
Amir belum membalas pesan terakhir yang masuk ke ponselnya, saat ia memutuskan untuk bangkit dari duduk bersimpuh dan kembali naik ke atas dermaga di mana Mahen tengah menunggunya.
Sesaat dari kejauhan ia berhenti, ketika melihat adik iparnya tengah melepaskan kepulan asap ditengah dinginnya malam.
Adik iparnya itu seperti tengah merasakan hal yang sama dengannya.
" Aku pernah melepaskan hal yang sama di sini. Kemarahan pada Allah atas apa yang aku alami. Tapi setelahnya, aku kini merenungi kak ... jika aku tak merasakan berkali kesakitan maka Naya tidak akan pernah ada untukku. "
Mahen tahu bila kakak iparnya itu pasti berpikir mengapa ia menemaninya, membagi hal ini dengannya.
Perlahan Amir kembali berjalan mendekat.
" Aku baru tahu rasanya patah hati, tapi ini juga bagian dari nikmat rezeki ... sudah dini hari Mas, pulang yuk. " Ajaknya meski ia enggan beranjak dari sini.
" Ka, yakinlah Allah tengah menyiapkan sesuatu yang indah setelah ini ... jangan terpuruk terlalu lama. Aku tahu ka Amir lebih tegar dari aku. "
" In sya Allah ... syukron Mas, sudah menemani. " Senyumnya dipaksakan.
Mahen membuka kancing kemejanya, mencuci mukanya dengan air mineral yang ia ambil dari sisi pintu kanan kemudian menuju ke belakang mobil membuka bagasi.
" Naya suka ngambek kalau aku ngerokok. Jadi aku selalu ganti baju sebelum pulang. " Jelasnya sambil tersenyum.
Perjalanan pulang menuju Orchid mereka habiskan dalam diam. Amir sedang menata kepingan hatinya kembali. Toyota Camry itu melesat cepat membelah jalanan yang lengang hingga tanpa terasa tiga puluh menit berlalu begitu saja.
Lampu ruang tamu telah redup ketika mereka masuk ke dalam apartemen. Pastilah penghuninya telah lelap dalam alam mimpi.
Mahen perlahan membuka pintu kamarnya, nampak sosok mungil yang dia rindukan seharian ini meringkuk dibawah hangatnya selimut.
Setelah ia membersihkan diri, mahen menaiki ranjang, menyelipkan lengan kekarnya dibawah tengkuk Naya lalu menariknya masuk dalam pelukan.
Ia teringat perjuangan cintanya yang rumit maka sepatutnya ia banyak bersyukur Allah mengabulkan pintanya.
" Sayang, terimakasih telah bersedia hidup denganku. " Menghujani kepala dan wajah istrinya dengan kecupan basah, menghirup dalam aroma tubuh Naya yang mampu membuat rileks untuk menyusulnya ke alam mimpi.
Ya Rabbku, terimakasih banyak. Kisah ka Amir makin menambah rasa syukurku padaMu.
__ADS_1
Sementara di ruangan lainnya.
Amir membaca pesan beruntun dari Almahyra. Yang menanyakan kapan ia kembali mengajar di Al Islah sesuai kesepakatan hingga sebuah permintaan pertolongan.
*
Mahen memilih tidak berangkat kantor hari ini. Ia akan menemani kakak iparnya seharian.
" Ka belum tidur yaa? " tegurnya saat sarapan.
" Iya Mas, habis duha aku tidur dulu kali yaa, ngantuk banget. Sore nanti rencana aku pulang ke Semarang. "
" Besok pagi saja ka, aku siapkan dulu. Hari ini istirahat saja, aku ga ngantor ko. Naya juga sibuk dengan tugas kuliah biasanya dia merengek minta aku membantunya. "
" Ckck anak itu kenapa jadi manja?... Mas, akadnya sudah ya? "
" Aku no comment ka. " Mahen memilih tak membahasnya lagi. Dia akan berusaha mengalihkan perhatian Amir hari ini.
Amir tersenyum getir. " Iya ya, ga penting juga sih. "
Setengah hari ini kedua pria itu banyak menghabiskan waktu berdua, makan, hingga pergi main golf di komplek Orchid sport center. Mahen sengaja membuat fisik Amir lelah, sebagai pelepasan emosi yang tak bisa di salurkan dengan bebas oleh kakak iparnya itu.
Pagi ini.
Setelah sarapan, Amir akan pulang ke Semarang. Ia telah memberi kabar pada Abyan agar menjemputnya ba'da dzuhur nanti.
Naya memeluk erat kakak kesayangannya, ada rasa sakit yang masih tersisa menyelinap ke dalam hatinya.
" Nduk, jangan terlalu barbar, bentar lagi jadi ibu lho... lakukan tugasmu dengan baik sebagai istri yaa. " Nasehatnya lagi.
" Aku belum jadi Ibu ko, kata Abang masih boleh lompat-lompat. Aku juga ga boleh ngapa-ngapain kecuali anu. " Jawabnya lugu.
" Kamu ini ... baru juga di bilangin, malah di perjelas. " Amir menyentil dahinya pelan sembari menahan senyum sementara Naya hanya meringis mengusap dahinya.
" Ya ampun sayang, segala diomong coba duh. " Mahen menahan malu seraya mengusap tengkuknya.
__ADS_1
Amir bahagia dan lega, adiknya tak perlu berpura menjadi gadis tegar dan tangguh lagi sejak Mahen menjadi pelindungnya.
Keduanya keluar dari Orchid jam delapan pagi langsung menuju Bandara. Mahen setia menemani sang ipar hingga ia boarding. Tugasku telah selesai. Batin Mahen.
Aiswa, selamat tinggal sayang. Cinta pertamaku. Semoga kelak kita berjodoh di waktu yang Allah tetapkan untuk kita.
***
Semarang, ba'da dzuhur.
Suara cadel keponakannya yang berlari ke arah Amir saat ia tengah menunggu di lounge Bandara sanggup menerbitkan sebaris senyum pria yang tengah nelangsa itu.
" Om ... Fatima kiss. " Pintanya lucu dengan pipi yang menggembung.
" Kangen sama Unyil eh unyu ... Ka, Mba langsung pulang yuk. Aku cape. "
" Yuk. " Sahut Qonita seraya mengambil Fatima dari gendongan Amir. Abyan lalu memeluk adiknya erat.
" Jazakallah Kheir, Mir. Maafin aku yaa, maafin kita semua. "
" Lupakan ka, bantu aku bangkit. " Senyumnya masih getir.
Mereka lalu bersiap keluar Bandara menuju parkir lot sebelum sebuah suara menahan langkah Amir.
" Miiiirrrr...... ". Sapanya sambil berlari mendekat.
.
.
..._______________________________...
...Lau jama’tu ayyaama ‘umri min farohin, maa tusaawi lahzhata min waqtii ma’aki....
...(Kalaulah aku kumpulkan semua saat-saat gembira dalam hidupku, semuanya tidak akan dapat menyamai indahnya waktu yang aku habiskan bersamamu)...
__ADS_1
...❤❤❤❤❤❤❤❤...