DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 218. MY UMBRELLA


__ADS_3

Orchid, Cibubur.


Sudah hampir satu bulan, Naya melihat sebuah koper berwarna hitam pekat ada di sudut ruang kerja suaminya. Ia selalu lupa menanyakan pada Mahen tentang isi di dalamnya.


Naya tak pernah menyentuh barang yang bukan miliknya ataupun tidak di amanahkan padanya meski ada di dalam kediaman mereka.


Saat menjelang tidur. Pillow talk.


"Honey, maaf aku tanya daripada berprasangka buruk dengan Abang. Mau nanya, tapi lupa terus," ujar Naya sambil membalur body lotion ke seluruh kakinya.


"Tanya saja," sahut Mahen dari atas tempat tidur, masih bermain game di gawainya.


"Koper hitam di ruang kerja Abang, milik siapa? isinya apa?"


"Dwiana, uang penjualan mobil Ferrari sport miliknya. Akan di ambil esok di sini, kamu yang temui ya," terang Mahen tanpa menoleh ke arah Naya.


"Ko bisa ada di Abang, gimana ceritanya?"


"Sini, Sayang. Aku jelasin," Mahen meletakkan benda pipih itu di atas meja nakas, lalu turun dari ranjang. Membopong Naya dan membaringkan di atas kasur, disusul dirinya seraya menarik selimut.


Mahen memeluk wanita pujaannya yang sangat wangi, sembari bercerita detail tentang problema Dwiana.


"PTSD, mirip aku ya. Hanya saja traumanya lebih dalam, banyak dan berbeda ... mirip Aiswa dan Dewiq, aah benar, ketiganya dipertemukan karena punya luka yang sama ... mereka berdua sudah reborn berkat Kak Amir dan Ahmad ... Aku juga, beruntung dapat release berkat Abang ... kasihan Dwi," iba Naya.


"Makanya dia cerita sama aku di kantor, karena merasa kamu sepertinya, Sayang...."


"Ish, nanti dulu. Belum selesai ceritanya, Abaaaaaaaang...."


"Udah gitu aja, gak ada lainnya...."


"Dokter Rayyan, di singgung gak?" Naya menahan aksi suaminya itu.


"Enggak. Memang mereka ada hubungan ya? ... Dwi memintaku merahasiakan semua ... sedangkan duo K, team shadow yang Dwi sewa mengatakan padaku bahwa beberapa orang mulai mencarinya termasuk Rayyan ... Baby, baiknya gimana menurut kamu?" tanya Mahen meminta pendapat Naya.


"Kata Mba Aish iya, tapi gak tahu juga ... biarkan dulu. Dwi kan sedang berusaha bangkit, dia punya semangat tinggi. Abang tahu kan, sangat sedikit penderita trauma mental yang dapat mengendalikan ke negatif-an sikapnya lalu mengubah menjadi hal positif ... gak bundir saja, sudah bagus," jelas Naya.


"Benar, kayak kamu dulu. Tenaganya gak pernah habis...."


"Aku yakin, Dwi sedang berproses menyembuhkan dirinya sendiri. Namun ia juga butuh dukungan," lanjut Naya.


"Go on, Sayang. Bantu Dwi ya, dia butuh kepercayaan dari sekitarnya bahwa kehadiran dirinya masih sangat di butuhkan...."


"Loh, katanya dirahasiakan? nanti gimana?"


"Besok kan dia kesini, ketemu kamu, kalian ngobrol ya. Udah ah ... sekarang waktunya kamu, buat aku," ujar Mahen mematikan lampu kamarnya.


...***...


Soetta, Jakarta.

__ADS_1


Ahmad sengaja tak memberitahu Dewiq dan keluarga Hermana bahwa ia akan terbang mengunjungi putri mereka.


"Baby, kejutan buatmu."


Dia memandang satu box coklat custom buatan salah satu toko kenalan bisnisnya yang juga mensuplai bahan baku untuk pabrik coklat di Eropa.


"Marsha and Umbrella, semoga cinta kamu yang selalu menaungi aku dalam suka dan duka."


Pria kalem yang pesonanya mampu menarik perhatian flight attendant wanita, tengah berkirim pesan memberitahu Ulfara tentang niatannya. Mengindahkan tatapan kagum dari mereka.


"Tiga belas jam lagi, Sayang ... gak sabar rasanya." Ahmad lalu mematikan ponselnya sesuai arahan Co-pilot lalu menulis di catatan perjalanan miliknya.


"Love Journey," gumam Ahmad mengabadikan moment yang akan ia lalui.


Transit di Singapura, baru saja ia lewati. Kini pesawat kembali mengudara membelah angkasa.


