DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 176. AJAKAN RAYYAN


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Pagi ini Dwiana lebih segar, Dewiq sudah melakukan panggilan video melalui ponsel Rayyan.


"Sudahlah, aku tak apa, Arzu yang kukenal tidak cengeng. Aku pulang petang nanti karena dokter Rayyan juga kembali esok hari," Dwi berkata pada Dewiq yang masih terisak.


"Aku sangat menyesal mengabaikan kondisimu Dwi, jika Rayyan tak punya hati mungkin kau amblas," sesal Dewiq di sela isakan.


"Take care ya Dwi, aku menitipkanmu pada Anastasya. Dia pindah ke samping unitmu bukan?"


"Yes, thanks ya Dewiq kakakku sayang. Salam untuk calonmu, kapan kalian menikah? semoga aku telah pulih."


"Masa ta'aruf nya masih dua bulan lagi Dwi. Semoga kau pun lekas menemukan bahagia, Dwiana sayangku ... aku lanjut kuliah lagi ya, jangan lupa selalu berkabar," ujar Dewiq mengakhiri panggilan.


Dwiana menyerahkan gawai yang dia pegang pada Rayyan.


"Dwi, mau ga kita coba lebih serius dari sekedar kawan?" tanya Rayyan ragu.


Dwiana hanya diam, melihat pada sosok tinggi disampingnya yang duduk diujung tempat tidur.


"Dwi, aku serius. Sedang tidak bercanda," ujar Rayyan mencoba meyakinkan Dwiana.


"Karena kasihan?"


"Bukan, karena ingin. Ingin mencari seorang istri dan teman untuk Mama di Bandung," Rayyan mengutarakan maksudnya.


"Anda salah orang Dokter, aku harus meneruskan bisnis Papa. Dan aku, bukan calon menantu idaman untuk keluarga Anda," lirih Dwiana menyampaikan kebenaran.


"Kata siapa? kan belum dijalani sama Rayyan, kenalan dulu tapi niatkan serius, maksud Rayyan begitu, Dwi," Mama datang membawa bermacam buah untuknya.


"Mama juga, butuh kenal lebih dekat dengan Dwi. Teman wanita Rayyan banyak, tapi yang membuat dia peduli hanya beberapa dan mereka telah menikah," terang Mama Rini.


"Aku," Dwiana ragu.


Alien, aku ga ngerti apa maksudmu, apakah aku hanya sebagai pelarian? ku akui, Mama sangat lembut bagai Umma dan aku mendambakan beliau menjadi ibuku juga.


"Apa yang kau inginkan dari priamu, Dwi?" Rayyan berusaha mengetahui sisi keberatan Dwiana.


"Entah, peduli mungkin? atau setia seperti keinginan kedua sahabatku, bisa juga romantis, aku ga tahu," Dwiana lirih menanggapi Rayyan.


"Ray, temui orang tuanya bila kamu serius dengan Dwi ... mintalah izin pada mereka," Mama berkata sambil mengupas pear, kesukaan Dwi.


"Mama tahu buah kesukaanku?"


"Dari Rayyan, kau hanya makan buah ini ketika disodorkan sarapan atau makan siang. Bahkan meminta pada suster khusus menyiapkan buah ini hanya untukmu," ungkap Mama Rini.


"Hm, benar. Thanks Ma," jawabnya malu.


"Pikirkan dan jalani jika ingin, agar aku bisa menemui keluarga mu," pinta Rayyan kembali.


"Akan sangat lama jika Anda ingin bertemu Papa. Jika tak percaya silakan call Mamaku lagi, dokter."


Rayyan mencoba melakukan panggilan ke nomer kemarin, nomer sang bunda Lilyana.


Tuut. Tuut.


Panggilan terjawab di dering ke empat, oleh sekretaris pribadi Nyonya Lilyana.


"Selamat pagi, aku Dokter Rayyan ingin bicara dengan Nyonya Anda perihal Dwiana," ujarnya.


"Sebentar Dokter," ujar sekretaris.


"Ya halo, dokter ada apa lagi dengannya?"


"Aku ingin melamar putri Anda, Nyonya."


"Jangan bercanda, anakku masih kecil. Masih sekolah, aku tak ingin fokusnya terbagi. Lagipula Anda meminta anakku melalui sambungan telepon?" Lilyana mendelik kesal.


"Dwiana memintaku, aku akan menemui Anda dalam waktu dekat," tegas Rayyan.

__ADS_1


"Dwiana? apa dia telah hamil? kurang ajar sekali dia," serunya murka.


"Tidak, dia hanya sakit parah beberapa hari lalu dan aku ingin menjaganya," Rayyan berkata jujur.


"Datanglah dua bulan kemudian dokter, jadwalnya minta pada sekertarisku. Selamat pagi," ujarnya kembali menyerahkan ponsel pada ajudannya.


"Kan?" Dwiana menanggapi sinis.


"Sabar, mungkin beliau sibuk Nak, biarkan Rayyan meneruskan dahulu," Mama Rini menenangkan Dwiana.


