DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 232. NEW COMER DEDEMIT


__ADS_3

"A, tolong bajuku. Tadi Mba Rena bawakan aku baju ganti kan?" seru Dwi dari bathroom. Ia tak mengizinkan Rayyan mandi bersamanya tadi. Malu, pikirnya.


"Gak usah pake baju, Sayang. Kamu gak butuh itu," sahut Rayyan enteng sembari berbaring di sofa, memainkan handphonenya.


"Eh, grup apa ini? Dedemit?" ia terheran, ada notif grup yang menyeret namanya.


"Assalamu'alaikum," Rayyan membaca pesan yang baru masuk.


"Dokter Rayyan, welcome ya. Kenalin suhu disini Pak Haji Gamaliel Arbi, yang menguasai wilayah Malaysia dengan merk dagang Baba Arb," tulis Amir men-tag namanya dan Gamal.


"Wa'alaikumussalam, wah mangsa barunya Mas Gamal," balas Ahmad.


"Wa'alaikumussalam, ada apa nih bawa-bawa orang alim," samber Gamal tak lama muncul setelah namanya di tag.


"Wa'alaikumussalaam, wah milyarder. Mas Gamal ini masih keluarga Kusuma ya? sepupuan dengan Mas Amir kah?" tanya Rayyan.


"Makanya grup ini dinamakan deretan milyarder klimis dan tampan, dedemit," tulis Gamal lagi.


"Sesuka Mas Gamal, jangan kaget ya Dok. Dia itu unik memang," balas Ahmad.


"Teman kecil dan sepupu dapat nemu, Dok," balas Amir pada Rayyan.


"Gue laporin Abah, Lu ngatain gue dapat nemu," balas Gamal.


"Eh, jaman sekarang yang sensi bukan cuma Bumil ya? PakMil juga. Hati-hati anak Lu mirip gue," sindir Amir.


"Hah, hamil lagi, Mas? baru berapa bulan Kaffa?" tanya Ahmad.


"Baru firasat ... pas setahun, selisih 6 bulan dengan Maira," jawab Gamal.


"Wuah, ngebut ya. Aku aja belom jadi," keluh Ahmad.


"Ya gimana mau jadi. Lu naroh, terus lupa dah, " Amir mulai usil.


"Yee, kan mau di siram saban hari juga pipanya gak nyampe Mir, kejauhan, kerendem air laut duluan," jawab Ahmad.


"Jadi asinan zigot, donk." Gamal nyeletuk.


"Asinan cebong," Ahmad pun mengirimkan emot tertawa.


"Ngakak," balas Amir.


"Aku nyimak obrolan pria dewasa," Rayyan menimpali.


"Kalau belum dewasa syarafnya masih lemas ya Dok, gak kuat dalam kondisi tertekan dan tegang," balas Gamal.


"Hahahaha, gue gak paham Lu ngemeng apaan," Amir mengirimkan emot tertawa.


"Betul, Mas Gamal." Rayyan bingung ingin menjawab apa, dia pun gagal paham dengan maksud Gamal.


"Kalau lagi galau gitu ya, gak nyambung," cibir Ahmad.


"Biasa Mad, demen nanem ogah ngerawat," balas Amir.

__ADS_1


"Eh, Mir, gue seneng dua-duanya ya. Ini gue galau, kasihan Kaffa juga Alma donk. Kan masih ng-Asi. Dok, gimana ini? apa aku terlalu tegang?"


"Mungkin, bisa jadi, Mas," jawab Rayyan.


"Kan udah kejadian, berani berbuat ya tanggung lah ... Lu nyesel kenapa emang?" sindir Amir lagi.


"Gue nyesel, karena lupa nyabut. Puas Lo," sungut Gamal mulai kesal.


Ketiga pria itu pun tertawa, Rayyan dengan emot ngakak. Ahmad dan Amir membanjiri chat dengan stiker terbahak.


"Gue bagi pahala dah, Lu pada happy diatas penderitaan gue," tulis Gamal lagi.


"Menderita gimana? Buktinya ampe lupa nyabut, saking apa tuh? selamat ya PakMil, semoga sehat sampai lahiran," balas Amir.


"Aamiin, jangan nambahin doa yang kagak baek, Lu Mir," tuduh Gamal.


"Tolong pak ustad Ahmad, kasih wejangan pada syaiton nirojim satu ini. Agar jangan su'udzon pada sepupunya yang tampan." Tulis Amir untuk Ahmad.


"Parah, Mir," balas Ahmad tag Amir.


"😅, astaghfirullah. Kusuma parahnya nyampe ke chat." Rayyan baru tahu kebiasaan mereka.


"Dok, sengaja diundang ke sini. Kali Gamal butuh obat penenang syaraf kek Uyut itu," ujar Amir.


"Eh, kekar begini ko mau pake di lemesin sih?" samber Gamal tak terima.


