DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 139. UJI COBA


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, pasangan pengantin baru ini pun turun bergabung dengan keluarga besar mereka dihalaman belakang.


Mereka berdua telah berganti baju lebih santai. Nampak para sesepuh berada dalam satu deret meja dengan tamu Hermana Arya.


Dimeja sebelah kiri ada keluarga Abyan dan Naya, dengan para mertua wanita juga Dewiq.


Meja utama diisi Gamal Alma serta pasangan pengantin. Gamal beberapa kali meng-upload hasil jepretannya ke akun medsos miliknya.


Tujuannya satu, agar Hasbi melihat kebahagiaan Amir dan Aiswa dengan bubuhan caption "Jodoh takkan kemana ... segimana kuat dicegah, nyatanya takdir selalu menyatukan mereka."


Rasakan Lu, giliran elu gigit jari.


Aiswa menyuguhkan lemon hangat untuk suaminya sebelum ia makan.


"Bii, minum ini dulu, lalu mau buah atau langsung makan?"


"Buah dulu sayang."


Aiswa mengambil pinggan kecil untuk diisi buah kesukaan suaminya. Dia pun mengambil brokoli rebus, kentang juga bistik, tak lupa asparagus soup kesukaannya. Maid yang membantu membawanya ke meja.


"Persis Naya, semua sayur tanpa nasi, ga usah diet Rohi, kamu ga akan pernah bisa gemuk," ucapnya mengelus pipi Aiswa.


"Ga diet, sejak pulih memang menjauhi nasi, sesekali masih makan nasi ko Bii," raihnya pada tangan Amir lalu mengecup telapak bagian dalamnya mesra.


"Iya, sama kayak Alma, makan banyak ga gemuk-gemuk ... palingan perut doank, itu juga ada masanya," seloroh Gamal.


"Itu karena kamu, dodol." Mereka berdua tertawa dihadiahi cubitan dari Alma di paha Gamal.


Suasana keakraban berlangsung hingga menjelang dini hari. Sebagian keluarga sudah sejak jam sebelas malam pamit kembali ke hotel, tersisa Abah, uyut dan pasangan Hariri salim yang akan menginap di kediaman Hermana. Kedua orang tua Aruni langsung pamit pulang malam tadi.


Setelah semua penghuni masuk ke kamar masing-masing, Amir pun menaiki tangga menuju kamarnya dilantai dua. Aiswa sudah masuk kamar sejak Naya pamit ke hotel.


"Sayang," panggilnya pada Aiswa saat dia membuka pintu kamar.


Amir mendekat ke sisi ranjang, mengusap punggung wanita yang baru beberapa jam sah menjadi miliknya itu.


"Sudah tidur?" Aiswa bergeming, rupanya memang sudah lelap. Dia pun melanjutkan ke walk in closet kamarnya, mengganti pakaiannya dengan celana boxer juga kaos oblong agar tidurnya nyaman.


"Wangi banget," Amir mencium wangi vanila bercampur lavender yang lembut sejak ia memasuki kamarnya. Ternyata Aiswa menyalakan bukhur disudut bathroom.


"Hmm, pantesan wangi banget ... kamu tuh ya, wangi begini kan naikin mood aku, sayangnya masih puasa," gumamnya tersenyum simpul.


Tak ingin berlama didalam sana, setelah berwudhu ia pun naik ke ranjang. Menyibak selimutnya lalu memeluk Aiswa dari belakang.


"Love you sayang," bisiknya ditelinga disertai ciuman basah di tengkuk wanita dalam dekapannya itu.


Merasa ada yang mengusik tidurnya, netra Aiswa membuka sesaat.


"Bii?"


"Iya sayang, ini aku ... tidur lagi," lirihnya disertai ciuman kecil dileher Aiswa.

__ADS_1


"Geli Bii," tak ingin suaminya kelepasan, Aiswa memutar tubuhnya menghadap Amir, masuk kedalam pelukan pria itu.


"Ini dilepas kalau mau tidur sayang, ga baik loh," ujarnya saat meraba punggung Aiswa dan menemukan bra yang masih dipakainya.


"Lepasin aja," gumamnya dengan nada serak karena mengantuk.


Amir menelusupkan tangan kanannya dibalik piyama tidur Aiswa, membuka kaitan branya. Bukannya lekas menarik kembali jemarinya, dia malah bergerilya meraba punggung mulus istrinya naik turun ke pinggang, membelai lembut hingga menyentuh sisi kiri dada Aiswa.


"Bii, katanya tidur," Aiswa menggeliat geli akibat perbuatannya itu.


"Bentar, kan uji coba dulu," kekehnya seraya menghujani ciuman diwajah Aiswa.


"Udah, tidur dulu ... dua hari lagi itu sebentar honey, sabar ya." Aiswa membuka matanya, menatap wajah sang suami yang terlihat makin tampan dalam temaram lampu kamar.


