
Dewiq melakukan semua ini hanya ingin memberi kesempatan kedua pada sahabat rasa adik serta ibundanya, meski caranya salah.
Dia juga punya ambisi menjadi Pioneer pemasok obat-obatan yang bisa digunakan sebagai pemicu reaksi untuk pasien dalam kondisi koma.
"Aku ingin kamu lebih bahagia dihidupmu yang baru," ujarnya ketika mulai membuka perban dikepala Aiswa.
"Jika boleh aku ingin tetap memakai identitas lamaku Kak, AF bila di baca dalam bahasa Inggris akan seperti apa?"
"EF."
"Hm, ga cocok ya Kak? gunakan saja Aeyza, jika dilafalkan secara cepat maka akan berbunyi aesa, mirip Aiswa."
"Aeyza ... kamu akan dikenal demikian di mansion ini dan kantor Papa ... nah, perban mu selesai ku buka, kau ingin bercermin? rambutmu aku potong sebagian, ingin seperti ini atau di ratakan semua agar tumbuh baru? Aey?"
"Aku ingin semuanya baru Kak, mukaku tak kau rubah kan?" senyumnya mulai terbit.
Dewiq mengambil cermin dari tangan asistennya untuk diberikan pada Aiswa agar dia dapat melihat pantulan dirinya.
"Alhamdulillah,"
"Aku tak setega itu sayang," sembari tersenyum kecut.
"Jelaskan padaku Kak, bagaimana aku sampai disini."
"Saat kamu sadar pertama kali, aku sudah mulai menyuntikkan sesuatu padamu ... kami observasi perkembangan kondisinya."
"Kamu tahu Amir datang bukan? nah Joanna mengawasimu dari dekat, saat yang tepat membuatmu pergi dari kehidupan mereka semuanya."
"Joanna lalu menyuntikkan sesuatu kembali saat Amir lengah, saat Umma lengah dan semua orang yang disana tak terlalu menaruh perhatian padamu ... disaat yang sama, organ vital Aeyza sudah tak merespon semua usaha kami dan akhirnya setelah keputusan Papa, melepaskan semua alat yang menempel di tubuh adikku itu ... Aeyza berpulang."
"Apa Aeyza semirip itu denganku?"
Dewiq memberikan foto adiknya diruang keluarga, juga foto yang selalu ada didalam dompetnya. "
"Sekilas pandang, maa sya allah ... i-ini Aeyza? aku?" Aiswa tak menyangka bahwa mereka bagai kembar. Hanya saja Aeyza tak berhijab dan tidak ada tahi lalat kecil di bawah cuping hidungnya.
"Satu yang membedakan kalian secara stuktur wajah adalah, bentuk alis serta tahi lalat kecil samar dibawah hidungmu." Dewiq menunjuk hidungnya sendiri agar Aiswa menyadari.
"Sempurna nya kuasa Allah, ciptaannya ... jadi benar yaa mitos yang mengatakan bahwa manusia memiliki tujuh kembaran yang persis sama," tatap nya takjub pada foto ditangan.
__ADS_1
"Maybe ... jadi apa rencanamu?"
"Aku akan sekolah design, oiya, biayanya Kak? bolehkan aku hmmmm mencicil bayar nanti jika aku sudah bekerja?" ujarnya tak enak hati.
"Lupakan biaya Aey, kamu adikku ... kemana tujuanmu?"
"Ikut denganmu, boleh?"
"London tempat yang bagus untuk belajar design Aey, aku akan mengurus semuanya."
"Aku percayakan padamu," senyumnya mulai intens terbit.
"Aey, pelajari semua tentang Aeyza ... hobi, kebiasaannya, cara bicara dan sebagainya ... sebelum berangkat, kamu harus menemui Mama ... buatlah Mama ku sadar kembali yaa. Aku cuti enam bulan dan masih tersisa 65 hari lagi cukup waktu bagimu untuk belajar etiket, table manner dan lainnya ... kamu sanggup?"
"Bisa Kak, aku pelajar ulung bukan? tapi aku belum mampu berjalan cepat, kakiku masih kaku."
"Akan ada fisioterapi setelah ini untukmu ... semuanya harus sudah siap saat kita berangkat nanti."
"Baik, aku mengerti."
Aku mendapat hidup baru, harapan baru dan keluarga baru. Aku bertekad akan membalas budi baik keluarga Hermana suatu hari nanti.
Saat makan malam.