"Wah beneran, sensi amat Mas Gamal." Sambung Ahmad.


"Penenang syaraf itu bukan buat ngelemesin, Mas Gamal. Tapi meredam agar tak terlalu kuat bekerja. Di stop dulu, kasih istirahat." Rayyan menjelaskan dengan bahasa sederhana.


"Emang Dokter apaan?"


"Internist, kali Lu mau konsul."


"Gue butuh pil KB kayaknya," balas Gamal mulai ngaco.


"Yang minum pil KB, bukannya wanita ya?" tanya Ahmad heran.


"Jangan aneh, wong tes pack aja dia yang make ko. Heran gue, semua anggota tubuh yang dipake cuma anu doank," Amir tertawa puas atas kebodohan Gamal.


Rayyan dan Ahmad terbahak, stiker tertawa bertebaran.


"Kan gue gak paham, nanya ama elu, Bambaaaaang," protes Gamal tak terima.


"Emang gak di baca Mas?" imbuh Ahmad.


"Dibilang, semua fungsi indera nganggur. Otaknya aja suka lupa dipake," ejek Amir.


"Gue kelewat pinter." Gamal mengirimkan stiker terbahak.


"Ya ampun. Aku nyerah," sahut Rayyan, ikut tertawa atas kelakuan absurd mereka. Seseru ini ternyata keluarga Kusuma.


"Pamit ya semua, yang manis dan segar sudah nungguin," ujarnya lagi.

__ADS_1


"Dok, jangan lupa di cabut. Itu wejanganku." Pesan Gamal.


"Eror emang, haduuuh," balas Ahmad.


Amir hanya tertawa, diikuti Ahmad. Tak lama, grup chat dedemit kembali sepi.


...***...


Dwiana sudah selesai tiga puluh menit yang lalu. Ia duduk di sisi ranjang sembari memainkan ponselnya, menunggu Rayyan membersihkan diri dan bersiap untuk sholat berjamaah.


"Happy amat, A," ucap Dwi.


"Mas Amir kenalin aku dengan sepupunya yang agak eror. Lagi galau kayaknya. Sempet denger namanya disebut oleh Mas Mahen saat menjenguk pasien ku, uyut mereka di Singapura beberapa waktu silam."


"Biasanya Amir yang pendiam juga suka oleng kalau udah ketemu Ahmad, apalagi Kusuma. Kata Aish, keluarga mereka seru."


Bukannya segera mandi, Rayyan malah diam duduk di ujung sandaran sofa. Melihat Dwi yang serius dengan ponselnya tanpa melihat lawan bicara meski ia menanggapi semua perkataan dirinya.


"Lekas, A. Nanti adzan keburu datang. Aku mau jalan ke depan. Beli ini," ujar Dwi. Kali ini dia menunjukkan pada Rayyan ingin membeli pancake viral yang lokasinya tak jauh dari hotel tempat mereka menginap.


"Ish, ko diem sih," cebik Dwiana jengah melihat suaminya hanya diam.


Rayyan tersenyum melihat sang wanita pujaan, merengek untuk pertama kali padanya.


"A, ih, aku beli sendiri deh. Go send aja," sungut Dwi merasa di acuhkan Rayyan.


Lelaki yang masih mengenakan kemeja Ivory, dengan lengan digulung hingga siku dan kancing baju sebagian telah terbuka. Mendekati istrinya, ponsel dengan casing hitam glitter itu di raih Rayyan.


"Iya Sayang ... tapi gak gitu konsepnya. Kan aku lagi mandang istriku, lagi happy karena kamu merengek padaku. Masa menikmati hal indah harus buru-buru sih," jelas Rayyan. Membuat si empunya ponsel tersenyum padanya.


"Yang sering begini ya, Rose. Kamu cantik," Rayyan mengembalikan benda pipih itu ke tangan Dwiana.


Mengusap lembut kepala yang sudah terbalut mukena, beberapa kali. Membuat Dwi, yang belum pernah jatuh cinta, tersipu atas perlakuan manis suaminya.


"Tunggu ya, ba'da maghrib kita jalan-jalan. Ngedate," ujarnya sambil lalu menuju bathroom.


"A."


"Ya? mau ikut?" ajak Rayyan dengan senyum menggoda.


"Jangan lama-lama, tuh udah adzan. Maghribnya nanti kehabisan waktu," ingat Dwi pada suaminya.


"Habis jajan, ada upahnya ya Sayang, aku tagih nanti," ujarnya menutup pintu toilet.


"Hah, upah. Upah apa?"


.


.


...________________________...


...Maaf, baru UP. Kemarin ganti cover dan judul Zaylin Huzefa ... juga kerjaan mommy sedang dikejar deadline. Jadi baru UP... otw Dilara siang ya.. Mommy mau meet-up buibu kejap dulu... 🤭...

__ADS_1



__ADS_2