DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 169. KEGILAAN RAYYAN


__ADS_3

Setelah panggilan Dewiq ia putuskan sepihak, Rayyan kembali ke balkon apartementnya. Memantik korek gas untuk membakar sebatang rokok, ia menghisap pelan menikmati, mengepulkan asapnya ke angkasa.


Gumpalan putih yang keluar dari mulutnya sangat kontras dalam pekatnya malam, secepat kilat membaur dengan udara sekitar yang kembali ia hirup.


Dalam tarikan ketiga, mulutnya kembali melepaskan kepulan hasil pembakaran tembakau seraya menengadahkan kepalanya.


Badannya ia sandarkan pada dinding kaca, masih berdiri dengan menyelipkan tangan kanan dalam saku celana bagian depannya.


Maskulin, manly, gambaran sosok seorang Rayyan bila tak memakai jas putih kebanggaannya.


Angannya berpendar mengingat kejadian hari ini, hingga pada panggilan kawan sejawat yang baru saja dia akhiri tadi.


"Sh-iitt, Arzu!" Serunya mematikan batang rokok yang masih menyala pada dinding balkon.


"Hang-on Dwi, aku datang...." Rayyan meraih jaket serta kunci mobilnya dan bergegas keluar dari unitnya menuju basement.


Kaki panjangnya melangkah lebar menuju lift, hingga tiba di basement ia menekan remote lalu masuk ke mobilnya. Mazda-3 zoomzoom miliknya lalu melesat keluar dari apartemen menuju lokasi Dwiana.


Dini hari, jalanan Melbourne sangat lengang hingga dia pun tiba di apart Dwi lebih cepat dari biasanya. Rayyan memarkir mobilnya tepat di pintu masuk gedung Rosetta.


Entah apa yang mendorongnya hingga berlari secepat kilat menaiki tangga padahal tersedia lift dilantai dasar.


(panik ya masbro, jadi anu 😅)


Tibalah ia di unit sesuai petunjuk alamat tadi, Rayyan mengetuk panel pintunya pelan.


Tok. Tok.


"Dwi, baby, buka ... aku Rayyan...."


"What baby? oh sh-itt yang benar saja." Rayyan mengumpat menyesali kata sapaan yang baru saja keluar dari mulutnya.


Dia adikku, ya wajar, baby, dia adikku.


Tak ada sahutan dari dalam, Rayyan pun menelpon Dewiq kembali.


Tuuut. Tuut.


"Hallo Arzu, nomer Dwiana ... atau kau telpon ponselnya, aku didepan unit dia saat ini." Titahnya bak raja tanpa jeda.


"Oh God, kukira kenapa ... wait."


Rayyan masih terus mengetuk pelan pintu bercat hijau tua itu, juga setia menanti kabar dari sahabatnya, Arzu.


"Ray, ga diangkat ... coba deh ke bawah, minta bantuan...."


"Oh Ok, jangan di closed, tahan atau lakukan multi call ... now!" Rayyan panik. Jika Aeyza bilang siang tadi dia masih demam dan lemas, prediksinya Dwiana akan kembali demam atau dehidrasi jika dia tak bergerak atau memakan sesuatu guna meredakan demamnya. Apalagi Dewiq bilang, dia sendirian tak ada yang mengurus.

__ADS_1


"Ga usah teriak juga kali Ray!" Dewiq tak kalah sewot.


"So sorry, hatiku ga enak."


Rayyan menekan bell di front line berharap ada seseorang yang membantunya. Beruntung, seorang petugas keamanan menghampiri dirinya yang terlihat panik.


Ia menceritakan apa yang menjadi kekhawatirannya atas kondisi Dwiana dalam apartemen lantai dua gedung itu.


Petugas lalu membawa peralatan jikalau pintunya sulit dibuka selain kunci akses cadangan. Dia lalu memanggil staff untuk menemaninya keatas.


Keamanan gedung ini mumpuni, master key access hanya bisa dibuka jika kedua kartu utama ditempelkan secara bersamaan. Kartu yang hanya dipegang oleh Manager gedung serta staff yang bertugas disertai pass code.


Ketiga pria ini lalu kembali menaiki lift menuju lantai dua dimana unit Dwiana berada.


"Now," seru keduanya bersama-sama saat card menempel pada panel.


"Ray ... Ray, please Rayyan ada apa? Rayyan!!" Dewiq panik diujung seberang sana karena Rayyan tak merespon, juga karena ia mendengar suara-suara yang membuatnya gusar.


Pett. Rayyan memutuskan panggilan, agar dia fokus.


Klik. Bunyi kunci terbuka.


Rayyan tak sabar, ia merangsek masuk langsung kedalam.


"DWI....!" Rayyan berteriak.


"Help me, please...." serunya meminta tolong mengambilkan kunci mobil di saku celananya saat ia membopong tubuh Dwiana.


