
Saat akan naik ke lantai 10 dimana unit Mahen berada. Ponselnya berbunyi, Amir membuka pesan masuk tepat ketika pintu lift terbuka.
" Dimana? aku ingin ketemu segera.... "
Amir terdiam memikirkan jawaban balasan, hingga jemarinya mengetik sebuah kalimat.
" Jakarta, aku menunggumu. "
" Bagus, temui aku ba'da ashar di.... "
Amir membaca pesannya lalu kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celana kirinya. Ia memandang punggung gadis didepannya yang tengah asik berbincang dengan Mega sembari merasakan desiran hati yang begitu perih.
Kita akan segera berpisah, sayangku Aiswa. Satu-satunya cintaku.
Ting. Pintu lift terbuka dan mereka melangkah keluar menuju apart Mahen yang tak jauh dari sana.
Tidak ada obrolan yang terjadi diantara mereka. Aiswa langsung masuk kedalam kamarnya, Mega membaca majalah di ruang tamu sedangkan Amir menuju balkon di depan ruang keluarga. Hatinya gamang kembali tapi mengingat banyak sekali halangan didepan mata, ia memejam menarik nafas dalam.
" Ummi, andai Amir bisa bertanya pada Ummi, mungkin hati Amir tidak akan sebimbang ini. " air matanya tak terasa kembali jatuh, ia rindu ibunya yang kerap menenangkan dan memberinya kekuatan di saat sekitar tak memihaknya.
***
Exona Landscape & Building, Jakarta.
Rey berjalan tergesa ke ruangan Mahen hingga lupa mengetuk pintu.
" Oh, maaf. " Tutupnya kembali pada pintu yang baru ia buka.
" Masuk, Rey! " teriak suara dari dalam.
" Bos, ada Hasbi di lobby meminta bertemu anda, " jelas Rey dengan pandangan menunduk.
" Baby, ke ruangan Om dulu yaa. Aku ga mau Hasbi liat kamu, " pintanya pada Naya agar turun dari pangkuannya sembari menciumi pipi istrinya gemas.
" Aku pulang aja yaa nemenin Aiswa. Abang udah lunch, aku juga udah sign berkas, disini ngapain coba daritadi begini ga boleh turun, " cebik Naya lucu.
" Diantar Dewi ... Wi, tolong temani Ibu pulang ya dengan driver kantor. " Perintah untuk sekretarisnya via intercom.
" Minta Hasbi naik Rey, " bangkitnya seraya mengantar Naya keluar ruangan dan mengantarnya menuju lift, diikuti oleh Rey.
" Take care sayang, " ciumnya lagi di bibir mungil istrinya saat pintu lift terbuka.
" Ya ampun, Bos ... Wi, sabar sabar sabar, " tepuknya dibahu Dewi yang tak menggubris sindiran Rey, toh mereka sama jomblonya. Pikir Dewi.
Sejurus kemudian Rey telah bersama Hasbi menuju ruangan Mahen dan menyilakannya duduk di sofa ruangan yang didominasi warna maskulin itu.
" Aku to the point saja, dimana Amir dan Aiswa? pantas saja aku tak dapat menemukannya, ada campur tangan Mas Mahen rupanya, " tuduh Hasbi.
" Kau, yang sopan kalau bicara! " Hardik Rey marah.
" Rey hentikan ... Mas Hasbi, anda menggunakan cara yang samakah saat akan merebut Naya dariku? apa yang kau sampaikan pada Ahmad tentang Ka Amir? aku curiga padamu bahwa anda mengkhitbah Aiswa karena ingin menyakiti kakak iparku, " tegas Mahen.
" Ckck, sepertinya percuma aku kemari. Baik, sampaikan pada Amir jangan jadi pengecut. "
" Itu justru cocok untuk anda, Raden Ahmad Hasbi, silakan keluar ruangan ku, anda tahu dimana pintunya bukan? "
__ADS_1
Hasbi bangkit, merasa tak mendapatkan jawaban, ia pun pergi. Amir tak membalas pesannya tapi semoga peringatannya dengan datang ke kantor Mahen bisa memancingnya keluar.
Setelah kepergian Hasbi, Mahen menelpon Naya mengatakan agar menjaga Aiswa hingga dirinya tiba dirumah.
" Rey, ikuti Ka Amir. Aku rasa mereka akan bertemu. Pergilah, agendaku hari ini sudah selesai. Aku pulang dengan Bram nanti. " Perintahnya untuk Rey.
" Baik Bos. "
Mahen kembali teringat beberapa malam lalu dimana Naya menyampaikan sesuatu yang membuatnya terkejut, bila di hubungkan dengan pernyataan ka Amir kemarin malam, pantaslah Hasbi berlaku demikian. Ia dendam.
***
Ba'da Ashar.
Amir izin pergi keluar apart pada Naya menuju titik lokasi pertemuannya dengan Hasbi. Baru saja ia turun dari mobilnya. Sebuah pukulan hampir mendarat di pipinya jika Amir tak gesit menghindar.
" Bisakah kamu sabar! aku akan jelaskan, pe-cundang! " teriak Amir yang terkejut, sahabatnya telah dalam keadaan emosi.
" Persetan dengan sabar, aku muak apalagi denganmu! " tinjunya lagi.
