
Aeyza room.
Dewiq melihat pemandangan disana via CCTV yang terpaut dari dalam kamarnya. Hatinya ikut trenyuh saat sosok cantik itu menghampiri adik angkatnya yang terbaring lemah.
Siang ini juga, akan dibacakan keputusan final mengenai kondisi Aeyza yang telah disepakati keluarga. Hermana Arya merelakan anaknya, melepaskan semua alat medis yang menyangga nyawa dengan paksa, agar raga ringkih itu tetap merengkuh bumi meski jiwa nyaris melanglang buana menuju sang Pencipta.
"Kak, ikhlas ya ... kita fokus kesembuhan Mama, biarkan Aeyza pergi dengan damai," peluknya pada sang sulung.
"Pa, apa dia akan bahagia disana?" Dewiq masih tak rela, namun ia merana menyaksikan raga adiknya lebam disana sini, akibat tusukan alat kerap berpindah tempat mencari denyut nadi yang kian melemah.
"Saya dokter Dimas, menyatakan diagnosa terkini pasien Danesh Aeyza Hermana, tidak lagi merespon semua rangsangan ... kondisi organ vital terlampau mengalami kerusakan parah serta tindakan medis telah maksimal dilakukan maka hari ini pihak keluarga menyetujui untuk melepas semua fasilitas alat yang menopang masa hidup pasien.... "
Dewiq tersedu memeluk lututnya yang dia naikkan ke sofa. Membenamkan wajahnya disana.
Hermana Arya melangkah gontai menuju sisi tempat tidur anak bungsunya, perlahan dengan tangannya sendiri dia melepaskan satu persatu alat dari tubuh Aeyza.
"Pergilah dengan damai Aeyza sayang, maafkan Papa dan sampai jumpa lagi, " inginnya tegar namun tetap saja sedu itu keluar dari mulutnya.
"Aeyzaaaaaaaa.... " teriak Dewiq bersamaan dengan bunyi tuuuuuuutttt panjang dari elektrokardiograf yang ditampilkan pada monitor holter.
"Saya, Dokter Dimas menyatakan Danesh Aeyza Hermana telah meninggal dunia pada hari selasa pukul 14.05 WIB, selamat jalan Nona Muda." Bungkuknya hormat.
Dewiq menghambur memeluk, menciumi tubuh yang masih hangat bak tengah lelap tertidur diatas brangkar sisi pembaringan ibundanya.
"Moms, lihat, dia telah pergi," serunya pilu.
Sementara sang ayah meminta Dokter Dimas dan team dokter Aeyza untuk menandatangani sebuah pernyataan bahwa segala informasi tentang anak bungsunya termasuk rekam medis akan dimusnahkan dan membawa informasi ini hingga ke liang lahat mereka.
***
Saat yang sama, ruangan Aiswa.
Aruni masih setia menggenggam tangan Aiswa, rasanya tadi dia merasakan sengatan kecil dari jemari kurus ini.
Umma mendekati kedua wanita yang seakan tengah bercerita dari hati ke hati melalui sentuhan.
"Nak, temani Umma ke cafe ya, " bujuknya agar Amir bisa leluasa mendekat. Hariri salim mengerti, dia ikut meninggalkan ruangan itu bersama istrinya dan Aruni.
"Mas, aku ke cafe ya," pamit izin yang hanya diangguki Amir.
"Mir, Buya tinggal dulu ya, ada suster jaga disini jadi kalian tidak berdua, " pesannya.
"Ya khayr Yai," jawabnya parau.
Setelah suster masuk dan duduk di sudut ruangan menjaga jarak dari keduanya. Istri dan kedua sepuh yang dia segani telah pergi. Amir mendekat perlahan.
Langkahnya berat, sekuat hati dia menahan agar bulir bening itu tak mudah luruh membasahi pipi.
"Assalamu'alaikum Rohi, temani aku disini, mau kan? " sapanya lembut seperti biasa.
"Apa disana terlalu nyaman untukmu? turunlah dulu, aku ingin kita mengobrol sejenak, " tunduknya mulai tak kuat.
__ADS_1
Amir terus saja memancing reaksi agar Aiswa merespon.
"Tidak perlu mengerahkan banyak tenaga, cukup gerakan matamu aku sudah tahu bila kamu bersamaku ... kau menungguku? maafkan aku yaa, membawanya serta,"
"Aku menikahinya belum karena cinta, sayangku padanya tak serupa sayangku untukmu, namun janji telah mengikatku hanya menjadi miliknya, kau pasti mengerti bukan?"
"Kamu ingat, saat tertidur dimobil sewaktu kabur dulu? sama cantiknya seperti saat ini ... sa-yang, berjuanglah ... setidaknya agar kita bisa sesekali bertemu meski dari kejauhan, " tangisnya pecah. Ia menundukkan kepalanya, menimpa jemari dalam selimut.
"Rohi, kamu tahu ... hatiku sangat sakit ... sejak dulu, kamu begitu dekat namun tak jua tergapai,"
"Bangunlah Rohi, agar Allah mau berbaik hati pada kita untuk mempertemukan kembali di lain waktu ... kamu tetap pemilik hatiku, Aiswa Fajri."
