DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 19. PERJALANAN TERAKHIR


__ADS_3

Setelah pertengkaran kemarin, kedua kakak beradik itu masih saling diam. Terdengar helaan nafas samar sang kakak saat mereka sarapan pagi hari ini.


" Mir, kakak minta maaf kemarin, apa pipimu terluka? " tanyanya khawatir.


" Aku salah dan itu setimpal. Tidak mengapa Ka, hatiku lebih sakit dari sekedar tamparan di pipi. "


" Mir, kakak harap kamu pertimbangkan kembali ag-- "


" Aku sudah, sore nanti aku flight ke Jakarta mengembalikan Aiswa pulang, " jawabnya dingin.


" Alhamdulillah, semoga Allah memudahkan segala urusan mu. Semoga kamu termasuk golongan mujahadah an-nafs yang bisa menahan diri dari segala perilaku yang dapat merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Jangan marah sama Allah ya Mir, husnuzon. "


" In sya Allah. "


" Kalian bersahabat baik, bukan saja karena kenal dalam waktu yang lama namun juga karena akidah. Kiranya salah satu hadist riwayat Muslim tentang ukhuwah bisa jadi renungan buat kamu ... Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi, seperti satu tubuh. Apabila satu organ tubuh merasa sakit, akan menjalar kepada semua organ tubuh, yaitu tidak dapat tidur dan merasa demam. " tutur Qonita lembut.


Amir meletakkan sendoknya dan menghentikan aktivitas makannya. Memandang kakaknya dan kakak iparnya bergantian.


" Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban. Aku lupa, banyak nikmat Allah selain cinta. Jazakumullah kheir Ka, Mba selalu mengingatkan aku, do'akan aku yang lemah iman ini mampu melewati ujian yaa, " tunduknya haru.


" Laa yukallifullaha nafsan ila wus'aha, Allah tak akan membebani sesuai kesanggupan umatNya, aamiin, " sambung Abyan.


" Mba yang antar kamu ke Bandara nanti, agar kalian tidak berduaan. Tiketnya sudah siap? "


" Sudah semalam Mba, aku ambil bisnis ko. Setelah mengajar nanti aku langsung berangkat. "


" Ya Khayr, Mba nitip Fatima dulu ke umma nanti. Abuya ga tahu masalah ini jadi kamu jangan ungkit yaa. "


" Syukron Mba, aku pamit berangkat sekarang ya. Assalamu'alaikum, " Amir pamit berdiri dan beranjak dari sana. Susah payah menghirup nafas, seakan paru-parunya enggan memasok oksigen lebih banyak.


*


Al Islah.


Ba'da dzuhur Qonita sudah berada di Al Islah, tepatnya dikamar Aiswa untuk membantu gadis itu berkemas. Keduanya dalam diam hingga Qonita membuka suara.


" Aiswa, sudah semua? "


" Aish saja Mba ... Hmm, titip ka Amir ya Mba. Mungkin ia akan hancur, Aish penyebab segalanya. Andai Aish ga kesini dan mengatakan semuanya mungkin dia akan baik saja. "


" Aish tidak hancurkah? percayalah, takdir kalian pasti lebih indah suatu saat nanti, karena semua yang datang dari Allah itu baik meskipun dibungkus dengan duri. Jaga diri Aish nanti, Mba tahu ini sakit dan pedih tapi sudah jalan kalian seperti ini. Redho yaa sayang. "


Aiswa menangis dalam pelukan Qonita, lama membenamkan dirinya disana. Selama di sini Aiswa seakan menemukan keluarga baru berkat Amir, keluarga penuh kelembutan dan kasih sayang, namun ia sadar semua ini bukan haknya.


Setelah berkemas dan pamit dengan Alma yang sangat ingin tahu alasan kenapa Amir membawa Aiswa pergi, Qonita menuju mobilnya dan terlihat Amir yang telah menunggu di sana.


" Hai Qalbi, we meet again. " Senyum Aish terbit.


" Rohi, ada Mba lho, " Amir tersenyum sembari tangannya mengambil alih koper Aish untuk dimasukkan ke bagasi.


Setelah semua siap, Amir melajukan mobilnya perlahan keluar dari pelataran kompleks Al Islah menuju Bandara.


Sepanjang perjalanan, Qonita nampak menikmati percakapannya dengan Aiswa. Sesekali terdengar tawanya dengan gadis itu.

__ADS_1


" Aish cerdas banget sih, informatif sekali. "


" Berkat dia, Aish banyak belajar hal yang ga pernah Aish tahu sebelumnya. Ka Amir yang bilang, meski selalu di rumah harus tetap update informasi ... Ka, makasih banyak ya, " ucapnya ceria.


Aiswa, seringan itukah kamu akan berpisah denganku? , Amir membatin, melihat sekilas pandang gadisnya dari kaca spion dalam.


Ka, aku bahagia meski harus berpisah, aku sudah banyak menabung kenanganku denganmu, dan semuanya indah karena mu. Terimakasih. Aiswa menguatkan dirinya dalam hati, menatap lama kekasihnya dari spion yang sama.


Kedua wanita ini masih asik berbincang hingga tanpa terasa mereka telah tiba Di Bandara.


Setelah memastikan mereka masuk untuk check-in, Qonita izin kembali ke Al Multazam.


Saat menunggu di gates terminal keberangkatan, tidak ada percakapan diantara keduanya. Larut dengan pikiran yang terus berkecamuk dibenak masing-masing, hingga tiba saatnya masuk ke dalam pesawat.


