DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 171. NYONYA PORSELEN


__ADS_3

Saat handle pintu dibukanya, Joanna takjub. Seprei, gorden, semua yang ada didalam kamarnya ini berwarna toska.


Toska. Warna kesukaan Bunda, bunda yang tak pernah lagi ia jumpai sejak dirinya membuka mata hadir kedunia.


Ayahnya menitipkan Joanna muda ke paman dan Bibinya hingga mereka berpulang, Joanna belia lalu mengadu nasib di jalanan hingga berjumpa dengan Ulfa dan mereka berdua menekuni dunia yang sama.


Ulfa belajar di Omah singgah asuhan Exona sedangkan dirinya masuk ke sekolah kolong jembatan milik Mami Kembar. Setelah remaja keduanya mengadu nasib mengikuti rangkaian Pendidikan kejar paket untuk seleksi masuk akademi yang berhubungan dengan keamanan karena mereka berdua merasa mengetahui seluk beluk dan akrab dengan dunia jalanan.


Toska, dia menyukai warna itu untuk mengingatkannya pada sang Bunda. Hanya segelintir orang yang tahu tentang ini, bagi Joanna sungguh merupakan kejutan indah saat majikannya tahu warna kesukaannya.


"Den Mas, Nona, aku akan tunjukkan baktiku pada kalian berdua sampai aku tak lagi mampu ada didunia ini ... kalian berdua menarikku masuk dalam rumah yang begitu indah," Joanna menangis, ia bertekad sebagai balas budi atas limpahan perhatian juga kasih sayang yang kerap Aiswa berikan untuknya.


Keesokan Pagi.


Ba'da subuh, Amir membuka ponselnya. Notifikasi panggilan serta beberapa pesan masuk.


"Banyak banget panggilan dari Dokter Rayyan, ada apa?" Amir lalu membuka pesan disana dan membacanya pelan.


"Sayang, Rohi, Dwiana masuk IGD semalam ... Aiswa?"


"Tidur lagi? muroja'ah dulu yuk temani aku sebentar, lalu jika ingin tidur lagi boleh...."


Aiswa bergeming, nampak sudah terlelap padahal baru saja dia naik menarik selimut kembali ke atas ranjang.


"Rohi?" Dia mendekat, rasanya tak tega membangunkan Aiswa yang terpejam. Helaan nafasnya sangat halus tanda dia pulas dalam sekejap.


"Ya sudah, lanjutin bobonya, aku call Dokter Rayyan dulu."


Amir menelpon Rayyan dan berbicara panjang lebar dengannya beberapa menit. Kemudian dia melanjutkan menghubungi Naya agar segera menaikkan series terbaru setelah tercapainya kesepakatan semalam.


"Qiyyam re-launching atau re-name menjadi Qiswa Nduk, siapkan dulu semuanya, goodie bag juga banner nya ... siang ini aku kirim logo serta design hasil revisi Aish yaa padamu, please check menurut kamu, sudah ok atau belum ... gunakan logikamu itu Nduk, keahlian mu mana? anak visual ko loyo, trend setter saat ini sesuaikan dengan dua design tadi ya...."


"Kak, satu-satu ... aku catat semuanya, sebagian sudah ok tinggal naik, label pita, juga sudah siap tinggal logo untuk di baju nya saja juga logo bagian depan butik kak, stempel dan sebagainya ... sudah, jangan mikiri printilan, biar aku ... fokus design saja, minta dua lagi untuk Qiswa, aku mau daftar event kaftan di Brunei, asik kita jalan-jalan lagi...."


"Syaratnya apa saja, kirimkan padaku ... dan usahakan launching bulan ini ya Nduk."


"Kenapa?"


"Biar aku bisa jaga Aish kalau dia udah isi ... aku ga mau dia pergi jauh-jauh dulu...."


"Ciye Bapak, rajin amat kejer setoran ga ada libur nih?'

__ADS_1


"Kaca mana kaca ... dia tidur melulu, jadi inget Qiyya waktu trimester awal itu," bisiknya lirih.


"Belum kali Kak, eh udah ya? lebih dari dua minggu kan? coba test deh kali cespleng," Naya tergelak diujung sana diikuti suara Maira.


"Nanti, biar dulu deh tunggu pastinya aja ... ingat pesan aku, segera diurus launching Qiswa bulan ini ... terserah mau di buka di outlet yang mana?"


"Siap ganteng," seloroh Naya lagi.


"Baru sadar ya kamu kalau aku cakep, Nduk."


"Iya, baru sadar saat Kakak jauh dari sini ... jangan lupa Kak ditunggu segera design Qiswa dua lagi ... aku mau suapin Maira dulu." Naya menutup panggilan masih dengan sisa tawanya.