C-up.


Aiswa mengecup bibir suaminya. Salah Aiswa berlaku demikian disaat Amir sudah setengah On.


Merasa mendapat signal, Amir balas melu-mat bibir pink milik wanitanya, me-magut pelan, mencecapi setiap inci benda kenyal semanis strawberry milik Aiswa.


"Bii, le-pass ud-ah nanti keterusan," Aiswa terengah berusaha melepaskan diri dari desakan yang kian menuntut.


"Kamu tuh bikin nyandu ... jangan lagi pancing aku, tidur yuk." Susah payah dia meredam hasrat yang kian naik. Salahnya mengawali sesuatu yang ia tahu tak dapat dilanjutkan.


Beberapa menit kemudian.


"Pening sayang," keluhnya lirih.


"Siapa suruh begitu, daritadi ngajakin aku tidur malah bablas."


Merasa tak tega, Aiswa menurunkan tangannya, menyentuh sesuatu dibawah sana yang mulai mengeras.


"Aku pegang aja ya, bobok Bii," ujarnya.


"Mana bisa, makin jadi dah dia itu." Dirinya menahan, memejamkan mata menikmati genggaman lembut tangan Aiswa dibawah sana.


"Ya jangan dipikirin," sambungnya lagi masih dengan kekehannya.


"Kamu jahat dih, bentar donk sayang," rengek Amir membujuk Aiswa.


"Mau istimna' jadinya? aku ke toilet bentar ya sayang ... tunggu," tawar Aiswa menjadi urung tidur dan hendak melepaskan diri dari dekapan suaminya.


Amir terdiam, melihat keseriusan diwajah Aiswa.


"Ga ah, ga usah ... sini, peluk aku aja...." tariknya pada tubuh Aiswa agar melekat tanpa sekat menghimpit badan kekarnya.


"Maaf yaa sayang," cicit Aiswa iba.


"Bukan salahmu Rohi, salahku ga bisa nahan ... meski istimna' denganmu dibolehkan tapi ga ah, ga enak," gelaknya lagi disertai ciuman bertubi dipucuk kepala Aiswa.


"Syukron sayang, udah nawarin ya ... kita bobok dulu, semoga bangun nanti sudah dua hari dan bisa buka puasa," keduanya tertawa. Amir menarik selimut mereka hingga ke dada, berusaha memejamkan mata melupakan keinginan yang tertunda.

__ADS_1


Aiswa ... Aiswa ... Aiswa...


...***...


Keesokan Pagi.


Dewiq sudah ada di ruang baca dengan Hermana Arya perihal somasi Hasbi yang berlaku 2x24 jam menunggu mereka merespon.


"Pa, Ulfa sudah melayangkan somasi balik padanya...."


"Papa akan pulang dulu bersama Amir dua hari lagi, sepertinya Aeyza akan tinggal bersama suaminya Kak, beasiswanya batal," terasa Hermana.


"Ya biar deh, ada Amir kan yang bisa jaga dia ... setahun lagi padahal cuma mau gimana lagi."


"Tapi nanti Papa akan tanyakan kembali pada mereka ... keluarga Amir akan pulang siang nanti, pesawat charteran mereka tiba pagi ini soalnya."


"Ok, aku akan pantau Hasbi, Pa." Pungkas Dewiq seraya mereka keluar dari ruang baca. Bergabung dengan keluarga yang telah datang kembali untuk sarapan bersama.


Sementara dikamar Aiswa.


"Kenapa sih, dari ba'da subuh liatin aku melulu, sambil sholawat pula...."


"Kan absen sama Baginda Nabi dulu, memujiNya dan kekasihNya seraya memandang istriku yang indah, nikmat sayang," tuturnya lembut menciumi telapak tangan Aiswa.


"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad," balasnya menciumi telapak tangan suaminya.


"Turun yuk Bii, sarapan ... semua udah datang, kan mau pulang siang nanti ... kita balik kapan?"


"Ayo, kamu mau disini atau ikut aku Rohi?"


"Ikut Qolbie."


"Beasiswa mu sayang? hangus loh nanti, eh tapi aku ga keberatan jika Aish ingin lanjutin sekolah disini maksudnya kamu disini atau disana, aku ga masalah," jelasnya agar Aiswa tak kepikiran soal biaya.


"Tapi aku ikut gimana baiknya pemikiran suamiku, jadi aku manut sama Qolbie."


"Kita bicarakan nanti setelah sarapan ya sayang, yang terbaik bagi kita."


"Bii, Hasbi gimana? aku denger semalam Ulfa bicara sesuatu."


Degh.


"Apa?"


"Hm, tentang itu...."


.


.


...__________________________...

__ADS_1


__ADS_2