
Ahmad masih memandangi foto Dewiq yang Mama Rosalie kirimkan padanya. Sorot matanya mulai berkaca-kaca, dia juga sama menahan sakit dan sesaknya rindu. Dia sadar, keinginannya ini telah melukai mereka berdua namun dia juga ingin agar calon istrinya tegar, banyak belajar untuk menahan rasa.
"Seindah ini rasanya mencintai kamu ya Marsha," lirihnya dengan wajah penuh kerinduan.
"Kak, ini hantaran sudah datang, di cek dulu semua. Juga kotak untuk perhiasannya, sini Umma yang menata," ujar Umma dari luar.
"Beik, Umma," Ahmad membuka pintu kamar, menyilakan Umma masuk.
"Dua set diamonds, cantik loh Kak pilihanmu. Jadi kamu sudah mempersiapkan ini lama?" tanya Umma.
"Mahar dan perhiasan, emang sudah aku siapkan jauh hari Umma, aku punya tabungan LM kemarin ku jual dan lumayan buat beli ini ... kalau untuk syukuran, gimana Dewiq aja nanti," balas Ahmad seraya menyerahkan dua set kotak perhiasan pada Umma.
"Ba'da isya pengajian Kak, dan besok jam delapan kita udah berangkat. Keluarga Kusuma yang kesini hanya Naya, Gamal dengan siapa? Abahnya jadi?"
"Iya, Abah juga."
"Konsep kamu gimana sebenarnya? Umma tuh belum paham," tanya Umma lagi.
"Yang mengatur itu Amir dan Naya Umma, aku ngikut aja," jawab Ahmad.
"Kalau Naya yang megang, percaya aja deh Umma juga. Dia orangnya detail, waktu Amir nikah aja semua yang ngatur dia, dan meski dadakan hasilnya tetap cantik dan rapi. Kusuma tuh isinya orang istimewa semua," ujar Umma seraya memberikan ornamen pada box perhiasan.
Keesokan hari.
Ba'da subuh, kamar Ahmad riuh dengan celotehan Gamal dan Amir. Bukannya muroja'ah malah asik bercanda hingga ketiganya di tegur Umma.
"Ngaji dulu biar tenang, lalu sarapan juga bersiap. Naya sedang jalan ke sini," ucap Umma.
Mereka bertiga melakukan doa bersama, memberikan support moril untuk sahabatnya.
Tepat jam tujuh, Naya datang dengan membawa banyak persiapan.
Ibu muda itu mengajak keluarga briefing sejenak. Naya membagi semua tugas mereka masing-masing.
"Saat iringan, susunannya Buya, Kak Ahmad, dan Umma ... dua orang Yai undangan Buya, Abah dengan Ka Amir ... dibelakangnya Gamal dan suamiku lalu aku dan Mba Aish. Jika ada santri Khidmah atau staff boleh nyambung setelah kita. Nanti aku yang atur," ujar Naya serius. Mahen hanya diam melihat istrinya dengan menggendong Maira.
"Maira, bundamu cantik banget hari ini," bisiknya ditelinga Maira, dan dihadiahi kecupan basah oleh putri montoknya itu.
"Hantaran utama, Mba Aish dan aku yang bawa, sedangkan lainnya, bisa di bawa oleh santri khidmah atau staff atau orang ku," sambung Naya lagi.
"Aku mengkonsep, hijau pupus, broken white dan gold sebagai lambang cinta yang baru bersemi. Mobil iringan sedang kami set di luar, juga untuk patwal serta jalur menuju ke Mansion, clear, semoga perjalanan lancar ... dan ini seragam keluarga kita, silakan di pakai kecuali Kak Ahmad punya kostum sendiri kan? Naya nanti beri pin agar selaras dengan kita semua," Naya meminta dua asistennya membagikan semua properti yang harus dikenakan.
Wanita cantik ini juga mengenalkan tiga gadis yang akan mengarahkan saat tiba di Mansion nanti.
"Maa sya allah, Kak Naya kalau serius keliatan anggun, berwibawa dan cantik banget ya Bii," bisik Aiswa.
"Dia punya aura leadership yang kuat. Cocok jika punya EO tapi belum diizinkan oleh Mas Panji, padahal Uyut dah minta jauh hari," balas Amir.
__ADS_1
Semua membubarkan diri setelah Naya membagi catatan kecil, apa yang harus dikerjakan dan dikenakan.
Jam delapan lewat tiga puluh menit.
Semua asistennya menyilakan tamu undangan Buya untuk menempati mobil yang telah Naya siapkan. Semua tertib, tertata tanpa terlukis wajah kebingungan dari setiap tamu undangan Buya Hariri salim.
"Adiknya menantu, namanya Raden Roro Ainnaya, sudah punya suami dan anak satu, itu yang disampingnya," jawab Hariri salim kala dua orang tamunya menanyakan Naya sebelum Abah masuk ke dalam mobil mereka.
"Ku kira masih sendiri, mau saya ambil mantu, pinter, santun dan ayu," jawab salah satu Kyai dari Cawang.
"Keliatan jauh ya bedanya dengan suaminya itu? apa gak eman Kaji Ahmad itu," celoteh salah satu Yai.
