DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 188. TIGA PRIA ABSURD


__ADS_3

Jakarta.


Kemarin setelah mengirim pesan di Grup chat Satpam Halal. Ahmad mendatangi Hermana Hospital untuk menemui Hermana Arya.


Percakapan hingga menjelang senja dengan calon mertuanya itu membuahkan hasil seperti yang dia inginkan.


Malam harinya Ahmad langsung mengutarakan niatnya pada kedua orang tua. Buya dan umma sempat terheran akan niatannya namun sejurus kemudian mereka mengiyakan.


Siang ini, dirinya ingin meminta bantuan adik ipar sekaligus karibnya, Amir. Inginnya menelpon namun ia tak ingin pembicaraan ini terdengar oleh para karyawan akan sesuatu hal yang masih di rahasiakan hingga akhirnya memutuskan untuk berkirim pesan.


"Assalamu'alaikum, Mir. Minggu depan balik ya, gue butuh support ini," pinta Ahmad.


"Wa'alaikumussalam. In sya Allah, lihat kondisi Aiswa ya Mad, gue bercocok tanam dan berhasil." Tulis Amir membalas pesan dirinya.


"Tiap hari bercocok tanam gimana gak berhasil, sampe tembok kamar gue aja ikutan geter," sindir Ahmad seraya mengirimkan stiker kartun bergoyang.


"Hahaha, bisa merasakan getaran namun tak dapat ikut bergoyang, apa enak?" balas Amir.


"Tau ah, gara-gara liat kamu, gue merana tersiksa dan merasa hampa. Mir, temani yaa please," pinta Ahmad memohon.


"Nanti konsul lagi deh ke dokter, bisa pergi atau gak nya, cuma aku belum bisa pastikan. Emang rencana kamu gimana sih?" Amir mengalah.


Ahmad menceritakan garis besar rencananya yang membutuhkan bantuan beberapa orang nanti.


"Aku minta Mas Panji aja karena kejauhan jika minta sama Pak Kusno."


"Atur deh ... Mir, hmmm," tanya Ahmad ragu.


"Apa, mau nanya yang aneh-aneh nih pasti," sergah Amir.


"Haha iya ... MP gimana Mir, ngapain aja?" tanya Ahmad lagi.


Amir terbahak, mengirimkan banyak stiker tertawa.


"Yassalam Ahmad Hariri, kamu buka kitab noh, disuruh ngapain aja. Belagak oncom ish, adeknya aja pinter ko," Amir tak henti tertawa.


"Kalau nanya sama kamu pasti diketawain mulu ... kan gue nanya, Bambang. Kitab isinya teori Mir, Lu liat donk calon bini gue tampilannya begono. Alumni ikatan dugem indonesah, kebayang kan gimana ahlinya dia kalau takbiran," sungut Ahmad sebal.


"Takbiran?"


"Tabrak bibir pelan-pelan, yeee Lu oncom, gak tahu bahasa planet Cawang," Ahmad mengirimkan stiker terbahak.


Benar-benar kali ini Amir tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.


"Kan tinggal nempel, yaa gitu, masa sih gue rinci. Geli tau gak. Belom tentu Dewiq ahli, banyakin praktek aja sono ama sikat gigi kek apa," kekeh Amir.


"Lu gitu juga ya?" tuduh Ahmad.

__ADS_1


"Ya kagak dodol, enak aja. Langsung praktek lah, Lu belajar ama sepupu gue aja ya, si Gamal, beuh, ahli," Amir mulai usil.


"Malu lah, gak kenal," elak Ahmad.


Amir langsung membuat grup chat bertiga dengan memasukkan kontak Gamaliel.


"Mal, ada yang mau privat MP ama Lu, kakaknya Aiswa nih, Ahmad...." Amir ngetag Gamal.


"Eh Lu rumpi pindah di mari, di grup Kusuma ditinggalin," cecar Gamal.


"Ya abisnya gue kayak di kuliti," kesal Amir.


"Jadi gimana? enak mana?" tanya Gamal penasaran.


"Dua-duanya, puas Lo, puas?" Amir terbawa suasana.


"Haha, gue forward jawaban Lu nih," Gamal serasa telah menjebol benteng Takeshi. Tak henti mengekspresikan betapa dia girang.


"Serah Lu!" Amir dongkol.


"Eh iya, maafin terlalu semangat nguliti Amir ... salam kenal Kakak Aiswa, Bang Ahmad," sapa Gamal pada Ahmad.


"Seumuran kaleee, Ahmad aja, lagian dia mau jadi murid suhu me-sum kok," Amir kembali mengirimkan stiker.


Ahmad masih belum mau muncul, padahal dia setia menyimak chat. Hingga Amir membuka obrolan dengan Gamal berdua.


"Ronda!" Gamal ngegas.


"Astaghfirullah hari ini gue banyak tertawa yaa," ucap Amir lagi.


"Serius gue nanya ... caranya kis-s itu bagaimana ala master?"


