
Korea Selatan kota seoul.
Akhirnya Lee Ji An, Lee Young Joon dan Kim Miso sudah sampai di Korea Selatan, mereka langsung menuju ke mantions keluarga Lee. Mereka pun keluar dari mobil dengan segera. Hati Lee begitu berdebar ketika dengan perlahan dia melangkah masuk kedalam rumah besar keluarganya. Dia begitu takut akan terjadi sebuah kekacauan karena dirinya.
"Ayo cepat, kenapa langkahmu begitu lambat Kamu manusia bukan siput," Yong Joon menarik tangan Lee sehingga Lee sendiri hanya bisa mengikuti langkah kaki sang kakak.
Keluarga besar sudah menunggu Lee Ji An, Lee Young Joon dan Kim Miso datang. Ada Hal-moeni, Hal-aboeji, Aboeji dan juga eomoeni.
(Hal-moeni : nenek) (Hal-aboeji)
(Aboeji : ayah) (eomoeni: ibu).
Entah kenapa Lee merasa sesak dengan ruangan yang mereka tempati sekarang. Padahal itu sebuah ruangan yang sangat besar. Ruangan keluarga lantai 1 di rumah mereka. Tetapi begitu tidak nyaman. Dia sudah memiliki firasat bahwa keluarga besarnya Pasti akan sangat marah kepadanya.
"Ji an, Kenapa dengan wajahmu nak? Kamu terlihat sangat pucat, sini kemarilah Hal-moeni begitu merindukanmu, nak," ucap Hal-meoni sambil memeluk Lee Ji An dengan penuh kasih sayang. Neneknya itu begitu merindukan dia sangat dalam. Lee sudah lama kuliah di Beijing dan dia jarang pulang.
Lee Ji An dengan segera memeluk sang Nenek dengan pelukan yang begitu mesra. Dia merasakan bahwa ini mungkin yang terakhir kalinya sang Nenek memperlakukan dia penuh kasih sayang, karena sampai waktunya tiba, Oppanya mengatakan kepada keluarga besar bahwa Lee telah mengandung bayi tanpa Ayah. maka dia pasti akan mendapatkan sebuah hukuman yang sangat berat.
"Kamu terlihat kurus nak, cucu Hal-meoni tidak boleh kurus seperti ini!" Neneknya lagi begitu sayang terhadap dia, karena itu dia selalu memperhatikan Lee memanjakan diri sendiri lebih kecil.
__ADS_1
"Hal-meoni," Lee Ji An menatap Mata Sang nenek dengan tatapan mata yang tajam namun benar-benar Lee tak sanggup untuk membendung air matanya, akhirnya Lee pun menangis dalam pelukan sang Nenek.
"Nae Sonja..., Nae Sonja, Kenapa kamu menangis seperti ini Jangan membuat nenek jadi khawatir," Hal-moeni berkata dengan kecemasan yang teramat sangat. Namun Lee tetap menangis dengan tersedu sedangkan Kim Miso dan Lee Young Joon hanya bisa menatap Lee dengan hati yang berdebar pula. (Sonja: cucu).
"Apa sebenarnya yang terjadi Joon, Bisakah kamu menjelaskan semua ini kepada kami?" Eomoeni bertanya kepada Joon tentang apa yang terjadi terhadap anak bungsu mereka.
"Iya cepat, sebaiknya cepatlah kamu katakan, apa yang akan kamu jelaskan sekarang kenapa kamu mengumpulkan kami semua, kamu tahu sendiri kami tidak bisa berkumpul lebih lama seperti ini, kami begitu sibuk. Aboeji juga harus segera pergi ke Gangnam untuk melihat Project kita di sana," tutur Aboeji dengan tatapan mata yang begitu tajam menatap kearah Lee Young Joon.
Semuanya ingin segera mendengar sebuah berita yang akan disampaikan oleh Lee Young Joon. Mereka semua harap-harap cemas, ada apa sih sebenarnya. Berita apa yang akan disampaikan, apalagi mereka melihat Lee Ji An Putri mereka, atau putri bungsu mereka pulang dalam keadaan menangis.
