
Keduanya terkejut, Ahmad ingin mempercepat prosesi ta'aruf langsung ke lamaran.
"Bii, tolong tanyakan pada kakak yang betul tentang niatnya, apakah tergesa-gesa karena nafsu atau memang khawatir tidak dapat menahan? akan berbeda hukum nikah yang jatuh baginya," ucap Aiswa masih diatas pembaringannya.
"Iya sayang, kamu ga apa bila aku tinggal?"
"Kesebelah doank kan Bii, jangan lebay deh," cebik Aiswa.
"Ya kan tetap aja ditinggal sama aku Rohi," senyumnya terbit seraya menutup pintu.
Tampannya suamiku.
Tok. Tok.
"Fadhol, masuk Mir," suara Ahmad dari dalam.
"Kamu beneran mau langsung lamaran? umma tadi bilang gitu ke aku," tanya Amir saat telah masuk ke kamar Ahmad dan duduk di sofa single.
"Maunya, tapi dia bilang masih lama, tahun depan CoAss dan harus mengabdi dulu meski pastilah di rumah sakit milik ayahnya ... yang aku khawatirkan dia CoAssnya jauh Mir, lah aku masa iya ninggalin Buya ... aku ga bisa milih donk, antara dia atau Buya," keluhnya beruntun.
"Kayak udah yakin aja Dewiq mau sama kamu Mad," Amir tertawa lepas.
"Astaghfirullah, teganya, adik ipar ga ada akhlak ... bukannya doain malah bikin tambah Insecure."
"Ya terus gimana? baru juga berapa hari udah nyamber aja ... pembatalan kontrak sudah beres?" masih disela tawanya.
"Hari ini Mir, ba'da maghrib di kantor aku, temani yaa ... kemarin aku juga sudah berusaha menelpon Hasbi namun ditangguhkan melulu panggilan ku, kalau ga dijawab yaa di reject gitu ... biarin deh yang penting aku sudah berusaha menghubunginya," ujarnya menjelaskan duduk perkara.
"Juga aku ingin konsultasi sama kamu, tentang usahaku yang franchise itu Mir, enaknya pengembangan usaha kedepannya bagaimana ya?"
"Dia lagi kalut, bayinya anemia kemarin juga mungkin diagnosa baru belum keluar ... sabar aja yaa."
"Tentang pengembangan usaha rekanan bisnis franchise kamu, yaa bisa diadakan program pemantapan marketing atau SDMnya, bisa juga managementnya sebagai value plus jangka panjang ... berikan reward atau gift dari top owner alias kamu, untuk outlet dengan visual apik atau omset tertinggi misalnya ... ini bisa memicu kinerja Mitra bisnis loh, after sales kamu sebagai leader mereka dijaga, in sya Allah makin banyak nanti yang mau join." Pungkas Amir urun saran ide bagi Ahmad.
"Kan cerdas, aku kepikiran kesitu tapi bingung penyampaiannya ... bantuin bikin program donk...."
"Ya akhi kakak iparku yang sholeh ... usahamu kan makin besar, sudah saatnya tidak di handle sendiri ... bentuk team management yang kompeten, ga usah banyak namun sesuai kriteria yang kamu cari ... misal, tentang skill visual outlet, admin, marketing team juga lainnya ... contoh dari bisnis Buya ... hitung cost yang kamu punya, niatkan bantu buka lapangan kerja, jangan takut ga bisa ngegaji, minta sama Allah agar dimudahkan ... in sya Allah ada jalan jika untuk maslahat."
"Maa sya Allah, alhamdulillah ... tercerahkan, syukron adik ipar cerdas," sahutnya kagum pada sosok alim yang duduk disofa kamarnya.
__ADS_1
"Ya kalau otak penuh sama pikiran gituan emang ancur sih ... buntu kecuali disalurkan," ejeknya pada Ahmad.
"Ga jadi ana muji antum, afwan, ana tarik kembali," Ahmad mulai keki, digoda terus oleh Amir hingga dia tertawa bahagia.
"Mir serius temenin nanti malam," pintanya lagi meski Amir masih saja terkekeh geli.
"Malam ini? duh gimana yaa, Aish lagi kurang fit," Amir enggan ikut campur urusan yang berhubungan dengan Hasbi jika bukan Aiswa yang meminta.
"Hetdah, sebentar ... kamu bisa kekepin Aish malam lah, masa dari sore sih," sindir Ahmad.
"Pikir aja sendiri, kamu aja yang belum apa-apa udah ngebet, gimana aku donk disuguhi yang duuuuuuh tiap hari...." Ia tergelak.
"Keluar sana, pergi ... bikin huru-hara hati aku terus ... sana gih," usir Ahmad beranjak dari atas ranjangnya menarik lengan Amir keluar dari kamar.
Brakk. Ahmad menutup kencang pintu kamar masih dengan tawa Amir.
