita kandas karena keinginan Bunda, kamu tahu kondisiku kan? lupakan aku yaa, " pintanya memelas.
" Karena dia? " ucapnya lagi.
" Aksan, aku Amir izin memanggilmu demikian ... aku ga tahu kisah kalian sebelumnya seperti apa tapi kesimpulanku, jika engkau memaksakan sebuah kehendak yang tak Bunda ridhoi, jalannya akan sulit. Anak laki-laki adalah milik ibunya, dia wajib mengutamakan ibunya lebih dulu daripada istrinya. "
" Apapun yang kelak Bundamu minta bilamana kau mengabulkannya, akankah tak melukai salah satunya nanti? aku tahu tidak ada mahluk sempurna, namun keduanya adalah wanita, yang punya keinginan sama untuk disayangi. Bila kamu sanggup, lanjutkan perjuanganmu tapi aku tak akan mundur. "
" Tak semua permintaan Bunda wajib aku turuti ... apa hubunganmu dengan Aruni? "
" Aku calon suaminya, " jawab Amir cepat.
Degh.
Jangan ge-er Runi, dia sedang membelamu didepan Aksan agar tak diganggu lagi olehnya. Sama seperti yang kau lakukan kemarin.
" Ka-- "
" Eh, ini Amir yaa? maa sya Allah, " suara Abi Aruni memutus obrolan ketiganya.
" Mir, H. Emran dan Anggita, orang tua Aruni. " Abah memperkenalkan mereka pada putra keduanya itu.
" Assalamu'alaikum Abi, Mama ... maaf baru menyapa, tadi ambil obat uyut dulu dan tertahan disini, " salimnya.
__ADS_1
" Wa'alaikumussalaam ... lebih tampan aslinya daripada foto. Tapi ini, mirip banget sama Meela, versi pria, " ujar Anggita kagum.
Amir dan Abah hanya tersenyum menanggapi, semua keluarga besarnya mengatakan hal yang sama, memang wajah Naya dan Amir sangat mirip dengan mendiang Ummi mereka.
Amir pamit kedalam bersegera melihat kondisi buyut kesayangannya itu. Menaiki ranjangnya sambil berbisik.
" Kalau aku nikah yang jagain uyut siapa? "
" Ada Abahmu, Abyan, Naya dan abdi dalem, banyak Mas ... jangan mikirin pria renta ini melulu. "
" Kepalaku sakit, masih jetlag dari semalam ... bobok dulu yaa Yut. " Amir memejam, menetralisir rasa yang semakin kuat hadir, mimpinya, fakta tentang gadis itu yang meninggalkan Turki, terutama tentang kondisinya.
Kak, dia istrimu yang akan menemani ummi bukan? jaga dengan sebaiknya selama kamu mampu menjaganya.
" Ummiiii.... " Amir terjaga, mengagetkan Danarhadi yang tengah meneguk air minum dibantu Abah.
" Mas! " serunya berbarengan.
" Eh, maaf, mimpi ummi ... sudah dzuhur kah? hmm aku sholat dulu, " elaknya kaku turun dari tempat tidur.
" Kamu biasa tidur punya wudhu, tadi kata uyut malah langsung merem aja disini, gitu tuh jadi mimpi ga bagus siang bolong. " Abah menggelengkan kepala heran.
Amir hanya menggaruk tengkuk yang tak gatal seraya keluar kamar buyutnya, netranya menangkap Aruni pergi dengan menaiki mobil entah menuju kemana.
" Mba, Qiyya pergi kemana? " tegurnya kala sang Mban melintas.
" Ke kebun Den. "
" Tolong siapkan potongan buah dingin ya Mba, mau aku bawa. " Bergegas masuk kamar pribadinya, menunaikan sholat dan berganti baju. Setelah itu dia pergi menyusul Aruni.
" Dek, mikirin apa? "
" Kak? " menyeka sisa tangis diwajahnya.
" Aruni Fauqiyya, izinkan aku menemani setiap langkahmu menggapai mimpi. "
" Kakak tahu apa mimpiku? Abi saja tidak ... hasil check up tadi ... aku ... tak akan pernah bisa hamil dan punya keturunan kak, ada myom dirahimku dan mungkin akan semakin besar, mana ada keluarga yang mau menerimaku. " Aruni terisak.