"Eh Mir ... gue aja baru pertama kali gituan sama Alma, tapi untungnya bini gue polos kan yaa. Jadi gue gak keliatan amat gitu bodohnya," Gamal terbahak diikuti oleh Amir dan Ahmad yang berlomba mengirimkan stiker.


"Jadi nasib gue bagaimana?" Ahmad muncul.


"Ya udah sih Mad, tinggal praktek." Amir menimpali.


"Kan kalian mah enak, adek gue polos, istri Gamal juga ... lah gue, harga diri luntur ketika bini lebih pintar padahal gue tahu luar dalamnya meski teori," Ahmad kembali minder.


"Mas Ahmad, perempuan mah gimana lelaki, pasti ngikutin aja meski dia udah ahli. Paling dalam hati doank sih ngeluh," balas Gamal.


Amir hanya mengirimkan stiker tertawa, sama aja bohong ngundang Gamal. Malah jadi makin absurd obrolan mereka siang itu.


"Eh udah dulu ya, kalian lanjut dah berdua. Aku ada tamu," balas Amir mengakhiri chat.


Sebelum keluar kamar, dia sempat mengirimkan pesan suara pada Mahendra agar meluangkan waktu ba'da isya guna membahas tentang rencana Ahmad.

__ADS_1


Dua jam kemudian.


Setelah tamu Amir, pemilik Sheila Hijab selesai dengan urusannya dan pamit pulang. Dokter Rayyan menghampiri Amir yang masih diteras depan.


"Mas, aku balik pakai kereta malam ini ya, kita ketemu dua minggu lagi di Jakarta. Temani aku ke kantor Ayah Dwiana ... jika memang di setujui, malamnya aku ingin langsung melamar Dwi jadi sepertinya membutuhkan Kyai Hariri Salim sebagai perwakilan sepuh serta alim dari pihakku," Rayyan menjelaskan kembali maksudnya.


"Boleh Mas, in sya Allah. Doakan kandungan Aeyza sehat yaa jadi aku leluasa membawanya serta. Aku gak akan pergi jika dia tidak bisa menemani," jawab Amir.


"Duh segitunya, kali ini porselen yaa kata Bang Alex," Rayyan tersenyum mengingat aturan yang disampaikan Alex.


"Mereka yang bilang Aeyza gitu," kilah Amir.


"Makasih banyak atas jamuannya, bantuannya. Gak tahu deh kalau batal kesini. Aku belum menemukan pencerahan mungkin dan masih meragu. Benar kata Aeyza, aku harus yakin dahulu agar terlihat olehnya. Ah, bersyukur banget ketemu dengan orang baik," ujar Rayyan.


"Bii, ayo nyekar." Aiswa sudah siap.


"Mau pergi ya?"


"Nyekar Dokter, aku kan belum kemana-mana sejak pindah kesini ... Mama mana?" ucap Aiswa.


"Istirahat, tadi habis dari butik dengan Joanna ... itu Mas, masa ga boleh bayar sih? Mama kan tadi milih beberapa gamis dan hijabnya sekalian. Kata Mama gift, CC nya ditolak kasir," ucap Rayyan tak enak hati, ibunya diberi banyak setelan gamis oleh Amir.


"Diterima, oleh-oleh udah mampir ke kediaman kami, Dokter. Aku dan Aeyza gak bisa menjamu dengan benar selama kalian di sini," ungkap Amir agar pemberiannya diterima.


"Aku yang makasih banyak Mas, Aey ... jaga kesehatan ya, semoga baby dan mommy nya sehat selalu. Aku pamit mau packing dulu Mas," pamit Rayyan.


"Dinner di dalam ya Dokter, ajak Mama juga," balas Aiswa sebelum Rayyan beranjak dari hadapan mereka.


Satu jam kemudian, TPU.


"Assalamu'alaikum ya ahlal kubur, Jameela arthadarma, Aruni Fauqiyya dan putraku Naufal. Dara qaumin mu’miniin wa atakum ma tu‘adun ghadan mu’ajjalun, wa inna insyaAllahu bikum lahiqun," ucap Aiswa dalam hati.


"Assalamu 'alaikum ahlad-diyaar minal mu'miniina wal muslimin. Yarhamulloohul mustaqdiminia minna wal musta'khiriin. Wa inna insya Allohu bikum la-laahiquun wa as alullooha lana walakumul 'affiyah."


Keduanya lalu melanjutkan dengan dzikir dan doa, sesuai tuntunan Rosulullah dalam hadis Ahmad wa Muslim.


.


.


...___________________________...


...Dua cara ucapan salam ketika memasuki pemakaman, keduanya bisa dipakai sesuai kepahaman masing-masing ya....


...Yang paling bawah, adalah jawaban Rasulullah kala Sayyidah 'Aisyah bertanya doa dan salam saat ziarah kubur....


...Riwayat Al-Baihaqi dari Muhammad bin wasi' menyebutkan bahwa orang-orang yang telah meninggal mengetahui orang yang menziarahinya pada hari Jumat, serta satu hari sebelum dan sesudahnya. (Syuabul iman)...

__ADS_1


...❤❤❤...


__ADS_2