"Bii, kamu kenapa sih, kalau sama kakak ribut mulu saling ejek," tegur Aiswa saat Amir telah kembali ke kamarnya masih dengan sisa senyum menghiasi wajahnya.
"Kakakmu itu aslinya minus akhlak Rohi, kecuali tentang hukum syariah macam fiqih atau tafsir, byuh jagonya ... juga tentang tebar pesona meski dia hanya diam, macam Buya, kharismanya keluar, nah dia ahli tuh makanya Dewiq kepincut kan kemarin."
"Sama lah, Qolbi juga satu dua, sama Gamal apalagi ... agak anget semua," ujarnya seraya memiringkan badan membelakangi suaminya.
"Bii, ish, mau Ashar loh ... bii."
"Bagus donk, sekalian mandi," balasnya sembari tangannya menjelajah tubuh bagian depan Aiswa disertai suara serak menahan rasa yang kembali datang meminta dilepaskan.
Sementara suhu di kamar Amir mulai menghangat, kamar Ahmad diketuk oleh sang ayah.
Tok. Tok.
"Gih Mir, aku ga mau ngomong sama kamu, nyebelin," seru Ahmad.
"Kak, buka dulu, Buya mau bicara."
"Ya Allah, beik Buya, maaf." Ahmad bergegas membuka pintunya.
"Kenapa teriakin Amir? dia lagi istirahat, lelah loh ngurusin adik kamu itu," ujar Buya duduk disofa kamar putra sulungnya.
Hmm, mantu kesayangan, semua belain si Amir mulu.
__ADS_1
"Dia habis dari sini, biasa ngejekin aku mulu," keluhnya pelan.
"Kamunya paling yang mulai," tegur Buya.
"Kan, belain lagi ... Buya perlu sama aku?"
"Kamu pertimbangkan ya usulan Buya ... bukan tidak percaya kamu lagi sebagai team leader ... begini, laundry, koperasi dan kantin, Taz mania FM radio dakwah, Roti Taz, semua usaha pondok akan Buya alihkan untuk program skill kewirausahaan ... di kelola oleh team management yang sudah ada biar kamu fokus isi kajian pelan-pelan gantikan Buya."
"Aku setuju sih Buya, karena aku juga udah kelabakan bagi waktu ... program studi disertai praktek pasti akan lebih ngena dengan teorinya nanti."
"Alhamdulillah ... usaha kamu, gimana? sudah balik modal belum?"
"AH chicken? sudah balik modal di bulan keempat Buya, malah Mitra ku nambah sepuluh dalam satu bulan ini," ujarnya bangga.
"Berkah Nak, aamiin ... tour and travel umroh, juga distributor oleh-oleh haji, yang kamu kelola, Buya alihkan atas nama kamu Kak ... dokumennya sedang disiapkan lawyer, lusa akan kita resmikan yaa," jelas Buya lagi.
"Loh, jangan Buya jangan...."
"Ahmad, sejak kamu kuliah di Rusyaifah Mekah lima tahun lalu, ide itu muncul dari kamu ... tentang konsepnya juga para tour guidenya semua kamu yang kelola hingga besar seperti saat ini ... juga ide penyediaan oleh-oleh haji meski di Jakarta banyak saingan tapi kamu mampu menjalin kerjasama dengan buyer serta produsen dari sana dengan harga lebih rendah namun kualitas jauh diatas mereka yang Pioneer di bisnis ini ... semua kamu lakukan tetap dengan mengejar studi disana, dan semuanya berjalan baik."
"Belum tentu jika Buya yang kelola akan menjadi seperti saat ini, maka Umma dan Buya putuskan dua usaha ini menjadi milikmu karena sejak awal kamu yang terjun didalamnya, Buya hanya meminjamkan nama saja."
"Kan semua atas nama Buya, atas doa Buya dan Umma ... bukan aku," tunduknya malu akan tragedi yang ujungnya menarik Amir dan Aiswa.
"Karena kamu gigih ... doa orang tua menghantar agar anaknya maju, Allah memudahkan segala niat baikmu, ya Ahmad Hariri, putraku ... maafkan Buya jika selama ini tegas dan keras padamu ya Kak, maafkan Buya khilaf." Yai sangat menyesali sikap selama ini pada kedua anaknya.
"Buya...." Ahmad diam. Namun Yai menghampirinya, memeluk anak sulung yang sejatinya membuat dia bangga.
"Putraku ... majulah, Dewiq sepadan denganmu, bimbinglah dia agar menjadi menantuku yang sholihah ya Nak, jangan kecil hati ... kamu putraku, putra terbaik Tazkiya ... kapan kau ingin melanjutkan lamaran? bilang sama Buya ya Kak," ucapnya lagi menepuk bahu anaknya.
"Buya...."
.
.
...__________________...
...Done, kehangatan keluarga kembali 😌...
__ADS_1