DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 89. MAMA


__ADS_3

Hari ini jadwal Aiswa lumayan padat untuk terapi, mulai dari pijat akupuntur, spa, hingga stretching. Semua kegiatannya tak luput dari pengawasan Dewiq, bahkan dia pun mengikuti semua yang harus Aiswa kerjakan atas permintaan terapis.


"Kak, makasih banyak. Aku ga kesepian jadinya," Aiswa membuka tangan lebar masih duduk di kursi rodanya berharap Dewiq menghambur ke pelukannya. Saat semua sesi telah dia lewati.


Keinginannya tercapai, Dewiq membenamkan dirinya dalam pelukan tubuh mungil itu. Menyalurkan segala semangat agar mereka berdua kembali bangkit dari lembah kesedihan.


"Makasih Aey sudah berjuang sehat kembali ... mandi dan sholat yuk, lalu kita jalan-jalan ... sudah ashar." Kali ini Dewiq yang mengingatkan, diangguki oleh Aiswa dengan wajah cerah.


Satu jam kemudian.


Dewiq masih setia menemani dan mendorong kursi roda Aiswa kemana-mana. Berkeliling disekitar mansion menghirup udara segar sore hari, hingga Aiswa meminta singgah di taman penuh bunga.


"Kak sini aja, aku mau jalan di rumput boleh? udah lamaaaaaaaaaa sekali rasanya tak menginjakkan kaki telanjang di rumput basah, " ujarnya dengan binar mata memohon.


"Boleh, bisa berdiri atau mau aku bantu?" tanyanya lembut.


"Aku bisa, boleh lepas kaos kaki ga kak?" Aiswa celingukan khawatir ada pria disekitar yang melihatnya. Kaki juga bagian dari aurat wanita, dan selama ini Aiswa selalu memakai kaos kaki untuk menutupi telapak kakinya.


"Boleh, sini aku lepasin kaos kakinya." Dewiq membungkukkan badan hendak melepas kaos kaki yang membungkus kaki Aiswa namun dicegah nya.


"Aku bisa Kak, aku bisa, pelan-pelan ... aku bisa," tekadnya bulat meski ujung bibirnya meringis menahan nyeri di punggung.


"Sudah, aku saja ... jangan bebani tulang punggungmu terlalu berat," ujarnya sembari meneruskan apa yang tertunda.


"Syukron Kak," tatap nya pada wajah ayu yang merunduk.


Kamu memang penyayang meski kadang terlihat dingin dan menakutkan.


Dewiq membantu Aiswa bangkit perlahan dari kursi rodanya. Tangannya dia lingkarkan pada pinggang ramping gadis itu hingga kuat berdiri dan kaki nya telah stabil menopang tubuhnya.


"Bisa? yakin ingin jalan tanpa bantuan tongkat Aey?"


"Iya kak, aku coba."


Aiswa menjejakkan kaki te-lanjangnya yang putih mulus perlahan ke atas rumput basah yang baru saja disirami oleh kran kecil otomatis memendarkan air layaknya shower dengan buliran halus yang tertanam bersama kumpulan bunga.


Tap ...Tap ... Tap ...


Langkah kakinya pendek-pendek, persis batita yang tengah tertatih belajar jalan.


"Go on, lagi tapi perlahan Aey," Dewiq memberikan semangat meski ia juga mengikuti langkah Aiswa dari sisi kirinya.


Raut wajah mungil dengan alis sedikit tebal itu tersenyum cerah, sangat melukiskan perasaan bahwa dia bahagia dapat melakukan sesuatu dengan baik.


"Alhamdulillah," ucapnya penuh syukur saat langkah demi langkah dia susuri mengikuti pola rumput disana.


"Kak, adem yaa ... kakiku bagai dikerubuti semut, rasanya geli menjalar hingga ke pinggang."


"No Aey, duduk, sudah dulu." Dewiq bergegas mengambil kursi roda dan meminta Aiswa kembali duduk disana.


"Duduk, kaki mu boleh menginjak rumput tapi kamu harus duduk, now." Perintahnya mutlak.

__ADS_1


Mata bulat itu mengerjap beberapa kali, dan tak ada bantahan.


Aiswa kembali duduk, masih dengan bertelanjang kaki memainkan anak rumput yang basah ditaman.


Keduanya sedikit terkejut kala seorang wanita datang menghampiri. Memakai setelan blazer lengan panjang berwarna hitam, dengan rok span pendek senada. Rambutnya dikuncir rendah, rapi dan terkesan elite.


" Jo, kemarilah."


"Ya, Nona."


"Aey, kenalkan ini Joanna."