Lee Young Joon sendiri tidak bisa langsung mengatakan pada semua, inti permasalahanya. Karena pada dasarnya kalau dia langsung mengatakan inti sebuah permasalahan yang mereka hadapi, pasti gadis akan segera dihukum begitu berat, berharap hukuman keluarganya kali ini tidak seberat yang dia pikirkan.
"Begini sebelum aku membahas tentang yeodongsaeng, aku akan menceritakan sebuah cerita temanku kepada kalian, Aku ingin tahu, dan ingin mendengar komentar kalian tentang ceritaku ini, sebetulnya temanku mengalami sebuah musibah dia pergi mengunjungi sebuah kafe pada malam tahun baru, terus dia langsung menunggu Oppa-nya dan juga temannya di kafe tersebut, tetapi tiba-tiba saja seorang pria datang dan berkenalan dengannya. Gadis itu tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja gadis itu sudah berada di kamar, saat terbangun kondisinya sudah tidak mengenakan sehelai pakaianpun dan pria yang berkenalan dengannya bahkan menghilang. Gadis itu mencoba mencari keberadaan pria itu, namun itu tidak ditemukan, dia nyatanya sudah mengandung 1 bulan. Dan kini saat kembali Dia mencari keberadaan yaitu dan lagi-lagi dia tidak bisa menemukan pria itu, sebagai teman aku sangat sedih mendengar cerita itu, tapi sebagai orang tua apa yang akan kalian lakukan, jika itu terjadi pada keluarga kita?"
"Jadi pria itu menghamili gadisnya dan pergi tanpa kata-kata?" Ucapan Eomoeni dengan mengerutkan dahinya.
"Boleh di bilang seperti itu Eomoeni," jawab Joon.
"Dan gadis itu mengandung, kalau aku akan pasti menghukumnya, dengan sangat berat, aku akan memukulnya dengan beberapa cambukan agar bayi itu cepat mati dan tidak memalukan keluarga," ucap Aboeji.
__ADS_1
"Tidak itu tidak perlu, tidak usah membunuh orang dengan sekeji itu. Tapi sebaiknya kita putuskan saja hubungan keluarga dan usir dia dari rumah, cuma itu yang ada dipikiran kakeknya," sahut Hal-aboeji.
"Kalian sungguh kejam memberikan hukuman seberat itu pada seorang gadis, yang benar-benar sedang terkena musibah. Gadis itu bahkan tidak tahu keberadaan prianya, pria itu pasti berniat buruk pada gadisnya, itu bukan kesalahan gadis itu. Kalaupun memang dia mengandung," tutur Eomoeni dengan suara yang agak lantang.
"Nae sonja, Nae sonja, hatimu begitu bersih dan putih kamu begitu baik nak. Apakah kamu menangis gara-gara gadis itu, gara-gara kamu kasihan kepada gadis itu nak?" Tanya Hal-moeni kepada Lee Ji An.
"Hal-moeni, Hal-aboeji, Aboeji, Eomoemi, Maafkan aku semua itu terjadi kepadaku. Aku tidak tahu harus bagaimana, bukan aku sengaja. Bahkan aku tidak tahu pria itu berada di mana. Aku hanya berkenalan saja dengannya, aku tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba aku sudah berada di kamar bersamanya, dan aku sudah ternoda saat itu," tutur Lee Ji An dengan tangisannya yang meledak.
"Apa?"
"Apa?"
"Apa?"
"Nae sonja, apa maksudnya?" Hal-meoni terlihat begitu kecewa sekaligus tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Lee barusan. Semua orang begitu terkejutnya mendengar penjelasan dari Lee Ji An Ayah Ibu dan kakek Bahkan mereka hanya terdiam dengan mulut yang menganga mereka sungguh kecewa dengan apa yang Lee Ji An katakan.
Pranggg.
Gelas yang di pegang oleh kakek terjatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Sampai gelas itu melukai kaki sang kakek. Semua mata tertuju kearah sang kakek dan akhirnya Nenek mendorong Lee Ji An dan menghampiri Kakek dengan segera.
__ADS_1
Bersambung.🌺🌺🌺