
Dewiq paham betul kondisi adik dan ibundanya saat ini. Tak banyak yang bisa dilakukan selain memberikan support lewat bisikan ditelinganya.
" Adek, Aeyza sayang, berjuang sehat kembali yaa ... akan kakak ajak kamu ke London, lepas ini kita akan selalu bersama, ok? " air matanya kembali luruh.
" Mom, berjuanglah juga ... bila Tuhan memberikan moms kesempatan kedua, berlakulah baik seperti dulu, menyayangi kami. " alihnya pada sang Mama.
Dewiq meminta Joanna berjaga didalam bersama seorang suster jelang kepindahan adiknya ke Malaysia petang nanti sementara ia ingin mendengar informasi lengkap tentang Aiswa.
" Ulf, ke ruanganku, "
Dewiq bersama Ulfa dan dua bodyguardnya beranjak keluar kamar Aeyza menuju ruang kerja kebesarannya di rumah sakit itu.
" Salam Nona Muda Arzu, " sapa mereka seraya bangkit dari duduknya saat Dewiq memasuki kantor.
" Duduklah Dokter ... team leader is Dokter Laura, right? "
" Yes Mam."
" Bisa tolong jelaskan padaku kondisi terkini Aiswa Fajri? "
Dokter Laura menjelaskan detail awal mula pasien di rujuk dan ranap hingga peristiwa kemarin serta serangkaian test yang telah dijalankan.
" Kapan hasilnya keluar keseluruhan? "
" Seharusnya sudah keluar Nona, " sahut dokter Laura.
" Nona, ini hasilnya ... silakan, " serah Ulfa dari tangan teamnya.
Dewiq membaca sekilas laporan hasil test terhadap Aiswa. Kemudian diserahkan pada team dokter di hadapan mereka.
" Kesimpulan kalian? penanganan seperti apa yang akan para dokter ambil? "
Dewiq tahu, kemungkinan Aiswa dapat sadar kembali berpeluang besar namun ia ingin menguji mental jajaran tenaga medis yang dikenal elit dan kompeten oleh masyarakat.
__ADS_1
Setelah diskusi selama empat puluh menit lamanya, akhirnya mereka sepakat tetap memakai ventilator kemudian menstimulasi selain terapi wicara, psikolog, ahli terapi okupasi, dan ahli terapi fisik, untuk mengatasi gejala yang mungkin muncul akibat kerusakan otak.
" Baik, diterima ... aku ingin laporan lanjutan CT scan dan MRI berkala, serta obat-obatan yang akan di berikan padanya ... jangan sampai defisit kognitif dan memori ... aku tunggu laporan terkait satu jam mendatang ... silakan bekerja kembali Dokter, aku menantikan progres terbaik dari kalian, thanks. " (penurunan oksigen ke otak dalam waktu yang lama)
Saat dokter Laura beranjak paling akhir, Ulfara menahan lengannya.
" Dokter Laura, aku ingin mengunjungi pasien, bisakah anda mengalihkan keluarganya sejenak? " pinta Dewiq khusus saat dokter lainnya telah meninggalkan ruangan.
" Baik, bisa aku lakukan ... tunggulah sebentar Nona Muda, " jawabnya seraya keluar ruangan.
Beberapa menit kemudian.
" Clear Nona, mari, " Ulfa kembali menginformasikan.
Dewiq melangkah menuju kamar Aiswa, dibukanya pelan ruangan itu. Dirinya menghela nafas panjang, menguatkan hati bahwa adik sekaligus sahabatnya sedang terbaring lemah disudut ruangan ini.
Dia perlahan mendekat, suaranya mulai parau menahan isak.
Ada sebongkah sesak mengganjal dihatinya, ia menyesal mengapa terlalu lamban mengambil tindakan.
Mengapa ia tak mencegah Amir menikahi Aruni meski ia telah mengindikasikan bahwa hal itu akan terjadi.
Ia menyesal, mengapa bukan dirinya yang mengambil alih tanggung jawab terhadap kesehatan Aruni, sehingga Amir mengetahui lebih dulu dan bersimpati padanya. Dewiq tersedu hingga bahunya bergetar hebat.
" Nona, tegarlah, " Ulfa menepuk bahunya pelan.
Menyadari bahwa waktunya sedikit. Dengan sisa suara sengau akibat segukan, ia menyeka air matanya.
Dewiq kembali mengajaknya bicara meski Aiswa tak merespon, Dewiq tahu Aiswa masih bisa mendengarnya.
Dia menggenggam tangannya erat, membelai wajah ayu yang semakin pucat. Membisikkan segala kenangan indah mereka termasuk kenangannya saat bersama Amir dulu.
" Bangkitlah Aiswa, kau bilang ingin belajar design dan ilmu bisnis ke King Saud bukan? kau bilang ingin punya butik dan kau bilang ingin jalan-jalan berkeliling dunia ... mari kita lakukan bersamaku, Ok? bangunlah, gerakkan matamu atau respon lah aku. " (bab 1)
__ADS_1
Hening. Hanya suara mesin yang terdengar.
Dewiq lelah, pikirannya kalut. Adik kandungnya diujung tanduk, juga Aiswa tak lebih baik kondisinya.
Ia menempelkan wajahnya ditangan pucat Aiswa, memejamkan mata yang perih dan mengistirahatkan kepala yang sedikit jetlag.
Det. Det. Dewiq merasakan gerakan halus dari jemari kurus nan lencir itu.
" Aiswa? lagi sayang, lagi. "
Hening, nihil.
" Nona, waktu kita habis ... aku sudah mengatur agar Joanna memantau Nona Aiswa sementara kita pergi. "
" Baik ... kuatlah Aiswa Fajri, aku punya rencana untukmu, " bisiknya sebelum meninggalkan ruangan.
Dewiq tergesa keluar dari sana agar tak diketahui oleh keluarga Aiswa. Dari kejauhan ia melihat Hasbi dilorong sepi, kakinya melangkah cepat, memburu pria itu dan....
Brug. Dewiq mendorongnya dari belakang hingga Hasbi membentur dinding, mencekal lengannya di belakang pinggang.
" Arrrgh, lepas, siapa kamu, " serunya berontak.
" Kau, tunggulah pembalasanku ... lawan aku jika mampu, breng-sek ... bersyukur Mahendra tak tahu keburukanmu lebih jauh ... kau, bagianku. "
Dugh. Kakinya menendang mengenai tungkai belakang pria itu. Ulfa mengamankan CCTV saat bosnya menghajar tengkuknya hingga Hasbi tersungkur tak sadarkan diri di koridor lalu meninggalkannya begitu saja.
" Ck, Nona ... kalian berdua, bereskan ini, " titahnya pada dua bodyguard.
.
.
...________________________...
__ADS_1