DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 220. TEMAN SENASIB


__ADS_3

"Kak Naya." Dwiana takjub.


"Ya?" Naya masih menatap wajah sembab Dwiana dihadapannya.


"Boleh peluk lagi?" cicit Dwi, masih, dengan lelehan lava bening yang kembali menuruni pipi pucatnya.


"Sure, boleh. Kapan saja, selama dan sesering apapun. Aku, rumahku selalu terbuka untukmu, Dwiana Sayang ... sini," Naya merentangkan kedua tangannya, menyambut Dwiana ke pelukan.


Entah, pelukan ini mengapa lebih hangat. Aku sangat damai dengannya. Dia tidak menghakimiku, Dia menerima ku, Dia mengerti aku.


Dwiana membatin, di iringi isakan halus dalam dekapan wanita muda yang baru saja di kenal dekat beberapa menit yang lalu.


Setelah beberapa menit, Dwiana mulai tenang kembali. Naya mengurai pelukan.


"Lebih rileks, Dwi?" bisik Naya membenarkan rambut Dwiana yang berantakan.


"Sangat ... Kak, aku baru pertama kali menangis seperti tadi. Apakah artinya aku lemah?"


Naya hanya tersenyum menanggapi, ternyata Dwiana polos juga.


"Air mata juga ciptaan Allah. Ketika ia mengalir, maka ia membersihkan sedih. Menangis bukan tanda ia lemah tapi justru dengan menangis, kita punya sejuta alasan untuk bangkit dan kembali tersenyum," ujar Naya.


"Huft," Dwiana menarik nafasnya yang berat.


"Aku akan menemanimu jika ingin sharing ke psikolog, Dwi," Naya menggenggam tangan Dwiana.


"Bersedia Kak? gak malu nemenin aku?"


"Kenapa malu? nemenin gadis cantik begini? pinter pula," Naya membelai rambutnya.


"Kan aku," cicitnya lagi.


"Stop ... Dwiana ku sangat normal, kuat, hanya sedikit meriang saja, akan kembali sehat ... karena ia selalu jadi yang terbaik, sholihah in sya Allah," Naya tersenyum padanya.


"Kak, pantas Aiswa tergila-gila pada Amir. Kalian sama lembutnya. Aku baru mengerti sekarang," ucapnya lagi.


"Dwiana juga lembut. Maira nyaman bermain dekat denganmu tadi. Anakku sangat peka dan pemilih namun tidak padamu ... artinya, kamu gadis baik, santun, calon ibu hebat, in sya Allah...."


"Kau tahu Dwi? orang seperti kita, akan selalu di hantui oleh banyak perasaan kegagalan dan kecemasan akan masa depan ... kuncinya pasrah, percaya dan yakin pada Allah juga pada pasangan kamu nanti ... bahwa dia jalan menuju bahagia ... kapan rencanamu akan mulai terapi, Dwi?" tanya Naya lagi.


"Menurut Kak Naya?"


"Jika hatimu siap...." imbuh Naya.


"Weekend boleh gak aku minta waktu Kakak? aku libur kuliah, juga sekalian mengasuh Raiden karena Mba Renata akan mengambil alih semua tugasku saat weekend. Kakak iparku itu, membebaskan aku me time," tutur Dwi panjang.


"Aku akan sampaikan pada Abang nanti ya Dwi, semoga di izinkan ... ngemil yuk, aku punya banyak buah," Naya menarik tangan Dwiana masuk ke dalam hunian mewahnya.


Di meja makan, riuh celoteh Maira yang selalu ingin menanggapi semua obrolan Dwiana.

__ADS_1


"Maira, kenapa kamu gemesin banget sih. Jadi pengen punya bayi kayak kamu kalau modelannya begini," seloroh Dwiana.


"Rayyan sudah melamar, Dwi?"


"Entah Kak, aku gak contact dia sudah hampir satu bulan ini kan," ujar Dwi seraya mengunyah potongan buah segar dari pinggannya.


"Healing kamu ngapain aja jika weekend?"


"Dengar lagu Kak, lagu lawas era 80an...."


"Kamu tahu lagu ini gak? When you believe," Naya menjajal kemampuan Dwiana terhadap musik.


"Tahu donk, Whitney Houston dan Mariah Carey kan?"


"Many nights we prayed, with no proof anyone could hear." Naya mulai menyanyikan bait lagunya.


(Siang malam kita berdoa, tanpa seorang pun mendengarnya)


"In our hearts a hopeful song," sambung Naya lagi masih dengan nada rendah.


