
Tazkiya.
Saat makan malam keluarganya berkumpul. Seperti biasa, Aiswa hanya diam.
" Aish, mana suamimu? " Buya bertanya.
Hening.
" Dek, ditanya Buya tuh dijawab. Hasbi mana? ko ga diajak makan, " sambung Ahmad.
" Eh kakak ada suaranya? kemarin kemana aja ka? aku kira macam Ariel little mermaid, suaranya hilang. Mas Hasbi sedang bersama teman-teman nya, " jawabnya dingin.
" Ka-mu.... "
" Kak, ga baik bertengkar didepan makanan. " Umma menengahi.
" Umma, Aish sudah selesai. " Berdiri seraya mengangkat piringnya menuju dapur.
Hening kembali.
Umma menyusul anak gadisnya ke dapur. Ia juga memilih seperti Aiswa, berbicara seperlunya, hatinya tak lagi bisa mentolerir apa yang telah terjadi dengan keluarganya.
" Aish, jika ingin melepaskan gundah hati, kamu punya Allah, " nasehatnya lirih.
" Beik, Umma. In sya Allah, do'akan Aish perlahan agar ikhlas menjalani ini. " Raihnya tangan Umma.
Umma iba, membelai kepala anak bungsunya itu dengan sayang sebelum Aish kembali ke kamarnya.
Jangan menangis lagi, Aiswa.
Dirinya masuk kembali kedalam kamar, memeriksa ponselnya yang kini sepi pesan. Hanya ada pesan Hasbi saja disana yang mengatakan bahwa ia tak pulang malam ini, memilih tidur di apartemennya.
Kedua temannya tengah sibuk mempersiapkan kepergian mereka untuk melanjutkan studi ke luar negeri.
" Asiknya kalian berdua bisa bebas. Aku kangen kalian. "
Aiswa membuka laptopnya, mengetik sebuah pesan panjang yang dia kirimkan untuk kedua temannya lewat email rahasia.
" Semoga semuanya lancar yaa sahabatku, aku melihat kalian dari sini. " Pungkasnya.
Aiswa memilih menghabiskan setiap malam panjangnya diatas sajadah. Membasahi lisan dengan dzikir yang menenangkan sukma.
Ya Robb, bolehkah aku meminta bila di berikan kesempatan satu kali lagi, aku ingin bebas menggapai impianku. Bertemu dia yang kelak akan menjadi jodohku hingga akhir hayat. Memperbaiki baktiku dengan keluarga meski dengan cara yang lain.
Hatinya tak henti merapalkan doa, sebuah pengharapan akan kehidupan mendatang yang hanya diketahui oleh Tuhannya.
Perlahan, matanya terpejam dengan mukenah masih membungkus tubuh yang semakin kurus dan ringkih.
Hasbi baru pulang ke kediaman mertuanya ba'da subuh. Ketika masuk ke kamar istrinya, ia mendapati Aiswa yang tertidur dengan posisi duduk diatas sajadah, masih memakai mukenah dan tasbih di salah satu jarinya. Pemandangan yang akrab sejak satu pekan ini.
" Sebegitunya kamu menghindariku setiap malam, " ucapnya lirih.
__ADS_1
" Kamu tahu Aiswa, aku juga masih belum bisa mencintaimu. Ada dia yang mulai memenuhi relung hatiku setelah luka yang dibuat oleh Naya. "
" Aku tak akan menceraikanmu, bila ini adalah usahamu menuju niatan itu. "
Hasbi mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya diatas ranjang lalu ia membersihkan diri bersiap memulai aktivitas kembali.
Aiswa terjaga sejak Hasbi memasuki kamar mereka.
" Aku tahu kamu punya dia, dan aku hanya menunggu waktu kapan semua ini akan terbuka. " Lirihnya memejam kembali meloloskan cairan bening dan memutar badan membelakangi semua yang ada didalam kamar itu.
***
Sesuai janjinya, ba'da isya Gamal menemui Amir di Al Multazam setelah pertemuannya dengan gadis pilihan ibunya.
" Assalamu'alaikum, " salamnya pada Abyan yang sedang bercengkrama di teras bersama keluarga kecilnya.
" Wa'alaikumussalam, masuk saja Mal, kamar Amir setelah ruang baca. "
" Permisi Ka, aku masuk. "
" Mal, malam amat, keasikan ngobrol atau gimana nih? " Amir baru saja keluar dari arah dapur sembari membawa lemon tea hangat.
