Ketika Nathan Bertemu Lee

Ketika Nathan Bertemu Lee
Sakit


__ADS_3

Setelah melakukan panggilan telepon bersama sang kekasih, Nathan langsung bergegas membereskan mejanya, dia segera pulang menuju ke kediamannya. Sekretaris Han mengatakan bahwa nenek dalam keadaan demam.


Kini Nathan sudah sampai di kediamannya. Dia melihat nenek kesayangannya sedang diperiksa oleh Dokter pribadinya.


"Apa yang terjadi Dokter? Nenekku biasanya tidak pernah sakit, dia adalah wanita yang tangguh dan kuat, dari kecil dia merawatku dengan penuh kasih sayang, dan seluruh kekuatannya. Tapi sekarang dia sakit, aku tidak tega melihatnya," kata Nathan dengan mata yang berkaca-kaca. Pria itu tidak tega melihat sang nenek terbaring lemah tak berdaya seperti itu, padahal besok adalah hari pernikahannya, hari yang sangat penting dan berarti untuknya, tapi kini nenek malah sakit.


"Begini, sebenarnya nenek anda agak sedikit depresi minggu-minggu ini, sehingga menyebabkan dia kesulitan tidur, ada pikiran yang mungkin dia pendam, membuat darahnya melonjak naik melebihi kadar darah normal, tekanan darahnya sampai 200/120 jika ini sampai berkelanjutan itu akan sangat bahaya untuknya, bisa saja dia mengalami pecah pembuluh darah, atau stroke," tutur Dokter itu menjelaskan kepada Nathan.


Nathan terkejut ketika mendengar penjelasan dari Dokter itu, dia merasa tubuhnya begitu lemas, ucapan Dokter yang terakhir yang mengatakan bahwa nenek bisa saja mengalami pecah pembuluh darah, atau stroke membuat ia benar-benar tak berdaya, dan sangat sedih, nenek adalah satu-satunya orangtua yang dia miliki. Dan Nathan tidak mau kehilangan nenek seperti halnya dia kehilangan kedua orangtuanya.


"Dokter, apa yang harus aku lakukan agar bisa sehat kembali? Kenapa nenek bisa jadi seperti ini, padahal biasanya tidak pernah sakit sama sekali?" Nathan bertanya kepada sang Dokter dengan mata yang berkaca-kaca, tubuhnya bergetar dia tidak tega melihat sang nenek seperti itu.


"Coba anda tanyakan dari hati ke hati, apa sebenarnya persoalan yang nenek anda pendam. Sepertinya dia memendam sebuah persoalan dan tidak menceritakan pada siapapun, sehingga dia mulai depresi, karena itulah dia kesulitan tidur dan membuat tekanan darahnya melonjak," kata dokter itu menjelaskan kepada Nathan untuk kedua kali.


"Baiklah Dokter, saya nanti saya akan mencoba berbicara dengan beliau, tapi saya mohon berikanlah obat agar nenek cepat sembuh, dan pulih seperti sediakala, saya tidak punya siapa-siapa lagi selain dia," kata Nathan dengan suara yang bergetar, ketakutannya sudah menjalar keseluruh tubuhnya, dia tidak bisa lagi untuk berbohong, untuk tidak cemas, karena memang dia begitu cemas melihat keadaan sang nenek yang seperti itu.


"Anda harus tenang Pak. Saya sudah memberikan resep kepada sekretaris anda, agar menebusnya di apotek, karena itu setelah resepnya datang anda harus langsung membujuk nenek anda untuk meminum obatnya, sekarang biar kan beliau tidur terlebih dahulu, agar pikirannya lebih teman," kata Dokter itu dengan senyumannya.

__ADS_1


"Terima kasih banyak Dokter. Baiklah aku akan mencoba membujuk nenek untuk minum obat secara teratur. Terima kasih banyak Dokter," Nathan tersenyum kepada Dokter tersebut. Lalu Dokter itu pun berpamitan meninggalkan dan kediaman Nathan Liao.


Setelah Dokter itu pergi, Nathan masih setia menemani sang nenek di kamarnya, Pria itu merasa sangat sedih, neneknya terkulai lemas tak berdaya, dia rasanya ingin menangis. Tetapi dia seorang laki-laki dia harus terlihat tegar dan kuat. Sebagai seorang cucu dia belum bisa membahagiakan sang nenek, karena memang dia selalu membantah ucapan neneknya, kini dalam kondisi yang lemah seperti itu Nathan merasa menyesal karena tidak bisa membantu mengurangi rasa sakit neneknya.