"Tidak ada yang berani mendekatiku kecuali kolega Papa yang rata-rata tua bangka. Aku tak dijual sebagai gundik mereka pun sudah beruntung. Bahkan sempat terbersit keinginan untuk tinggal jauh dari mereka dan memilih stay disini." Dwiana menerawang jauh, teringat insiden kala dia berpura mabuk dan sakau saat akan diseret Papanya menemui kolega yang sebaya dengan ibunya.


Kejadian yang membuatnya mengenal narkoba, mabuk dan semacamnya hingga bertemu Dewiq dan Aiswa.


"Tanggal nya sudah dapat Dwi, siapkan dirimu. Mungkin aku akan langsung melamarmu dua bulan lagi." Rayyan bangkit keluar kamar diikuti Mama.


"Ray, serius?"


"Iya Ma, aku kasihan padanya. Aku akan menjaganya." Rayyan kesal, keluarga macam apa itu, sangat acuh. Untung dwiana bisa menjaga diri dari pergaulan bebas. Bayangkan jika tidak, mau jadi apa anak gadis seperti dirinya.


"Lihatlah dia sebagai wanita Rayyan, bukan gadis kecil," Mama mengelus lengan putra satu-satunya.


"In sya Allah, doakan aku. Dwiana semoga menjadi teman Mama nanti," ujar Rayyan yakin meski dia juga masih harus mengenal Dwiana lebih dekat.


...***...


London.


Masih ada waktu lima belas menit sebelum dosen masuk. Dewiq menyempatkan menyapa pujaan hatinya.


Grup chat Satpam Halal.


"Assalamu'alaikum, Moms, Bear."


"Wa'alaikumussalam, Kak belum masuk?" tanya Mama.


"Sudah dikampus, Ulfa juga menungguku hingga selesai nanti. Dosennya belum ada," jelas Dewiq.


"Masih jam tiga pagi ya Bear? maaf ganggu waktu istirahat kamu."


"Iya, makasih sudah ingatkan aku Sha."


"Ingatkan tentang apa Bear?"


"Mengingatkan untuk memintamu di ujung malam, mungkin para malaikat yang mendukung kita, akan memutar tombol waktu lebih cepat." Tulisnya asal disela kantuknya.


"Mas, ngimpi ya kamu."


"Mungkin itu bukan aku yang nulis Ma."


"😅 Bear."


"Apa sih sayang, aku kangen kamu tau ga."


"Mas!"


"Bukan aku yang nulis Ma," balas Ahmad asal, dia sangat mengantuk karena baru tidur dua jam.


"Lalu siapa?"


"Malaikat yang mendukung kami."


"😂 Bear."


"Ngaco kamu Mas!"


"Kenapa Sha, ada masalah?" Ahmad mulai bangun, duduk di ranjangnya.


"Aku sudah telpon Dwiana dan dia lumayan membaik, mungkin akan pulang besok. Aku lega, thats it. So sorry ganggu kamu ya."

__ADS_1


"Alhamdulillah."


"Mandi sana Mas."


"Nanti nunggu Marsha."


"Mas!"


"Nunggu Marsha yang minta, Ma. Mama kenapa sih, udah macam Izrail aja, pencabut nyawa cinta ... ngomel mulu. Jangan main sama Umma coba Ma, gitu tuh jadinya."


"Bear, biar segeran gih mandi dulu sana sayang, sholat tahajud juga."


"Kak!"


"Siap grak, Ayang."


"Mas! bandel ya!"


"Jempolku khilaf Ma, bukan aku yang ingin menulis begitu ... inginku malah ini."


"Apa?" balas Mama.


Ahmad send voice note.


"Syukron my Sha, sudah bangunin aku. Meski ngantuk berat tapi kamu motivasi aku agar minta Allah menjaga mu disana, menjaga cinta dan sayangku hanya untukmu." Suara Ahmad masih serak karena lelah dan baru bangun tidur.


"Kak, kamu telpon Ahmad?"


"Engga ko Ma."


"Loh ko tadi Ahmad bilang kamu bangunin dia?"


"Tanya aja ... Bear?"


"Ish Mama, membuyarkan kehaluan aku ... alarm Ma, alarm sholat, puas? Mama puas?" Ahmad jengkel.


"😂😂😂😂😂😂😂" Mama puas tertawa.


"Sayang,"


"Mas, bandel!"


"Sayang Mama deh, ampun. Sha aku udah dulu ya, Mama lagi dirasuki khodamnya Umma, ga asik."


"Bear 😅."


"Sha, aku sudah minta ke Buya. Kamu bulan depan pulang kan? liburan?"


"Jika tak ada halangan, in sya Allah. Kenapa Bear?"


"Ga apa, aku sholat dulu. Doain Mama agar balik jadi Mama yang asik."


"Aku engga Bear?"


"Kamu itu prioritas, ga usah disebut, nanti kena tilang Mama, yang jelas aku makin sayang sama kamu."


"Mas!"


"Kan itu contoh doa Ma, gimana sih, baca lagi donk. Kalau aku ngomong jujur nanti kena tilang Mama."


"Mas, kamu eror aja begini, apalagi waras ... ngeles bisa aja."


"Bye Ma tapi aku ga Bye sama Marsha. Assalamu'alaikum."


"Bear, 😅. Istirahat yang cukup. Wa'alaikumussalam."


.


.

__ADS_1


...__________________________...


...Mommy ngantuk, ga mood nulis. 😓...


__ADS_2