"Kata Kaji Ahmad, beda 13 tahun. Suami Naya penyabar, bukan orang sembarangan meski kelihatan kalem begitu karena Mas Mahen itu punya dua gelar kehormatan. Berarti kan berjasa," sambung Hariri salim.
Naya masih di luar mobil, memastikan semua siap, rapi dan sesuai formasi di temani Mahen.
"Pelan sayang, jangan buru-buru. Aku di sini," bisik Mahen menenangkan.
"Nervous baby, kan aku lagi pembuktian ke Abang. Jika ini sukses kata Abang nanti dipertimbangkan keinginan Uyut...."
"Kamu sudah banyak membuktikan padaku, hanya saja aku tidak ingin istriku famous." Mahendra mengutarakan keengganannya dan hanya dibalas Naya dengan senyum manis.
"Ok clear area, we're move, slowly...." ujar Naya berbicara pada earphone yang terhubung dengan para asistennya.
Mahen menarik istrinya masuk dalam mobil dimana Mega sudah siap dibelakang kemudi. Iringan itu pun berangkat perlahan meninggalkan Tazkiya.
Saat baru saja akan masuk tol dalam kota, Theo mengabarkan pada Naya bahwa pesawat Dewiq delay parah hingga calon mempelai belum tiba di Mansion.
Mahendra menenangkan istrinya, memberi nasihat untuk menyampaikan perlahan apabila Ahmad belum menerima kabar.
Empat puluh menit kemudian.
Sebagai team leader, istri Mahendra itu turun lebih dulu. Mega mengambil alih kontrol pengaturan formasi keluarga beserta tamu dan staff dari Tazkiya.
Ketiga gadis lainnya memberi arahan para undangan untuk menempati kursi yang telah di tentukan. Setelah memastikan semua rapi, ibu muda itu menemui sang asisten Hermana Arya.
Keduanya terlibat pembahasan serius mengenai ini. Naya mengatakan bahwa mempunyai rencana cadangan dan mereka berdua pun menggelar rapat mendadak dengan beberapa asisten, termasuk Mega.
"Baik, Mba Naya. Ide bagus, aku akan segera ambil alih ... sesuai job desk, lainnya Anda yang mengerjakan," ujar Theo memberi salam lalu masuk kedalam menemui Hermana Arya.
Mahendra menghampiri istrinya yang terlihat sangat tegang saat menulis di catatan yang ia bawa, koordinasi dengan semua teamnya tentang perubahan rencana, menata sisa job list agar sinergi dengan plan B.
"Sayang, relax, tarik nafas. Kamu bisa, Ok, Ainnaya istriku itu problem solver," Mahen mengecup kening istrinya.
Ahmad Calling.
" Gimana ini Abang?" tanya Naya.
__ADS_1
"Angkat sayang, jelaskan perlahan."
"Halo, iya Kak. Oh Ok, aku ada plan B dan sedang di switch oleh team ... siap, jangan tegang ya ... semua pasti Ok," ujar Naya.
"Ya Allah ... semoga bisa dan lancar. Theo berjuanglah...." gumamnya lagi.
"Apa aku perlu turun sayang?" tawar Mahendra cemas melihat Naya tidak tenang.
"Hold on, aku ingin berusaha dengan team ku," imbuhnya memandang sang suami dengan sorot mata penuh kecemasan.
"Jangan sungkan ya sayang ... Maira kayaknya mau tidur ini, mau ng-asi dulu gak?" tanya Mahen, agar Naya sedikit relax karena masih ada waktu tiga puluh menit lagi sebelum akad.
"Iya, yuk cari tempat ... Maira jangan rewel ya Nak, Bunda kerja dulu," bisiknya saat Mahen menyerahkan Maira.
"Bii, Mba Naya gerak cepat, apa ada kendala? ko keren banget ya? masih ng-asi kan?" tanya Aiswa yang takjub melihat Naya.
"Iya kan Maira belum setahun, semoga gak ada masalah. Meski ada pun, aku yakin dia bisa dan pasti berakhir baik. Aku percaya kemampuan adikku," tegas Amir yang juga merasa cemas sekaligus kagum.
Sementara di tempat lain.
Pesawat yang Dewiq tumpangi terjadi turbulensi. Kantong oksigen turun. Hidung pesawat menukik tajam, situasi kabin disertai teriakan dan tangisan.
Seat belt menempel ketat, pilot mengatakan mungkin akan terjadi crash landing diatas laut.
Semua passenger diminta tetap tenang dan merapal doa.
"Aaaaaaahhhhh," teriakan menggema.
"Allahu akbar... Allaaaahhhhh...."
"Gooooodddd...."
Dewiq tak henti istighfar, takbir, syahadat dengan air mata berderai. Bayangan kematian begitu dekat.
Bear ... doakan aku, Bear....
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...."
Dasshhhhhhh.
Suara membentur sesuatu. Semua isi kabin melayang....
.
.
...__________________________...
__ADS_1
...Nabrak awan yang agak tebel aja bunyinya gitu, apalagi kalau turbulensi, haduh... pasrah.. ðŸ˜...