
PoV Aiswa.
Namaku Aiswa Fajri, masih duduk di bangku 12 MA dan tengah menunggu ujian akhir tahun.
Putri Kyai Hariri salim, pemilik Tazkiya yang terkenal akan kedisiplinan, prestasi, prestige, sebagai lambang kualitas santri didiknya.
Aiswa Fajri yang dikenal pendiam, penyendiri dan irit bicara. Nyatanya tidaklah demikian. Aku menyukai kegiatan sosial, alam dan bertemu banyak orang. Itulah sebabnya aku kerap mengajukan diri untuk mewakili sekolahku bila ada perlombaan tentang public speaking.
Aku bukanlah Aku, bila diluar lingkunganku. Dan semuanya akan kembali menjadi Aiswa yang taat ketika telah berada di rumah kembali.
Jangankan untuk bersosialisasi, bahkan untuk bernafas pun rasanya Abuya mengatur jatahku menghirup oksigen, termasuk teman yang penuh dengan kepura-puraan.
Melihat umma yang kerap mendapatkan luapan emosi kekesalan Abuya setiap aku berulah, akhirnya menjadikan aku seperti saat ini. Aiswa yang 'terpaksa' kidal, penyendiri, irit bicara, dan menjaga pandangan. Memaksa diri dan kepala ini harus tetap merunduk sebab kilau dan beratnya 'mahkota' di kepalaku serta 'jubah emas' yang aku pakai.
Aku berjanji, tak akan lagi membuat umma tersiksa karena aku.
Karena memutuskan untuk hidup dalam kepura-puraan, aku kerap kesulitan mendapatkan bantuan untuk mengejar ketinggalan pelajaran. Terlebih setelah aku jatuh sakit dan harus di opname beberapa minggu karena stress akibat sering melewatkan waktu makan, tak ada yang datang membantuku.
Iya, Abuya menuntut kami, aku dan kakakku harus cemerlang baik akademik maupun akhlak. Aku lelah, rasanya ingin mati saja.
Hingga beberapa jam sebelum ujian hafalan itu datang, stress kembali mendera ku.
Aku sudah putus asa saat ratusan barisan nadzom belum juga masuk kedalam otakku, bibirku rasanya kelu mengucapkan bait demi baitnya.
Aku duduk di tanah menekuk kaki dan membenamkan kepalaku diantara lutut, lalu menangis sangat lama dibalik pohon nangka di belakang rumah. Di sinilah tempatku, untuk meluapkan segalanya.
" Aku boleh duduk disini? "
" Aku ga sengaja dengar kamu nangis, Ahmad mengizinkan aku menghampiri mu. Tidak baik melempar buku, ini ilmu.
" Pergi...! " aku mengusir suara lembut pria yang menghampiri.
" Kalau menghafal banyak dalam satu waktu, lambat akan masuk ke otak bila hatimu resah. Kamu bisa mencoba ini, 5 menit untuk 10 nadzom, diulang 10-20 kali hingga betul-betul hafal, baru naik ke bait selanjutnya. Cara ini sekaligus bisa mengingatkan kamu tata letak urutannya bila kamu lupa. "
" Seperti ini contohnya...."
" Kamu mau coba? hmm, ini cara ku ketika aku menghafal kalam Allah. "
Dia yang tak aku gubris kehadirannya, tetap sabar menunjukkan berbagai macam tehnik menghafal yang sesuai untukku. Ia begitu telaten menghadapi ku yang sedari tadi hanya diam. Perlahan ku angkat kepala dan melihatnya. Pria yang tampan dan lembut.
" Aiswa kan? sini, duduk di kursi. Jangan nangis lagi, aku bantu menghafal mau? hmmm, aku Amir, sahabat Ahmad saat Tsanawiyah. "
Oh, namanya Amir.
Akhirnya aku menghabiskan sore hingga menjelang maghrib dengannya di halaman belakang, ditemani Umma dari kejauhan hingga 100 nadzom berhasil aku hafalkan dengan lancar berkat bantuannya.
