DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 30. WILONA


__ADS_3

Pagi ini hari terakhir Amir libur karena esok dirinya harus mulai masuk kerja kembali, mengajar ilmu ekonomi di MA Al Islah.


Saat sarapan.


" Bah, ikut aku mau ga? jemput Gamal mau beli hantaran buat keluarga gadis yang akan kenalan dengannya. Amir ga begitu paham. " Tanyanya pada sang Ayah yang duduk bersebelahan di meja makan.


" Boleh ... Abah ga kemana-mana hari ini, besok pulang ke Cirebon. Gamal mau nikah? kamu kapan? Abah punya calon buat kamu kalau mau. "


" Susah Bah, bandel kayak Naya jadinya. " Tukas Abyan.


" Kak, hati itu ga bisa dipaksa. Kamu juga gitu kan sama Qonita, dikasih pilihan lain ga mau. " Sambung Abah menahan senyum.


" Uhuk ... uhuk.... " Suara Qonita.


" Tidak dalam waktu dekat, aku udah bilang sama Abah semalam kan? " Amir memelas.


" Iya, Abah cuma nawarin. Kapan ke Gamal? "


" Jam sepuluh janjinya. "


Sembari menunggu waktu pergi, Abah menuju kediaman besannya sekalian pamit karena beliau kabarnya akan pergi Safari majlis dengan anak sulungnya Abyan hingga lusa baru akan kembali.


" Jazakallah kheir yaa Akhi, sudah menasehati Amir selama di sini. Ana besok pulang, jadi sekalian pamit sekarang. "


" Wa jazakallah kheir, ana hanya titip pesan. Bukan melarang Amir mendekati Almahyra, tapi masih banyak yang sekufu dengan antum. Bukan pula sebab nasab gadis itu yang kurang baik namun perangai kedua orang tuanya jauh dari kata elok. Itulah mengapa Rois membawa Alma ke Al Islah. Demi menyelamatkan gadis itu. " (sekufu \= setara baik dalam nasab ataupun lainnya)


" Separah itukah? " Abah penasaran.


" Mitos itu ana tak begitu yakin namun yang terjadi memang di luar nalar sebagai manusia meski semuanya datang atas kehendak Allah, Akhi. "


" Ya Allah, kasihan sekali dia. "


" Qodarullah wa masyaa'a fa'ala. Allah telah mentakdirkannya dan apa yang Dia kehendaki, Dia perbuat. "


" Ma qodarullah khayr, Aamiin. "


Abah akhirnya pamit setelah Amir menyusulnya ke kediaman mertua kakaknya itu. Meski tidak mendapatkan kabar apapun tentang mitos Almahyra namun Abah tetap berdoa untuk kebaikan gadis itu dan agar Amir teguh hati tak mendekatinya.


Maklum saja bila Abah khawatir, karena sebuah ungkapan witing tresno jalaran soko kulino itu nyatanya masih sangat mempan bin mujarab bila kedua insan yang bukan mahram terlibat terus menerus dalam satu lingkungan. (Cinta hadir karena terbiasa bertemu/bersama)


Mobil Brio merah kembali keluar pelataran Al Multazam menuju rumah Gamal.


Sesampainya disana. Amir yang kemarin mendapatkan perlakuan tak wajar dari sang Mama, kali ini berdiri agak jauh dari pintu dan bersembunyi di balik punggung lebar Abahnya setelah mengucap salam.


" Wa'alaikumussalaam. " Jawab sebuah suara dari dalam rumah.

__ADS_1


" Ka-mu? " Tatapnya menelisik saat melihat Abah.


Abah yang merasa terpanggil, mendongakkan kepalanya pelan.


" Wilona? Ka-mu. "


Amir terkejut, mengapa Abahnya seakan mengenal dekat Mama sahabatnya ini padahal selama mereka berteman kurang lebih 3 tahun lamanya sebelum mereka pindah, sang Ayah tak pernah tahu siapa Ibunda Gamal. Bahkan dengan sang Babanya pun, Abahnya ini tak pernah secara kebetulan bertemu meski beberapa kali Babanya menjemput Gamal di rumah mereka.


" Abah? " Amir menarik pelan lengan kemeja panjang sang Ayah berharap beliau menjelaskan yang tengah terjadi.


" Lho Mama udah bangun, ko tamu ga di persilahkan masuk? " Tanya Gamal terheran saat melihat Mamanya masih diam mematung di tempatnya.


" Ah ya, silakan masuk. Duduk dulu, aku pamit kedalam. Biar Gamal yang siapkan jamuannya. " Pintanya pada Gamal sembari memalingkan wajah.


