DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 102. DA3A


__ADS_3

Weekend, Malaysia.


Pagi ini Amir berkonsultasi akhir dengan dokter yang menangani Aruni, perkembangan kondisi kesehatannya sedikit mengalami kemajuan baik.


Pria muda nan gigih itu sangat detail mencatat apa saja yang diizinkan ataupun sebaliknya bagi Aruni untuk melakukan aktivitas fisik hingga asupan nutrisi.


Setelah mengucapkan banyak terimakasih pada para dokter yang menangani istrinya, dia pamit kembali.


Amir berjalan beberapa langkah, lalu netranya berkeliling mencari tempat sunyi untuk menepi. Dia melangkahkan kaki panjangnya menuju taman kecil di paviliun tak jauh dari cluster kamar VIP yang mereka tempati.


"Qiyya," hembus nafasnya kasar, menghempaskan tubuhnya pada bangku panjang disana.


"Aku janji akan mengabulkan segala keinginanmu tanpa kecuali." Sejenak dia mengosongkan pikirannya.


Bisnisnya sedikit terganggu, namun disaat seperti ini justru Allah mengucurkan banyak nikmat rezeki baginya.


Queeny beberapa kali masuk dalam kolom artikel majalah bisnis dengan growth yang mengesankan. Juga Naya kerap diundang sebagai pembicara ke dinas perindustrian, pariwisata atau lainnya untuk sharing motivasi, berbagi pengetahuan mengenai tata cara memulai bisnis bagi pemula.


"Disaat Engkau memberi ujian padaku, solusi pula Engkau hadirkan, sungguh Qiyya sangat membutuhkan banyak dana bagi pengobatannya dan dia tak pernah kesulitan dalam setiap ikhtiar menjemput sehatnya ... Engkau Maha Adil ya Robb, Queeny sumber penghasilanku dan Qiyya jalan bagiku untuk bersyukur padaMu." Gumamnya lirih.


Ting. Notifikasi pesan masuk.


"Kak, jadi pulang atau mau jalan-jalan?" pesan dari Mahendra.


"Jalan Mas, ada masalah kah?"


"Design Queeny winter series serta Qiyyam, ini baru saja dapat notif custom warna khusus dalam jumlah lumayan ... bagaimana? aku send file by email, please cek jika sempat ya Kak ... Naya masih suka kontraksi palsu ini, aku ga konsen jadinya ... Mba Runi gimana?"


"Qiyya begitulah, tapi aku tetap akan berusaha ... nanti jika sudah longgar aku cek email Mas, ini baru keluar ruangan konsul dokter ... hati-hati disana, semoga lekas launching ponakan aku, sehat keduanya ya Mas, aamiin."


"Aamiin ... oh iya Kak, Aku dapat rekomendasi terapis akupunktur, jika setuju aku kirim profile sekalian yaa ini lebih kepada agar Mba Runi lebih rileks, karena pasti hawa panas itu sering hadir."


"Iya bener Mas, dia ngeluh panas kalau malam ... boleh Mas, aku tunggu ya ... dokter bilang, fisiknya luar biasa ya mungkin karena semangatnya yang pantang menyerah ... aku kerjain semua bagianku malam ini deh biar tenang saat honeymoon nanti."


"Honeymoon teruuuuss, gaslah ... mau kemana?"


"Kuala lumpur, bentar tapi, cuma numpang foto doank buat pamer, " gelaknya diikuti Mahen.


"Aku siapin yaa, biar kalian tinggal menikmati nanti."


"Ga usah Mas, fokus Naya saja."


"Di terima Kak, aku ga bisa berbuat banyak untuk kalian."

__ADS_1


Adik iparnya memang selalu siaga, sudah banyak hal yang dilakukannya selama ini terkhusus untuknya yang terkadang masih minim pemahaman. Sungguh pria istimewa, tak salah Naya jatuh hati padanya meski jarak usia mereka terbentang jauh.


Amir memejamkan matanya kembali, meletakkan tangan kanannya di dada kiri, lirih dia berkata bahwa kekhawatiran serta ketakutannya bagaikan berada dimedan perang. Teringat kisah tentara Talut kala akan berperang melawan tentara Jalut yang terlihat gagah, kuat dan perkasa disaat genting itu.


Ya Robb, padahal pesanmu pada Al-Baqarah 250 sangat lah jelas. Ampuni Aku. Gurat wajah sendu itu kembali hadir, namun rasanya ia malu terus mengeluh seakan hidupnya paling merana padahal diluar sana masih banyak yang lebih daripadanya.


