
Walimatul 'ursy berlangsung hingga waktu Ashar. Kali ini Amir menepi, menunaikan sholat Ashar berjamaah pertama kali dengan sang istri, didalam kamar mereka.
" Mandi duluan ya Dek, masih ada Yai kawan Abah diluar ... aku temani Abah dulu, " ujarnya pada Aruni saat mencium dahinya usai sholat.
" Iya Mas. " Aruni melepas mukenanya lalu membuka sisa pernik yang masih melekat ditubuhnya satu persatu.
Amir meraih ponselnya diatas tempat tidur mereka sembari duduk sejenak disana. Melihat Aruni kesulitan membuka pengait resleting belakang kebayanya. Dia bangkit, mendekati tubuh istrinya dari belakang.
Menyibak rambut panjang terikat sang istri, mencium tengkuknya lembut lalu jemarinya menarik resleting kebawah.
Terpampang dihadapannya kini, saat kain kebaya itu mulai tersingkap hingga pinggang. Tubuh ramping berkulit putih mulus itu berdesir, kuduknya meremang tatkala helaan nafas Amir menyapu tengkuknya. Raganya menegang sesaat kala jemari kanan sang suami menyelusup, meraba dan mengusap perut ratanya.
" Allahumma rabban-nas 'adzhibil-ba'sa, isyfi antasy-syafi la syifa'a illa syifa uka syifa'a al la yughadiru saqama. " Mengucap doa lirih, mendekap erat tubuh molek wanitanya.
(Sunnah yang diajarkan Rosulullah saat membaca doa untuk memohon kesembuhan)
(atau Imsahil ba'tsa ya robbannas, biyadikas syifa u laka syifalahu illa anta).
" Aamiin Ya robbal 'alamiin, " ujar keduanya.
" Mas, katanya minta aku mandi, lepas. " Belainya lembut dikepala sang suami.
" Sebentar ... kamu wangi sayang. " Menghidu dalam ceruk istrinya, wangi parfum cherry bercampur floral yang lembut.
" Mass, " urainya pada tangan suami yang masih memeluknya.
Tok. Tok.
" Kakaaakk ... dikunci segala tuh, masih sore ini ish, masih banyak tamu loh ... kita mau balik, " seru Naya tak sabar diikuti suara Mahen yang menegur istri tarzannya itu.
" Kapan sih tamunya pulang atau kita jalan sore kemana gitu Dek, baliknya ke hotel aja. "
" Selama ini Mas ngajarin aku sabar, berlaku sopan ko malah begitu sama tamu ... lepasin ... ba'da maghrib pengajian loh, aku harus bersiap. "
Akhirnya Amir menyerah, dua suara wanita yang merengek membuatnya tak sanggup berlama-lama berada dalam posisi nyamannya.
***
Jakarta.
Dia baru saja memposting kegiatan kerjanya hari ini, jarang sekali mengunggah sosok istri dalam sangkar emasnya. Namun rupanya kali ini berbeda, caption manis menghiasi sebuah unggahan dengan kalimat : Ditemani olehnya yang murni, istriku.
Tujuannya satu, agar Gamaliel melihatnya lalu membaginya pada target utama. Memanasi, maksud hati yang masih dalam bara kebencian.
" Heran, semua wanita yang mendekat adalah bukan dari kalangan biasa ... Aruni, masih kerabat jauhnya ditaksir memiliki asset yang tak sedikit. "
" Apa istimewanya kamu, Mir? "
Ting. Notifikasi medsos.
__ADS_1
Gamaliel, teman anda baru saja membagikan beberapa postingan. Jemarinya lincah memburu tuts shortcut notifikasi.
" Ternyata, semudah itu dihapus ... kasihan sekali kamu ... dia sedang menikmati malamnya tapi kamu justru merana setiap malam. "
" Sayang, masih kerja? " tanya suara manja membuka pintu ruang kerja pria ini.
" Engga, ini udahan ko ... tunggu aku dikamar yaa, sebentar lagi. "
" Sure baby, " balasnya manja.
Share. Blip.
Tak lama setelah pesannya sukses terkirim lalu mendapatkan centang biru tanda tengah di baca oleh empunya di seberang sana.
" Tidak berpengaruh padaku, percuma. " Balas sebuah pesan.
" Penderitaan mu naik 50% Aiswa Fajri, menyerahlah padaku. Tinggallah bersama kami, dia lebih siap darimu, dia menerimamu bahkan dia ikhlas apapun perlakuanku padanya. "
" Serli Oktavia, Dosen muda sastra berbakat yang menyelamatkan Pak Dosen dari deportasi saat di UK karena dicurigai pihak imigrasi menyalahgunakan visa visit. Mengaku sebagai Istrinya dengan dokumen palsu yang dibuat orang suruhannya di sana ... mencintai Pak Dosen sejak masa kuliah tahun pertama, dan keluarganya mengetahui kalian menikah dibawah tangan ... ck, drama sekali. "
Glek.
