DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 41. KEPEDULIAN ABAH


__ADS_3

Keesokan paginya. Kediaman Abah.


Setelah Mahen mengirimkan bagan yang dia buat serta semua keterangan yang diminta olehnya, Abah melakukan panggilan pada menantu kesayangannya itu.


" Ya Bah, gimana? benar informasinya? "


" Mas, benar semua. Wilona menikah diam-diam entah dengan siapa saat usianya masih belia lalu ia pergi meninggalkan Solo dan tak diketahui rimbanya. Hingga Amir mengajak Abah menemui Gamal di kediamannya bulan lalu, disanalah Abah bertemu Wilona kembali. "


" Lalu, berarti kami semua bersaudara ya Bah? "


" Betul Mas, Abah mengetahui Gamal akan menikah dengan keponakan pemilik Al Islah sayangnya gadis itu punya sebuah mitos kutukan. Abah telah mencari tahu, namun nampaknya sulit dipatahkan. Kini setelah mendapat kejelasan dari Mas, Abah mencemaskan Gamaliel. "


" Solusinya bagaimana Bah, kita ga mungkin membatalkan bukan? mereka kabarnya hanya menunggu sisa waktu satu pekan lagi. "


" Abah akan kesana, menemui Wilona, mustahil dia tak mengetahui tentang mitos itu ... apa mungkin dia sengaja mengorbankan Gamal? "


" Kutukan apa sih Bah? "


" Almahyra harus menanggung sumpah atas kesalahan orang tuanya. Dia tidak akan dapat menikah sebelum ketiga calon suaminya meninggal atau jika dia berhasil menikah, dia tidak akan memiliki anak sebelum ketiga anaknya meninggal juga ... dan Gamaliel, calon Alma yang ketiga. "


" Innalillahi, sumpah macam apa itu? tega sekali ... jadi rencana Abah? "


" Akan menemui Wilona, keluarga Almahyra dan si pembuat sumpah. Akan Abah upayakan, Gamaliel keturunan Kusuma, dia berhak atas segala hak ekslusif yang di miliki orang tua nya. "


" Bah, Gamaliel dan ka Amir harus diberitahu ... jangan sampai mereka berselisih paham. Ka Amir bilang padaku akan ke Solo sekaligus menghindari Gamal sebab Almahyra masih berusaha menghubungi ka Amir. "


" Begitu ya Mas, memang mereka sebaiknya tahu satu sama lain, agar saling menguatkan. Gamaliel hidup tanpa tahu saudara dan asal usulnya karena Abah duga, Wilona menyembunyikan statusnya selama ini. "


" Para tetua bagaimana? " tanya Mahen lagi.


" Akan Abah sampaikan juga, namun Abah yakin bila buyutmu sudah mengetahui ini lebih dulu, hanya saja ini memang bukan ranahnya. Mas tau kan, buyut itu orang seperti apa. Hanya Abah, harapan Gamal. "


" Ditemani Alex, Bah ... aku belum bisa ambil cuti lagi setelah kemarin jemput Naya. "


" Do'akan Mas, semua keluarga kita selamat. Aamiin ... syukron ya Mas, assalamu'alaikum. "


Abah menutup panggilan menantunya lalu beralih melanjutkan dengan panggilan lainnya ke Gamaliel.


Menjelaskan gamblang panjang lebar, nyatanya reaksi anak itu santai menanggapi sebuah kenyataan yang baru saja didengarnya.


" Aku bahagia Bah, Amir saudaraku meski berbeda jalur. Aku bahagia menemukan keluargaku, " suaranya berubah parau menahan isak.

__ADS_1


" Nak, besok Abah ke sana yaa, kita sama-sama menemui keluarga Almahyra dan keluarga musuh bebuyutannya ... kamu sudah tahu kan mitosnya? "


" Sudah Bah, dan aku terharu, Abah yang memperhatikan aku ... aku takut tapi tidak ada yang merasakan ketakutanku, aku tidak takut mati, hanya saja aku butuh seseorang untuk menguatkan, " tangis Gamal terdengar.


" In sya Allah, semua baik ... banyak berdoa yaa Nak, hanya pada Allah kita memohon pertolongan. "


" A-bah, terimakasih banyak ... aku tidak dekat dengan Baba, aku iri melihat kedekatan Amir dengan Abah ... aku bolehkan, menganggap Abah bagai Ayahku juga? " masih dengan suara sengau sisa menangis.


