
Ketika itu Nathan benar-benar tidak percaya bahwa kakinya telah ternoda oleh darah yang mengucur dari atas tempat tidur Lee ke lantai dan mengotori kaki dan celananya. Tubuh Nathan bergetar dengan seketika melihat kejadian tersebut. Dengan perlahan Nathan membuka selimut yang dikenakan.
Dan ternyata keluar darah yang begitu banyak dari bagian intim sang kekasih. Darah segar berwarna merah dan berbau sangat khas. Daerah itu mengalir begitu deras seperti air Pancoran tidak bisa tertahankan. Ternyata Lee mengalami perdarahan pervaginam. Perdarahan yang terjadi pada pasca persalinan.
"Apa ini apa yang telah terjadi, Dokteeerr !" Teriak Nathan dengan sangat kencang, pria itu langsung berdiri menekan bel yang berada di atas tempat tidur, menempel pada dinding. Tetapi karena keterkejutannya dia tidak mampu untuk hanya berdiam diri melihat keadaan yang begitu ganting seperti ini.
Nathan berlari dengan sekuat tenaga mencoba keluar mencari arah tempat para perawat beristirahat. Sampai akhirnya Nathan sampai di ruangan perawat dan kembali berteriak. "Dokter, Suster... ikut aku untuk melihat istriku, istriku mengalami perdarahan, cepatlah Dokter!" teriakan Nathan sangat menggema membuat para perawat pun terkejut dengan seketika.
"Ada apa, Tuan?" Salah satu perawat langsung berdiri dan berlari kearah Nathan. Nathan tidak berhenti sampai di situ, pria itu langsung menarik tangan perawat itu dengan begitu cepat. Nathan berlari sambil menarik lengan perawat itu, sampai akhirnya kini mereka sudah sampai di dalam ruangan rawat inap.
"Lee lihat, ini aku Lee, lihat aku ada di sini!" ucap Sehun dengan seribu kecemasannya. Pria itu begitu ketakutan karena melihat Lee Ji An terlihat begitu pucat. Bibir Wanita itu sudah begitu pucat, kelopak mata pun terlihat putih semuanya terlihat begitu menghawatirkan.
Lee Ji An sendiri terus menerus menguap, dia seperti orang yang sedang benar-benar mengantuk.
__ADS_1
"Aku mengantuk, tapi aku ingin bertemu dengan bayiku!" ucap Lee Ji An dengan suara yang begitu pelan, nada suaranya begitu halus seolah tidak bisa berkata dengan begitu kencang tenaganya benar-benar sudah tak ada lagi, tubuhnya benar-benar lemas rasa kantuk sudah menyelimuti seluruh jiwanya.
"Ada apa?" Sekali lagi erawat itu bertanya, Perawat itu terlihat kesakitan dan ingin melepaskan diri dari genggaman tangan Nathan. Nathan segera melepaskan genggaman tangannya kepada Perawat tersebut. Lalu Pesawat tersebut segera menghampiri Ji An.
"Ya Tuhan ini perdarahan pervaginam, perdarahan post partum (perdarahan setelah melahirkan?)" ucap perawat tersebut sembari langsung memberikan guyuran infus pada jalur infus yang telah terpasang.
"Ya Tuhan, ya Tuhan selamat kan dia, selamatkan Lee," Nathan berdo'a dengan begitu frustasi, Nathan tidak mau lagi kehilangan Lee bareng sekejap, dia sudah kehilangan Lee selama sembilan bulan. Kini dia tak mau sesuatu terjadi kepada kekasih hatinya.
Hatinya sudah terpatri dia begitu mencintai gadis itu, apalagi melihat perjuangan wanitanya, berjuang untuk melahirkan putranya, mengorbankan semua harga diri serta nama baiknya, rela di buang oleh keluarga demi membesarkan bayi dalam kandungannya, dan kini perjuangan kedua yaitu perjuangan untuk melahirkan putranya yang benar-benar menyentuh perasaannya.
"Mohon maaf Tuan sekalian, anda semua diharapkan untuk menunggu pasien di luar ruangan saja!" Ucap salah satu suster mengusir Nathan dan Sehun dari ruangan itu.
