
Hasbi susah payah bangkit dari posisinya berbaring. Ia sungguh penasaran dengan suara yang terdengar akrab di telinga namun ragu untuk menebaknya.
" Jangan halangi saya Mba, mana Hasbi? " teriaknya lagi.
" Den Hasbi sedang sakit, dia baru pulang dari rumah sakit, duduklah dulu, saya coba panggilkan nanti. "
" Baik, aku tunggu. "
Setelah memastikan pria itu duduk di ruang tamu, ART itu kembali melangkah masuk menuju kamar majikannya.
Tok. Tok.
" Den, maaf ada temannya ingin bertemu, " bibi menunduk takut menyampaikan berita.
" Aku temui, " sahutnya dari dalam seraya mencoba berdiri. Hasbi melangkahkan kakinya perlahan keluar dari kamar menuju ruang tamu.
" Ahmad, ngapain kesini? " tanyanya heran saat baru saja ia mencapai pintu ruangan.
" Kamu pembohong, Hasbi. " Sergah Ahmad bangkit dan mencengkeram kuat kerah kemeja Hasbi tanda ia tengah sangat marah.
" Apa salahku? " elak Hasbi lagi.
" Kau janji padaku tak akan membongkar alasanku membantumu, tak akan menyeret namaku terlebih di depan Abuya!! "
" Cih, mau mu! lalu kau ingin hanya aku yang menanggung semua kesalahan, begitu?! bukankah dulu kamu yang meminta dan bersedia dengan syarat apa saja yang aku ajukan? jangan picik, Ahmad!! " lantangnya tak kalah emosi.
" Lepaskan! " tampik Hasbi pada cekalan jemari Ahmad pada bajunya.
" Kau!! aku menyesal membantumu. "
" Kembalikan semuanya bila kau mampu, dimana kamu saat aku butuh bantuanmu? pergilah, semua sudah terjadi dan tak akan ada yang berubah, aku akan tetap menjadi adik iparmu, suka atau tidak. "
" Kau ... aarrgh. " geramnya sembari keluar apartemen Hasbi dengan membanting pintunya kencang.
Aiswa maafkan kakak, karena obsesiku mendapatkan pengakuan dari Abuya, aku bahkan rela menukar kebahagianmu, kebahagiaan sahabat baikku.
Ahmad memukul stir mobilnya keras, ia merasa du*ngu. Masa depan adik satu-satunya, cinta tulus sahabat baiknya tergadai di tangan Hasbi akibat keserakahan dan gila pengakuan.
" Aaaaarrggghhhhh ... Aiswaaaaaaaa, maaf. " Tunduknya menangis di dalam mobil hingga membuat bahu tegapnya terguncang hebat.
***
Orchid Tower.
Dua hari berlalu sudah, Amir telah kembali ke kediaman Naya. Kondisinya semakin baik, terkadang ia masih merasa mual dan sakit di daerah sekitar perutnya akibat pukulan Hasbi.
" Ka, makan yaa. Aish suapin mau? " tanyanya lembut saat Amir berbincang dengan Naya di ruang keluarga.
__ADS_1
" Jangan, aku bisa ko. Hmm, Aish jangan membuat banyak kenangan manis, nanti kalau aku ga kuat gimana? aku ga setegar kamu, Rohi. "
" Ini kesempatan buatku Qalbi, menumpuk banyak kenangan agar ketika aku tak sanggup bertahan, aku bisa tetap mendapatkan asupan oksigen dari setiap moment manis bersamamu. Waktuku tak banyak lagi, jika Mas Panji pulang kita akan segera berpisah bukan? " Aiswa memaksa tersenyum manis meski hatinya getir.
" Iya. " Amir terdiam sesaat, berusaha menelan saliva yang terasa berat.
" Aku ikhlas melepasmu ... karena pada perjalanan ini kamu hanyalah nama yang aku sebutkan dalam do'a namun gagal untuk aku ikrarkan. Jangan menangis yaa Aiswa, agar aku ringan melangkah. "
" Qalbi, selamat tinggal hanya untuk mereka yang mencintai dengan mata. Karena bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa tidak ada yang namanya perpisahan, sudah aku katakan bukan? bahwa aku hanya mencintaimu sampai akhir hayatku. " Aiswa menarik nafas dalam, ia hanya punya kesempatan beberapa menit lagi memandang wajah tampan dihadapannya.
" Makan yuk Ka, makan terakhir sama-sama. " Aiswa bangkit menuju meja makan mengambil lauk pauk untuk mereka makan.
Cairan bening yang sedari tadi menggantung menunggu di alirkan, akhirnya luruh kala tangannya meraih piring yang beberapa hari ini ia gunakan untuk makan bersama Amir. Bahunya bergetar tanda menahan isakan tangis teramat dalam.
Selepas Aiswa pergi, Amir beranjak dari duduknya, memilih menuju balkon mengharap kelegaan. Dia mengalihkan pandangannya pada semburat senja di ujung barat yang perlahan datang di antara deretan gumpalan mega.
Ia pun mengambil nafas dalam, melonggarkan sesak yang kian menghujam dada. Sebak ini, tak lagi membuatnya mengalirkan air mata. Entah bila nanti.
Naya menyingkir ke ruang tamu bersama Mega. Sesampainya disana, Naya kembali terisak di pelukan Mega. " Ga, aku ga sanggup liat mereka. " tangisnya pilu.
Hingga Mahen tiba pun, Naya tak menyadarinya. Mahen yang kerap melihatnya seperti itu pun ikut merasakan sesak yang sama.
