
"Semua hutang kita sudah impas, hutang nyawa sudah dibayar dengan nyawa, meninggalnya orang tuamu sudah terbayar dengan meninggalnya ayahku. Aku harap kita semua tidak memiliki masalah lagi setelah ini, tidak ada dendam lagi di hati kita. Semoga kita bisa berbahagia. Aku ingin segera melanjutkan hidupku karena selama ini aku sudah berusaha untuk melupakanmu, sekarang kau datang lagi untuk mempengaruhi hatiku, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku tidak akan tertipu oleh kalian lagi untuk kedua kalinya, aku harap Nenek pergi dari sini," kata Lee Ji An dengan isak tangisnya, tiba-tiba saja Ryu Jin datang sambil memeluk kaki Lee Ji An.
"Ibu jangan menangis. Ibu tidak boleh menangis. Apakah mereka yang membuat Ibu menangis?" kata Ryu Jin sambil memeluk kaki Lee Ji An dengan sangat erat, anak itu masih terlalu pendek untuk bisa memeluk tubuh ibunya, hanya bisa bertumpu pada kaki sang Ibu agar bisa memberikan semangat untuk ibunya.
"Ryu Sayang, Ibu tidak menangis. Ibu cuma kelilipan saja, kenapa keluar rumah, mainlah di dalam bersama adikmu, Sayang," ungkap Lee Ji An sambil menyeka air matanya, lalu menggendong baby Ryu Jin dengan penuh kasih sayang.
Nathan dan nenek Liao begitu terkejut dengan kedatangan keturunan mereka. Anak itu berkata dengan begitu pintar, mereka begitu bahagia karena ternyata Nathan sudah memiliki keturunan sepintar itu, serta memiliki wajah yang sama persis tidak ada bandingannya dengan yang lain.
Nathan merasakan kesejukan yang teramat dalam, melihat Lee menggendong baby Ryu Jin, dia rasanya ingin ikut bergabung memeluk anak itu, bersama tapi apalah daya saat ini dia tidak diperkenankan untuk menyentuh apalagi memeluk anak tersebut.
"Ini Nenek nak. Maukah kamu berkenalan dengan Nenek?" ungkap nenek Liao dengan air mata yang menetes.
"Nenek yang mana? Aku sudah punya banyak Nenek, aku tidak memerlukan Nenek yang lain, kalian sudah membuat Ibuku menangis aku benci kalian," tangkas Ryu Jin dengan mata yang berkaca-kaca, anak itu benar-benar tidak tega melihat sang Ibu di buat menangis seperti itu.
"Siapa bilang Ryu, bukan Nenek dan orang itu yang telah membuat Ibu menangis, tetapi kamu kamu, yang sudah membuat Ibu menangis Sayang. Ibu bahagia memiliki dirimu, sampai ibu menangis," kata Lee Ji An kepada Ryu Jin, wanita itu tidak mau Ryu Jin memiliki sifat benci kepada orang lain walaupun dia memang ini membenci Nathan dan nenek Liao, Lee tidak mau Ryu Jin merasakan hal yang sama, karena membenci seseorang sangatlah menyedihkan dan menyakitkan.
__ADS_1
"Benarkah Ibu. Benarkah Ibu tidak berbohong kepadaku? Tapi kalau ibu berbohong, aku tidak akan memaafkan ibu." Anak itu menyeka airmata Lee Ji An yang masih tersisa.
"Jelas saja, untuk apa Ibu berbohong kepadmu Nak, sebaiknya kamu sekarang masuk, bermain bersama adikmu, kasihan lihatlah Lee An Mi menunggumu di pintu," kata Lee Ji An menunjuk ke arah pintu dan terlihat anak kecil berusia 3 tahun menunggu disana.
"Baiklah ibu, tapi Ibu tidak boleh menangis lagi, aku pergi ya, aku sayang ibu," ungkap Ryu Jin sambil mencoba turun dari gendongan Lee Ji An dan langsung berlari menuju ke pintu tempat dimana Lee An Mi menunggunya.