" Lepaskan Aiswa, jangan kamu gunakan dia untuk menyakiti ku. Dia tidak bersalah apa-apa padamu! "
" Tak akan pernah, aku mulai mencintainya. Tak akan pernah aku lepaskan seperti aku melepaskan Naya, JANGAN MIMPI !! "
Mereka akhirnya berkelahi, hingga sebuah kenyataan mengejutkan Amir saat Hasbi mengatakan :
" Gamaliel adalah temanku, saat S2 di Singapura. Berkat dia aku menemukanmu, hahaha!! akuilah kalau kamu kalah kali ini. "
" Aku ingin kamu merasakan bagaimana rasanya patah hati, sakit hati, sesak karena cinta yang tak sampai. Aku muak dengan Yai yang selalu memujamu, apa kurangnya aku dengan mu, haah?! aku membenci mu ketika kau tidak mau membantuku memperjuangkan Naya dulu ... KAMU BUKAN SAHABATKU LAGI! "
" Innalillahi, Aiswa tidak bersalah, balaskan sakitmu hanya padaku Hasbi. Lepaskan Aiswa jangan sakiti dia. " Amir memohon.
Amir menahan dirinya, tapi ia tak tega Hasbi menyakiti keluarga gurunya terlebih Aiswa akibat kelalaianya yang tanpa sengaja menyakiti sahabatnya.
" Ayolah, Amir yang bersahaja, lembut, ramah, sopan dan seorang hafiz, selamatkan kekasihmu itu ... bagaimana rasanya di acuhkan oleh sang kakak ketika hendak meminta bantuan? ga enak bukan? begitulah, aku meminta Ahmad melakukan hal yang sama seperti kamu melakukan itu padaku dulu. Ahmad lebih memilihku ... tahu karena apa dia begitu? "
" Apa? " tanya Amir putus asa.
" Memohonlah dulu Bede*bah ... ! " tendang nya pada lutut Amir agar dia berlutut.
Argh. Amir memekik menahan sakit.
" Aiswaku lebih berharga dari apapun, aku tak akan mengemis padamu untuk menyeretnya turun demi cinta semu dan nafsu, aku menghargainya melebihi apapun. " Amir menyerang balik Hasbi.
Keduanya terlibat perkelahian sengit antar pria hingga nyaris tumbang bila tak dilerai oleh Rey. Rey merekam semuanya dengan jelas, motif Hasbi dan perkara cinta tak bersambut ini ternyata punya kerumitan sendiri akibat sisa masa lalu yang saling terkait.
Amir dipapah Rey menuju mobilnya. Ia melakukan panggilan pada teamnya agar menyiapkan jalur aman bagi mereka menuju rumah sakit juga untuk mengurus mobil Mahen yang ditinggalkan di sana. Tak lupa Rey juga meminta teamnya untuk menolong Hasbi.
" Ckck, ku kira anda telah ikhlas menerima kekalahan dulu. Aku masih diam, untuk rahasiamu yang satu itu. Bila Tuan Mahen tahu, habislah kamu ditangannya, Raden Hasbi. " bisik Rey saat akan meninggalkannya.
" Fu**ckk, coba saja. " ucapnya arogan.
" Tunggu saja nanti, akan jadi apa tubuhmu itu ditangan Tuanku. "
Rey mengabarkan pada Mahen bahwa Amir telah mendapatkan penanganan di IGD dan harus di rawat inap untuk observasi kemungkinan terjadi luka dalam. Tak lama team Rey pun datang dengan membawa Hasbi di ruangan yang sama. Sedangkan Amir baru saja dipindahkan ke ruang perawatan.
__ADS_1
***
Orchid Tower.
Naya histeris dipelukan suaminya saat memberitahu kabar kakaknya. Lain halnya dengan Aiswa, ia hanya diam menunduk dan menangis lirih ditenangkan oleh Mega yang duduk disampingnya.
" Ini salahku juga, salahku. Abang, bawa aku ke kakak, " Naya merajuk sambil terisak.
" Boleh Aish ikut ka? Mas? "
" Boleh sayang, maafkan aku yaa, " peluk Naya pada Aiswa yang mulai menangis kembali.
Mahen mendapatkan laporan dari Rey bahwa jalurnya telah aman, maka mereka pun berangkat menuju rumah sakit.
Duapuluh menit kemudian, ruang VVIP RS Sumber Sehat.
" Kaaaaaaa, " teriak Naya dan Aish bersama. Naya menghambur begitu saja memeluk kakaknya yang masih kesakitan.
Mahen memilih mendengarkan laporan Rey di sofa tamu ruangan itu sementara para wanita masih di ruangan yang tersekat dengan ka Amir di dalamnya.
Masih serius membahas langkah selanjutnya, tetiba ponselnya berbunyi.
" Wa'alaikumussalam, baik Ka ... akan aku bicarakan esok ke Tazkiya. "
Dokter visit datang memeriksa ulang kondisi Amir atas permintaan Mahen. Ia perlu memastikan keadaan kakaknya harus tetap aman dan terjaga hingga meminta seorang perawat pria standby dalam ruangan itu.
" Abang, boleh aku ke ruangan Hasbi? please, Mega ikut menemani ... boleh yaa? " bujuk Naya pada Mahen yang bergeming.
" Dengan Rey, boleh yaa sebentar saja, agar hatiku tenang. "
" Pergilah, jangan lama-lama ... Baby, aku cemburu. " tatapnya tajam.
" Masih saja meski genting begini. Aku akan bayar lunas cemburumu itu. "
" Janji yaa, give me a kiss, " pintanya dengan smirk menyebalkan.
" Ya ampun Bos... " bola mata Rey memutar jengah.
Naya melangkah keluar ruangannya ditemani Mega dan Rey menuju kamar Hasbi.
Tok. tok.
" Na-ya ... sayy-- "
" Jaga ucapan anda! Nona telah bersuami! " sergah Mega.
" A, kenapa begini? aku sudah bilang ikhlaskan aku. A hasbi tahu apa alasan ka Amir tak membantumu kala itu? " tunduk Naya.
" Apa? "
Naya melihatnya sekilas dan menarik nafas panjang.
" Itu karena....... "
.
__ADS_1
.
..._______________________________...