" Syukron Ka Amir, Aiswa akan ingat dan terapkan mulai kini, " aku sangat bahagia hingga tanpa sadar tersenyum.
" Nah gitu donk senyum, kan cantik jadinya. Aku pulang yaa, goodluck Aiswa. "
Senyumku, untuk pertama kali ditujukan untuknya, lelaki yang bukan mahram bagiku. Aku terkesan dan mencari tahu tentang nya, perlahan mengizinkan dia masuk dan menetap direlung hatiku.
Mungkin benar adanya, ungkapan kalimat iklan televisi, pandangan pertama begitu menggoda. Amirzain Zaidi, kamu pemilik hatiku sejak pertemuan pertama kita.
Dan puncak atas segala diamku selama ini, aku dijodohkan dengan sahabat kakak ku, aku telah melayangkan protes namun seperti biasa, menguap begitu saja.
__ADS_1
Misi kaburku berhasil atas bantuan Umma dan teman rahasia ku, menemui belahan jiwaku di suatu kota.
Aku sangat bahagia dia menerima ku meski aku tahu hanya sementara. Aku yang terobsesi padanya langsung mengutarakan perasaanku dan tanpa sengaja menunjukkan sifat asliku yang suka bercerita meski kami baru saja berjumpa lagi, semua ini terjadi karena aku tidak ingin menyesal terlebih ada gadis itu. Gadis yang tak aku sukai, meski aku dititipkan padanya selama di kota ini.
***
Malam hari, Hotel Sriwedari.
" Nona, bila anda punya rencana, sampaikan padaku agar aku bisa bersiap, " pinta Ulfa.
" Ka Amir tadi bilang, aku akan pindah ke pondokan Putri, tujuannya agar aku tidak ketinggalan pelajaran sekolah. "
" Aman? "
" Sepertinya, karena Ka Amir yang meminta pada sahabatnya, meski aku ga suka dia, " sungutnya lagi.
" Baik, aku akan siapkan kebutuhan Anda. Istirahatlah Nona. "
Ulfa izin keluar kamar hotel untuk menyiapkan segala kebutuhan Aiswa esok hari, meski ia pun belum mendapatkan kepastian kapan gadis yang diamanahkan padanya akan berpindah.
Merasa belum mengantuk, Aiswa meraih ponsel yang sedari maghrib tadi ia tinggalkan di meja untuk di charge.
Ketika membukanya, ia kecewa, tidak ada pesan untuknya di sana. Hingga ia menyadari sesuatu.
" Astaghfirullah, aku kan ganti nomer yaa, bodoh Aiswa, " tepuk jidatnya.
" Assalamu'alaikum ka ... maaf Aish lupa, ini nomer Aish yang baru. " Aiswa mengirimkan pesan pada Amir.
Tak berapa lama, ponselnya berdering.
" Wa'alaikumussalam, iya. "
" Syukurlah, aku kirim pesan dan telpon ke nomer lama tidak aktif, aku khawatir. "
" Lupa tadi mau bilang ... oiya, Aish terlalu banyak bicara tadi, maaf yaa brisik. "
" Aku baru tau kalau Aiswa ternyata sangat kaya akan kosakata, " kekehnya terdengar renyah di ujung sana.
" Ish, bilang aja bawel. Aku terpaksa karena... "
" Bawelnya baru tadi doank, aku tahu ... karena Alma? dia hanya teman. Istirahat yaa, aku menitipkanmu pada Alma agar kakakku tidak curiga. Jaga diri disana, aku ga bisa sering menemui mu nanti. "
" Ya khayr, Aish paham ka, jazakallah kheir ga ngusir Aish, "
" Wa iyyaki, bilang sama aku kalau ada yang mengganggu mu atau butuh sesuatu, ok? "
" Syukron ka, Laila sa'iidah "
" Sa'idatun mubaarokah. " Amir mengakhiri panggilan singkatnya dan merasa lega bahwa Aiswa baik saja.