" Boleh Nak, boleh. Jaga diri disana yaa Gamal, sampaikan pada Mama mu, tidak baik menyembunyikan hal yang seharusnya menjadi hak anak untuk mengetahui darimana nasabnya. Sampai jumpa esok, assalamu'alaikum. "


Gamal kembali terisak didalam kamarnya setelah layar benda pipih itu meredup. Ia bahagia, sangat. Ternyata dirinya tidak sebatang kara, seperti yang selalu Mama nya ceritakan.


" Berkat aku mencarimu, Mir. Aku menemukan kembali keluargaku yang lama disembunyikan oleh Mama. "


" Berkat aku bertemu Almahyra, aku mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Abahmu. " Gamal menyeka sisa air mata nya, teringat pesan Amir jika hati tengah gundah, hanya pada Allah lah sebaik-baiknya tempat mengadu hingga sukma kembali tenang.


***


Multazam.


Esok lusa nanti, Amir akan pergi ke Solo. Abahnya mengabari akan datang esok menyusulnya ke Semarang, ada hal yang akan dibicarakan padanya.


Hari ini dia berniat pamit ke Al Islah menemui sang paman Yai nya untuk mengucapkan terimakasih atas diberikannya kesempatan berbagi ilmu.


" 'amm, aku sudah menyerahkan semua modul pembelajaran untuk santri ke asatidz di kantor. Terimakasih banyak ya 'amm sudah mengizinkan aku disini, maafkan tidak maksimal menjalankan amanah. "


" Sama-sama Mir, hati-hati disana yaa. Semoga lain kali kamu bisa tinggal di sini lebih lama. "


" Aku pamit ya 'amm, " Amir meraih tangan Paman Yai nya dan menciumnya.


Obrolan dengan sang Paman Yai nya ternyata tak luput dari pendengaran Alma dari bilik kamarnya.


Saat Alma hendak menyusul Amir yang telah keluar dari teras rumah, langkahnya di jegal sang Paman.


" Mau kemana? ga baik, Amir itu pemuda santun, jangan kamu rusak Alma. Satu pekan lagi, baiknya jawabanmu sudah siap. "


" Ana takut melanjutkan 'amm, Gamaliel tidak bersalah. "


" Lalu Amir? untuk apa masih mengejarnya? dia juga tidak bersalah. "


" Ana.... "

__ADS_1


" Kamu suka dengan Gamaliel, Alma? jujur, " tegas sang paman.


" I-iya, Mas Gamal baik dan sopan padaku, " tunduknya.


" Lalu, kamu tega menyakitinya sedangkan ia sangat berharap padamu? lupakan Amir, dia tidak setara denganmu. "


" Tapi 'amm, "


" Tidak ada tapi, yakinkan hatimu bahwa Gamal pilihan tepat. Biarkan takdir Allah yang menjaga kalian ... jangan terbawa mitos, kamu punya Allah, Alma, " Tatapan tajam Yai Rois.


" Mana ponselmu? "


" Buat apa? " tanya Alma heran.


" Kemarikan saja. "


" Ini, 'amm. "


Yai Rois lalu memeriksa ponsel Alma, menghapus nomer Amir beserta email dan segala hal yang berhubungan dengan pria itu.


Alma yang melihat gelagat pamannya, bersiap merebut ponselnya lagi namun tangannya di tahan oleh sang Bibi yang entah datang darimana, menjegal nya.


" ’amm jangan semuanya, tolong izinkan ana, " isaknya.


" Kamu bebal Alma, macam ayahmu. " Hardik Bibinya.


" Biarkan seperti ini. Jangan mencari tahu Amir lagi. Jodohnya bukan kamu. "


Setelah semua nya bersih tak tersisa jejak digital pemuda itu, Yai Rois meninggalkan Alma yang terisak di ruang keluarga.


" Ka, beginikah ujung kedekatan kita? masih bisakah aku melihatmu lagi meski dari jauh? hatiku berat namun lelah berharap padamu ... apakah aku harus menerima kehadirannya untuk menghapusmu? "


Ingatan Alma kembali ke masa mereka dipertemukan pertama kalinya, menguar begitu saja membayangi dirinya yang tengah dirundung malang, seakan kepingan ingatan itu memaksa keluar dari memori kecil dalam otaknya.


.


.


...____________________________...


......" Lan tarji'a al ayyamu allatii madhot.”......

__ADS_1


...Tidak akan pernah kembali waktu yang telah lalu....


__ADS_2