"Hai Kak Joanna, senang berkenalan dengan Kakak."


"Just Jo Aey, Jo ... dia memanggilnya demikian."


"Kak, apakah dia tahu aku?"


"Sure, dia tahu segalanya, bahkan yang menyuntikkan obat pelemahan detak jantung hingga beberapa detik tak terdeteksi oleh dokter disana, yaa dia ini orangnya."


"Dia juga yang mengalihkan perhatian Umma saat penukaran brangkar kalian ... Joanna yang mengawasimu dari dekat saat aku tidak ada disisimu ... serta, dia satu-satunya sahabat adikku."


Joanna masih menundukkan kepalanya, tak berani menatap gadis muda yang diklaim akan menjadi majikannya yang baru.


"Salam kenal Nona Aeyswa," ucapnya.


Puk. Dewiq memukul bahunya.


"Sorry Nona ... Aey, just Aey kini yaa, not Ae...."


"Aey means Ai for Aiswa or Aeyza, keduanya sama Ai ... camkan itu Jo."


"Baik."


Aiswa tersenyum melihat hal yang menurutnya konyol. Kini wajah murung itu terlihat mulai banyak menampilkan sebuah senyuman. Melukiskan bahwa hatinya bahagia.


"Apapun itu, kuharap kita bisa jadi kawan baik yaa Jo," Aiswa berucap dengan sorot mata hangat menyambut persahabatan mereka.


"Mulai sekarang, jaga dia karena aku akan mulai ke kantor Papa esok hari ... temani dia Jo, layani dia dengan sepenuh hati, seperti kau memperlakukan adikku ... tapi ingat, jangan sampai teledor kembali."


"Baik, akan aku jaga Nona Aey kali ini dengan nyawaku."


"Jangan begitu, semuanya adalah kehendak Tuhan, Jo."


Percakapan hangat antara ketiga gadis ditaman sore itu mendadak pudar seiring asisten Dewiq yang melaporkan perkembangan sang Bunda.


"Nona, maaf, Nyonya besar menunjukkan reaksi."


"Apa?"


"Kelopak matanya bergerak meski lemah dan jarinya mulai berkedut meski belum semuanya." Lapor nya lagi.

__ADS_1


Dewiq berlari meninggalkan mereka ditaman. Jantungnya berdetak kian kencang seiring langkah bedebam yang dihasilkan oleh hentakan kaki beradu dengan lantai.


"Moms," teriaknya saat mendekati ruangan serba kaca itu.


"Moms," deru nafasnya memburu, hampir menabrak meja yang penuh dengan lembaran kertas, obat-obatan serta alat medis lainnya diruangan itu.


"Nona, hati-hati."


"Lagi Moms, lagi, berikan aku tanda atau isyarat jika Mama mendengar suaraku," bisiknya pelan.


Sunyi.


"Moms," raih nya pada tangan yang masih terkulai lemah.


"Mama," suara Aiswa yang datang dengan Joanna.


"Ma, tak rindukah padaku? Mama," ujarnya pelan kian mendekat ke sisi kanan ranjang ibu angkatnya.


Det. Det. Det. Tangan yang digenggam Dewiq berkedut.


"Aey, Mama bereaksi dengan suaramu ... lagi Aey," pinta Dewiq bersemangat.


"Ma, kita baca dzikir petang ya, Mama boleh ikuti dalam hati bila mampu, Ok? Aey mulai ya Ma, Bismillahirrahmanirrahim," Aiswa kali ini sangat pelan melafalkan satu persatu kalimat pujian, dzikir sholawat agar sang Bunda bisa mengikuti.


"Aamiin," seiring suara adzan maghrib berkumandang.


"Kita sholat disini atau bagaimana Aey?"


"Gantian atau bagaimana Kak, disini sempit."


Aiswa meminta Joanna mendorong kursi rodanya menuju toilet agar dia bisa berwudhu dan bersiap sholat maghrib.


Netranya tetap sesekali melihat ke arah ranjang, rasanya Aiswa tadi melihat mata Mama bergerak.


"A--"


"Maa? ... Kaaaaaaa," teriak Aiswa memanggil Dewiq.


"I-itu," tunjuk Aiswa pada kelopak mata Mama yang nampak gelisah bergerak kekanan kiri.


"Moms, perlahan, jangan terburu-buru ... kami tak akan meninggalkanmu lagi," bisik Dewiq ditelinga ibunya.


"Ae--"


"Aku Ma, aku disini." Aiswa meraih tangan Mama kemudian dia genggam erat.


.


.


...____________________________...

__ADS_1


__ADS_2