
"Assalamu'alaikum, seru bener kayaknya," suara Ahmad datang menghampiri para pria diruang keluarga.
Dirinya menyalami Buya dan Hermana Arya lalu Rayyan, memperkenalkan diri pada mereka.
Tak lama setelah Ahmad duduk, Dwiana kembali datang membawa minuman yang diminta oleh Hermana Arya juga tak lupa untuk Rayyan.
"Pa, kopinya."
"Thanks Dwi, kamu bolos kuliah ya?"
"Enak aja Papa nuduh ... aku kan kebut matkul, sama kayak Dewiq makanya bisa pergi kalau terdesak," ujarnya saat akan pergi.
"Ya sama aja bolos Dwi," Amir menimpali seraya berkirim pesan pada Ahmad meski mereka duduk bersisian.
"Ya engga lah, gue bilang aja absennya pake tabungan kehadiran," sanggahnya pada Amir.
"Bener nih abege labil insyaf?" Hermana Arya menggoda gadis yang usianya satu tahun diatas Aiswa.
"Dewiq yang kerjaannya tidur disekolah dua tahun bisa ngejar ketinggalan, masa aku yang rajin isi absen doank kalau sekolah ga bisa ngejer sih Pa, kita ini anak pintar sih ... down to earth ga mau nunjukkin kepintaran agar yang songong bisa maju," gelaknya diikuti Buya dan Hermana.
"Hiburan banget kamu ya Nak buat Aiswa, pantas kalian cocok," imbuh Buya.
"Aku aslinya korban bullyan mereka loh Buya," celoteh nya lagi, kali ini menurunkan toples berisi cemilan dari baki yang dia pegang.
"Heleh, kamu paling si pembully itu, pake nuduh orang lain segala," sungut Rayyan meraih cangkir kopi yang diletakkan jauh dari jangkauannya oleh Dwiana.
"Eh Alien, jangan ikutan deh ya, nyamber aja kek bajaj, tau bajaj ga? satu dua ama kamu," sungutnya kembali melangkah.
"Dwi, ambil minum lama bener, kirain kemana ga taunya ngerumpi sama Rayyan," Dewiq menyusul keluar kamar.
"Wiq, ingetin Aish minum suplemen ya," pinta Amir.
"Iya ini aku nyusulin dia nunggu minum buat Aeyza, Mir."
"Siapa ngerumpi, ga level," sahut keduanya.
"Kompakan lagi deh," Hermana Arya menggoda mereka lagi.
Cantik, siapa ya?
__ADS_1
"Wiq, kenalin nih ... Ahmad, kakak Aeyza," Amir menyenggol lengan Ahmad, tanpa sengaja melihat sahabatnya itu terpana saat Dewiq menegur Dwiana tadi.
"Salam kenal kembali, Dewiq Arzu," jawabnya sekilas pandang lalu berlalu menarik lengan Dwiana menyingkir dari sana.
"Arzu, kasih kawanmu obat siapa tahu mulutnya demam," seru Rayyan saat keduanya masih saling ejek.
"Kalian ini, haduh, anak muda jaman sekarang," Buya menggelengkan kepala.
Obrolan beberapa pria dalam ruang keluarga yang semakin hangat hingga menjelang maghrib.
Merekapun sholat berjamaah dengan Ahmad sebagai imam kali ini. Seharian tak bertemu Aiswa meski dalam satu rumah membuat Amir kangen berat.
Istrinya disandera oleh dua orang sahabat sejak siang hari berimbas dia tak dapat masuk kekamar meski hanya sekedar melihat apa yang tengah mereka lakukan disana.
"Sayang, aku kangen kamu ... sangat," ujarnya memeluk Aiswa dari belakang tatkala ia berhasil menyelinap masuk kekamar meninggalkan keluarga diruang tamu. Amir menghidu wangi ceruk leher istrinya.
"Siap-siap Bii, ganti baju sekarang atau nanti? ba'da isya kan udah langsung mulai karena tamu sudah mulai berdatangan." Usapnya pada kepala yang masih setia bersandar di bahunya itu.
"Nanti dulu ... aku laper Rohi, makan dulu yuk," ajaknya menarik lengan Aiswa keluar kamar menuju dapur.
Saat mencapai dapur, terlihat Ahmad dan Dewiq saling diam. Ahmad asik makan sedangkan Dewiq berdiri didepan teko listrik nampak tengah menunggu air dalam teko mendidih.
"Ini kenapa diem-dieman?"
"Kirain lagi rencanain masa depan," seloroh Amir sembari menarik kursi agar Aiswa duduk.
Uhulk. Uhulk.