(Hati kita menyenandungkan harapan)


"We barely understood." Dwiana menyambung nada. (yang tak kita mengerti)


Naya tersenyum, mengangguk pelan pada gadis manis di depannya.


"Now we are not afraid, although we know there's much to fear." Naya kembali melanjutkan.


"We were moving mountains long, before we knew we could," Dwi meragu, namun ia perlahan yakin.


(Kita mampu menggerakkan gunung, jauh sebelum kita tahu kita mampu.)


"There can be miracles, when you believe." Maira bersorak melihat Bundanya bersenandung.


(Keajaiban mungkin terjadi, saat kau mempercayai.)


"Though hope is frail, It's hard to kill." Dwi mulai kembali menyambung bait dengan suara pelan.


(Meski asa begitu rapuh, ia tak mudah.)


"Who knows what miracles, you can achieve. Somehow you will, you will when you believe."


(Tak ada yang tahu keajaiban yang mungkin terjadi, entah bagaimana itu terjadi, saat kau mempercayainya.)


"Miracle, Dwi ... keajaiban ... syafaat, rahmat, pertolongan Allah itu akan terjadi bila kamu yakin...." pungkas Naya.


"Oh god, hari ini aku banyak mendapat pencerahan," lirih Dwiana.


"Kamu gak sendirian ... banyak yang sayang kamu. Hanya butuh mata hati dan sambutan uluran tangan dari mereka untuk mu, Sayang," Naya meminta tos pada Maira yang sangat girang membalas apa yang Bundanya minta.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Dwiana pamit pulang setelah berjanji lusa nanti ia akan kembali datang berkunjung.


Ponsel Naya berdering.


"Abang, maaf tadi ponsel aku di meja sini," Naya menjawab panggilan suaminya seraya duduk di ruang keluarga dengan Maira.


"Good job, Sayang. Selalu jadi Naya yang punya banyak cinta untuk sekitar," Mahen memberinya semangat menemani Dwiana release hingga tuntas.


Ia mendapat sambungan langsung by cctv dari Mega, apa yang tengah Nyonya Mudanya lakukan sepanjang pagi sehingga mengabaikan panggilannya. Ternyata kemuliaan sifat dari hati seorang Ainnaya kembali di bagi.


"Hmm, kebiasaan. Mega ya? aku jadi boleh nemenin dia gak?"


"Boleh, Sayang. Aku tunggu di rumah. Setelah kalian selesai. Kita jalan," balas Mahen.


"Kemana?"


"Kemana aja, keluargaku juga butuh aku, healing sama-sama. Mengunjungi Mitra kerja kamu atau mencari gedung untuk kantor resmi Queeny. Di lantai paling atas bisa digunakan sebagai ruang relay stasiun radio dari Solo mungkin? kalian punya suara bagus...."


"Abang, apalagi ini? jangan menghujani ku dengan banyak cinta, nanti luber," Naya tersenyum manis.


"Bukan aku. Kamu, cintamu yang luber itu baiknya dibagikan ... kita buat saluran relay dari Ratislo khusus healing ala kamu, ajak Dwiana, gimana? Bayu, beberapa hari ini memintaku agar kamu pulang ke Solo sekedar mengobati fans di sana ... aku gak rela, Bayu juga dulu naksir kamu," ujar Mahen mulai cemburu.


"Loh, lalu maksudnya ngapain bikin saluran healing gitu, kalau Abang jealous?"


"Ajang pelepasan rindu saat ngehost aja buat kamu, kan gak tiap hari, Sayang," imbuhnya enteng.


Naya hanya tersenyum.


"Aku lihat senyum kamu itu penuh arti."


Naya melambai, memberi kiss, pada cctv di ruang keluarga, tempat dia duduk saat ini.


"Ck, Naya. Aku pulang, tunggu, Baby." Mahen memutus panggilan.


"Hey, Abang ... loh ko pulang, baru jam berapa ini? Om Galuh mecat kamu, tahu rasa loh," seru Naya namun terlambat, panggilan sudaah terputus.


"Abang, selalu tahu apa yang ku mau, tanpa banyak bicara. Alhamdulillah ya Allah, jagalah dia hanya untukku hingga Jannah ... dia pilihan untukku di saat genting, Engkau yang menghadirkannya, Engkau pula yang menyatukan kami ... aamiin."


...***...


Sementara itu, di belahan bumi lainnya.


"Bear, aku mau ujian dulu...."


"Mas, lepas dulu. Nanti aku terlambat," Dewiq merengek karena Ahmad menempel ketat padanya.


"Bear, ya ampun...."


.

__ADS_1


.


..._________________________...


__ADS_2