
Terminal kedatangan luar negeri, Soetta Jakarta.
Sore itu Mahendra menjemput kakak iparnya di terminal tiga Bandara bersama Rey. Abah tiba di kediaman Mahen kemarin, sejak siang ini telah lebih dulu mengunjungi sahabatnya dirumah sakit.
"Kak, langsung pulang ya," tawar Mahen saat telah duduk disisi Rey yang memegang kemudi.
"Langsung ke rumah sakit saja Mas Panji, aku ga apa-apa," Aruni yang menjawab diiringi tatapan tak suka dari pria disampingnya.
"Kak?" Mahen tetap meminta izin, merasa tak enak hati.
"Pulang Mas," pintanya dingin.
"Rey, jalan."
"Si-app Bos." Rey melirik dari kaca spion dalam diatas wajahnya.
Orang pendiam serem jika marah, si Bos kalah dingin oleh kakak iparnya.
Situasi jalanan padat disore hari membuat mereka terlambat tiba di kediaman Mahen, Orchid tower. Naya sudah tak sabar ingin memeluk kakak iparnya itu hingga berkali menghubungi ponsel suaminya, sialnya malah sering diabaikan oleh Mahen.
"Bos, ga diangkat tuh panggilan Nyonya, kalau ngamuk aku ga ikutan ya, " seloroh Rey.
"Bakalan nanya hal yang sama, atau minta dibelikan ini itu padahal tadi siang sudah delivery satu troli makanan ... lagian macet banget begini tumben, bisa maghrib dijalan jika harus mampir beli pesanan Naya ... kamu tetap akan terlibat Rey, kita hadapi Nyonya sama-sama, " gelaknya dibarengi Amir.
Menjelang Isya rombongan itu baru tiba di Orchid Tower.
Kehamilan Naya sudah memasuki usia lima bulan, perutnya mulai terlihat membuncit saat Amir memeluk adiknya itu.
" Aku benci Abang, " sengitnya ketika melihat suaminya masuk.
" Kak, mau pakai kamar yang mana? atas atau yang di depan? " Mahen mengabaikan Naya, meletakkan semua bawaan Amir. Tak lupa pesanan Nyonya besar Mahendra, yang merengek pada kakaknya agar dibelikan sesuatu, dibantu ARTnya menata di meja makan.
Bikin malu saja, apa yang kak Amir pikir nanti padaku, tak becus mengurus istri yang sedang ngidam. Ck, aku juga sebal sama kamu sayang.
Aruni mengekori mereka masih dengan mulut terkunci. Tanpa banyak kata ketika Mahen memberikan pilihan kamar dia memilih kamar depan, yang berada tepat di sisi kirinya kemudian masuk kedalamnya untuk membersihkan tubuhnya dan menunaikan sholat segera.
Moodnya turun seiring melihat peraduan yang tertata rapi dengan seprei warna biru laut, seakan bantal dan guling memanggilnya untuk segera merasakan betapa nyamannya meluruskan badan disana.
Seketika ia menguap saat mukenah baru saja lolos dari badannya, kelopak matanya bagai di banduli satu karung dolar saat kepala yang tak terbalut hijab itu sukses mendarat diatas bantal.
Amir menunggu istrinya yang tak kunjung muncul menyusul ke ruang makan. Terheran kemana raibnya sosok cantik itu.
"Qiyya, lagi a-- ... tidur lagi? ya ampun, sayang makan dulu yuk, aku suapin, " bujuknya menciumi wajah dengan pipi yang semakin berisi.
__ADS_1
Tak bergeming. Malah semakin pulas.
"Dasar tukang tidur," usapnya pada punggung yang terbalut baju tidur tipisnya.
"Ngantuk banget kayaknya sampai mukena belum dibereskan, kaki masih ngegantung begini udah merem aja."
Amir merapikan peralatan sholat yang masih terserak dilantai, membenarkan posisi kaki panjang nan mulus itu ke atas pembaringan, menata kedua sisi tubuh istrinya dengan bantal agar lebih hangat.
*
Keesokan Pagi
Terjadi perdebatan alot antara Aruni dan Amir diruang tamu. Keduanya berselisih paham tentang ajakan Abah yang akan kembali membesuk Aiswa pukul sepuluh nanti.
"Ehem, interupsi maaf, " Naya hadir melerai keduanya meski Mahen menarik daster istrinya itu agar tak turut campur, tak diindahkan olehnya.
"Abang diam! aku masih membencimu, " sengitnya belum reda sejak semalam.
"Kak, Mba ... pergilah berdua, tanpa Abah ... tidak ada salahnya menjenguk Aiswa Kak, buatlah dia lega sebelum kakak menyesal nanti ... mungkin dia menunggu kakak sebelum meninggalkan dunia ini atau sebelum dia sadar lalu memulai kembali awal yang baru, " bujuk Naya perlahan.