" Baby. " panggilnya lirih menyentuh baju Naya dalam pelukan Candi.
" Aku izin turun dulu Nona, Bos, butuh udara segar. Aku baru sebentar mengenal mereka tapi bagai aku yang sedang mengalaminya. " Seka Mega pada sudut mata yang mulai menggenang sembari mengurai pelukan Naya.
" Ikhlas sayang, ba'da maghrib kita antar Aiswa pulang. " Kecup nya pada pucuk kepala istrinya yang tertutup hijab.
Beberapa saat sebelum pulang kantor tadi, Mahen telah mengabarkan pada Kyai Hariri bahwa ia akan mengantarkan Aiswa pulang ba'da Maghrib nanti.
Mahen menghampiri ka Amir yang masih berada di balkon, mengatakan bahwa ia harus siap hati apabila malam ini juga Aiswa akan di nikahkan langsung karena kabar yang ia dapatkan, keluarga Hasbi telah berada di Tazkiya sejak pagi tadi dan telah melakukan lamaran resmi.
" Ka, Aiswa akan di nikahkan entah ba'da isya atau esok pagi. "
" Iya Mas. "
" Allah Maha Tahu atas segala perkataan yang tak terucap, kesedihan yang tak seorang pun melihatnya, dan penderitaan yang tak seorang pun tahu, Bismillah Ka. "
" Seperti yang ka Abyan bilang, aku menitipkan cinta dan sayangku pada Allah, agar Dia yang Maha Rahiim menjaganya dan kelak menganugrahkan kembali dengan pilihan dariNya. Aku dan Aiswa sepakat bahwa kami meminta di hadirkan bersama di waktu yang terbaik dan bersatu atas undanganNya. " Amir memaksakan dirinya ikhlas, tersenyum walau hati tersayat ratusan sembilu.
Maghrib petang itu, suara Amir yang menjadi imam sholat bagi mereka mengalun lembut dan syahdu, meski sesekali tersendat. Sebisa mungkin dirinya menahan agar suara parau itu tak berubah menjadi sebuah isakan kecil.
Setelah salam, lama Amir memanjatkan doa tak bergeming dari tempatnya. Di temani Aiswa di belakangnya ketika yang lain sudah berkemas sajadah.
" Aku mengamini setiap doa yang keluar dari mulutmu, Qalbi. " Lirih Aiswa.
Keduanya larut dalam doa panjang yang hanya Rabbnya ketahui. Hingga tak lama kemudian Amir memintanya untuk bersiap.
__ADS_1
Naya dan yang lainnya telah siap di ruang tamu menunggu Aiswa. Pandangan semua yang ada dalam ruangan tertegun ketika gadis itu keluar kamar dengan menyeret kopernya.
" Hijabku sama dengan Ka Naya? " senyumnya terbit sembari melirik pria tampan yang juga melihatnya takjub sebelum pandangannya kembali menunduk.
" Eh, kita kembaran yaa Aish. Ini kado ulang tahun ku dari Ka Amir. " Naya tersenyum bahagia hingga hatinya kembali tercubit mengetahui bahwa kakaknya memang telah lama mendamba gadis itu.
" Pria misterius pemberi hijab ungu ini, sudah aku temukan, namun sayang dia jodoh orang lain. " Candanya mengundang sebaris senyum dari kekasihnya dan semua yang mendengar kalimat miris itu. (bab 10)
Naya menggandeng Aiswa keluar unit mereka menuju basement dan bertolak ke Tazkiya.
Tiga puluh menit kemudian.
Kediaman Hariri salim malam itu sedikit ramai karena kehadiran Ayah Hasbi dan keluarganya ketika rombongan Mahen memasuki ruang tamu rumah itu.
" Assalamu'alaikum. "
" Wa'alaikumussalam, silakan duduk. " Sahut Yai saat Mahen dan Amir mengucap salam. Umma yang melihat putrinya menjejakkan kakinya kembali ke rumah langsung menghambur memeluk erat sembari terisak.
Hariri salim menatap Amir trenyuh sekaligus merasa bersalah.
" Yai, maafkan aku. " Amir mencoba meraih tangan gurunya untuk meminta maaf namun Hariri salim justru bangkit memeluknya erat sembari membisikkan kata.
" Maafkan ana, maaf. Ana hutang budi padamu, Nak. " Peluknya sembari terisak lirih.
" Yai, tidak salah. " Urai Amir pada pelukan mereka.
Agar tidak berlarut dalam suasana yang tidak menguntungkan kakaknya. Mahen kembali membuka percakapan.
" Aku sekali lagi mewakili keluarga ku meminta maaf pada keluarga Yai dan Kyai Maksum atas peristiwa ini. Kami kembalikan Aiswa utuh, tanpa menyentuhnya. "
" Terimakasih telah menjaga Aiswa, Nak Amir. " Sambung Umma.
Amir hanya tersenyum sembari tetap menundukkan pandangannya karena ia tahu, Aiswa tengah menatapnya lekat.
Hasbi yang tak terima sesungguhnya ingin melayangkan sebuah protes namun cekalan tangan Buya nya menahannya sedari tadi.
" Yai, aku meminta akad nikah di langsungkan segera. " Hasbi menimpali namun sempat di cegah ayahnya.
" Kami pamit undur diri, Yai. " Mahen bangkit karena ini sudah bukan ranah mereka, namun sebuah suara menahan kaki kembali melangkah.
.
.
...___________________________...
...Langit begitu gelap ... Hujan tak juga reda...
__ADS_1
...Ku harus menyaksikan cintaku, terenggut tak terselamatkan. ...