DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 115. DA3A


__ADS_3

Aiswa kesal bukan kepalang, dia mengadu pada sang kakak tentang perilaku seorang pria yang mengusik harinya beberapa waktu terakhir.


"Kak, Rayyan mulai mengganggu," adunya pada Dewiq suatu malam.


"Abaikan saja Aey, dia sudah kembali kan?"


"Sudah tapi gitu, lusa Mama juga akan kembali kesini dan dia menggunakan alasan itu untuk mengantar Mama, kakak yang temui dia, aku ada kegiatan kampus." Sentak langkahnya menjauhi sang Kakak.


"Aey, Amir selalu dihati kah? Joanna bilang kalian berpapasan disana beberapa kali."


"Kak, entahlah ... aku lemah jika tentang dirinya," Aiswa berbalik arah, menaruh kepala dipangkuan kakaknya yang masih duduk di sofa ruang keluarga. Tak memperdulikan laptop yang masih terbuka disana, membuat Dewiq menghela nafas panjang atas kelakuan Aiswa.


"Sabar, sebentar lagi yaa sayang, ketika kamu telah berdiri dikaki sendiri kamu boleh menggunakan identitasmu lagi ... Rayyan biarkan saja ... tidurlah, minggu depan kamu ke Malaysia Expo bukan? gapailah mimpimu Aiswa," belainya lembut dikepala adik angkatnya itu.


"Rindu Kak, tapi ga boleh, dia milik Aruni."


Maafkan aku menahan informasi ini darimu Aiswa, aku tak ingin kau yang berjuang mengejarnya lagi.


"Jalani dengan benar Aey, fokus pada cita-cita mu dulu ok?"


"Ok kak, aku sudah janji kan apabila diberikan kesempatan kedua akan aku gunakan sebaiknya ... aku bobo duluan ya Kak."


Dua hari kemudian.


Mama tiba setelah Ulfa menjemput mereka di Bandara. Dewiq hari ini sengaja tak pergi ke kampus karena menyambut sang Bunda setelah kurang lebih satu bulan mereka tak bersua.


Ketika telah tiba dikediaman, Ulfa membuka pintu rumah merdeka, ketiganya masuk. Rosalie menuju ruang keluarga mencari anak sulungnya. Ketika meminta Dokter Rayyan mengikutinya pindah ke ruang tengah, sebuah suara mengejutkan dirinya yang baru saja melepaskan mantel serta tas tangannya.


"Moms, aku kangen." Seru Dewiq berlari menuruni tangga hanya dengan memakai kaos oversize dan celana jeans sebatas betis. Rambutnya digerai karena baru saja dia keringkan.


"Hai sayang," Mama merentangkan kedua tangan menyambut pelukan gadisnya. Mengecup semua bagian wajah cantik Dewiq setelah sekian lama tak ia sentuh.


Siapa? cantik banget, natural.


Rayyan menikmati semua pemandangan indah di depannya, yang menyuguhkan kasih sayang seorang ibu dan anak. Tubuh atletisnya dia sandarkan pada kusen pintu penyekat dua ruangan.


Mama mengurai pelukan setelah menyadari ada Dokter Rayyan yang tengah memperhatikan mereka. Dewiq yang membelakangi masih belum sadar akan kehadiran pria itu disana.


Dia menguncir rambutnya naik keatas hingga menampilkan tengkuk mulus yang tak pernah dia pamerkan.


Glek. Mulusnya. Eh, ko aku.

__ADS_1


"Ehheemm," suara Rayyan menyela.


"Eh maaf Dokter Rayyan, masuk sini, duduk si sini jangan disana dingin ... kenalkan ini kakak Aeyza."


Dewiq terlalu bersemangat hingga abai akan kehadiran pria disana. Dia menarik turun kuncir rambutnya lagi, membiarkannya tergerai kembali.


"Arzu, salam kenal Dokter Arrayan Rasya," sapanya ramah, meski agak ragu.


"Rayyan, bukan Arrayan ... beliau memang seniorku," balasnya datar. Dia sering mendapat pasien salah sasaran, yang mereka tuju adalah Arrayan bukan Rayyan.


"Loh, jadi Anda?"


"Rayyan, so sorry jika Dokter yang seharusnya kalian tuju beliau, but aku sebelum menerima berkas pasien ... akan aku pastikan lebih dahulu karena seringnya salah tujuan."


"Kak, maksudnya bagaimana?"


"Nevermind Moms ... silakan duduk Dokter, sudah jodoh Mamaku ditangani Anda, thanks so far Mama tidak ada keluhan lagi," jawab Dewiq lugas menutupi kekesalannya pada Papa.


