
Aiswa berlari melewati Joanna diruang tamu langsung menuju toilet kamarnya.
Huek.
Dia memuntahkan jus yang baru saja ia minum. Lalu berkumur saat Amir menyusulnya.
"Kenapa? mual?" tanya Amir melihat Aiswa masih di wastafel.
Amir meraih obat gosok lalu menuangkan pada telapak tangan kirinya. Menyibak gamis Aiswa lalu mengoleskan pada perut rata sang istri.
"Gimana ga mual Bii, aku liat ulet di jus ku dan terlanjur ketelan. Juga hah, lupakan deh, ga mood melanjutkan," jawab Aiswa sambil mengelap mulutnya yang basah dengan tissue.
"Dari buahnya kali ya. Ya sudah, jangan diminum lagi kalau gitu. Ganti beli yang baru saja, aku yang belikan," ujarnya masih mengusap tengkuk Aiswa.
"Ikut Bii, boleh ga?"
"Boleh, pake masker ya karena panas dan banyak debu," balas Amir seraya menarik Aiswa ke sisi ranjang.
"Kenapa ga pake ini aja Bii?" Aiswa meraih niqab yang sengaja dia bawa dari Tazkiya.
"Kamu mau pake itu?"
"Kalau Qolbi minta, ya aku pake," jawabnya lugas.
"Alasannya?" Amir menatap intens manik mata Aiswa.
"Al Ahzab ayat 59, Bii ... hendaklah menjulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, petikan artinya itu," balas Aiswa lembut.
"Tahu asbabun nuzulnya sayang?"
"Lupa, apa Bii?"
"Bismillah, dari Sayyidah A'isyah, setelah turunnya perintah hijab. Saat Saudah keluar untuk suatu keperluan, ia ditegur oleh ummar bin khattab untuk memperhatikan pakaian yang dia kenakan karena sesungguhnya dia mudah dikenali, karena Saudah berbadan gemuk. Dia mengadu pada Rosulullah yang kala itu tengah makan di kediaman Sayyidah A'isyah hingga turunlah ayat ini," Amir menjelaskan hati-hati.
"Juga ada satu pendapat lain berkaitan dengan ini ... ketika para istri Rosulullah keluar pada malam hari, orang munafik mengganggu mereka hingga merasa ternoda dan tersakiti. Ketika Rosulullah menegur orang-orang munafik tadi, mereka berkilah hanya melakukan hal itu terhadap budak wanita ... lalu Allah menurunkan ayat tadi," sambungnya lagi.
"Jadi Bii?"
"Jilbab yang dimaksud adalah, pakaian longgar agar menutup lekukan tubuh sayang. Apakah Buya pernah memintamu memakai ini?" Amir mengangkat niqab Aiswa.
"Enggak Bii, bahkan Umma pun," jawab Aiswa semakin penasaran.
"Mayoritas fuqaha (ke empat madzhab) mengatakan bahwa wajah itu bukan termasuk aurat. Ada yang menyatakan memakai niqab adalah wajib, makruh dan mubah, tergantung situasinya apabila dikhwatirkan terjadi fitnah," imbuh Amir menjelaskan perlahan takut Aiswa salah paham.
"Sekarang aku tanya, kamu pakai ini niatnya dari hati atau karena aku?"
"Kalau Qolbi minta, aku pakai," cicit Aiswa mulai takut.
"Jangan melakukan suatu kebaikan karena orang lain, Sayang ... jika ingin memakai, pakailah karena niatmu untuk Allah, bukan aku. Karena aku ga ingin membebanimu atas sesuatu yang tidak engkau kehendaki, akan menjadi wajib hukumnya bila aku yang memintamu, sayang," Amir membelai wajah Aiswa, mengangkatnya agar tegak kembali.
"Aku menjagamu Aiswa, kemanapun kau pergi aku menemani. Aku percaya istriku bisa menjaga pandangan. Pakai atau tidak, jika memang pandangan pria sudah salah, tetap akan menjadi salah ... aku ingin kamu membaur, tanpa menarik perhatian. Disini, niqab masih asing, semua tingkah laku mu akan menjadi contoh dan tidak boleh salah karena pakaianmu adalah segalanya...."
"Memakai niqab jelas membawa maslahat bagiku, namun membuka pintu prasangka lain yang tak bisa aku kendalikan ... Sayang, aku gak ingin, ketika ini sudah menempel di wajahmu, kau menjadi tertekan karena bukan dari hati ... aku menangguhkan ini, dan semua penjelasan tadi adalah versiku, bukan patokan muslim lainnya," Amir mulai berkata lirih.
"Karena aku suamimu, lebih berhak mengatur segala apa yang membuat istriku nyaman bukan untuk hal ibadah saja namun muamalah dengan sesama ... maaf ya Rohi, aku ga izinkan," Amir menggenggam erat jemari Aiswa, menundukkan wajahnya. Ia belum siap jika istrinya memakai sesuatu yang memicu konflik internal yang tak sengaja tercipta nanti dikemudian hari.
"Bii, maaf ... Bii, jangan merasa bersalah," Aiswa terisak telah membuat suaminya merasa sulit mengambil keputusan kali ini.
"Bii," tangisnya pecah kala melihat Amir hanya diam.
"Sayang, maafkan aku ya. Sini, aku minta maaf," lirih Amir menarik Aiswa dalam pelukannya.