Ting. Notifikasi pesan masuk.
" Den Mas, sahabat anda menyewa seseorang untuk mencarinya. Aku sudah siapkan satu agent wanita yang seumuran dan berada disekitarnya. "
" Terimakasih banyak Bang Rey, aku sudah merepotkan. "
__ADS_1
" Baiknya anda cerita pada Bos juga, aku ketahuan saat berbicara dengan anda siang tadi. "
" Besok aku akan telpon Mas Panji, sekarang mungkin beliau sedang istirahat. "
" Copied. Goodluck Den Mas, kali ini sepertinya kita berdua sedang berjuang yaa. "
Amir hanya membalas dengan emoticon atas tanggapan Rey. Ia masih enggan membuka diri tentang Aiswa pada orang lain.
***
Waktu yang sama di Orchid Tower, Cibubur.
Mahen mencari waktu yang tepat untuk membicarakan tentang Amir pada Naya. Sepertinya malam ini mood Naya sedang dalam kondisi baik mengingat tugas kuliahnya sedang longgar. (kisah lengkap mereka di karya dia pilihan untukku).
" Honey, aku bisa minta waktumu sebentar?, " saat Mahen masuk kekamar, ia melihat Naya masih sibuk didepan laptopnya.
" Sure baby, give me a kiss, aku penat banget nieh, " pintanya manja seraya membuka kedua tangannya lebar berharap Mahen menyambut keinginannya.
Ki*ss.
" Sudah, jangan pancing aku nanti kamu kelelahan, besok kita harus berangkat pagi. " Mahen menghentikan ulah istrinya itu yang sengaja memancing untuk menggodanya.
" Ka Amir, Aiswa, kamu tahu sesuatu sayang? "
" Tidak, Abang lebih tahu bukan? sampaikan saja, aku mendengarkan. " Gelayutnya manja di lengan Mahen.
" Aiswa di khitbah oleh Hasbi namun ia tidak bersedia melanjutkan. Dia kabur dan menemui ka Amir di Semarang. Tadi siang, ka Amir meminta bantuan padaku agar orang sewaan Hasbi tak dapat menemukan Aiswa sementara ini sebab ka Amir ingin membujuk Aiswa pulang tanpa paksaan. "
Degh. Innalillahi, astaghfirullah ... salahku.
" Sayang, " Mahen terheran, Naya diam tak bereaksi. Istrinya memang unik tak bisa ditebak.
" Abang, Abah dan ka Abyan tahu? bisa marah besar nanti kalau tahu, " tatapnya pada Mahen, khawatir.
" Belum, biar ka Amir yang cerita soal itu. "
" Abang ga melarang? Aiswa milik orang lain, A Hasbi, sahabatnya juga. " Naya cemas.
" Honey, justru aku ingin ka Amir menemui kita. Kita bujuk perlahan, dia akan mendengarkanmu sayang, karena kalian dekat. Dan, aku ga suka kamu menyebut dia dengan 'A Hasbi' ... kamu milikku. " Tatapnya tajam pada manik mata Naya namun justru menjadi bumerang baginya.
Ki*ss. Satu pa-gutan lembut kembali Naya daratkan dibibiir suaminya.
" Masih aja jealous, aku milik Abang seutuhnya, " kerling mata nakal Naya.
" Jangan salahkan aku kalau kamu kelelahan malam ini.... " Mahen mengangkat tubuh istrinya menuju peraduan mereka. Menyatukan panas tubuh dalam gelora gelombang kenikmatan mereguk manisnya surga dunia berdua.
Ya Allah, salahku. Ini salahku. Hatinya risau meski tubuhnya tengah merasakan sensasi yang kian memuncak akibat gempuran sentuhan sen-sual dari suaminya.
.
.
...____________________________...
...Biar ku lukis malam.. Bawa kamu bintang-bintang.....
__ADS_1
...Tuk temanimu yang terluka.. Hingga kau bahagia.....