DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 99. BISNIS IS BISNIS


__ADS_3

London.


Ulfa mengirimkan pesan pada Dewiq mengenai draft kontrak kerjasama dengan pemasok bahan obat-obatan sesuai formulanya telah selesai digarap. Perjanjian penting itu menunggu persetujuan dari sang putri mahkota Hermana agar di pertemuan mereka selanjutnya dapat dicapai satu kesepakatan.


Saat ini baik Dewiq maupun Aiswa tengah disibukkan oleh jadwal kegiatan pembelajaran yang padat sesuai program studi yang mereka ambil sehingga komunikasi dengan salah satunya sedikit tertunda.


Ting. Notifikasi pesan masuk ke ponsel Dewiq.


"Ulf, email nya belum aku buka, sampaikan poin penting saja dulu apa yang harus aku jawab."


"Poin penting MoU-nya adalah kesepakatan mengenai prosentase keuntungan dan benefit lainnya seperti kerjasama jangka panjang untuk pasokan bahan lain, Nona."


"Sampai kapan deadlinenya?"


"Esok lusa Nona, aku harap anda meluangkan waktu sejenak untuk membacanya," imbuhnya.


"Ok Ulf, aku akan membuka email setelah praktikum bedah nanti."


"Baik, Nona."


Dewiq melihat kembali layar gawainya, tepatnya melihat angka yang terselip di ujung kiri atas, mengira-ngira waktu yang dia punya sebelum dirinya harus kembali berkutat dengan praktek yang menguras mood dan tenaga sebab harus berkonsentrasi tinggi.


Masih ada waktu sepuluh menit lagi.


Jemarinya mengetik sebuah pesan pada sang ayah tentang formula hasil penelitian yang dia lakukan serta riset terhadap Aiswa dan Mama saat diberikan obat miliknya apakah akan dilanjutkan untuk proses kepemilikan hak paten ataukah sebaliknya.


Mengikuti trend brand penguasa makanan cepat saji yang ternyata tak mematenkan ciptaannya namun membagi racikan resepnya untuk diproduksi oleh beberapa perusahaan rekanan dengan perjanjian kesepakatan serupa, yang mereka sebut 'Top Secret'.


Sementara di Tanah air.


Hermana Arya baru saja keluar dari ruang meeting sore itu kala ponselnya menerima notif pesan dari anak sulungnya yang cerdas.


Sambil lalu diikuti oleh beberapa asisten pribadinya, dia membuka pesan tersebut.


Keningnya berkerut tanda ia mulai harus memikirkan langkah terbaik, dirinya harus berhati mengambil keputusan karena sedikit banyak ini akan berdampak pada kelangsungan bisnis serta kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan medis dalam beberapa dekade kedepan. Sedangkan untuk jangka pendek akan berpengaruh terhadap survei kepuasan keluarga pasien.


Bila ini berhasil maka peluang pasar baru telah dia ciptakan dan Dewiq akan menjadi satu-satunya pemasok obat yang sangat dibutuhkan untuk kondisi kritis tertentu.

__ADS_1


Lagi-lagi ini adalah masalah uang serta kekuasaan.


Hermana Arya tiba dikantornya, dia membuka handle pintu perlahan, melangkah masuk dan duduk dibalik meja kebesarannya.


"Kak, kapan selesai jam kuliah? Kita harus bicara serius, Papa tunggu ya," balas pesannya pada sang putri.


Satu, dua menit tak jua muncul notif pesan masuk baru, dia mengalihkan pandang pada figura yang masih tegak berdiri diatas mejanya.


Sebuah foto keluarga lengkap kala Aeyza masih batita. Saat dia belum tergoda pada sang biduan yang nyatanya membuat luka menganga di hati istrinya hingga berujung pada perpisahan dan balas dendam dengan memisahkannya dengan putri kecil yang sangat dia cinta.


"Sayang waktu tak dapat diputar kembali," sesalnya mengusap gambar disana.


"Aey, mamamu mungkin telah memaafkan Papa ... dia kini menghabiskan sisa hidupnya dengan kakak dan Aiswa, seorang gadis yang mirip denganmu dan mengisi posisimu ... namun tidak menggeser semua tentangmu dari lubuk hati Papa ... maafkan kami ya Nak, meski tidak dapat diulang waktu yang telah terbuang namun kiranya kepergianmu sedikit banyak membuat kami berdamai dengan masa lalu ... tenang disana Sayang," Hermana Arya bermonolog melihat gambar potret keluarganya.