"Aku berdosa telah membuat suamiku susah, maaf Bii, maafin aku," Aiswa masih menangis dalam pelukannya. Sementara Amir hanya mengusap kepala istrinya lembut berulang kali.
"Sudah, kamu tidak salah sayang. Hanya aku yang masih belum siap, maaf yaa sudah menghambat niat ibadahmu untukku," bisiknya lembut.
__ADS_1
"Jadi beli jus lagi? aku antar, yuk," Amir mengurai pelukannya, menghapus jejak bulir yang membasahi wajah Aiswa.
"Udah ga mood, mau peluk Qolbi aja," rengeknya mulai manja.
"Habis dzuhur nanti tidur siang, sekarang aku masih banyak kerjaan sayang ... temani aku dulu sebentar lagi ya, mau gak?"
"He em, mau."
Keduanya lalu kembali keluar kamar. Amir melanjutkan pekerjaan dengan Aiswa yang menempel ketat padanya, menyandarkan kepala dilengan kiri suaminya itu. Bahkan tak sengaja terpejam karena dia sangat merasa nyaman.
"Jo, tolong kemari sebentar," Amir memanggil Joanna.
"Ya Den Mas," sahut Joanna.
"Tolong bereskan yang dimeja, buahnya belum aku sentuh, baru akan dibuka. Makanlah atau bagi ke gudang saja. Jus Aeyza tolong dibuang ya, ada ulatnya jadi urung dilanjutkan," pinta Amir pada Joanna.
"Nona tidur Den ... ini tabnya, aku bawa masuk atau gimana?"
"Iya bawa sekalian dompetku, tolong ya Jo ... biarkan pulas dulu, nanti aku yang akan memindahkannya."
Amir membelai wajah ayu yang mulai pulas, ia membuka lengan kirinya agar Aiswa bisa berbaring.
"Manjanya mulai keliatan ya Rohi," belainya pada wajah ayu.
...***...
Jakarta.
Ahmad beberapa hari ini sangat sibuk, ketiban rezeki pendaftaran Mitra outlet AH Chickennya naik dua kali lipat dari bulan lalu. Juga program short trip yang dia garap berhasil menyita perhatian beberapa perusahaan hingga melakukan kerjasama dengan Tazkiya Tour.
Dia merasa perlu membaginya pada Dewiq, sang pujaan hati.
Grup chat Satpam Halal.
Hening.
Sunyi senyap.
"Sha, bobok sore ya?"
"Gak ada orang, puter balik lah, males ngetem disini."
"Kenapa Mas."
Hening.
Sepi.
Beberapa menit berlalu.
"Wa'alaikumussalam Bear, aku baru pulang, cape banget."
"Makan belum sayang? mandi, minum infuse water jika suka," balasnya.
"Mulai ya, Mas."
"Iya aku bawa infuse water, ikutin kamu Bear. Bentar honey, aku rehat ambil nafas dulu."
"Kak, jangan ikutan."
"Kasihan banget cintaku, gak ada yang mijitin, coba aku disana ya Sha," balasnya sengaja mengabaikan Mama.
"KALIAN, MAMA MARAH NIH."
"Eh, ada Mama, kapan datang Ma. Ko aku gak tahu."
__ADS_1
"Bear 😂😂😂."
"Jangan pura-pura kamu, Mas! sengaja ya, bagus!" Mama ngomel.
"Sebentar, aku manjat dulu ... oh, tak nampak ada Mama, gak jawab salam sih. Maaf ya Ma, anggap bonus deh yang tadi ... mau kuhapus eh ga bisa, takdir berarti ya Sayang, 😅."
"Iya Honey."
"Kak! duh ampun. Makin lama Mama gak ada gunanya disini."
"Jangan ngambek sama kita Ma, rugi loh, karena orang ngambek biasanya ga mood ngomong. Aku dan Marsha nanti makin, makin...."
"Bear 😅"
"Mama laporin Umma ya, kamu Mas, bandel nya mulai konsisten."
"Anak cerdas wajar kalau bandel Ma, inovatif namanya, ga bosenin. Biar Marsha juga happy sama aku."
"AHMAD HARIRI." Mama beneran tegas kali ini.
"Siap grak, jadi mantu. Kapan Ma?"
"Bear 😂"
"Tunggu aja, Mama lapor Umma."
"Itu yang aku mau malah, 😁."
"Lekas bilang ada apa?"
"Sha, makasih ya. Mungkin ini atas doa kamu juga, aku dalam sebulan ini sudah bisa bayar pinjaman ke Amir 10% juga kerjasama dengan beberapa perusahaan goal. Makasih banyak."
"Alhamdulillah, semangat terus ya Bear. Kamu pasti bisa, as always, My Bear."
Hening.
"Bear, masih disana?"
"Mas, ga sopan ya kamu."
"Ciye, Mama nyariin aku, kangen kan."
"Aku mau tanya sesuatu, Sha tapi ga enak ada Mama, gimana ya Sha?"
"Tanya apa Bear?"
"Ma, boleh minta foto Mama lagi merem ga? biar jangan lihat aku mau nulis apa."
"😂 ada-ada aja kamu ya Bear."
"Ganjen, tulis aja Mas."
"Hmm, anu Sha...."
.
.
...________________________...
...Visual Aiswa ya guys 🤭
...
__ADS_1