Rabbanaa afrig 'alainaa shabraw wa tsabbit aqdaamanaa wansurnaa 'alal qaumil kafiriin.


Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami dan tolonglah kami...


Allahumma Inni audzubika minal hammi wal huzni wal ajzi wal kasali wal bukhli wal jubni wal dholaid daini wa gholabatir rijali.


Ya Robb, Aku berlindung kepadaMu dari rasa sedih serta duka cita ataupun kecemasan, dari rasa lemah serta kelemahan, dari kebakhilan serta sifat pengecut....


Lelaki yang mempunyai bahu tegap itu kembali bangkit setelah mengumpulkan lagi kepingan cemas yang sempat hadir lalu merubahnya menjadi suatu bentuk kepasrahan.


Saatnya pasrah. Bila Engkau telah berkehendak, sesiapapun tak akan mampu merubahnya.


"Bismillah." Langkahnya kini lebih tegar dari sebelumnya.


Aruni yang melihat handle pintu kamarnya diputar sangat berharap sang suami membawa kabar bahagia untuknya.


Ketika wajah tampan itu menyembul dari balik pintu, Aruni sudah bertepuk tangan kegirangan bagai anak TK yang hendak dihibur oleh badut ultah.


"Boleh, besok kita ke KL ya," balas Amir seraya mendekat ke sisi ranjang Aruni.


"Yah, pindah RS lagi?"


"Apa kata dokter Mas?" tanya sang mertua.


"Boleh pulang ko Ma ... ke KL itu kita jalan-jalan sebelum pulang, mau ga?"


"Alhamdulillah, wah Mama pulang sendiri kayaknya nih."


"Mau Mas, Mau ... seminggu ya, besok ke Petronas, ketemu Alma juga disana dan Aku ingin lihat kayaknya disana seru."


"Ok, makan yang banyak dulu biar besok fit."


"Ma, maafin yaa ... malam ini Aku siapin tiket Mama."


"Mama ngerti ko Mas, ga usah khawatir gitu...."


Wajah Aruni seketika cerah dan sumringah, senyum tak lepas dari bibir pink itu hingga lesung pipinya nampak jelas.

__ADS_1


"Cantik," belainya dipipi Aruni hingga membuat pipinya merona.


Jika suaminya sudah mulai merayu dan berkata manis, Aruni tak dapat menyembunyikan rasa malunya.


Keluargamu itu memang romantis dengan caranya masing-masing.


Keesokan pagi.


Amir lebih dulu mengantar Mama ke statiun kereta yang akan membawanya menuju Bandara lalu pulang ke Tanah Air. Mahen telah mengatakan siap menjemput dan membawa beliau tinggal sementara di Orchid menunggu kepulangan mereka nanti.


Aruni telah siap ketika suaminya kembali menjemputnya dirumah sakit. Bersyukur tidak membawa barang banyak, memudahkan mereka ketika memilih menggunakan moda transportasi umum ke lokasi tujuan.


Rupanya Mahendra telah mengatur Hotel yang terdekat dengan lokasi event amal disekitar Petronas.


Ketika baru saja tiba di lobby, Amir menghubungi Gamal agar mereka menghabiskan waktu bersama hingga malam nanti.


"Check-in dulu terus ketemu Gamal lalu kita jalan-jalan," ujar Amir setelah tiga jam setengah waktu telah mereka habiskan untuk menempuh perjalanan Penang Kuala Lumpur.


Aruni terlihat excited, tak tersirat lelah diwajahnya.


"Yah, pagelarannya udahan ya? ga bisa lihat donk."


"Belum Nona, baru saja akan dilangsungkan ... mereka salah satu bagian dari pengisi acara." Tunjuk receptionist pada rombongan para bule.


Amir berdiri membelakangi saat mereka melintas sebab menunggu Room boy menyilakan pasangan ini agar mengikutinya.


Disaat yang sama, ketika kepalanya menoleh, pandangannya sekilas menangkap sesuatu yang pernah akrab dalam ingatannya.


Ungu. Hijab itu.


"Sayang, maaf." Amir meminta Aruni menggeser posisinya kesamping tak menghalangi pandangannya.


"Kenapa Mas?"


Dia? ah yang punya hijab itu kan banyak. Perasaan Aku saja.


"Eh, gapapa, yuk naik ke kamar dulu sambil nunggu Gamal." Raihnya kembali menggandeng jemari Aruni.


.


.


...________________________...

__ADS_1


__ADS_2