Ahmad melanjutkan menulis barisan kata yang sempat tertunda.


"Sha, aku melangkah mendekati mu perlahan, mengatakan rindu dari atas awan. Rindu ku, segala tentangmu yang membuat ingatan dan hatiku, jatuh cinta."


"Aku mengenal kata rumah dan pulang, karenamu, yang ku sebut sebagai hunian, tempat menyimpan kedamaian ... meski kita sama, kadang sendiri merenungi, menghibur haru nan kesepian dalam batas ruang."


"Untuk Marsha-ku, Heathrow, London."


Ahmad melipat kertas bertulisan tangan yang ia torehkan di atasnya. Melipatnya lalu menyelipkan dalam box coklat yang ia siapkan untuk sang pelipur lara.


...***...


Sebuah taksi yang ia pesan pun telah siap membawanya ke alamat kediaman Hermana. Ulfa sudah menunggu sementara sang Nona muda telah terlelap.


"Tuan muda, Nona baru saja minum obat pereda nyeri dan tidur. Aku menunggu Anda di foye kediaman Hermana," balas Ulfa pada pesan Ahmad.


Hampir pukul satu dini hari, saat Ahmad masuk ke dalam hunian mewah yang kental dengan gaya arsitektur abad pertengahan.


"Di lantai dua, kamar Nona pintu warna coklat tua. Silakan Anda naik, travel bag akan di bawa oleh maid," ujar Ulfa.


Ahmad menaiki puluhan anak tangga menuju kamar sang istri. Ia membuka handle pintunya pelan agar tak membangunkan pemilik kamar.


"Alhamdulillah, aku sampai padamu, Sayang." Tak mengindahkan kehadiran maid, Ahmad langsung mengecup kening Dewiq yang tertidur pulas. Lalu ia membuka kopernya.


"Thanks," ucap Ahmad pada maid lalu mengunci pintu kamar setelah mereka pergi.


Dia mengambil baju ganti bergegas menuju bathroom agar tubuhnya lebih segar kala mendatangi istrinya nanti.


Beberapa menit berlalu.


"Lelahku hilang, Sha. Damai banget sih kalau lagi tidur," jemarinya perlahan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah ayu istrinya meski dalam temaram.


Pria tampan keturunan Tazkiya, lalu menaiki ranjang. Merapatkan tubuh lelahnya memeluk dari belakang.

__ADS_1


"Nyandu, kangen wangi kamu, Sayang...." Ia pun larut dalam lelap menyusul sang dewi hati.


Menjelang subuh.


Dewiq merasakan tubuhnya sangat hangat sekaligus sedikit berat. Ia sejujurnya masih malas membuka mata di pagi buta.


Tangan? siapa? wanginya, Bear?


Dewiq kesulitan menoleh, namun ia yakin bahwa yang memeluk dirinya adalah sang suami.


"Bear? Baby?"


"Mas," panggilnya lagi.


"Bear, berat," Dewiq berusaha beringsut hendak melepaskan pelukan, namun Ahmad justru enggan.


"Rindu kamu, Sayang...." bisiknya, hembusan hangat nafas pria di belakangnya menyapu tengkuk Dewiq yang terbuka. Ia meremang.


"Bear," Dewiq tak menduga, Ahmad menyusulnya.


"Ssstt, aku di sini. Maaf ya Sha, maafkan aku," Ahmad membalikkan tubuh Dewiq menghadapnya. Menyeka air mata yang kembali turun membasahi wajah pucat di pagi buta.


"Love you, Sayang."


C-up.


Kecupan pertama kami.


Meleburkan rindu beberapa menit sebelum adzan subuh. Mengikis jarak ribuan mil demi menuju pada pemilik raga yang mengikat cinta.


"Bentar lagi subuh, Bear," lirihnya dalam pelukan Ahmad.


"Iya, Sayang. Ya Allah, nikmat. Hari ini masih ujian Sha?"


"Sore, Bear. Hanya satu. Besok selesai," balas Dewiq tak kalah pelan.


"Ok."


"Ko gak bilang ke sini?"


"Aku takut kecewain kamu lagi. Jadi ku pastikan dahulu semua urusan selesai ... jangan pergi lagi tanpa izinku ya, Sayang. Jika aku diam, tanyalah, karena sejujurnya suara lembutmu sudah meluluhkan aku, my umbrella," Ahmad menatap manik mata istrinya.


"Maaf Mas, maafin aku ya ... enggak diulang lagi ... aku juga sama tersiksa...."


Lega, ternyata salah paham membuat kamu dan aku kembali belajar bahwa komunikasi adalah segalanya.


.


.

__ADS_1


...__________________________...


...😌😌😌...


__ADS_2