Amir melihat tatapan Abah mengikuti kepergian wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dengan hijab panjangnya itu. Terbersit rasa ingin tahu menyergap batinnya, namun urung Amir tanyakan saat ini.


" Bah, Mama Gamal masih iddah lho, ga baik. Terpaksa buka pintu karena mereka hanya tinggal berdua saja. Kamar Gamal diatas, kadang ga dengar makanya Mama yang suka buka pintu. " Amir berbisik pelan ditelinga Abah.


" Innalillahi, astaghfirullah. Kamu ngajak kesini, udah tahu begitu, harusnya kita di mobil saja Mas, jangan turun. " Bisik Abah kesal saat Gamal kembali masuk kedalam.


" Gamal bilang Mamanya tidur di atas dan ada ART wanita yang mulai bekerja hari ini. Aku mana tahu siapa yang bukakan pintu. Lagipula aku harus turun Bah, lihat tuh bawaan dia segitu banyaknya. Baju ganti, padahal cuma ketemuan udah kayak mau nikahan. " Amir juga menyayangkan Gamal tak membagi info terbaru untuknya.


" Wes kadung terlanjur, kita keluar kalau begitu, ayo. " Tarik lengan Amir agar beranjak bangkit.


Ketiganya kemudian menuju sebuah Mall dan memasuki salah satu toko perhiasan disana.


" Kalau jadi, aku udah siap. " Tutur Gamal.


" Niatkan jadi Nak, biar lancar dan Allah ridho. Dengan siapa besok bertemu? " Tanya Abah.


" Sendiri Bah, " jawabnya.


" Ditemani, berdua dengan Amir atau minta dia di dampingi. "


" Nanti aku coba minta dia ditemani, siapa tahu temannya jadi jodoh Amir, ya Bah. " Senyum nya jahil dengan mengerlingkan mata.


" Kamu cacingan, Mal? " Cebik Amir kesal.


Abah mengabaikan keakraban kedua lelaki di depannya. Dirinya memikirkan tentang wanita itu, bukankah ia di abaikan dari keluarganya sebab....


Gamal, apakah dia anakmu?


***


Keesokan hari.

__ADS_1


Amir bersiap mengajar ke Al Islah, setelah mengantar sang Ayah menuju stasiun untuk kembali pulang.


" Fii amanillah. Jaga diri Abah selama aku ga ada di rumah, maaf belum bisa handle bisnis kita lagi, aku sayang Abah. " Peluknya erat saat Abahnya menungu kereta yang hendak transit.


" Kamu kayak abege, ga malu apa dilihatin orang banyak, peluk-peluk? " Menatap lembut pada putra keduanya, paras dan wataknya persis mendiang istrinya dalam versi pria, lembut dan kalem. Setiap melihat Amir, Abahnya selalu menemukan keteduhan apalagi kala anak itu muraja'ah, tiada obat selain suara merdu darinya atas segala kerinduan pada almarhumah.


" Biarin, emang aku sayang Abah. "


" Sehat selalu ya Mas, lekas kembali jadi anak sholehnya Ummi dan Abah. " Usapnya di kepala sang anak.


Amir hanya mengangguk seraya tetap memeluk Abahnya dari samping. Sejurus kemudian, kereta sang Ayah telah siap dan ia membantunya menaiki gerbong untuk memastikan Abahnya duduk dengan nyaman.


Kereta Argo Bromo itu pun melaju perlahan meninggalkan Stasiun bersamaan langkah Amir keluar peron untuk melanjutkan perjalanan ke Al Islah.


Empat puluh menit kemudian.


" Ka. "


" Kamu ga kuliah? atau sudah ngajar lagi? " Tanya Amir sembari mengunci mobilnya kemudian melangkah meninggalkan dia.


" Dipanggil paman. Tapi ga tahu untuk apa. "


" Sekarang? " Amir menghentikan langkahnya. Lalu memutar arah menuju kediaman Kyai Hasyim Rois.


" Assalamu'alaikum. " Salamnya ketika sampai di teras rumah.


" Wa'alaikumussalam, masuk Mir. Duduk dulu. " Sambut suara berat dari dalam.


" Afwan 'amm, ada perlu dengan aku? "


" Ini, cuma mau ngasih foto, ada yang ingin kenal dengan kamu. "


Amir hanya diam, hatinya mengatakan jangan sehingga tangannya tetap bergeming tak berniat mengambil foto yang di sodorkan diatas meja, padanya.


" 'amm, ko ... Ka? " Wajahnya bingung sekaligus kecewa.


.


.


...________________________________...


😌😌😌


clue bertebaran.

__ADS_1


__ADS_2