"Ternyata sendiri itu tidaklah menyenangkan bukan Theo," dia melempar pertanyaan pada asisten pribadinya yang duduk disofa mengerjakan sesuatu.


"Tidak menyenangkan namun tidak juga buruk Tuan, kesendirian kadang membuat kita sadar akan kesalahan atau sebaliknya." Jawabnya lugas.


"Aku lupa jika kau jomblo, tak akan paham bagaimana rasanya."


Teringat sang anak angkat, ia merasa perlu memberikan support pada Aiswa, berkat gadis itu dirinya kini lebih baik dalam menunaikan ibadahnya. Keluarganya menjadi sedikit religius dari sebelumnya.


"Aey, sibuk ya? jangan lupa makan ya Nak juga jaga kesehatan disana ... Papa ga mau dengar Aey sakit lagi, ok? Papa sayang kamu ... Aey ataupun Aiswa, kalian sama saja, anakku." Tulisnya.


Ting. Notif pesan masuk dari Dewiq.


"Baik Pa, thanks ya."


"Kita harus pandai kak, karena kita yang berkuasa jangan mau mengikuti arahan mereka yang akan membuat kita terjebak hanya pada satu produsen."


"Noted Pa ... Kapan papa akan kesini?"


"Nanti jika urusan Papa disini sudah selesai. Tentang dokumen Aiswa, kamu juga harus memikirkannya jangan sampai Hasbi memanfaatkan celah ini dikemudian hari."


"Ulfa sudah mengurusnya dan sedikit lagi selesai Pa, semoga dia tidak menyadari ini sebab disibukkan dengan kehamilan istrinya."


"Semuanya telah siap, pun jika dia akan menikah nanti ... Aku juga sudah berkonsultasi pada guru ahli terkait hal itu," sambungnya lagi.

__ADS_1


"Jangan sampai Aiswa tahu, jaga dia dengan baik, " pesan Hermana Arya pada sang anak sulung menutup percakapan singkat mereka sore itu.


Menjelang makan malam, waktu London.


Dewiq membuka pesan by email yang dikirimkan Ulfa. Membacanya dengan seksama lalu kembali mengirimkan pesan suara pada sang ayah di tanah air.


Keputusan Hermana Arya meminta Dewiq hanya menyetujui beberapa poin saja, salah satunya tentang kesepakatan dua bahan obat dari mereka. Sisanya biarlah mencari bahan lokal dengan kualitas baik agar kompetitor tidak dapat membuat racikan serupa. Juga tak lupa cross formula yang hanya diketahui oleh keduanya.


"Kamu terbaik ka, jaga kesehatan disana ... Segeralah lulus, papa membutuhkan bantuan mu."


"Doakan aku ya Pa, jadi Putri Hermana Arya itu tak mudah."


"But kamu mampu Arzu," godanya, dia tahu Dewiq tak suka dengan panggilan itu.


"Ck, Pa, aku tak suka dengan Arzu ... Aku tahu papa menginginkan Aku sebagai putra bukan putri."


"Kamu jauh mengungguli seorang putra, sayang ... Papa bangga padamu, selamat istirahat kak," pungkasnya mengakhiri chat.


*


Beberapa hari ini dirinya merasa sangat letih, tugas mulai kejar tayang bagai sinetron, pikirnya. Komunikasi dengan keluarga Hermana sedikit lambat dia respon.


Setelah membersihkan diri, dia merebahkan tubuh yang mulai berisi kembali di ranjang empuk miliknya.


Hatinya sedikit terhibur kala membuka deretan pesan diponselnya. Mulai dari Mama, Papa bahkan Dewiq serta Ulfa mengirimkan pesan meski isinya berbeda-beda.


Jemarinya lincah membalas perhatian keluarga keduanya, mengucapkan doa serta rasa terimakasih untuk perhatian dan sayang.


Umma, mungkin ini salah satu doa umma agar ditemukan dengan orang baik meski jauh dari rumah. Ya Robb, aku rindu Umma, izinkan aku melihatnya walau dalam mimpi.


Umma, aku berjuang disini agar ketika kembali, aku menjadi putrimu yang berguna. Panjangkanlah jodoh kami didunia ya Robb, aku ingin Umma melihatku, bangga memiliki putri sepertiku.


.


.


...______________________________...

__ADS_1


__ADS_2