Amir telah mengabarkan pada Mahen bahwa dirinya dan Aiswa telah boarding sebelum ponselnya ia mode flight.


***


Menjelang Maghrib, mereka telah tiba di Jakarta.


Rey dan Mahen kali ini yang menjemput mereka berdua. Rey sejenak terkesima dengan tampilan Aiswa.


" Ckckck, pantas saja, super cantik, " bisiknya lirih namun terdengar oleh Mahen.


" Jodoh orang Pak, " tegur Mahen pada Rey, saat melihat keduanya mendekat.


" Assalamu'alaikum, Ka ... Aiswa. Aku Mahen, adik ipar Ka Amir, " Mahen memeluk kakak iparnya dan menangkupkan tangan di depan dadanya pada Aiswa.


" Wa'alaikumussalam, Aiswa... " seraya membungkukan badan.


" Aku R- "


" Dia ga penting, yuk pulang. Naya sudah siapkan makan malam di rumah. Rey koper Aiswa, tolong yaa. "


" Si-ap Bos, Nona maaf kopernya biar saya bawakan. "


Aiswa tak banyak menanggapi, ia bingung. Tampilan Mahen sangat dewasa, apa tidak salah dengar dia adik ipar Amir. Batinnya.


Camry hitam mewah itu lalu membelah jalanan Jakarta dengan Aiswa dan Amir duduk di bangku belakang. Keduanya nampak terlihat biasanya saja, tak ada aura kesedihan. Mungkin diri mereka lebih siap dari hari sebelumnya.


Drrtt.


" Iya sayang, bentar lagi sampai. " Jawab Mahen pada panggilan istrinya.


Dua puluh lima menit berikutnya, mereka telah masuk ke lift menuju lantai 10 dimana unit Mahen berada.


" Assalamu'alaikum, honey kita pulang. "


" Wa'alaikumussalam, Aaaabaang ko lama sih, aku kangen, " rajuk Naya sembari berlari dan melompat agar Mahen menggendongnya.


" Baby, ada tamu, " bisik Mahen ditelinga Naya.


" Astaghfirullah, Nduk! kelakuan kamu yaa ... duh gusti. " Amir tak habis pikir kelakuan barbar Naya masih berlanjut. Sementara Aiswa hanya tersenyum melihat keuwuan pasangan didepannya.

__ADS_1


" Eh, ka Amir ... Hai Aiswa, kamu cantik banget sih. " Ia turun dari dekapan Mahen dan mencium tangan Amir lalu beralih memeluk menyambut Aish.


" Hai Ka Naya, kakak juga sangat cantik. " Aiswa membalas pelukan hangat Naya.


" Mau mandi dulu atau makan dulu? Abang? kalian? " tatapnya pada para tamunya.


" Makan kamu dulu, mandi lalu makan, " sahut Mahen enteng seraya terus melangkah kedalam kamarnya, lupa jika ada tamu dirumahnya dan dirinya ia tak mendengar teriakan Naya karena telah menghilang dibalik pintu.


" Uhulk, uhulk, sindrom tolong dikondisikan, " sahut Rey sembari melangkah ke meja makan.


" Ya ampun ... Rohi, tutup telingamu, makan yuk, " pintanya pada Aiswa.


Naya terlanjur malu, mau tidak mau ia ke kamar menyiapkan baju ganti suaminya lalu bergabung kembali di meja makan untuk menjamu tamunya.


Mereka menghabiskan waktu makan dengan obrolan ringan, setelah sholat berjamaah Mahen mengajak Amir ke ruang kerjanya dan Naya dengan Aiswa menuju kamar tamu agar Aiswa bisa beristirahat.


***


Hasbi sudah kehabisan akal. Orang sewaannya selalu saja kehilangan jejak saat menelusuri keberadaan Aiswa.


" Cari sampai dapat, aku sudah bayar mahal kalian. "


" Nona terakhir kali terlacak di daerah Jawa Tengah, Semarang. Namun kami kehilangan jejak kembali. "


" Di tempat Amir tidak adakah? "


" Nihil, Tuan. Bahkan teman Anda sibuk dengan urusannya dan tidak terhubung dengan gadis anda. "


" Kemana dia? aku tunggu kabar terbaru. "


***


Saat akan berbicara dari hati ke hati dengan Mahen, ponselnya tak henti berdering. Hingga Mahen memintanya untuk mengangkat panggilannya lebih dulu.


" Nomor asing Mas, entah siapa ini? " Amir tak merasa punya janji dengan seseorang, ia pun mengecek pesan, barangkali si penelepon ini menuliskan identitasnya disana tapi nihil.


" Wait ka, aku buat jalur aman dulu. Rey one minute. " Titahnya pada Rey yang ikut bersama mereka diruangan itu.


" On ka, silakan.... "


" Halo, assalamu'alaikum, " sapa Amir membuka salam.


" Wa'alaikumussalam, Mir dimana kamu? kita meet up, kamu punya salah sama aku. "


Amir memutuskan panggilannya sepihak. Mahen terheran akan sikap kakak iparnya itu yang jarang bersikap tidak ramah dengan orang lain.


" Siapa ka? " tanya Mahen.


"............. " Amir hanya memandang datar layar ponselnya tanpa menjawab pertanyaan Mahen.


.


.

__ADS_1


..._________________________...


__ADS_2