"Punya adek cewek satu gini amat ya, ga ada kalem-kalemnya ... Mas, Mas, cinta mati sama Naya tuh dilihat darimana nya?" Amir mengedikkan bahu merasa tak sesuai logikanya.


"Bii, rame amat...." gumam Aiswa.


"Biasa kalau telponan dengan Naya ya begitu, heboh sendiri dia ... kebangun ya? udah sampe mana mimpinya?"


Sunyi.


"Ya ampun, tidur lagi."


"Den Mas, tiap kali pergi keluar kota lama, pulangnya bawa istri baru ya, namun kayaknya kali ini bakal dijaga bagai porselen china yang antik...." Alex nyeletuk sambil menyesap kopi. Amir hanya tertawa menanggapi ocehan paginya itu.


"Ga tahu lah Bang, dulu aku pergi ke Semarang niatnya buat lupain Aiswa kan ... lalu ke Solo pas uyut sakit ketemu Qiyya disana lalu nikah ... balik sini dah bawa istri."


"Sekarang juga sama ya, ke Singapura lalu Malaysia ... lanjut London eh balik bawa istri juga .... karena ngurusin uyut juga ... besok saya aja deh yang berangkat, kali dapat bini juga pas balik ... yang berkualitas macam guci mahal ya," Alex terbahak.


"Dia itu kalau kena sinar matahari, putih banget ... bener, macam porselen."


"Asal jangan keluarkan aturan semacam Bos aja Den Mas, ga boleh lihat Nona Naya lebih dari tiga detik...."


"Aku akan berlakukan itu Bang, aturan yang sama."


"What?" Alex terperanjat.


"Cari jodoh jangan jauh-jauh ... Joanna aja tuh, sama manisnya dengan pacar kemarin kan? sekarang malah enak, satu profesi, satu kota."


"Bii," Aiswa memanggilnya dari pintu samping, memakai sandal rumah tanpa kaus kaki sehingga kulit mulusnya terlihat.


"Ya ampun, dia bangun ... jangan lupa sarapan dan tolong sampaikan peraturan tadi ke pekerja, Bang." Serunya beranjak dari gudang.

__ADS_1


"Serius Den Mas? ... mampus gue, ish mulut usil sih," Alex tak habis pikir.


"Rohi, kakinya ... masuk yuk." Amir menarik lengan Aiswa masuk ke kamar.


"Jangan keluar kamar ku bilang, disini ada Bang Alex, Mang Sapri juga pekerja lainnya sayang, hati-hati...." Ia membuka laci lemari, mengambil sepasang kaus kaki lalu membungkuk memakaikannya pada kedua kaki Aiswa.


"Ih, biar aku ... aku bisa Bii," Aiswa mulai rikuh semua dikerjakan oleh suaminya bahkan urusan ganti baju pun kadang Amir meladeninya. Kebalik, pikir Aiswa.


"Diam...!" Tegasnya.


"Ponsel Qolbi ga dibawa, aku haus, Joanna masih tidur kayaknya kelelahan, maaf," cicit Aiswa terkejut suaminya menggunakan nada tegas padanya.


Amir menghela nafas kasar, salahnya belum menyiapkan air didalam kamar.


"Dengarkan aku Rohi ... jika ingin keluar kamar, pastikan semuanya telah rapi ya, atas hingga bawah, banyak pekerja pria disini ... aku ga mau mereka melihatmu apalagi memperhatikan kakimu yang bagai porselen ... terlebih mengatakan bahwa kau cantik, dia cari mati denganku."


Tadinya Aiswa merasa takut dimarahi oleh suaminya, namun ujungnya justru tertawa.


"Iya aku lupa, kupikir masih sangat pagi belum ada pekerja disini ... ga lagi-lagi, janji."


"Kamu milikku, hanya milikku...." Tatapnya tajam pada manik mata Aiswa.


"Iya sayang iya, milikmu, milik Qolbi ... lapar Bii, udah boleh makan belum?"


"Bentar lagi disiapkan Mba Sri ... Dwiana sakit, masuk IGD semalam dengan Rayyan, kamu telpon Dewiq setelah sarapan ya Rohi."


"Sakit parah kan jadinya?"


"Iya ... jaga kesehatan ya sayang."


Aiswa tetiba pusing, mual saat membayangkan cairan infus juga bau obat-obatan. Mengingatkan pada dirinya yang lama terbaring dirumah sakit.


Ia pun bergegas ke toilet, memuntahkan isi perutnya yang sejatinya masih kosong belum terisi makanan.


"Rohi, kenapa?"


.


.


...________________________...

__ADS_1


__ADS_2