Kedua petugas keamanan sigap membantu penghuni apartemen mereka. Satu orang pria kembali mengunci unit Dwiana begitu semua orang telah keluar dari sana.


Manager gedung menekan angka pada lift dan membantu Rayyan memapah Dwiana. Dia pun membuka pintu mobil penumpang sisi kiri agar Rayyan bisa meletakkan Dwiana disana.


Setelah memasang seat belt, Rayyan pun memutari mobilnya dan duduk dibelakang kemudi.


Kakinya menekan pedal gas setelah ia berhasil keluar dari parkir paralel didepan gedung tersebut.


"Hang-on Dwi," lirihnya memacu kendaraan miliknya.


Sepuluh menit berlalu cepat.


Ia kini tiba di sebuah klinik 24 jam tak jauh dari lokasi Dwiana, pertolongan pertama tak sempat ia lakukan tadi karena terburu panik.


"Bodoh Rayyan....!" umpatnya kesal pada diri sendiri.


Mobilnya dia parkir kan asal, langsung membuka pintu dimana Dwiana masih tergolek lemah.


"Dwi, Dwi, kau masih denganku? Dwi?" Rayyan menepuk pelan pipi sepucat salju.

__ADS_1


Suhu tubuh Dwiana sudah tak demam saat dia membawanya dalam pelukan, dan kini sangat dingin, Rayyan khawatir.


Hipotermia. No, jangan, jangan please jangan.


"HELLO ... HELP ME ... PLEASE HELP ME...."


"HELLLPPPP MEEEEE, PLEASE....!!" Rayyan berteriak bagai orang gila hingga dua orang dokter datang membawa brangkar untuk meletakkan Dwiana disana.


Rayyan merebahkan tubuh ringkih itu pelan, lalu kedua petugas medis langsung membawanya menuju ruang tindakan.


"Oh God, ya Allah, tolong dia...." Rayyan meracau.


Baru kali ini dirinya dihadapkan pada situasi demikian.Terkadang, ia tak habis pikir jika melihat keluarga pasien demikian histeris mengantar anggota keluarganya hingga tenaga medis kerap menjadi sasaran amukan, dan sekarang dia mengalaminya.


"Dwi, kamu gadis kuat kan? kuatlah Dwiana...." Rayyan tak henti merapal doa.


"Amir," lirihnya teringat keluarga pasien yang sangat tenang meski situasi sulit, dia ingat Amir sangat khusyu berdoa saat uyutnya sakit dalam perawatannya.


Rayyan menekan tombol panggilan, namun tak dijawab oleh pria itu.


"Ga aktif ... oh iya, disana jam tiga pagi, mungkin menjelang subuh baru aktif ponselnya...." Rayyan memilih berkirim pesan padanya meminta bacaan doa untuk kesembuhan Dwiana.


Kriing. Kriing.


Panggilan Dewiq berulang kali masuk namun ia abaikan. Dia sedang tak ingin di ceramahi akibat kecerobohannya. Rayyan memilih merejectnya.


"Sorry, nanti aku jelaskan ... biarkan aku berpikir normal dahulu setelah kegilaan yang baru saja hadir menerjang logikaku, Arzu." Rayyan mengetik pelan pesan untuk sahabat Dwiana.


"Ada apa? jelaskan sekarang!"


"Nanti, dia baik saja, please beri aku waktu bernafas."


Rayyan lemas, ia duduk di kursi tunggu ruang tindakan hingga salah seorang petugas medis keluar menemuinya.


Dirinya pun bangkit mendengarkan penjelasan dokter bahwa untung Dwiana lekas ditemukan. Bajunya sangat basah, mungkin pendingin ruangan juga menyala maksimal saat itu.


Rayyan lalu berargumentasi memberikan keterangan pada dokter atas apa yang dilihatnya disana.


"Dia demam naik turun beberapa hari, lalu siang tadi masih demam tinggi, lemas dan menggigil ... pot bunga jatuh, mungkin air merembes ke bajunya saat dia pingsan juga didepan lemari pendingin aku melihat botol minum serta air kran yang masih mengucur....."


"Sepertinya dia demam, merasa haus lalu berjalan ke arah dapur, menyenggol pot bunga dan airnya tumpah ... dia melangkah menghindari pecahan kaca menuju refrigerator untuk meraih botol minum namun tenaganya habis, botolnya juga jatuh membasahi pakaian ... dan dia masih berusaha bangkit menekan kran namun telanjur pingsan, akhirnya kondisi pakaian basah, ruangan ber-AC dalam waktu lama hingga ditemukan, suhu tubuhnya sudah menurun drastis." Pungkas Rayyan menjelaskan dugaannya.


"That's it," Seru dokter.


"Frosbite? No, jangan...."


.

__ADS_1


.


..._________________________...


__ADS_2