"Aey mana Kak,"


"Berangkat Moms, dengan Jo."


Hah, ga mungkin Papa teledor sih, beliau sengaja entah apa maksudnya. Mana ni dokter ganteng pula. Pantas Aiswa keki, takut tergoda.


Rayyan diam-diam memperhatikan gadis diseberang sana, saat Mama meminta izin ke kamar sebentar untuk ganti baju serta meminta menyiapkan hidangan untuk lunch, Rayyan mengamati dari jauh.


Cantik, Aeyza lebih kalem karena pendiam sedangkan kakaknya terlihat tegas dan lugas.


"Sudah Coass?" tegurnya mendekati Dewiq.


"Tahun depan, aku mengejar ketinggalan sebisaku." jawabnya tanpa melihat Rayyan.


"Mau pulang ke indo atau tetap disini?"


"Ikut kata Papa, hidupku ditangan Papa." Menanggapi masih dengan kecuekannya, karena dia tengah mengirimkan pesan pada sang ayah mengapa bisa sampai salah dokter?


Disela kesibukan Dewiq, diam-diam Rayyan memperhatikan dari sudut mata sembari melihat buku yang berserakan disana.


"Ulfa, tolong kerjakan ... apa? dia ingin bertemu? tidak ada jalan lainkah? baik, jadwalkan untukku, segera." Dewiq menerima panggilan bahwa Mahendra ingin bertemu dua hari lagi. Dewiq curiga, Mahendra telah mengetahui siapa Aeyza yang sebenarnya.


Calon pemimpin pengganti ayahnya, wataknya bisa jadi lebih tegas dari Aeyza. Keren sekali, gadis muda namun sudah berprinsip.

__ADS_1


"Kamu belum jawab pertanyaan aku."


"Maaf yang mana?" Dewiq menghentikan sejenak, dia mengalihkan pandangan menatap Rayyan.


Degh. Degh. Degh. Dewiq berdebar saat pandangan mata mereka bertemu. Teduh dan warna bola mata Rayyan sangat gelap menegaskan kemaskulinannya.


Degh. Degh. Degh.


Si-al, matanya cantik. Kenapa aku jadi begini.


"Hmm, lupakan." Rayyan mengalihkan pandangan ke tumpukan buku diatas meja.


"Aku permisi ingin mengambil minum, Anda mau sekalian? juice or something, jangan wine karena aku tidak punya semenjak adikku melarang."


Duh jantungku.


"Samakan saja denganmu, Nona Arzu," ujarnya tanpa melihat kearah Dewiq yang telah berdiri.


***


Saat yang sama, Indonesia.


Berdasarkan hasil penelusuran Rey tentang pemilik jam, kemana dikirim serta hasil pindai cctv gate singapura, saat di London serta informasi tambahan bahwa gadis itu pernah ada di rumah sakit yang sama dengan Uyutnya. kesimpulan Mahen mutlak.


"Dia Aiswa, aku belum menemukan motif ... masih ada waktu dua hari sebelum bertemu Arzu."


"Bos, maafkan aku bila lancang ... aku menyelidiki kematian Aiswa, dihari dan rumah sakit yang sama, Arzu terlihat memasuki kamar yang bersebelahan dengan Aiswa ... sialnya semua cctv records hari itu telah dihapus, namun nampaknya mereka lupa bahwa disalah satu lift yang urung mereka gunakan aku mendapat satu screen jelas."


"Tunjukkan padaku," raut wajahnya mulai terlihat menegangkan.


Mahen mengamati seksama, berulang kali replay hingga dia berusaha memutar video record, terlihat sepasang sepatu yang janggal digunakan oleh tenaga medis.


"Binggo, fix dia ditukar... ada keterlibatan semua dokter disana, ck tak heran, itu adalah rumah sakit milikny bahkan dia leluasa ... Rey, gunakan ini untuk menekannya lusa."


"Baik, akan aku kumpulkan semua bukti akurat nya Bos...."


Kak, apa responmu bila tahu Aiswa masih hidup, bagaimana Hasbi jika tahu ini? apa tujuan Arzu terhadap Aiswa? jikalau dia ingin memanfaatkan rasa balas budi Aiswa dengan latar belakang keluarga Kusuma, aku akan bertindak....


Perjuangan kalian, nampaknya Allah akan membuka jalan, doaku untukmu Amirzain, aku akan membalas budimu karena dulu mendukungku dan Naya.


.

__ADS_1


.


...______________________...


__ADS_2