DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 181. MINI


__ADS_3

Sebelum masuk dalam bilik pemeriksaan, Aiswa telah lebih dulu diminta untuk melakukan test u-rin-e menggunakan alat cek kehamilan yang diberikan oleh suster.


Sepuluh menit berselang.


Setelah bidan selesai memeriksa Aiswa, wanita cantik itupun bergabung dengan suaminya duduk di depan meja sang petugas medis.


"Jika sesuai dengan hari terakhir haid, perkiraan usia janinnya sekitar tiga menjelang empat minggu," ucap bidan seraya menunjukkan hasil dari alat yang digunakan Aiswa tadi.


"Bii," lirihnya meraih tangan Amir, disambut genggaman olehnya.


"Alhamdulillah, positif ya Bu?" tanya Amir masih tak percaya, seraya mengeratkan tautan jemari.


"Masih sangat riskan, harus dijaga dimasa awal kehamilan. Calon Bunda, jika mengalami keluhan mual muntah yang parah, segera konsultasi kembali ya ... saya resepkan pereda mual, juga penambah darah... nanti bulan depan cek Hb," ujar bidan menjelaskan kepada calon orang tua dihadapannya.


"Adakah rekomendasi dokter kandungan menurut Bu bidan yang terbaik disini?"


"Ke rumah sakit khusus ibu dan anak saja, Pak, di sana tenaga medisnya lebih kompeten juga ada dokter wanita," sambung Bu bidan membagi info seraya menyerahkan buku pink untuk pegangan ibu hamil jika akan kontrol kehamilan.


"Setiap akan konsul, ini dibawa ya untuk memantau perkembangan ibu dan janin. Selamat dan semoga sehat selalu," pungkasnya menyalami Aiswa.


Mereka keluar dari ruangan pemeriksaan. Masih saling diam hingga masuk kedalam mobil pun, tak ada satupun percakapan yang keluar dari keduanya.


Aiswa sibuk dengan bahagianya begitupun Amir, sibuk dengan ucapan rasa syukurnya dalam hati.


"Bii, ko ga sekalian ke rumah sakit aja," tanya Aiswa ketika mobil Honda Jazz hitam itu akan memasuki halaman rumah.


"Ish sayang, kenapa ga bilang daritadi? kan aku speechless ga bisa mikir," ucapnya seraya memarkirkan mobilnya dalam garasi.


"Kan sama, aku juga gitu."


Amir menarik tuas rem, urung keluar dari mobilnya. Dia menoleh ke arah Aiswa yang masih setia berbaring di kursi samping kirinya yang landai.


"Rohi, dijaga ya. Amanah untuk kita, terlebih aku. Hatiku ko rasanya...." Amir tak dapat meneruskan ucapannya.


"Bii, sini," Aiswa perlahan bangun dari posisinya yang nyaman, menarik suaminya dalam pelukan.


"Alhamdulillah ya Bii, aku akan hati-hati mulai sekarang ... nurut Qolbi, apapun itu. Ok? sudah merasa lega?"


"He em, syukron sayang. Aku agak takut," ungkapnya seraya mendekap erat.

__ADS_1


"Sehat in sya Allah, aku ga mual berlebihan ko. Adek bakal jadi anak Abi yang kuat, doakan kami ya," Aiswa menciumi wajah suaminya, ia paham Amir merasa khawatir berlebihan mengingat pengalamannya menjaga Naufal. Dan harus ihklas melepaskan ketika takdir Allah berkata lain.


"Sekarang jadi gimana? makan dulu ya ... ga usah turun deh, aku siapkan dulu biar sekalian berangkat lagi," pinta Amir masih memeluk Aiswa.


"Turun, masa makan disini ... mobil Qolbi laki banget, nyaman pula. Nanti jadi bau ayam bakar. Lagian aku gak kenapa-kenapa ko," terang Aiswa menenangkan suaminya.


"Kita daftar dulu aja ya, biar ga nunggu lama," Amir meraih ponselnya lalu mendownload aplikasi terkait pendaftaran kontrol di rumah sakit yang akan dia tuju.


Tak berapa lama.


"Selesai, jam tujuh malam sayang, ba'da isya dengan Dokter Risty ... wes tenang," ujarnya sambil membuka pintu.


Amir memutari mobilnya, membuka pintu sisi kiri dan membantu Aiswa turun dari sana. Tak lupa membawa serta makanan yang dia pesan tadi.


"Den Mas, tadi ada tamu," seru Alex saat melihat Amir hendak masuk ke dalam rumah.