" Aku mau itu. Lemon tea, pakai es yaa Mir, untuk mendinginkan hatiku yang panas, " tawanya renyah.
" Lagu lawas. Tunggu di kamar atau di sini? "
" Kamar. "
" Diminum dulu Masbro ... gimana tadi? lancar? "
" Dia cantik ya, asli lebih cantik dari fotonya. Namanya Almahyra. Aku juga udah minta nomernya. "
Degh. Dugaannya betul. Bagaimana Mitos itu? Amir teringat kembali.
" Alhamdulillah, cocok donk? jadi kapan? "
" Nanti lah, tunggu jawaban dia dulu, satu bulan lagi. Semoga lanjut karena dari pihakku sudah ok. "
" Ciye, yang menghitung hari. "
" Kamu kapan Mir? "
" Entah, aku ga mikirin itu dulu, satu bulan ini akan aku maksimalkan pekerjaanku disini lalu pergi ke Solo menemani Uyut di sana sebentar. "
" Mal, maaf sebelumnya, Mama cerita sesuatu engga? tentang masa lalu mungkin? "
" Engga tuh, kenapa? "
" Ga ko, nanya aja. "
Gamal juga merasa ada yang janggal semenjak kedatangan Abahnya ke rumah. Mama kerap membuka foto lama yang sayangnya Gamal tak mengetahui siapa saja yang ada didalam album lawas itu.
__ADS_1
Malam itu Gamal menginap di kediaman Abyan, keduanya berbagi cerita hingga menjelang dini hari. Amir makin merasa harus mencari tahu tentang mitos Almahyra serta masa lalu Abahnya yang minim diketahui oleh anak-anaknya membuat matanya tak kunjung menutup meski ia telah berkali menguap sedari tadi.
Amir keluar kamar bermaksud membuat kopi agar ia tidak tidur, tanggung karena sudah masuk waktu tahajud.
" Kamu belum tidur? " Amir dikejutkan Abyan yang baru keluar dari ruang baca.
" Ka, kaget aku. " Elusnya didada sembari terus melangkah menuju dapur dengan Abyan yang mengekorinya.
" Buatkan aku kopi sekalian Mir. "
" Ka, katanya mau cerita tentang Alma. "
" Intinya dia itu harus membayar apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Ini berkaitan dengan nyawa, kabarnya. "
" Nyawa bagaimana? Gamal ka, apa tidak akan membahayakannya? "
" Ga usah meyakini sesuatu yang belum terjadi, seperti tidak punya Allah saja. "
" Bukan begitu, jika memang membahayakan nyawa kenapa tidak di cari jalan tengahnya? mediasi dengan si pembuat sumpah misalnya, saling memaafkan dan sebagainya. "
" Kabarnya si pembuat sumpah, telah lama meninggal. Mediasi dengan siapa? khodamnya? atau mau nyusul ke alam Barzah? "
" Ck, Ka, kalau ngomong. "
Keduanya tertawa akan obrolan yang berujung ke absurd-an di pagi buta.
" Ini, pesan dari Uyut padaku. " Abyan menyodorkan ponselnya diatas meja makan.
Amir membaca pesan di sana. Uyut nya meminta Amir mengunjunginya segera karena kesehatannya yang kurang baik akhir-akhir ini.
" Aku ga bisa ka, satu bulan lagi kewajibanku di Al Islah. Ga enak dengan paman Rois kan. "
" Selesaikan saja dulu, atau kamu bilang ke Uyut, support beliau. Atau kirimkan rekaman suaramu saat muroja'ah sebagai obat rindu sementara. "
" Baik ka. Ba'da duha nanti akan aku telpon uyut. "
" Satu lagi Mir, hindari Alma jika memang Gamal sudah yakin dengannya. Apapun alasannya jangan pernah lagi meladeninya. "
" Aku paham ka. "
" Nih, satu lagi. " Abyan kembali menyodorkan ponselnya.
" Teman Mba mu, seumuran denganmu, hafidzah putri Yai di Gresik. Tak kalah cantik dan sholihah dengan Aiswa ataupun Alma. Wajahnya dijamin hanya kamu yang akan melihatnya bila kelak jadi suaminya. "
" Yaa wajar hanya suaminya yang akan melihat wajahnya. Dia pake niqab ka, gimana sih. "
Entah karena efek kafein kopi di pagi buta atau karena keduanya sedang dalam kondisi diatas kenormalan akibat begadang semalaman.
.
.
__ADS_1
...______________________...