
"Tentang Aiswa Buya," tuturnya berhati-hati.
"Kenapa dengan Aiswa?" sambung Buya mendengarkan seksama masih sambil meminum teh hangat yang dia cecap.
"Aiswa masih hidup ... tapi ini hanyalah dugaanku karena beberapa hal yang telah aku pastikan sebab pertemuan tak sengaja di Singapura dan kemarin saat event Malaysia Expo, Buya," tutur Amir mengutarakan kegundahannya meski hatinya sudah delapan puluh persen yakin.
Degh.
Hening.
Suara Yai Hariri salim menghela nafas.
"Mir, apa yang akan kamu lakukan Nak?" imbuhnya lagi dengan sendu.
"Jika memang dia Aiswa, apakah statusnya masih istri sah Hasbi? ... aku pernah mendapatkan informasi dari sahabat sekaligus sepupu jauh ku Gamal bahwa dia melihat postingan di salah satu media sosial milik Hasbi yang mengisyaratkan bahwa seakan dirinya telah melepaskan Aiswa ... satu caption dibawah foto cincin dan pita saat seekor merpati terbang," ungkapnya lagi masih dengan nada hati-hati.
"Aiswa diceraikan saat masih koma, beberapa hari sebelum dia meninggal, Nak."
Alhamdulillah, satu jelas. Sisa satu lagi.
"Buya, maaf jika aku memaksakan pemahamanku tapi inginku semuanya menjadi jelas ... jikalau memang Aiswa masih hidup dan statusnya telah bebas, aku berniat kembali memintanya ... kali ini langsung pada Buya," tunduknya serius meski tak berani menatap wajah sang guru.
"Apa alasanmu?" cecarnya ingin mengetahui sejauh mana Amir teguh akan penilaiannya.
"Ini, aku membawa semua kemungkinan ... memang aku hanya sekilas melihatnya, sekilas mendengar semua keluh kesahnya namun hati ku...."
Amir meraih satu map coklat yang dia bawa, lengkap dengan jam tangan custom milik mereka.
Menyodorkan setumpuk bukti yang dia kumpulkan beberapa hari ke belakang dengan harapan kesimpulannya tentang Aiswa yang masih hidup diakui oleh Hariri salim.
Tangan putih pucat yang mulai terlihat keriput itu meraih berkas diatas meja yang Amir arahkan padanya.
Perlahan Hariri salim membuka pengaitnya lalu menumpahkan semua isinya diatas meja makan yang telah di rapikan oleh seorang santri khidmah di kediamannya.
Jemari sosok alim itu perlahan bergerak memilah satu persatu benda dihadapannya. Mulai dari secarik kertas yang ditulis tangan dengan rapi, lalu melihat beberapa benda lainnya termasuk jam tangan custom seperti milik pria muda dihadapannya.
"Ini memang tulisan Aish, dan ini jam tangan yang selalu dia pakai ... Buya tidak tahu jika ini adalah pemberianmu ... pantas saja, saat dia ditemukan jatuh di kamar mandi pun, di pergelangan tangannya sudah tersemat benda ini ... rupanya dia memang tidak pernah bisa melepaskan diri darimu," kenangnya seraya mengusap satu-satunya benda yang selalu melekat ditubuh putrinya itu.
"Satu yang belum bisa aku pastikan adalah wajahnya. Bila Buya izinkan, aku ingin menanyakan pada Umma, apakah beliau melihat sesuatu yang berbeda saat memandikannya dulu ... maafkan kelancanganku Buya, aku tidak bermaksud menggali aib Aiswa jika memang dia telah tenang dialam sana ... hanya sekedar ingin meyakinkan diriku bahwa apa yang aku duga bisa jadi benar ... jikalau pun ini kesalahan, dan gadis itu bukan Aiswa, aku akan menjauhinya ... karena aku tidak ingin mencintai seseorang hanya karena dia mirip dengan cinta pertamaku," pungkasnya panjang lebar mengutarakan keraguan.
Khawatir akan persepsi negatif dari sosok panutannya.
__ADS_1
Maafkan aku bila terbersit rasa buruk sangka padamu, Yai.
Hening kembali.
Hanya terdengar bunyi detak jam yang menempel pada dinding disertai helaan nafas halus.
Hariri salim mengingat kembali saat dirinya dihadapkan pada keputusan sulit satu tahun silam.
Masih terukir jelas dalam benakku dengan Maryam berdua saling memeluk didepan ranjang Aiswa yang tergolek koma tak sadarkan diri.
Saat itu kami berdua berjanji bahwa akan memberikan kebebasan pada Aiswa apabila Allah memberikannya kesempatan kedua untuk sadar dari tidur panjangnya, juga kami berniat memperbaiki hubungan antara orang tua dan anak serta membebaskan putri kedua kami menggapai impian yang diinginkan apapun caranya.
