
Meski bagian tubuhnya terasa berat, membuatnya sedikit kesulitan bernafas tapi Gamal sangat berusaha menjaga agar sosok cantik yang tengah tertidur itu tidak terganggu.
Kelopak matanya sesekali masih mengerjap, menetralisir cahaya yang belum terbiasa untuk retina yang telah beberapa waktu lamanya tidak menunaikan tugasnya dengan baik.
Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi, sudah satu jam wanitanya tertidur memeluknya dalam posisi yang tidak nyaman. Tapi Gamal justru menyukai moment ini, dia baru bisa menyusuri setiap lekuk wajah yang semenjak menikah enggan untuk berdekatan dengannya.
Dengan tangan kanannya dia memeluk pinggang yang terasa sangat ramping. Tangan kiri yang terpasang selang infus dia angkat perlahan, ujung bibirnya sedikit tertarik ke atas. Meringis menahan sakit namun tak surut menjulur untuk menyusuri betapa lucunya bulu mata menghiasi kelopak mata bulat yang tengah tertutup.
Hidung mungil dengan batang tegas dari pangkal dahi hingga ujung, bibir tipis yang masih belum terjamah, sumber segala kata-kata pedas untuknya.
" Cantik, istriku, " lirihnya menahan sesak. Betapa dia mencintai meski dalam keadaan terhimpit antara hidup dan mati.
Rasanya ia masih ingat, tatapan kecewa Alma saat Amir tak menyalami bahkan memandangnya lagi setelah dia menikahinya.
" Almahyra akankah hatimu hanya untukku kini, engkau sanggup memanggilku kembali yang telah berdiam dalam gelapnya relung ruang dunia. "
" Ngghhh, Mas ... aku kangen jahilnya kamu. " Alma mengigau, sebaris cairan basah keluar dari sudut matanya.
Gamal menghapus bulir bening itu dengan tangan kirinya. Dia bisa melihat semuanya, mendengar setiap bisikan, merasa setiap sentuhan darinya serta harapan akan cinta yang baru saja dia hembuskan.
" Sayang, aku kembali, " kecupnya pada tangan Almahyra yang bebas.
Merasa ada yang memanggil, suara asing yang mulai ia rindukan, serbuan benda kenyal yang menempeli tangannya seperti sebuah kecupan. Khayalan suaminya telah terjaga melintas dalam benaknya. Kelopak mata yang enggan terbuka karena rasa kantuk hebat dikalahkan oleh rasa penasaran yang kian mendorong agar dirinya terjaga.
" Sayang, " lirih suara Gamal memancing Alma agar bangun.
" Alma, ini mimpi, " gumamnya masih terpejam.
" Sayang, buka matamu ... ini aku, suami tampanmu. " Suaranya parau menahan sesak, dia bisa merasakan bahwa Alma memang telah menaruh hati padanya.
Perlahan, kepala yang bersandar pada dada bidang lelaki kekar itu bergeser, tangannya membalas genggaman, matanya berangsur terbuka menengadahkan kepala ke arah wajah suami yang ternyata tengah menatap lekat dengan netra yang berkabut, siap mengalirkan bulir bening netranya.
" Mas ... Mas Ga-mal, " Alma terlonjak kaget, beringsut bangkit dari posisinya.
" Aku kembali untukmu sayang, " seraknya tak kuasa menahan bahagia membuncah.
__ADS_1
" Maaassss, " sergap Alma menubrukkan badannya lagi ke badan Gamal.
Keduanya terisak dengan saling memeluk. Gamal mengusap punggung wanitanya yang terasa semakin ringkih. Menciumi tengkuk istrinya yang membenamkan wajah pada sisi kiri pipinya.
" Jangan tinggalkan aku lagi, " bisiknya pilu ditelinga kiri Gamal.
Almahyra menghujani wajah suaminya dengan ciuman disetiap bagian yang ia susuri, mengabsennya dengan penuh cinta.
" Love you Gamaliel Arbi, suamiku ... love you."
C-up. Alma memagut bibir suaminya pelan, mencecapi lembut salah satu bagiannya. Hingga sang suami yang terkejut akan reaksi istrinya itu membalas dengan lu-matan tak kalah intens.
" Mas, sudah ... ini ciuman pertamaku, " Nafasnya tersenggal.
" Kamu mulai bangunin yang dibawah sana sayang, gimana ini, " kekehnya pula.
" Ish, sehat dulu ... ya! aku ga akan kemana-mana, aku milikmu bukan? "
" Iya sayang, milikku. " Tatapnya penuh cinta.
" Gamal, Alma, " serunya sembari kaki ramping dibalik gamis hitam itu menjulur kebawah mencari sepasang sandal miliknya.
Setelah jemari kakinya menemukan alas untuk berjalan, ia bangkit tergopoh akibat nyawa yang belum seutuhnya menyatu dalam raga.
" Ga-mal, Alma, " pekiknya haru.
" Hai moms, aku pulang. "
" Anakku sayang, Gamaliel. " Alma menyingkir memberikan ruang bagi Mama yang ingin memeluk putra semata wayangnya.
" Alhamdulillah, " isaknya tak kalah haru.
Menjelang subuh, ketiganya menunaikan sholat tahajjud sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang tiada kira Allah anugerahkan bagi mereka.
***
__ADS_1
Jakarta.
Dewiq menerima laporan dari Papanya bahwa Aeyza baru saja selesai melewati rangkaian test pasca operasi thorax.
" Aku terbang esok pagi Pa, " balasnya saat sang ayah melakukan panggilan.
" 30% Kak, harapannya, " Papa menahan isak.
" Ga mungkin, Aeyza kuat Pa. "
" Hanya kehendak Tuhan, organ vital adikmu mulai melambat respon Kak, Papa hanya manusia, kami segenap hati menopang hidupnya hanya dengan peralatan medis. "
" Mama bagaimana? "
" Berhasil meski akan ada operasi tahap kedua setelah observasi, semoga tidak ada trauma. "
" Tidak adakah cara lain Pa? "
" Kemarilah, kita diskusi apa yang baiknya dilakukan untuk adikmu. "
" Baik, " ujarnya menutup percakapan dengan sang ayah.
Aeyza, jika memang kau ingin kembali. Jangan siksa ragamu, pergilah. Kakak akan mencoba ikhlas meski berat.
Gadis dipaksa dewasa itu bangkit dari duduknya, melangkahkan tungkai panjang bertelanjang tanpa alas kaki menuju balkon ditengah malam buta. Rasa dingin menusuk sumsum tulang tak meredam gejolak panas sebab rasa sakit kemungkinan akan kehilangan adik tersayangnya.
Teringat sesuatu, dia kembali masuk kedalam kamar meraih ponselnya. Jemari lentik Dewiq mengetik sebuah pesan pada Joanna.
" Jo, jaga Aiswa untukku. Laporkan detail perkembangannya. "
" Baik Nona, " balas sang Aspri kepercayaan adiknya itu.
.
.
__ADS_1
...________________________...