Mahen mengajak istrinya menjenguk wanita yang pernah mereka kenal beberapa bulan lalu, prihatin atas kondisinya seakan nyawa bergantung pada alat medis yang menopang hidupnya sementara.
"Sayang, umur hanya milik Allah," Mahen mengingatkan Naya.
"Pergilah Kak, mungkin benar kata Naya ... Aiswa menunggu Kak Amir mengunjunginya, " Mahen beringsut memeluk Naya yang mulai terisak. Kesempatan emas untuk meluluhkan istri kecilnya ini.
"Mas, yuk jenguk Aiswa," pinta Aruni.
Amir kembali duduk di sofa, menghela nafas panjang menyertai kelopak mata yang perlahan menutup.
"Aku duha dulu," sahutnya menghindari mereka.
Aruni sengaja tak mengikuti suaminya masuk kedalam kamar. Dia memberikan waktu dan ruang bagi pria itu agar mempertimbangkan keinginannya.
"Mba, maaf yaa ... aku tahu kak Amir menahan diri meski ingin karena ada Mba Runi disisinya kini," Naya menyampaikan kegundahan kakaknya.
"Aku ngerti Naya, aku juga wanita ... tak apa, aku ikhlas ko," senyumnya tulus.
Rohi, mampukah aku melihatmu dan mengabaikan rasa hatiku agar tak menyentuhmu nanti? Aiswa Fajri, jangan kau bawa pergi hatiku serta, sayang...
*
Rumah sakit.
__ADS_1
Amir akhirnya bersedia menjenguk wanita yang masih menjadi ratu didalam hatinya. Ia menundukkan pandangan, menggenggam jemari Aruni erat. Tak ingin wanita disisinya ini terluka, keputusannya yang mengajaknya untuk menikah dulu dan ia telah berjanji menjaga amanahnya.
"Sayang, maafkan aku, " tatapnya pada manik mata coklat pekat saat kamar Aiswa telah terlihat.
"Honey pergilah, tunaikan kewajiban sesama muslim ... aku menunggu Mas disini yaa, jangan terburu-buru didalam sana, " kecupnya pada bibir suaminya.
"Kamu ikut aku ... kuatkan aku Qiyya, bawa aku kembali bila tersesat disana nanti, " tariknya pada jemari Aruni.
Aruni menuruti keinginan imamnya ini, ada seberkas rasa haru nan bahagia bahwa suaminya tetap teguh memegang amanah darinya.
"Assalamu'alaikum, " keduanya mengucap salam didepan pintu yang tak tertutup rapat.
Umma dan Yai Hariri salim terpana pada sosok tamu di hadapan mereka.
"Wa'alaikumussalam, " jawab kedua sepuh yang Amir segani.
"Masuk Nak, sini, " ajak Umma.
Amir menarik jemari Aruni mendekat, menyalami mereka berdua. Umma langsung memeluk Aruni, menciumi wajahnya tak segan. Seakan mengucapkan beribu terimakasih telah mengizinkan Amir kemari.
Tak kalah haru, Hariri salim mengabaikan tangan Amir yang hendak salim padanya, menggantinya dengan pelukan erat layaknya pelukan rindu terhadap anaknya.
"Terimakasih, " balas keduanya pada pasangan muda ini.
Aruni mendekat pada ranjang Aiswa, duduk di sisi brangkarnya, menggenggam jemari putih pucat nan kuyu erat. Menciumi semua bagiannya bolak balik.
"Kak Aiswa, jemarinya wangi banget ... rajin meni pedi ya? atau beginikah wangi wanita sholihah? ... aku Aruni kak, maaf yaa aku tak membujuk Kak Amir segera, juga sudah merebutnya darimu, "
"Kamu, bagai kakak untukku ... kamu wanita yang dicintai suamiku sampai kapanpun jua, aku tak dapat menghapus dirimu dari hatinya ... kelak, bila aku tiada, aku titip dia padamu ya? " bisiknya untuk kalimat terakhir, masih sambil menciumi jemari lemah itu.
"Bangunlah, dia datang untukmu ... untuk Rohi-nya, " bisiknya lagi, kali ini air mata Aruni menetes membasahi tangan Aiswa.
Kamu sangat cantik Aiswa, sepadan dengan suamiku dengan latar belakang yang sama religius. Bahkan dia pun punya panggilan khusus untuk mu, Rukh, jiwanya.
Det. Det. Mata yang tertutup kabut duka itu merasakan gerakan halus dari jemari yang masih di genggamnya.
.
.
...__________________________...
...Kebayang ga sih, jadi Aruni ðŸ˜...
__ADS_1