DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 79. CITA-CITA


__ADS_3

Pagi ini pasangan muda yang berada dalam bilik kamarnya masih nyaman bergelung dibawah selimut.


Ba'da subuh Amir kembali mengistirahatkan tubuh lelah juga hatinya sejak kemarin. Begitupun dengan Aruni, melihat sang suami enggan beranjak dari ranjang, dirinya pun merasakan dorongan kuat untuk menempel layaknya koala dalam pelukan hangatnya.


"Dek, sarapan sana ... aku shaum, malas bangun apalagi makan," ujarnya menahan kantuk saat tubuh hangat Aruni bersentuhan kulit dengannya.


"Mau disuapin, tapi nanti aja ... aku juga ngantuk mulu bawaannya."


"Kamu jadi suka tidur akhir-akhir ini ... kemarin aku sempat buka web event, minggu depan mau coba ikutan Java Jazz fest ga sayang?" bergumam dengan mata terpejam.


"Mau mau, dimana Mas?" Aruni berbalik menghadap dada suaminya.


"Bandung, sekalian honeymoon lagi yuk ... bawa asisten dua orang nanti ... biar kamu ga capek," kecupnya pada dahi Aruni.


"Ga sempat kalau dadakan cari asisten, kan design juga belum ada," mulai menduselkan kepalanya tanda kecewa.


"Aku dan Mas Panji sudah seleksi sewaktu kita masih di China, sudah ada empat kandidat ... dua untuk Queeny yang sudah mulai jalan, dua lagi untuk Qiyyam ... keduanya bisa bantu kamu nanti karena sudah berpengalaman dan mereka orang yang kompeten. "


"Qiyyam? "


"Brand kita, khusus moslem wear, aku sudah buat beberapa design gamis ... kamu bisa tambahkan ornamen atau garis yang sesuai karakter kamu nanti ya," usapnya pada punggung Aruni.


"Mas," mendongakkan kepala.


"Apa?"


"Ko aku ga tahu semua ini, Mas ngelakuin ini sendiri dibelakang aku?"


"Biar kamu ga stress, aku ga mau kamu sakit ... sudah ku bilang, kita wujudkan mimpi sama-sama ... Abah bisa membesarkan Meela.co berkat Ummi yang telaten serta sabar menghadapi customer hingga bisnis keluargaku sebesar ini ... jika abah penyedia material mentah dan penyuplai ke beberapa pengrajin, maka aku ingin punya brand untuk produk jadi."


"Aku baru tahu cita-cita kamu malah Mas,"


"Kita wujudkan sama-sama, Ok? jaga kesehatan ya sayang ... aku masih ngantuk banget, diobrolin lagi nanti yaa ... kalau kamu setuju ikut event itu, kita ketemu asisten kamu besok, biar mereka bisa berangkat pake kereta pagi dari sana."


"Ok ... aku juga ngantuk, ikut shaum boleh ga Mas?"


"Engga, kamu baru reda demam Dek ... nanti ba'da dzuhur makan siang aku suapin lalu kita jalan sambil cari perlengkapan untuk event minggu depan ... sekarang tidur dulu," Amir meraih selimut, menaikkan hingga bahu Aruni.


Hening.


"Dek," meski enggan membuka mata tapi penasaran karena wanita dalam dekapannya ini sudah tak bersuara bahkan bergerak.

__ADS_1


"Yassalam, sudah tidur aja sepersekian detik. " Menarik lebih dekat tubuh istrinya.


"Kamu makin berisi Dek, mulai berat kalau narik kamu," senyumnya terbit sebelum netra itu kembali terpejam.


***


Swiss.


Gamaliel dan Alma akan kembali ke tanah air lusa pekan ini, setelah mereka menghabiskan waktu kurang lebih dua pekan di Swiss.


Kemarin, Gamal melihat postingan Hasbi tentang kata perpisahan yang dia bubuhkan pada caption sebuah foto merpati yang terbang lalu melepaskan cincin disertai pita berwarna pink diudara.


"Kini kau bebas, pergilah."


Entah apa maknanya, Gamal menduga apakah Aiswa telah diceraikan, sebab cincin yang terlepas dalam foto di akun media sosial milik Hasbi melambangkan sebuah ikatan, sedangkan merpati adalah perwujudan tentang kesetian pasangan.