"Ya Tuhan cicitku sudah sangat pintar. Terima kasih Tuhan. Melihat dia sehat seperti itu, aku sedikit senang, aku bisa mati dengan tenang," kata nenek Liao sambil meneteskan air mata kebahagiaan, menatap Ryu Jin sampai akhirnya Ryu Jin masuk ke dalam rumah.
"Iya Nenek, ternyata Nathan sudah memiliki seorang putra. Jika saja Nathan mengetahui hal ini sedari awal, maka pasti akan merasa bahagia seperti ini dari awal," kata Nathan terus memperhatikan baby Ryu Jin yang kini sudah tidak ada lagi.
Nenek Liao hanya untuk menyeka air mata saja, tetapi beruntunglah tangan itu sedikit demi sedikit bisa bergerak dengan aktif.
"Baiklah Nenek. Ayo kita berangkat," kata Nathan sambil pergi bersama sang Nenek. Meninggalkan keluarga Lee Ji An dengan hati yang perih, dan hampa. Lee sendiri hanya bisa meneteskan air matanya, hatinya campur aduk. Apa yang harus dilakukan saat ini, dia benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang dikatakan oleh keluarga Nathan.
Dia tidak mau tertipu untuk kedua kalinya. Karena itulah Ia memutuskan untuk mengusir kedua orang tersebut.
__ADS_1
Setelah Nathan pergi lalu akhirnya keluarga pun masuk kedalam rumah semuanya. Secara tiba-tiba saja Lele datang membawakan sebuah kabar kepada keluarga.
Lele mengatakan bahwa memang pada dasarnya Nathan jatuh pingsan pas hari pernikahan, dan harus segera dilakukan operasi, dan operasi tersebut ternyata bisa membuat hilangnya ingatan Nathan. Sedangkan sang Nenek mengalami stroke di hari yang sama, tidak bisa bergerak, tidak bisa bicara, bahkan seperti mayat hidup. Keadaan ini dimanfaatkan oleh adiknya Yuan Chuan, yang menyukai Nathan. Sehingga ketika Nathan tersadar, adiknya Yuan Chuan berusaha untuk mendekati Nathan dan berbohong kepadanya, dan mengatakan bahwa dia adalah kekasihnya Nathan.
Dokter Yuan Chuan memang awalnya tidak setuju, tapi adiknya mengancam ingin mengakhiri hidupnya. Karena itulah Dokter Yuan Chuan memilih untuk mengikuti keinginan adiknya.
Kini nyonya Lee merasa sangat menyesal, karena telah mengusir keluarga Nathan, ia pikir mereka berbalas dendam ternyata kenyataannya tidak seperti itu.
"Ya Tuhan. Ibu sudah mengusir mereka," kata nyonya Lee dengan seribu Sesal yang dia rasakan
"Aku pun sama, tetapi ini semua sudah terjadi, kita tidak bisa berbuat apa-apa," ungkap Lee Ji An dengan tetesan air matanya. Ia tidak menyangka bahwa Nathan memang tidak menghianatinya, selama ini dia membencinya karena mengira Nathan berkhianat kepadanya, tapi ternyata semua itu hanyalah tipuan seseorang.
"Sekarang karena kita sudah mengetahui semuanya, sebaiknya Lain kali kita kenalkan Ryu Jin kepada mereka, tetapi sebaiknya Lee Ji An harus menikah terlebih dahulu, tidak bisa kita mengabaikan Sehun begitu saja," kata Lee Young Joon dengan suara yang rendah namun tegas.
"Lee Jangan tergoyah karena kejadian ini
__ADS_1
Walaupun memang ternyata Nathan dan Neneknya tidak bersalah, tetapi Sehun juga tidak bersalah," kata sang Ibu kepada putri kesayangannya, dan kini Lee hanya bisa terdiam dengan tatapan mata yang Sendu.