Pria itu menggenggam erat tangan sang nenek dengan penuh kasih sayang. Dia seolah tidak mau melepas tangan neneknya tersebut. Nenek Liao masih terlelap dibuai mimpi. Selang infus yang sudah terpasang serta obat yang sudah dimasukkan ke pada labu infusan membuat nenek tertidur dengan lelap.


"Nenek jangan sakit seperti ini, besok adalah hari pernikahan Nathan bersama Lee Ji An. Bagaimana bisa sakit seperti ini di saat hari bahagiaku akan segera datang, Nenek harus sehat agar kebahagiaanku bisa sepenuhnya memuncak, Nathan tidak tega melihat Nenek seperti ini, dan Nenek harus kuat seperti dahulu Nenek merawat Nathan, sekarang pun Nenek harus tangguh seperti itu, Nenek tidak boleh sakit." Pria itu terus menggenggam tangan sang nenek, tanpa terasa air matanya terjatuh karena dia tak kuasa menahan kesedihan yang mendalam.


"Sebenarnya Nenek memikirkan apa, seharusnya Nenek bahagia karena aku akan segera menikah, dan bahkan aku sudah memiliki seorang anak. Bukankah Nenek menginginkan seorang cicit, aku sudah memiliki cicit Nek, aku sudah memiliki baby Ryu di sampingku bersama Lee Ji An. Nenek harus lebih bahagia dari pada aku, bukankah keinginan Nenek itu menikahkanku dengan seorang gadis cantik, tapi Nenek malah sakit seperti ini sungguh membuat hatiku sedih melihatnya." Nathan kembali berkata dengan perasaan yang terluka. Pria itu tak kuasa menahan air matanya.


"Tuan muda ini obat yang sudah saya beli di apotek barusan," kata seorang pelayan menyodorkan sebungkus plastik yang berisi obat untuk sang nenek.


"Terima kasih banyak. Tolong ambilkan air hangat untuk Nenek ya," kata Nathan dengan senyumannya. Nathan memang begitu sedih tapi dia selalu ramah terhadap siapa pun apalagi terhadap pekerjannya. Dia tidak mau memperlihatkan kesedihan itu di depan orang banyak, karena dia merasa harus kuat menjadi seorang laki-laki.


"Baiklah Tuan muda tunggu sebentar. Apakah ada lagi yang harus saya ambil selain air putih?" pelayan itu bertanya.


"Tidak, sudah itu saja. Nanti kalau saya mau makan saya akan mengambil sendiri makanan di ruang makan," kata Nathan dengan suara yang rendah.

__ADS_1


"Baiklah Tuan muda, saya permisi sebentar." Pelayan itu lalu pergi meninggalkan Nathan mencoba untuk mengambilkan segelas air hangat. Dan beberapa saat kemudian pelayan itu pun datang kembali membawakan segelas air hangat untuk nenek kesayangannya.


"Nenek ayo bangun dulu sebentar, Nenek harus minum obat, agar Nenek cepat sembuh," kata Nathan kepada neneknya, namun nenek masih tertidur dengan pulas.


"Ayolah nenek, bangunlah demi aku, nenek harus sehat, kalau terjadi sesuatu kepada nenek, maka aku pun tidak mau hidup lagi," kata Nathan dengan suara yang yang rendah.


Sepertinya samar-samar nenek Liao mendengar ucapan Nathan, dan benar saja dengan perlahan wanita paruh baya itu membuka kelopak matanya.


"Kamu tidak usah berkata sembarangan," kata sang nenek dengan nada yang begitu lemah.


"Ya Tuhan terima kasih, karena Nenek sudah bangun, aku sudah bahagia. Ayo Nenek ini minum obatnya terlebih dahulu, agar cepat pulih aku tidak tega melihatnya seperti ini," kata Nathan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Baiklah nenek akan meminum obatnya, tapi setelah ini, Nenek akan tidur lagi, kepala Nenek masih pusing," kata Slsang nenek dengan lemah.


"Tentu saja harus minum obat. Setelah itu Nenek tidur kembali," kata Nathan mencoba untuk mengatur posisi sang nenek agar bisa setengah duduk, bersandar kepada bantal. Akhirnya nenek Liao pun meminum obatnya setelah dia meminum obatnya wanita paruh baya itu langsung kembali merebahkan tubuh. Karena kepalanya masih berdenyut merasakan rasa sakit. sedang Nathan tidak mau beranjak di samping sang nenek, dia terus menggenggam tangan sang nenek sambil menggenggam tangan nenek sayangannya.


🎄B🎄e🎄r🎄s🎄a🎄m🎄b🎄u🎄n🎄g

__ADS_1


__ADS_2