
Suara dering telepon memecah kesunyian. Kini Lee Ji An dan Nathan begitu terkejut, karena dering telepon Lee membuat semuanya berfokus menatap kearah dia.
"Maaf ada telepon dari ibu, sepertinya aku harus segera mengangkat telepon ini, aku takut telepon ini begitu penting," ungkap Lee Ji An kepada Nathan dan sang nenek.
"Angkat saja teleponnya takutnya ada sesuatu hal, benar kata kamu bagaimana kalau ada sesuatu yang penting, silakan nenek tidak melarang kamu mengangkat telepon," kata sang nenek dengan keramahannya. Lee Ji An mengangguk, smbil menorehkan senyum yang manis pada nenek Liao. Dia lalu sedikit menghindar dari Nathan dan nenek Liao untuk mencoba berbicara secara leluasa dengan ibunya.
Di dalam sebuah panggilan telepon.
"Halo bu ini aku," kata Lee Ji An kepada sang ibu.
"Lee, sedang apa kamu disana?" ibu bertanya dengan suara yang datar sepertinya tanpa ekspresi sama sekali.
"Bu, Lee sedang berkunjung ke pemakaman ayah dan ibunya Nathan. Maafkan Lee berangkat tanpa izin," lirih Lee Ji An kepada sang ibu.
"Kamu tahu apa yang terjadi, karena kamu ayah mengalami serangan jantung. Lihatlah sekarang ayah sudah dirawat di rumah sakit, semuanya kacau. Kamu sengaja ingin membuat keluarga kita hancur, kamu tidak menyayangi ayah dan ibu," tangis ibu Lee pecah. Seketika tubuh Lee bergetar mendengar ucapan dari sang ibu yang mengatakan bahwa ayahnya terkena serangan jantung, dan lagi-lagi karena dirinya telah membuat ulah, membuat ayahnya sakit seperti itu.
"Ayah-ayah ... ibu tidak bisa berbohong kepadaku," Lee Ji An merasakan sakit dalam hatinya dan karena mengingat bahwa dia adalah penyebab dari sakit sang ayah.
__ADS_1
"Sekarang kami sedang berada di rumah sakit. Dengarkan ibu Nak, kamu pulanglah, kamu akan menyesal Jika kamu terlambat pulang dan melihat ayah sudah tidak bernyawa lagi, sekarang sedang ditangani oleh Dokter. Lihatlah karena mencemaskan dirimu ayah terkena serangan jantung. semua gara-gara kamu kenapa, kamu tidak pernah membuat ayah bahagia, sekali ini turutilah Ibu demi ayahmu," tangisan ibu membuat Lee semakin merasa ketakutan, ayahnya terkena serangan jantung, karena dirinya tidak tahu harus berbuat apalagi, lidahnya kelu diam membisu dengan seketika, tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya, hanya tangisan dan membuat dia semakin rapuh.
"Tapi terserah kalau kamu memang tidak mau pulang, kamu tidak perlu pulang tinggal selamanya di sana, dan jangan hiraukan kami yang menyayangimu. Kami keluarga kamu tapi kamu tidak pernah menghiraukan keinginan kami, sudah kalau begitu Ibu tutup terlebih dahulu," ungkap ibu Lee kepada Lee Ji An.
Setelah telepon itu terputus, tubuhnya semakin bergetar, dia tidak bisa berkata-kata lagi, hatinya sakit seolah ratusan jarum menusuknya, seorang jiwanya terkena sabetan pedang. Kini dia tidak bertenaga, Lee menjatuhkan tubuhnya ke tanah.
Nathan begitu terkejut tatkala melihat Lee jatuh terduduk di atas tanah, pria itu dengan segera berlari ke arah Lee Ji An dan langsung membenarkan posisinya, menggendong Lee agar agar segera duduk di sebuah kursi.
"Sayang, ada apa ini, kenapa tubuhmuΒ lemas seperti ini?" Nathan merasa sangat cemas melihat keadaan Lee yang sangat kacau, nenek datang dan membawakan sebotol air minum yang ada di dalam tasnya, lalu Nathan pun mengambilnya. Tetapi Lee tidak mau meminumnya, tubuh wanita itu semakin bergetar, air matanya mengalir tanpa bisa dia tahan lagi, Lee merasa sangat sedih, dia telah menjadi penyebab sang ayah sakit.
