Ketika Nathan Bertemu Lee

Ketika Nathan Bertemu Lee
Kehampaan


__ADS_3

Sesampainya Lee di Jepang. Wanita itu disambut hangat oleh keluarga. Nyonya Lee bertanya banyak pada Ryu Jin tentang aktivitas mereka di Indonesia. Beruntunglah Ryu Jin tidak keceplosan. Anak itu benar-benar bisa di percaya dan tidak berkata apa pun soal ayah barunya.


"Kalian mau makan dulu apa mau mandi?" tanya nyonya Lee kepada putri dan cucu tampannya.


"Aku mandi dulu saja Ibu, badanku terasa begitu lelah," kata Lee Ji An sambil mendorong koper masuk ke dalam kamarnya


Kalo Ryu mau makan Halmoeni," tangkas Ryu Jin.


"Baiklah-baiklah Cucu ganteng Nenek pasti sangat lapar, ayo Nenek suapin ya Ryu makan," kata sang nenek pada Ryu Jin.


"Iya Nenek, asik." Anak itu terlihat begitu senang.


"Nenek rindu pada Ryu, empat hari tidak di rumah rasanya seperti empat bulan saja Sayang," kata nyonya Lee sambil mendudukan Ryu di meja makan.


"Ryu juga rindu sama Nenek." Anak itu tersenyum manis kepada sang nenek. Lalu setelah itu nyony Lee langsung menyuapi cucu kesayangannya dengan senyum berbinar. Sedangkan Lee Ji An sendiri langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya dari keringat.


Lee Ji An merendam tubuhnya di bak mandi, lalu memejamkan matanya dia mengingat bayangannya waktu dia dan Nathan berendam di bak mandi bersama. Bahkan mereka bercinta di sana. Wanita itu mengingat setiap sentuhan yang Nathan berikan, kecupannya, belaian, bisikan mesra serta adegan bercinta yang mereka lakukan, dan Lee mengingat setiap detailnya. Wanita itu merasa sangat hampa karena harus pergi meninggalkan Nathan.

__ADS_1


"Nathan, Nathan. Akuu masih bisa membayangkan bahwa kamu memelukku ditempat seperti ini, aku masih bisa membayangkan sentuhan lembutmu, saat kamu menyenangkan aku. Aku merindukanmu Nathan, sangat merindukanmu, Sayang," lirik Lee Ji An sambil mengelus lembut tubuhnya dengan busa sabun, wanita itu menitikkan air matanya lalu dengan segera dia beranjak dari bak mandi tersebut untuk membilas seluruh tubuhnya.


"Aku tidak boleh seperti ini, aku harus segera menghilangkan bayangan itu," kata Lee Ji An sambil mencoba menggunakan handuknya dan masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu merasakan sangat lelah, perjalanan yang lumayan jauh dan juga sebelum dia pulang Lee juga terus-menerus diberikan pekerjaan rumah oleh Nathan sehingga membuat mereka begitu kelelahan.


"Sebaiknya aku tidur saja dari pada terus membayangkan hal yang tidak seharusnya aku bayangkan," ungkap Lee Ji An sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur, wanita itu mencoba untuk menutup kedua matanya.


"Sayang kamu cantik sekali, seluruh tubuhmu itu begitu indah, aku sampai tidak bosan memandangimu terus-menerus. Sayang aku bantu melepaskan pakaianmu ya, malam ini kita bisa bersama sampai kita kelelahan gimana mau tidak?" bisik Nathan dengan mesra, membuat Lee Ji An tersenyum manis. dia lalu membuka matanya dan ternyata di sana tidak ada siapa-siapa.


"Nathan, Nathan. Kamu di mana? Kenapa rasanya selalu ada dirimu di mana-mana, sampai dirimu terasa menyentuhku, aku merasa sangat hampa. Aku harus apa?" Wanita itu benar-benar merasa dadanya begitu sesak, seluruh bayangan Nathan masih teringat di dalam benaknya.


"Aku merindukanmu dan sangat aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa bersama denganmu, aku tidak mungkin meninggalkan Sehun, membohonginya saja sudah membuat hatiku ketakutan. Aku sangat takut Sehun terluka karena mengetahui semua tentang kita, dia itu terlalu baik kepadaku, tetapi tanpamu aku merasa tidak berdaya." Wanita itu berkata di dasar hatinya sambil meneteskan air matanya.