Rupanya Allah mengabulkan doa tulus saat itu, penyesalan mengiringi waktu yang tak lagi dapat diputar nyatanya membuat aku tersudut.
Pernyataan kami berdua, didengar oleh seorang wanita yang mengaku sahabat karib Aiswa, dialah yang membantunya kabur dulu.
Aku diajaknya mengunjungi kamar disebelah ruangan Aiswa. Disana juga terbaring seorang gadis yang hampir seusianya dengan penampilan yang kurang lebih sama.
Saat melihat lebih dekat, aku terkejut akan persamaan fisik gadis didepanku. Namanya Aeyza, selisih satu tahun dengan Aiswa putriku.
Setelah melihat Aeyza aku sedikit mengerti akan permintaan wanita sebelumnya. Mereka akan ditukar sebab Aeyza tak lagi bisa bertahan.
Aku limbung, tak ingin melakukan sebuah kebohongan namun apa yang disampaikan oleh seorang pria paruh baya dalam ruangan kamar vvip, yang belakangan ku tahu adalah ayah kandung Aeyza, hatiku trenyuh.
Akhirnya dengan berat hati, aku memberanikan diri mengambil keputusan untuk menitipkan Aiswa pada keluarga Hermana Arya agar di rawat, dibesarkan dengan cinta dan sayang serta dijaga dari segala keburukan.
Maryam, tidak aku beritahu dahulu. Khawatir akan membongkar semua sebelum Aiswa meraih mimpinya.
Inilah penebusanku terhadap kesalahan dimasa lalu padamu Nak. Kuharap suatu saat Aish mau memaafkan Buya.
Semua surat pernyataan pengalihan perwalian serta lainnya aku tanda tangani malam hari sebelum keesokan siang Aiswa dinyatakan meninggal secara medis.
Selamat membuka lembaran hidup baru, anakku sayang. Buya mendoakanmu dari jauh.
Meski hati mencoba ikhlas, namun tetap saja ada rasa hampa apabila mengingatnya. Putriku satu-satunya yang dulu kehadirannya sangat aku inginkan, Aiswa.
"Buya ... Buya, baik saja?" tegur Amir lembut seraya memegang tangan lelaki itu.
"Eh, maaf Mir, ngelamun jadinya...."
"Jadi niatanmu akan meminta Aiswa kembali?"
__ADS_1
"Jika dia memang Aiswa, Buya," Jawab Amir kali ini dengan nada tegas.
"Assalamu'alaikum," terdengar suara lembut nan syahdu menguar dari pintu belakang memenuhi ruang makan kediaman Hariri salim.
"Eh, ada Amir, sudah lama Nak," Umma menghampiri pria yang sedang duduk dimeja makan berhadapan dengan suaminya dengan wajah berseri setelah menaruh kitab yang dibawanya.
"Lumayan Umma, apa kabar?" tanya Amir seraya menunduk sopan menangkupkan kedua tangan didepan dadanya.
"Kheir alhamdulillah, makan Mir," Umma menarik kursi disebelah suaminya seraya menjulurkan tangan meraih jemari Hariri salim untuk dia cium.
"Nggih sudah tadi dengan Buya, Umma, matur suwun," jawabnya lagi.
"Kalau liat kamu tuh, Umma ngerasa adem banget ... sendirian? bukannya sekalian ngajak istri, kan Umma ingin kenalan."
" Afwan Umma, Aruni sudah berpulang lebih dari empat bulan lalu ... maaf tidak memberikan kabar karena semua sangat cepat ... kukira Abah yang memberitahu," gumamnya pada kalimat terakhir merasa sungkan.
Degh.
"Innalillahi, adzomallahu ajro...." sahut keduanya.
Ya Allah, inikah rencanaMu untuk anakku?
"Maaf ya Nak, kami ga tahu, ikut belasungkawa ya Mir," lirih umma. Dalam hatinya berharap andai saja Aiswa masih ada, mungkin dia akan bahagia memiliki kesempatan bersua pujaan hatinya yang kini telah bebas.
"Ga apa Umma ... hmm, jadi bagaimana Buya, apakah aku di izinkan bertanya pada Umma?"
"Tanya apa Mir, tanyakan saja."
"Aiswa Umma," sambungnya pelan.
"Kenapa dengan Aiswa? mau takziah?"
"Bukan...."
Amir melayangkan sekilas pandang pada Hariri salim yang justru menundukkan wajahnya. Membuat Umma curiga pada kedua pria dihadapannya.
"Kenapa ini?"
.
.
__ADS_1
...______________________...