" Aku tahu, maka izinkan aku ... Dek, aku hanya akan merayu Allah untuk kita. "
Aruni memandang lekat wajah pria tampan nan meneduhkan di depannya.
" Kenapa ngeliatin aku gitu? mau meluk yaa? kudu halal dulu, nanti aku kasih ga sekedar peluk. " Tawanya diikuti Aruni sembari mengusap netranya yang basah.
" Ish, mesum, " cebiknya.
" Nikah yuk ... malam nanti aku akan bicara pada Abah dan besok pagi melamar resmi pada Abi. "
" Kak, jangan bercanda. Aku tidak semenyedihkan itu. "
" Qiyya, kamu ga tanya apa alasannya? "
" Tidak ada, selain kasihan atas kondisiku. "
" Hmm, su'udzon aja. "
__ADS_1
" Kenapa aku kak? kakak sangat bisa mendapatkan wanita yang shalihah untuk dijadikan istri, bahkan tanpa susah payah mencari, mereka menyodorkan diri. "
" Kamu akan melebihi ke-shalihan mereka. "
" Aku ga pantas, kakak terlalu cemerlang buat aku yang seperti ini. "
" Ck, bahkan Allah saja menyetarakan kedudukan hamba-Nya kecuali dari keimanan dan ketakwaan mereka ... mau ya jadi istriku Qiyya, nanti aku utarakan alasanku pada Abi saat melamarmu. "
Aruni hanya menundukkan kepalanya, bulir beningnya kembali jatuh. Hatinya trenyuh, pria disampingnya ini figur suami yang sangat ia dambakan, namun apakah dirinya sepadan.
" Makan dulu, jangan sampai sakit. Nangis juga butuh tenaga loh. "
" Ish, aku jadi ga bisa menikmati sedihku. "
" Sengaja ... Qiyya, setelah Aiswa, hanya kamu yang sedekat ini denganku, bahkan Allah yang langsung memberikan petunjuk padaku agar memilihmu. "
" Kakak masih mencintainya? "
" Mungkin, tapi tertutup olehmu, " lirihnya sembari membuka kotak buah yang dia bawa.
" Buah kesukaanku, melon anggur dan mangga, thanks Ka. "
" Ternyata banyak kesamaan, " Amir tersenyum, mulai dari lemon tea, makanan, bahasa asing hingga buah. Satu lagi, misi dan mimpi yang sama.
Qiyya, berdirilah disampingku menggapai mimpi bersama.
" Pernah lihat film UP? "
" Russel? "
" Yes, tuan Fredricksen and Elli, mereka tak mempunyai keturunan bukan? namun hidup bahagia, hingga Russel datang mewarnai masa senja tuan Fredricksen ... hidup satu visi misi dengan Al-Quran sebagai pedoman. Berusaha mewujudkan mimpi bersama dan saling menguatkan jika terasa sulit tergapai. "
" Kejujuran, optimisme, ketekunan, saling melindungi, dan kasih sayang ... menghabiskan waktu bersama dengan orang yang sangat mengerti kita, butuh kita, itu akan jauh lebih bahagia ... Banyak jalan menuju surgaNya, banyak cara mendapatkan amal dan pahala yang tanpa putus selain dari kehadiran buah hati Qiyya ... Rahmat Allah itu luas. "
" Aku.... "
" Minta petunjuk pada Allah, aku menunggumu dua hari dari sekarang. "
" Aku balik ya Qiyya, bersiap bila saja lamaranku diterima ... tapi aku ga semapan Mas Panji, semoga kamu menerima. "
" Bu-ll-sh-it, keluarga Kusuma tidak ada yang kere Kak. Terlebih Raden Mas Amirzain, pemilik Arza tahfidz boarding scholl dan co-founder brand Queeny, hijab yang aku pakai ... jangan terlalu merendah Kak, ga cocok. "
" Itu titipan Qiyya ... tak perlu risau bila Allah tak menghendaki kita mencapai satu hal, yakinlah akan ada hal lain yang akan membawa kita pada tujuan utama, lillah, redho-Nya. " Amir melangkah pergi.
Amirzain Zaidi... kamu pemilik hatiku.
.
.
...____________________________...
..." 'an yuhibbuka yaro fi ka jameelan lam tarohu anta fi nafsik. "...
...(Aku yang mencintaimu, melihat sebuah keindahan pada dirimu yang kau sendiri tidak pernah melihatnya)...
__ADS_1