"Lee kamu mau makan sekarang apa nanti?" tanya Kim Mi So kepada adik iparnya.


"Tidak, aku tidak mau makan apapun. Aku ingin tidur saja." Lee Ji An memejamkan matanya, lalu Kim Mi So datang dan duduk disampingnya.


"Apa ada yang terjadi di Indonesia, sampai kamu terlihat depresi seperti ini?" tanya Kim Mi So dengan kening yang mengerut, wanita itu selalu tahu apa yang dialami oleh sahabatnya, karena mereka bersahabat sejak lama, dan mereka bahkan sekarang menjadi saudara ipar.

__ADS_1


"Apa maksudmu, tidak ada yang terjadi di Indonesia. Aku hanya lelah saja. Aku ingin tidur dulu mungkin malam ini aku tidak makan. Tapi besok pagi saja aku makan," ungkap Lee Ji An dan terus memejamkan matanya, menetralisir rasa rindu yang dia rasakan untuk Nathan kekasihnya.


"Apakah kalian bertemu di sana? Aku bisa menebaknya aku tidak mungkin salah, kamu tidak bisa bohong," ungkap Kim Mi So sambil menatap sahabatnya dengan tajam. Lee Ji An langsung membuka matanya dia tidak percaya bisa tertebak dengan mudah.


"Tolong kecilkan suaramu, jangan sampai orang luar mengetahui hal ini," pinta Lee Ji An kepada sang kakak ipar.


"Ternyata sangat mudah, aku tebak kalian berhubungan lagi kan?" Kim Mi So berkata sambil menggelengkan kepalanya, Lee hanya bisa menganggukan kepalanya dengan mata yang terpejam.


"Kamu tahu kan itu salah, kamu sudah mau menikah dengan Sehun, tapi masih bertemu dengan Nathan, jangan sampai perbuatanmu itu diketahui oleh Sehun dan membuat Sehun sakit hati. Apa kamu tahu betapa baiknya Sehun dan keluarganya. Bahkan dia bisa menerima kamu dan anakmu," kata Kim Mi So menjelaskan kepada Lee Ji An bahwa perbuatannya itu salah.


"Aku tahu, aku tahu. Tapi aku mencintainya. Aku masih mencintainya, aku tidak bisa hanya diam saja ketika mengetahui bahwa ternyata dia tidak pernah menghindariku, dia tidak pernah meninggalkanku, dan bahkan dia tidak pernah menghianatiku. Itunglah kesalahannya, karena aku masih sangat mencintainyam." Wanita itu menangis begitu lirih, dia menutup wajahnya dengan selimut mencoba bersembunyi di balik selimut itu, dan menangis dengan tersedu.


"Aku tahu, tapi posisinya sekarang, kondisinya sudah beda, jangan seperti itu lagi. Lupakanlah Nathan, walau mungkin itu begitu berat, tapi aku yakin kamu pasti bisa," ungkap Kim Mi So kepada Lee Ji An.


"Mi So apakah kamu tahu aku membawa dia di dalam pikiranku, menyimpannya di dalam hatiku, di ruangan ini dia ada dan bergerak melakukan semua hal bersamaku, tetapi saat aku tersadar semua itu hanya ilusi, semuanya seolah hancur, hampa sangat hampa." Wanita itu menitikkan air matanya, mengatakan kepada sang sahabat tentang apa yang dia rasakan saat ini.


"Ya Tuhan aku sungguh kasihan kepadamu. Aku bahkan tidak bisa membantumu, tetapi dibalik rasa cintamu terhadap Nathan, kamu harus mengingat ada seseorang yang sudah sangat baik kepadamu, dan bukan cuma satu orang, tetapi ada keluarganya juga, pikirkan tentang hal itu, pikirkan betapa sakit hatinya Sehun jika sampai mengetahui semua ini," ungkap Kim Mi So dengan mata yang berkaca-kaca, sebenarnya dia tidak tega untuk berkata seperti itu, tapi apalah daya ini sudah menyangkut dengan hubungan keluarga, tidak bisa diputuskan begitu saja.

__ADS_1


"Aku harus apa? Aku harus bagaimana, aku mau tidur saja, aku seolah mendengar suaranya berbisik di telingaku, menyuruhku untuk tidur" kata Lee Ji An dengan tatapan yang sendu, sedang Kim Mi So hanya terdiam dengan wajah yang serba salah.


__ADS_2