"Ada apa dengan Lee Ji An, wajahnya pucat seperti itu ya Tuhan. Ayo cepat sebaiknya kita pulang saja, atau kita mampir ke Rumah Sakit sebentar," ungkap sang nenek ikut merasa cemas, melihat wajah Lee yang seperti itu, sebagai seorang nenek dia tidak tega dan benar-benar merasa penasaran, apa sebenarnya yang terjadi.
Derai air mata terus berjatuhan, dia sungguh tidak bisa menahannya, barisan air mata itu keluar tanpa bisa dia tahan. Wanita itu sangat tersakiti dengan apa yang dia rasakan saat ini, ia adalah penyebab dari semua kesakitan yang ayahnya rasakan, dia sudah membuat ayahnya malu dan kini membuat Ayahnya sakit. Dia benar-benar tidak berguna benar-benar anak yang tidak memiliki tata krama.
Harusnya dia membuat bahagia kedua orangtuanya tetapi. Kini dia malah membuat kedua orangtuanya terluka seperti itu, Lee menyesal karena tidak bisa menjadi anak yang baik, anak yang penurut untuk kedua ayah ibunya.
"Sayang, Cucuku ayo gendong Lee masuk mobil, kita harus cepat membawanya ke Rumah Sakit. Sepertinya begitu lemah kalau dibiarkan seperti ini dia akan kehabisan oksigen, dia sesak nafas seperti itu," kata nenek Liao dengan kecemasan yang teramat dalam.
__ADS_1
"Baiklah ayo kita berangkat ke mobil sekarang, aku takut terjadi sesuatu hal kepadanya," ungkap Nathan dengan kecemasannya, dia langsung menggendongnya, Lee Ji An masuk ke dalam mobil, lalu pak Sopir pun segera mengemudikan mobil tersebut menuju ke Rumah Sakit yang terdekat sesuai dengan instruksi dari nyonya Liao.
Di dalam mobil di Lee Ji An hanya bisa memejamkan mata, dengan kepedihan yang dia tahan, tak dia ungkapkan sama sekali. Tetapi ketika sampai di ruang Instalasi Gawat Darurat Dokter pun langsung memeriksa kondisi Lee Ji An dan ternyata Lee baik-baik saja, Dokter mengatakan kepada nyonya Liao dan Nathan bahwa Lee mengalami sebuah serangan panik dia merasa terkejut karena berita yang dia terima.
Dokter mengatakan sebentar lagi Lee sudah boleh pulang, Lee hanya diberikan oksigen saja di Rumah Sakit. Wanita itu terus meneteskan air mata tanpa bicara sama sekali, akhirnya sebuah telepon berdering kembali. Itu adalah telepon dari Kim Mi So.
Nathan memberanikan diri menerima panggilan telepon tersebut. Walaupun memang panggilan itu ditujukan untuk Lee Ji An, bukan untuk dirinya tetapi karena kondisi Lee saat ini sedang tegang. Nathan yang menerima panggilan tersebut.
"Cepatlah pulang ayah masuk ICU, Lee," kata Kim Mi So dibalik sebuah telepon.
Alangkah terkejutnya Nathan mendengar berita dari Kim Mi So langsung menutup panggilan telepon tersebut, dan memeluk Lee dengan erat.
"Sayang kita pulang saat ini juga, kita pesan pesawat yang tercepat, kita pulang ya, kamu jangan khawatir ya, Sayang," kata pria itu sambil memeluk tubuh rapuh sang kekasih.
"Ada apa?" tanya nenek Liao kepada cucu kesayangannya.
"Kita harus segera pulang Nenek, ayahnya Lee masuk ruangan Intensive Care Unit mungkin saja Lee seperti ini karena mendengar berita ayahnya sakit, karena itu Nathan akan segera membawa pulang Lee ke Indonesia."
__ADS_1
πππππππππππππππ