Amir sudah tak kuasa menahan dahsyatnya dorongan agar bendungan di pelupuk matanya diizinkan mengalir.
Ia menyentuhkan ujung buku jarinya pada lengan terbungkus selimut itu, menyalurkan kehangatan terakhir yang dia miliki untuknya.
"Rohi, masih ingat dengan Ali Imran ayat 14 yang pernah kau tanyakan dulu? Allah menjadikan kecintaan manusia terhadap beberapa hal menjadi indah, termasuk cinta padamu ... indah, dengan caranya ... aku terpesona oleh senyum mahal Aiswa Fajri yang dengan mudah kudapat, tidak ada nafsu disana saat itu bukan? hanya kekaguman atas ciptaan Allah yang Maha Sempurna. "
" Lalu, cinta pada apa yang diinginkan sebagai bentuk wujud kesenangan dunia ... bila cinta yang aku punya untukmu tak jua membawa pada kesenangan dunia, akankah Allah mengambilnya lagi? ... mungkin, karena hanya padaNyalah sebaiknya tempat kembali.... "
"Bila memang semua sakit yang kamu rasa tiada penawarnya ... lerai, namun jangan kau bawa hatiku serta,"
"Aku merelakanmu pergi Rohi, berbahagialah disana ... tunggulah aku, " Bahu tegap itu terguncang hebat, tak lagi kuasa membendung segala sesak jua sesal yang kian menghujam dada.
Amir menangis, ingin rasa hati menciumi jemari terselubung selimut meski sebagai penghalang baginya, batinnya menahan.
"Aiswa jangan dzolimi ragamu, pergilah jika dunia ini hanya muara dukamu sayang, aku memang tak mampu menjadi sumber kekuatan bagimu."
"Qol-bi,"
Amir yang masih tertunduk disamping jemari kuyu, dalam benaman wajah sendunya tak mendengar suara lirih wanita yang dia tangisi.
"Bi,"
"B-ii,"
Hening.
"Rohi? Ais-wa?" Amir menyeka air mata yang membasahi wajahnya. Mengerjap, memperhatikan wajah cantik pucat itu.
"Syu-k...."
"Aiswa, alhamdulillah ... tunggu, aku akan panggil dokter."
Suster yang bersama Amir terkesiap melihat gerakan bibir Aiswa. Amir tak begitu memperhatikan, dari ekor matanya nampak dia menghubungi seseorang lewat ponselnya.
Grep. Jemarinya menahan langkah Amir pergi.
"Sta-y."
"Habi-bi Qol-bi,"
__ADS_1
"Rohi habibati,"
"Ali Im-ran," lirihnya samar.
Amir mengambil wudhu, meninggalkan Aiswa dengan suster yang tengah memeriksanya serta menyuntikkan sesuatu disana. Bersamaan dengan kembalinya Amir, Yai serta Umma dan istrinya memasuki ruangan.
Mereka menyadari anaknya telah merespon, mulai mengaji kembali meski dengan deraian air mata.
Amir mulai melantunkan ayat demi ayat surat yang Aiswa minta ia bacakan, bila dirinya tak salah tangkap. Suaranya teduh nan lembut seperti biasa mengalun lirih meski tersisa sengau akibat menangis. Menjelang ayat akhir, Aiswa masih nampak tersadar hingga tak lama tarikan nafasnya kian berat.
"Allah, Rohi ... Allah," bisik Amir ditelinga, menjeda bacaannya.
"Al-lah,"
"Lagi, Allah, Allah,"
"Al-lah,"
Tuuut. Tuuut. Tuuut. Tangan yang Amir sentuh berlapiskan selimut itu terkulai lemas seiring bunyi datar dari monitor alat rekam jantung.
"Rohi...." Amir terpaku, jatuh luruh disisi wajah ayu kekasih hatinya.
Aruni dan Hariri salim panik memanggil dokter keluar ruangan. Sementara Umma menangis tersedu di depan ranjang anaknya.
Amir menyingkir saat tenaga medis memeriksanya, tak lama kalimat menyeramkan itu datang menusuk gendang telinganya.
"Aiswa Fajri meninggal dunia pada hari Selasa pukul 14.20 WIB."
Tangis menggema dalam ruangan, suster melepaskan segala alat medis yang menempel pada tubuh pasien yang telah terbujur kaku itu perlahan.
"Mas,"
"Mas," Aruni mengguncang tubuh suaminya yang menatap nanar pada sosok ayu disana. Tak ada respon dari Amir.
"Mas, jangan begini, " Dia memeluk, menciumi wajah pria yang sangat terpukul atas kepergian wanita yang dicintainya itu.
"Dek, Rohi meninggalkanku, " gumamnya ditelinga Aruni.
"Ikhlas Mas, kamu sudah menemani di saat terakhirnya,"
"Bahagiakah dia meninggalkanku?"
.
.
...__________________________...
...Done.... Mommy meninggalkan segala duka, sakit, perih Aiswa disini......
...NEW BEGINNING......
__ADS_1