"Minum Kak," Dewiq sigap menuang air pada gelas Ahmad, di ikuti saling pandang antara Amir dan Aiswa.
"Syuk-ron, Mba."
"Dewiq saja ... Aey, kakak duluan antar jahe buat Mama ya," ujarnya lagi meninggalkan mereka di dapur.
"Sayang, sejak kapan Dewiq pakai hijab? memang hanya untuk hari ini saja atau gimana?"
"Tadi datang kan cuma pake pashmina, sama kayak Dwiana ... aku baru lihat juga ko Bii, semoga seterusnya ya."
"Kalian makan sepiring berdua gitu, apa kenyang? aku aja yang sendiri kadang masih kurang," Ahmad kembali nyeletuk melihat kedua orang dihadapnya.
__ADS_1
"Sunnah," seru pasangan pengantin baru ini.
"Ck, segala dapat pahala yaa enak benar ... Aish, memang dia ga pake hijab?"
"Ka Dewiq engga, Mama juga engga ... naksir ya?" Usik Aiswa mencari tahu.
"Makanya buruan, Dewiq masih jomblo noh, kan tadi sudah kagum waktu pertama kali lihat...." Amir mengingatkan kesan pertama Ahmad pada Dewiq.
"Ga tau ah ... aku duluan ... Mir, lekas ke depan jika sudah selesai."
Ahmad bangkit meninggalkan pasangan pengantin baru itu disana setelah ia membereskan peralatan makannya dari atas meja. Sejujurnya ia pun iri pada Amir, ingin berlaku mesra juga pada istrinya nanti seperti yang dilakukan oleh sahabatnya itu terhadap adiknya.
Acara inti dimulai, Amir berdiri bersisian dengan Hermana dan Buya di sebelah kanannya.
Lelaki yang masih terlihat sangat menjaga penampilannya itu menjelaskan tentang status Aiswa yang masih hidup.
"Setelah mengetahui kekeliruan diagnosa kami atas Nona Aiswa, kami langsung menghubungi keluarga Yai menjelaskan segalanya. Karena kondisi Nona Aiswa sangat lemah dan belum sadar saat itu, beliau mempercayakan perawatan putrinya pada kami kembali ... juga ini adalah sebagai bentuk tanggung jawab Hermana Grup terhadap kesalahan yang sudah kami lakukan." Pungkas Hermana Arya menjelaskan via pengeras suara dihadapan para jama'ah.
"Aku memang mengetahui kondisi putriku, namun semua telah terjadi, jenazah gadis yang mirip Aiswa telah bersemayam disana ... untuk menjaga aibnya, maka aku memutuskan tidak membongkar kembali pusara gadis yang akhirnya kami ketahui namanya adalah Danesh Aeyza."
"Minggu lalu, aku menjadi wali nikah langsung pernikahan kedua untuk putriku Aiswa Fajri dengan salah satu santri hafidz Tazkiya, putra Kaji Raden Mas Brajawisesa dari Solo yang menetap di Cirebon ... Raden Mas Amirzain Zaidi, slide bukti nikah di London ada dilayar samping jama'ah sekalian ... malam ini adalah silaturahim sebagai wujud syukur atas nikmat yang masih Allah beri pada keluarga kami sekaligus memperkenalkan menantuku ... silakan dinikmati sajian ala kadarnya, mohon doa dari para jama'ah agar rumah tangga putriku sentiasa Allah naungi Rahmat, aamiin."
Akhirnya, lega. Kedua pria paruh baya itu lalu berpelukan diiringi alunan gambus balasik sebagai hiburan para tamu.
Buya mengajak Amir berkeliling menyalami tamu dan rekan bisnis Hariri salim. Sedangkan Hermana Arya menemani Rayyan dan Ahmad menikmati sajian.
Beberapa jam kemudian, satu persatu tamu meninggalkan pesantren dan hanya menyisakan keluarga mereka. Buya mengajak semuanya berkumpul dalam satu tenda di meja panjang.
Ahmad beberapa kali mencuri pandang pada Dewiq, pun gadis itu menyadari jika ada yang memperhatikannya.
Rayyan dan Dwiana menjadi pusat perhatian karena candaan mereka berdua membuat riuh suasana.
"Bii, aku masuk duluan ya, ngantuk," bisiknya pada Amir yang masih setia ngobrol dengan Ahmad. Aiswa pamit lebih dulu, disusul umma dan Mama. Tak lama, Amir pun ikut masuk.
"Boleh minta nomer kamu? aku punya niatan serius terhadap mu ... setelah ini aku akan utarakan maksudku pada Buya...." sapa Ahmad saat akan bangkit meninggalkan meja menyusul Amir.
"Maksudnya Kak?"
.
__ADS_1
.
...______________________...