Konon katanya burung merpati hanya akan memiliki satu pasangan sepanjang hidupnya. Kesimpulan Gamal meragu, apa iya, dan apakah Amir tahu mengenai hal ini.


Dia berniat akan secara sembunyi menanyakan padanya nanti ketika berjumpa agar tidak ada jejak digital yang membekas, pikirnya.


Jarinya kembali menscroll semua postingan teman-teman yang lama tak dia buka. Pagi ini suhu di Swiss mencapai minus 16 derajat, super dingin meski penghangat ruangan sudah menyala maksimal.


Masih didalam kamarnya, Gamal rupanya telah menyiapkan berbagai hidangan mulai dari salad hingga cake. Meja makan di kamar suite yang dia gunakan penuh dengan berbagai macam menu.


Namun Alma justru merengek padanya agar kembali memesan makanan yang dia rindukan untuk breakfast pagi itu, yups, nasi goreng.


Membiarkan sang istri berkutat dengan surga makanan di hadapannya. Gamal melanjutkan kekepoannya pada akun medsos yang lama tak disambangi jarinya.


Kini, dia termenung kala mendapati sebuah postingan di akun yang sama, unggahan foto pusara dengan nisan bertuliskan Aiswa. Gamal menanyakan pada Alma apakah dirinya mengetahui hal tersebut namun Alma malah bingung.


"Sejak awal aku tak pernah memilikimu, namun Dia yang memilikiku."


"Apa pula maksud si Hasbi kasih caption demikian ... sayang, kamu lihat ini, apa maksudnya? "


"Temen kamu Mas? ... Innalillahi, Aiswa ... Kak Amir gimana itu ya? Aruni juga gimana?" ucap Aruni menghampiri suaminya di sofa, masih dengan mulut yang mengunyah makanan.


"Gimana apanya?"


"Kak Amir kan masih cinta sama Aiswa Mas, masa kamu ga tahu sih?" bangkitnya berlalu meraih gelas minum dimeja makan untuk di teguknya.


"Aku tahu cerita yang sebenarnya, Amir membaginya padaku ... kurasa Aruni bisa meredam semuanya, keduanya saudaraku ... bila Hasbi masih ingin mengusiknya, aku yang akan maju menghalangi niatan buruk dia ... ck, enak saja menyakiti ... terus, jadi ini maksudnya apa sayang?"

__ADS_1


"Hmmmm ... Aiswa dicerai sebelum meninggal mungkin ... dan, Hasbi selingkuh ... ah entahlah, orang aneh ... kita pulang mampir ke mereka ga Mas?"


"Ga ah, aku jealous kalau kamu ketemu Amir."


"Dih, ada Aruni kok yaa ... lagian aku tuh udah.... " Alma kembali menghampiri Gamal disofa.


"Apa?" goda nya mulai nakal.


"Punya kamu lah, luar dalam," tunduknya malu.


"Tiba-tiba dingin disini, cari keringat yuk," digendongnya tubuh Alma yang hendak duduk disampingnya menuju peraduan mereka.


"Aaaaaaaa, mesum.... " serunya terkejut.


"Kita balapan, siapa yang berhasil ngisi ini duluan," ucap Gamal mulai meracau diantara cumbu-an di sekitar perut yang gencar ia lancarkan pada tubuh istrinya.


***


Saat yang sama dibumi belahan lainnya.


"Bos, tugasku selesai ... apakah aku tidak dibutuhkan lagi disini? " tunduk gadis dengan setelan berwarna hitam duduk di sebuah ruangan bernuansa green leaf shabbi chic.


"Ada misi baru, tunggulah beberapa hari lagi ... pelajari semua tentangnya, latar belakang, hobi, kesukaannya, sehingga kamu telah siap ketika mendampinginya ... dia bukanlah orang yang banyak cakap kata, jadi kamu harus sigap tanpa perlu mulutnya memberikan instruksi padamu."


"Baik,"


"Ini, siapkan dirimu dengan sebaiknya ... aku tunggu kinerjamu untuk menjaganya, jangan lalai kembali." Suara tegas itu kembali menusuk gendang telinganya, menancabkan lagi belati tepat menghujam dada.


"Aku menyesal, Bos! "


"Waspadai, Mahendra."


"Baik."


"Pergilah."


.


.


...__________________________...

__ADS_1


__ADS_2