" Darimana kau tahu? "
" Sudah ku bilang, bila aku ingin lepas dari mu itu sangat mudah ... tapi tidak akan seru kisahnya apabila Abuya tak mengetahui kelakuan anak bungsu kebanggaannya ... aku tahu suamiku sangat cerdas, terlebih keahliannya untuk menyakiti ... jadi, mari kita lihat nanti, siapa yang akan gigit jari, " balasnya sengit.
" Istri murni ku mulai berani. "
" Sayaaaang.... " seru sebuah suara terdengar lagi.
Hasbi penasaran, siapa yang memberikan informasi sedetail itu tentang Serli pada Aiswa. Wanita yang rela dinikahi siri olehnya. Meski disaksikan kakak sulungnya serta orang tua Serli saat itu, tetap saja apabila Abuyanya menangkap gelagat tak beres anaknya, beliau dipastikan akan murka. Mengingat Hariri Salim adalah sahabat dekatnya.
Mengabaikan Aiswa di ujung sana. Hasbi berjalan membuka pintu kamarnya, menaiki ranjang king size yang diatasnya telah menunggu wanita seksi untuk mengajaknya bergumul malam ini.
" Apa dia baik saja honey? dia tidak merepotkanmu kan? "
" Sure, dia kuat dan baik. "
" Aku kangen kamu sayang, dua hari tak memelukmu rasanya hambar. "
" Dia istrimu juga, berikan haknya sayang, " bujuknya lagi.
" Dia dingin terhadapku, lagipula sudah ada kamu, " kecupnya mesra pada bibir sensual milik Serli, istri pertamanya. Menuruni leher dan tengkuk wanita itu hingga berujung pada dua benda kenyal tempat favorit ia bergerilya.
" Ughmm, pelan sa-yang. " Racau suara berat mulai terdengar. Pergumulan dua insan menyatukan peluh, meleburkan nafsu dibawah selimut yang sama, memulai betapa panasnya kamar mereka.
*
Tazkiya, Jakarta.
__ADS_1
Aiswa memandang kiriman gambar yang dikirimkan Hasbi padanya. Foto saat Amir mengucapkan ijab qobul siang tadi. Netranya tanpa permisi membasah.
" Qolbi, sudah lupakah padaku? aku rindu, suara kakak. " Aiswa tersedu dalam gelapnya kamar ditengah malam.
Dirinya masih menyimpan records singkat suara Amir saat menelponnya dulu ketika ia baru saja tiba di Semarang, hasil keisengan Ulfa yang disengaja.
" Hanya ini, pengobat rinduku namun rasanya tak sama dengan mendengar langsung dari bibirmu, Amirzain, dosakah aku begini? yang masih merindumu meski dia telah sah memiliki mu? ... Qolbi. " Larutnya dalam rintihan yang pilu.
Ting. E-mail tengah malam hadir memecah sendu.
" Aish, betul Amirmu menikah hari ini? kabarnya istrinya pesakitan. Kemungkinan dia tak mencintainya. Hanya simpati, go ahead, sampai kapan kamu bertahan? "
" Tidak Dwi, belum saatnya. Baktiku pada Umma yang menahanku ... kakak bukanlah pria yang mempermainkan pernikahan Dwi, mungkin sekarang belum, tapi dia pria yang tulus ... aku menghargai keputusannya, jangan paksa aku untuk melupakannya lagi. "
" Ck, cinta mati ... jangan sampai dibawa mati. "
" I will, jika harus. "
" Baiklah, take care baby ... aku akan pulang saat liburan nanti. "
Hanya kedua sahabatnya yang dia miliki sebagai pelipur lara. Mencurahkan segala gundahnya meski keduanya terkadang lambat merespon sebab kesibukan jadwal kuliah yang padat.
Aiswa perlahan turun dari pembaringan, sepasang kaki putih pucat itu melangkah lemah menuju bathroom untuk berwudhu.
" Amirzain, aku rindu.... " lirihnya lagi saat telah duduk bersimpuh diatas sajadahnya, mencurahkan segala sayang dan rindu terpendamnya dalam doa.
Qolbiiiiiiiiiii.
***
Aiswaaa. Amir tergagap dari tidurnya.
" Ehmm, M-as? " gumam wanita yang tengah berada dalam pelukan Amir.
" Tidur lagi sayang, maaf yaa ... hanya terkejut seakan ada yang memanggilku. "
" Perutku kram, nyeri. "
" Sebelah mana, sini aku lihat. "
" Ga usah, begini saja, aku mulai nyaman tak terlalu terasa nyerinya lagi. "
Amir mengusap pelan perut rata istrinya yang tengah kram hingga ia terlelap kembali.
Qiyya, kamu satu-satunya istriku. Semangat sehat untuk hidup bahagia denganku, ok?
Hanya untukmu, segenap rasa sayangku saat ini, meski aku belum mampu menjadikanmu ratu di hatiku menggantikannya.
.
__ADS_1
.
...______________________...