"Siapa Bang?"


"Ga tahu, dari Jakarta katanya, bukan aku sih yang menemuinya tapi Mang Sapri," sambung Alex lagi.


"Hasbi?" tanya Aiswa sambil berlalu.


Sementara Aiswa ke kamar untuk ganti baju karena gerah, Amir menyiapkan makanan dibantu Mba Sri.


"Mba, tolong nanti jaga perasaan istriku ya ... jangan bicarakan tentang Qiyya di depannya, Aiswa itu pendiam tapi jika sudah di singgung tanpa merasa melakukan kesalahan, dia bisa melawan. Aku ga mau salah satu dari kalian terluka. Mba kan udah ikut kami lama, sejak Naya kecil ... tahu semua kebiasaan disini, hati-hati ya," pinta Amir pada wanita paruh baya yang sudah bagai bibinya sendiri.


"Maaf ya Den Mas, iya tadi kelepasan. Non Aiswa itu kalau ngomong lembut banget ya Den, pelan sih negurnya tapi ko jleb," Mba sri tersenyum mengingat kebodohannya.


"Ya gitu deh, istriku yang dulu memang ceria, karakternya terbaca jelas. Jika Aiswa, jangan coba-coba ya Mba, aku ga tahu loh nanti reaksinya seperti apa," Amir sedikit tegas kali ini.


Setelah rangkaian aktivitas setengah hari ini, baik Aiswa maupun Amir, keduanya memilih beristirahat.


Masih saling memeluk menyalurkan sukacita yang menyelimuti hingga menjelang waktu maghrib. Mereka belum berani mengabarkan pada kedua keluarga tentang kabar bahagia ini. Menunggu kepastian dari dokter malam nanti.


Tepat jam sembilan malam, Rumah sakit.


Aiswa menggelayut manja setelah keluar dari ruangan obgyn menuju basement. Keduanya bahagia setelah hasil USG menyatakan bahwa usia janin mereka mulai memasuki empat minggu. Aiswa juga disarankan melakukan vaksinasi dan anjuran medis lainnya untuk ibu hamil.


"Bii, beli banyak amat suplemen, segala diambil padahal kan sama aja itu," ujar Aiswa mulai membayangkan jika semua itu harus ditelannya.

__ADS_1


"Tadi kan dokter bilang, suplemen vitamin C dan zat besi, asam folat dan lainnya. Ini kan semuanya butuh sayang."


Ponsel Amir berdering tepat saat dia akan meninggalkan basement.


"Ya Bang," Amir membuka panggilannya.


"Tamu? malam begini? pasangan suami istri? ... tolong siapkan paviliun, Bang, agar mereka dapat beristirahat," Amir belum mengetahui siapa tamunya malam ini. Inginnya tak menemui namun jika memang keperluannya mendesak, terpaksa harus bertemu sebelum ia beristirahat.


"Siapa Bii?" tanya Aiswa kala panggilan telah berakhir.


"Belum tahu, Bang Alex ga nemuin lagi. Sedang beli kopi dan cemilan untuk karyawan Abah yang lembur malam ini," ujarnya.


"Semoga bukan dia, aku malas menemui istrinya juga."


"Kemarin ramah banget kenapa tiba-tiba sekarang begitu?"


"Entahlah, bawaan bayi kali," cebik Aiswa.


"Mulai bawa anakku, adek ga salah loh Umma, jangan dibawa-bawa," Amir tertawa, kalimat andalan para ibu hamil mulai keluar, pikirnya.


"Anakku Bii," protes Aiswa tak terima.


"Anak kita karena bikinnya berdua, mulai sensi nih kayaknya." Amir mengusap kepala istrinya gemas, mencubit pipi Aiswa yang mulai terlihat berisi.


"Pokoknya ya Bii, Ak-"


"Stop, ga usah diteruskan. Jika malas, langsung masuk ke kamar saja, aku paham sayang. Jangan sampai anakku nanti jadi mirip dia gara-gara kamu benci loh," Amir tak dapat menahan tawa.


"Amit-amit, gak pake ya Bii, benci-benci begitu. Aku cuma malas aja," Aiswa mencoba berkilah.


"Iya, iya, udah donk bumil jangan marah-marah."


Mulai jaga mood, mulai hati-hati bicara, mulai semuanya. Demi Aiswa ku, sing sabar ya Mir.


.


.


...___________________________...

__ADS_1


...Jaga kesehatan ya guys, cuacanya ga enak dibadan. ❤...


__ADS_2