"Baik Dokter, tapi aku mohon tolong selamatkan Kekasihku!" kata Nathan dengan suara yang bergetar tubuhnya begitu lemas karena melihat darah yang terus-menerus keluar tanpa bisa terbendung.
__ADS_1
Baru kali ini pria itu melihat aliran darah yang begitu deras seperti air keran, yang mengucur tanpa henti tanpa tutup ataupun apapun. Air keran itu mengocor terus mengalir seperti darah yang terus-menerus keluar dari bagian intimnya. Darah Itu membanjiri kasur sampai mengalir menetes ke bawah mengotori lantai di bawah tempat tidur tersebut.
Bau amis darah mulai menyengat dan membuat semua terlihat begitu panik, aliran darah terlalu banyak membuat Suster itu kalangkabut salah satu Suster berlari untuk meminta bantuan dari PMI yang ada di dalam rumah sakit. Suster itu berlari menuju Bank Darah yang ada di rumah sakit tersebut untuk melakukan transfusi darah kepada Lee.
Samar-samar terdengar dari ruangan, di dalam Dokter itu melakukan tindakan dengan segera. Nathan benar-benar tak bicara sepatah kata pun lagi. Pria itu bergetar dengan begitu lemas. Seolah semuanya terasa hampa, tangannya mulai dingin dan wajahnya terlihat begitu pucat, ketakutan sudah mulai menyelimuti dirinya, jiwanya seolah terombang-ambing di dalam ombak yang benar-benar menghempaskannya ke dalam sebuah batu karang.
Air matanya tak bisa lagi berhenti menetes, pria itu seolah-olah hendak melepaskan jantungnya, karena jantungnya berdebar kencang saking ketakutan.
"Tuhan aku mohon selamatkan dia, aku sangat mencintainya," Nathan berkata dengan mata yang berkaca-kaca, pria itu benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan selama selama menunggu Dokter memberi pertolongan kepada Lee Ji An. Dia hanya bisa memanjatkan do'a di dasar hatinya. Tak ada lagi yang bisa dilakukan selain bertawakal kepada Tuhan-nya.
Kini Nathan hanya bisa terduduk di atas kursi di depan ruangan rawat inap Lee. Salah satu Suster yang berlari tadi, kini sudah kembali dengan berlari kembali membawa beberapa labu darah untuk transfusi ke dalam tubuh kekasihnya.
"Selamatkan dia aku mohon, jika dia selamat, aku berjanji akan selalu menjaganya, aku berjanji akan selalu mencintainya. Aku berjanji akan selalu memberikan dia kebahagiaan, Aku akan segera menikahinya. Aku akan memberikan hidupku untuknya seluruh hidupku seluruh jiwa dan ragaku. Aku berjanji akan membuat dia selalu tersenyum. Aku berjanji akan memberikan dia semua yang diinginkan, aku berjanji demi kebahagiaannya Ya Tuhan. Selamatkan Lee Ji An, selamatkan dia. Aku sungguh tidak tega ini semua terjadi kepadanya, Lee melahirkan Putraku dan dia harus bertaruh nyawa seperti itu. Tuhan aku memang bukan orang yang baik, aku pun memang tidak pernah mengingat namamu selama ini, tetapi aku akan berubah Tuhan, aku akan selalu mengingatmu. Jika kamu menyelamatkan istriku, selamatkan calon istriku. Selamat kekasihku. Selamatkan ibu dari anakku. Tolong selamatkan dia aku mohon Tuhan. hanya kepada-Mu aku memohon. Aku tidak tahu harus memohon kepada siapa lagi, aku ini hanya bisa mengingatmu saja. Aku percaya kepada Kebesaran-Mu. Aku yakin kamu bisa mendengar do'aku dan melihat aku bertanya terpuruknya aku saat ini. Betapa ketakutannya aku saat ini, aku sangat takut kehilangan dia. Aku sangat sedih melihat dia menderita seperti itu. Aku berjanji kepadamu akan menjadi orang yang baik, seperti kataku tadi, aku akan melakukan semua itu!" tutur Nathan di dasar hatinya. Dengan air mata yang terus mengalir deras.
__ADS_1
Bersambung.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