"Nona selamat datang kembali, lekas sehat lagi ya," sapa seorang maid.
"Terimakasih, bisa panggilkan Kak Dewiq? aku ingin keluar dari kamar ini apakah boleh?"
"Mau kemana sayang? ... aku akan makan malam disini, Mba tolong siapkan," pintanya pada sang asisten rumah tangga.
"Besok aku akan mengajakmu jalan-jalan mengelilingi mansion, kamu harus makan banyak agar lebih segar esok hari."
Dewiq sengaja menghabiskan malam hari ini bersama Aiswa di kamar perawatan. Hanya ingin menemaninya ditempat yang masih teramat asing.
Bayang wajah Aeyza yang tersenyum sedikit banyak mirip bila dilihat dari sudut tertentu, lumayan untuk mengobati rasa kangen pada adik kecilnya yang telah berpulang.
"Aey, latih tangan kanan mu agar presisi dengan yang kiri ... adikku tidak kidal,"
"Hehehe baik Kak, aku sudah lumayan banyak berlatih sejak Kak Amir memintaku duu-lu...."
__ADS_1
Degh.
Allah, hatiku masih saja berdebar meski hanya menyebut namanya. Aiswa tertunduk, sadar akan ucapannya yang salah, masih mengharapkan pria itu.
"Jika tak ingin melupakan, maka jangan, meski rasa sakitnya akan menjadi dua kali lebih sakit ... namun jika ingin betul-betul lupa, kau harus berani menghapusnya darii hatimu, sama saja sakitnya tapi paling tidak, hatimu akan kembali berangsur pulih meski memakan waktu yang entah kapan bisa utuh kembali" sarannya.
"Entahlah Kak, aku ga mau mikiri itu sekarang."
"Satu lagi hampir lupa ... kau bukan lagi istri Hasbi, dia menceraikanmu lebih dulu sebelum Amir datang menjenguk ... dia menceraikanmu didepan istri keduanya, kedua orang tuamu serta Abuya nya. "
"Benarkah? lalu surat akta cerainya?"
"Karena kamu meninggal dunia maka Abuya tak mengurusnya lagi, membiarkan hanya jatuh talak secara agama saja ... namun kamu jangan khawatir, Ulfa mengurusnya. Aku berjaga untuk masa depan apabila laki-laki busuk itu mengganggumu lagi ... kau belum tahu siapa Hasbi? dia sanggup membayar orang agar mencelakai seseorang yang dia rasa mengganggu jalannya."
"Sekejam itukah dia?"
"Hati orang siapa tahu ... dia beberapa kali mendatangi kantor Papa, berniat mengajukan kerjasama suplai alat kesehatan. Koneksinya dimana-mana Aey."
"Bila Amir punya Mahendra sebagai tameng, maka Hasbi punya seseorang yang kuat dibelakang nya dan ajaibnya keluarga Kyai Maksum tidak pernah tahu tentang sepak terjang anaknya dalam dunia bisnis ... Singapura, siapapun bisa dengan mudah menciptakan peluang bila saja engkau bertemu dengan orang yang tepat." Dewiq tersenyum sinis, mengingat perjumpaannya dengan Hasbi saat bisnis bawah tangan, dia melihat pria itu ikut menikmati euforia kesuksesan mereka.
"Astaghfirullah,"
"Jadi karena ini, Kak Dewiq mengetahui semua tentang dia? dan apakah dia juga tahu tentang kakak?"
"Tidak, aku hanya mengutus bawahan ku kala itu ... aku hanya memiliki rekaman saat mereka toast di ruang bawah tanah."
"Kenapa dia bisa sangat berubah?"
“Ambisi Aey, latar belakangmu bisa menyamarkan posisinya bila terjepit ... kau pikir dia hanya dendam dengan Amir? bukan, itu hanya alibinya saja ... semua berawal dari Singapura, UK, Serli menjadi tameng baginya saat ia hendak dideportasi akibat penyalahgunaan obat-obatan ... dia sangat cerdas, kau tak menyangka bukan? akupun sama."
"Pantas saja dia bersikeras tak ingin melepaskanku."
"Mahendra, bukan tak mengetahui siapa dalang insiden saat penculikan Ainnaya dulu yang membuat dia terkena tusukan ... dia hanya menahan diri, makanya Mahendra begitu ketat menjaga istrinya meski dalam bayang."
"Waw, subhanallah, semua misteri terbuka berkatmu Kak...."
.
.
__ADS_1
...________________________...